NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BINTANG SATU DARI AKUN PALSU

Ulasan buruk paling sulit dilawan bukan yang sepenuhnya bohong, melainkan yang mencampur kebohongan dengan kesalahan yang memang pernah kami buat.

Satu akun menulis kami selalu memakai kabel bekas. Bohong, kecuali beberapa pekerjaan lama Pak Tor yang memang memakai material pelanggan setelah diperiksa. Akun lain menuduh harga berubah sesuka hati. Tidak sepenuhnya benar, tetapi sebelum Liza membuat daftar harga, aku pernah menyebut angka berbeda kepada dua orang karena lupa biaya material.

Ulasan ketiga menyebut kami memotret rumah tanpa izin. Itu pernah terjadi pada video Tia. Sudah dihapus, sudah dimintakan maaf, tetapi internet tidak pernah benar-benar melupakan sesuatu yang cocok dijadikan senjata.

Nilai Konslet Medan turun cepat. Bintang lima dari Kak Sri dan pemilik kafe tenggelam di antara bintang satu dari akun-akun yang tidak memiliki riwayat lain.

Tia duduk di lantai bengkel dengan laptop. “Akun ini baru dibuat kemarin. Yang ini fotonya hasil ambil dari toko daring. Yang satu lagi pakai nama orang, tapi gambarnya artis India.”

“Cari hubungannya ke Rinso,” kataku.

“Bisa coba.”

Liza menutup layar laptop sedikit. “Tidak.”

Tia mendongak. “Tidak cari?”

“Cari bukti boleh. Menyerang kehidupan pribadi orang tidak.”

“Kalau memang dia yang buat?”

“Kita laporkan ulasannya. Kita jawab dengan data. Bukan membongkar pacar, keluarga, atau utangnya.”

Aku berjalan mondar-mandir. “Sementara kita sibuk sopan, pelanggan lari.”

“Sementara kau sibuk marah, kita belum memperbaiki yang memang benar.”

Liza menulis tiga langkah di papan: hubungi pelanggan lama untuk ulasan jujur, perjelas persetujuan foto, dan unggah daftar harga serta prosedur material. Ia juga menyiapkan jawaban untuk setiap ulasan tanpa makian dan tanpa menuduh siapa pun.

Pada tuduhan kabel bekas, ia menjawab bahwa material dicatat dan disetujui pelanggan sebelum dipasang. Pada tuduhan harga, ia mengunggah daftar biaya kunjungan serta contoh rincian. Untuk kasus foto tanpa izin, kami tidak bersembunyi: Tia menulis bahwa pelanggaran pernah terjadi, videonya telah dihapus, dan prosedur kini diubah.

Mengakui kesalahan di halaman usaha terasa seperti menggantung pakaian kotor di depan gang. Namun, jawaban itu lebih kuat daripada bantahan kosong karena siapa pun bisa melihat apa yang sudah diperbaiki.

“Terlalu lambat,” kataku.

Pak Tor yang sejak tadi memperbaiki kipas menjawab, “Kepercayaan memang lambat. Rusaknya saja yang cepat.”

Aku tidak suka ketika semua orang mendadak berbicara seperti Liza.

Tia mengirim pesan kepada pelanggan lama. Kak Sri membalas paling cepat: ulasan boleh, tetapi jangan sebut masalah suaminya. Pemilik kafe bersedia menulis selama tidak diminta berbohong soal keterlambatan. Mak Sendok memberi lima bintang dan menulis: KIPAS SAYA SEKARANG HIDUP, TAPI ORANGNYA MASIH BANYAK CINCONG.

“Ini pujian atau serangan?” Fadli bertanya.

“Dari Mak Sendok, itu surat cinta,” jawab Tia.

Binsar duduk di meja kecil, membuat label baru untuk formulir izin dokumentasi. Ia tidak banyak bicara sejak kejadian kabel. Aku beberapa kali ingin meminta maaf dengan benar, tetapi selalu menunggu waktu yang terasa lebih tepat. Waktu tepat itu rupanya pandai bersembunyi.

Aku akhirnya duduk di depannya. “Soal kemarin,” kataku.

Tangannya berhenti menempelkan label.

“Aku salah menggeledah motor dan menuduhmu sebelum memeriksa. Bukan karena situasinya. Karena aku memang terlalu cepat curiga. Maaf.”

Binsar menatapku cukup lama hingga aku hampir menambahkan alasan dan merusak semuanya.

“Baik,” katanya. “Aku belum lupa, tapi aku dengar.”

“Cukup.”

“Dan lain kali kalau mau buka jok, izin. Ada celana hujan yang bentuknya memalukan.”

Aku tertawa. Jarak di antara kami belum hilang, tetapi setidaknya sudah memiliki pintu.

Menjelang siang, dua ulasan palsu berhasil dilaporkan, tetapi sisanya tetap tampil. Pesanan baru berhenti masuk. Motor Fadli menganggur. Papan nama Konslet Medan di depan bengkel terasa miring lebih parah dari biasanya.

Aku membuka halaman Rinso Electric Solution. Nilainya lima bintang penuh. Ada delapan ulasan, semuanya memuji kerapian, ketepatan waktu, dan seragam teknisi. Foto papan namanya mengilap di bawah matahari.

“Jangan,” kata Liza tanpa menoleh.

Aku menutup ponsel. “Jangan apa?”

“Apa pun yang baru masuk kepalamu.”

“Kau cenayang?”

“Tidak. Wajahmu transparan kalau mau berbuat bodoh.”

Aku menyimpan ponsel dan membantu Pak Tor. Selama satu jam aku berusaha mengikuti rencana. Kami menyusun foto material baru, daftar harga, dan contoh kuitansi. Tia membuat unggahan tentang izin dokumentasi. Binsar menempel prosedur di dinding.

Hasilnya rapi. Juga menyebalkan karena tidak langsung mengubah angka apa pun.

Sore hari, satu pelanggan membatalkan survei. Katanya ia membaca bahwa teknisi kami tidak bersertifikat. Aku tahu siapa yang memakai kalimat itu di papan nama.

Rasa panas naik dari leher ke telinga.

“Aku keluar sebentar,” kataku.

“Ke mana?” Liza bertanya.

“Beli kopi.”

Mak Mina menyahut dari warung, “Kopi ada di sini, bodat.”

“Beli pulsa.”

“Paketmu masih banyak,” kata Tia.

Aku akhirnya duduk kembali sambil dimandangi semua orang. Lima menit kemudian, ketika Liza menerima telepon pelanggan dan Tia pergi ke warung, aku membuka ponsel di bawah meja.

Aku membuat alamat surat elektronik baru. Nama penggunanya teknisi.jujur.medan. Lalu kubuka halaman Rinso dan menekan satu bintang.

Kolom ulasan kosong menunggu. Aku mengetik: Datang terlambat, harga tidak jelas, teknisi banyak gaya. Papan nama lebih rapi daripada kerjaannya.

Aku membaca ulang. Terlalu umum. Tidak ada yang bisa membuktikan itu aku.

Fadli muncul di belakang bahuku. “Lek.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel. “Jangan mengagetkan.”

Ia membaca layar. “Ini rencana orang dewasa?”

“Menyeimbangkan keadaan.”

“Dengan bohong?”

“Mereka duluan.”

“Kau tahu mereka siapa?”

“Pasti orang Rinso.”

Fadli menggaruk rambut emas yang belum hilang seluruhnya. “Kata Liza, kalau belum ada bukti namanya dugaan. Kata kau, kalau dugaan bikin marah namanya bukti.”

“Kau mau bantu atau tidak?”

“Aku mau jauh-jauh saat meledak.”

Aku menekan kirim. Ulasan satu bintang muncul di halaman Rinso. Kepuasan kecil terasa di dada, cepat dan hangat seperti kopi terlalu manis.

Lalu Fadli menunjuk sudut layar. “Foto profilmu.”

Aku melihat ikon akun. Saat membuat alamat baru, ponsel otomatis memakai foto dari profil utama: wajahku sendiri, memakai helm kuning, dengan papan Konslet Medan terlihat jelas di belakang.

“Pantek.”

Aku buru-buru mengganti foto dan mencoba menghapus ulasan. Jaringan mendadak lambat. Lingkaran pemuatan berputar seperti sengaja menikmati penderitaanku.

Ponsel bengkel berbunyi di meja Liza.

Ia mengangkatnya, membaca pesan, lalu perlahan menoleh kepadaku. Tatapannya tidak perlu bertanya.

Tia berlari dari warung karena menerima tangkapan layar yang sama. Binsar menutup mulut agar tidak tertawa. Pak Tor meletakkan obeng.

Pesan itu dari Rinso. Ia mengirim gambar ulasan satu bintang lengkap dengan foto profilku sebelum sempat diganti.

Di bawah tangkapan layar, ia hanya menulis: “Pintar kali kau, Jepot.”

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!