NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 16- Lembaran Wasiat

Ep. 16- Lembaran Wasiat

Saat kehangatan itu berlangsung, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara...

TING-TONG! TING-TONG!

Suara bel pintu depan bergema dua kali secara berturut-turut. Kirana tersentak pelan dari lamunannya. Tangannya yang tadinya diusapkan lembut ke puncak kepala Aura terhenti seketika.

Mbok Darmi yang sedang merapikan peralatan di area makan cepat-cepat menyapu tangannya pada celemek, lalu bergegas menuju pintu utama. "Biar Mbok yang buka, Bu."

Kirana mengangguk dan tidak terlalu terkejut karena ia sudah menduga siapa yang datang. Sehari sebelumnya, sebuah panggilan telepon dari kantor pengacara telah mengonfirmasi janji temu pagi ini. Sebuah pertemuan formal yang sempat ditunda beberapa kali sejak hari pemakaman Rendra.

Tak lama kemudian, Mbok Darmi kembali melangkah masuk menuju ruang keluarga dengan raut wajah yang agak tegang. "Bu Kirana, tamu-tamu yang kemarin telepon sudah datang. Dua orang bapak-bapak memakai setelan jas rapi. Sudah Mbok persilahkan duduk di ruang tamu utama."

"Terima kasih, Mbok," sahut Kirana seraya menghembuskan napas yang panjang.

Kirana lantas menunduk dan menatap dua pasang mata bulat yang kini mendongak memperhatikannya. Keisya memegang lengan Kirana dengan raut yang enggan dipisah, sementara Aura masih menyandarkan kepala mungilnya di paha Kirana.

"Sayang... Mama ada tamu penting dulu sebentar, ya," ucap Kirana sambil mengelus pipi Keisya. "Mainnya dilanjutkan sama Mbak Yem dan Mbok Darmi dulu."

"Mama lama nggak?" tanya Keisya agak cemberut.

"Tidak lama, Sayang. Nanti Mama kembali lagi," jawab Kirana menenangkan.

Kirana lalu berdiri secara perlahan dan melepas dekapan mungil Aura. Kirana membetulkan tatanan bajunya, dan menyapu berkas-berkas pribadi yang tadi berserakan di meja makan ke dalam stofmap tebal, lalu melangkah kaku menuju ruang tamu depan.

Di ruang tamu yang berudara dingin, dua pria berusia empat puluhan dalam balutan jas hitam dan abu-abu gelap berdiri dengan sopan begitu melihat Kirana melangkah masuk. Keduanya membawa tas kulit tebal bernuansa elegan.

"Selamat pagi, Ibu Kirana," panggil pria berjas hitam yang memiliki rambut sedikit beruban di pelipisnya. Pria itu mengulurkan tangan dengan raut wajah yang penuh hormat dan empati.

"Saya Baskoro, dan ini rekan saya, Pengacara Hendra. Kami dari Kantor Hukum Baskoro & Associates, yang selama lima tahun terakhir menangani urusan legalitas dan aset almarhum Bapak Rendra Pratama."

Kirana membalas jabatan tangan tersebut secara bergantian dengan senyuman yang kaku. "Selamat pagi, Pak Baskoro, Pak Hendra. Silakan duduk."

"Terima kasih, Bu," sahut Pengacara Hendra sambil mendudukkan diri di sofa kulit ganda.

Tak lama, Mbok Darmi keluar menyajikan dua cangkir teh hangat di atas meja kaca, lalu membungkuk meminta izin untuk kembali ke dalam.

"Ibu Kirana," buka Pak Baskoro seraya membuka selot tas kulitnya dan mengeluarkan setumpuk dokumen tebal yang berstempel segel resmi.

"Pertama-tama, kami atas nama pribadi dan firma hukum menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian Pak Rendra. Maksud dan tujuan kedatangan kami hari ini adalah untuk menyampaikan pembacaan transparansi kepemilikan aset, hak waris, serta portofolio investasi atas nama almarhum."

Kirana menegakkan posisi duduknya. Tangan kanannya meremas jemari tangan kirinya di atas pangkuan. "Baik, Pak Baskoro. Silakan dijelaskan. Selama ini saya hanya tau garis besar bisnis dan rumah tinggal ini."

Pak Baskoro membetulkan kacamata minusnya, lalu membalik lembaran pertama dengan cermat. "Tentu, Bu Kirana. Kami akan membaginya menjadi dua kategori, aset yang tercatat secara terbuka dalam pengetahuan Ibu, serta aset dan alokasi khusus yang telah diatur oleh Pak Rendra secara legal di bawah wewenang firma kami."

Satu demi satu, Pengacara Hendra membacakan rincian aset Rendra yang sudah tak asing bagi Kirana. Rumah tinggal yang sedang mereka tempati, dua unit ruko di kawasan bisnis kota, dua unit mobil keluarga, serta polis asuransi jiwa utama yang mencantumkan nama Kirana dan Keisya sebagai penerima manfaat utama.

Kirana mengangguk-angguk kepalanya dan merasa segalanya berjalan sewajarnya.

Namun, saat Pak Baskoro membuka dokumen jilid kedua berdinding sampul cokelat tua, tempo bicaranya mendadak melambat. Pria itu menghentikan bacaannya sejenak, lalu melemparkan pandangan sekilas yang sarat akan rasa sungkan ke arah Kirana.

"Selanjutnya... kami masuk ke bagian pembagian dan pengalihan aset khusus," tutur Pak Baskoro dengan nada suara yang sengaja dipelankan. "Dokumen ini disahkan oleh almarhum Pak Rendra sekitar satu setengah tahun yang lalu di hadapan notaris resmi."

Deg deg deg deg!

Jantung Kirana mendadak berdegup kencang secara tak beraturan. Firasat buruk kembali menyeruak hingga membasahi telapak tangannya dengan keringat dingin.

"Aset khusus...?" ulang Kirana dengan suara yang mendadak agak serak.

"Benar, Bu Kirana," sambung Pengacara Hendra seraya menyodorkan lembaran lampiran akta. "Almarhum Pak Rendra telah mendaftarkan kepemilikan satu unit rumah hunian di kompleks Asri Perdana, satu rekening tabungan investasi berjangka, serta kepemilikan polis asuransi jiwa tambahan."

Pengacara Hendra menarik napas sejenak lalu meneruskan kalimatnya.

"Semua aset dalam daftar dokumen B ini... dialokasikan secara sah atas nama almarhumah Ibu Ayu Pertiwi sebagai istri sah secara hukum agama dan negara, serta anak atas nama Aura Pratama sebagai anak kandung sah almarhum."

BAGGG!

Dada Kirana serasa dihantam telak oleh bongkahan batu besar. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku. Udara di dalam ruang tamu yang dingin serasa lenyap, menyisakan kekosongan yang membakar tenggorokannya.

Rasa tidak nyaman yang amat sangat langsung membendung di paras Kirana. Matanya membelalak, menatap dua pria berjas di hadapannya dengan ketidakpercayaan yang membakar kembali sisa-sisa luka lamanya.

"Mereka tau...?" batin Kirana berteriak histeris. "Pengacara ini... mereka sudah tau sejak lama tentang Ayu dan Aura?!"

Pengkhianatan Rendra ternyata bukan sekadar kekhilafan yang tersimpan rapi di balik pintu belakang. Rendra telah merencanakannya secara matang, terstruktur, dan legal!

Pria yang menjadi suaminya itu telah membagikan kekayaan, masa depan, dan perlindungan finansial untuk wanita lain serta anak lain secara resmi di belakang punggungnya. Bahkan menggunakan jasa kuasa hukum profesional untuk menyegel semuanya agar tak tersentuh!

Gejolak emosi Kirana mendadak mendidih kembali. Rasa hangat dan ketenangan yang baru saja ia rasakan bersama Keisya dan Aura beberapa menit lalu, seketika hangus terbakar oleh kobaran rasa cemburu, sakit hati, dan perasaan dikhianati yang teramat dalam.

"Jadi..." Kirana bersuara dengan nada yang menahan amarah yang meletup-letup di dalam hatinya. "Kalian berdua... sudah tau sejak lama kalau suami saya punya istri lain?"

Pak Baskoro dan Pengacara Hendra saling bertukar pandang dengan raut wajah yang amat canggung dan penuh penyesalan.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Bu Kirana," sahut Pak Baskoro dengan sedikit membungkuk. "Secara kode etik profesi dan ikatan kerahasiaan klien, kami diwajibkan menyimpan seluruh dokumen almarhum hingga tenggat waktu yang ditentukan, yaitu saat almarhum meninggal dunia. Pak Rendra sendiri yang menginstruksikan agar dokumen ini baru dibuka di hadapan Ibu setelah beliau tiada."

Kirana mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih menembus kulit. Napasnya naik turun secara memburu. Tatapan matanya yang tajam mengunci berkas-berkas berwarna cokelat tua yang kini terhampar di atas meja kaca.

"Satu setengah tahun lalu..." gumam Kirana dengan tawa pahit yang memilukan meluncur dari bibirnya. "Di saat dia pulang ke rumah ini membawa bunga untukku... di saat dia mencium dahi Keisya sebelum tidur... dia sedang sibuk menyusun pembagian harta untuk wanita itu dan anaknya di kantor kalian?"

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!