Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Tablet baru dari suami
Altair Reyn melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Darah di sudut bibirnya telah mengering, meninggalkan rasa perih setiap kali lidahnya menyentuh luka tersebut. Kemeja putih yang ia kenakan sudah tidak rapi, dua kancing teratasnya hilang, tampak kusut akibat tarikan Evan. Pipi kirinya terus berdenyut. Pukulan mendadak tadi cukup telak karena fokusnya terpecah saat melihat Ruby muncul secara tiba-tiba.
Ia merasa marah, sakit, dan berantakan.
Di dalam kepalanya, hanya ada satu pikiran: segera pergi dari Fakultas Bisnis sebelum memicu keributan baru.
Tangannya berhasrat untuk membalas dan memukul wajah Evan. Namun, ia sadar jika melayangkan satu pukulan lagi, surat skorsing akan segera terbit. Evan tentu akan sangat senang jika hal itu terjadi.
Sebab itu, Altair memilih untuk pergi.
Ia melangkah dengan cepat. Kerumunan mahasiswa bergerak memberi jalan, memberikan tatapan syok bercampur takut.
Namun, saat sampai di ujung koridor, matanya bertatapan dengan Aquilla Queensha. Perempuan itu berdiri diam tanpa ekspresi. Sangat berbeda dengan mahasiswa lain yang tampak panik. Aquilla hanya menatapnya. Entah mengapa, Altair sangat membenci tatapan itu. Tatapan tersebut tidak menghakimi atau mengasihani, melainkan hanya... mengamati.
Altair memilih melewati tangga darurat. Begitu keluar dari gedung, udara panas Jakarta langsung menyengat. Meskipun siang terasa sangat terik, tubuhnya justru terasa dingin seiring adrenalinnya yang mulai surut. Jarinya bergetar tipis.
Setibanya di area parkir di bawah pohon ketapang, sepeda motor Ducati miliknya berdiri paling mencolok. Bodi motor itu menyerap panas matahari, membuat joknya terasa hangat. Namun, Altair tidak mempedulikannya.
Saat hendak mengambil helm di kaca spion, ia mendadak terdiam. Ia mendengar suara langkah kaki pelan dari arah belakang, tepat satu meter darinya.
Altair memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosi. Ketika berbalik, ia sudah kembali memasang wajah datar, meskipun luka di bibirnya sedikit merusak kesan tegas tersebut.
Aquilla berdiri di sana.
Rambut kuncir kudanya sedikit berantakan tertiup angin. Kemeja cream yang dikenakannya masih rapi, sangat berbeda dengan kondisi Altair yang kacau. Tidak ada raut cemas atau tangisan. Hanya ada Aquilla dengan tatapan matanya yang tenang.
Emosi Altair yang sempat mereda kembali meningkat.
“Kenapa lo ikutin gue?!” bentaknya kasar. Beberapa mahasiswa tingkat satu yang sedang memarkir sepeda motor tampak terkejut.
Altair mengira Aquilla akan terkejut atau merasa bersalah lalu pergi. Namun, perkiraannya keliru. Aquilla justru mengerutkan dahi.
“Mau nebeng,” jawab Aquilla singkat dan datar. “Nggak mau naik angkot. Panas.”
Altair mendesis tidak percaya. Di saat kepalanya rumit memikirkan urusannya dengan Evan dan Daniel, perempuan di hadapannya ini yang berstatus sebagai istrinya di atas kertas justru dengan santai meminta tumpangan.
“Nggak bisa. Gue nggak butuh lo!” tegas Altair seraya mengambil kunci motor dari sakunya. “Pulang sendiri sana!”
Aquilla menatap sepeda motor itu, lalu kembali menatap Altair. “Gue nggak butuh lo juga. Gue butuh tumpangan. Motor lo kosong. Jadi nebeng.”
Kepala Altair semakin terasa pusing. Ia mempertanyakan apakah perempuan ini tidak peka atau sengaja tidak peduli. Altair baru saja terlibat perkelahian, tetapi justru diperlakukan seperti pengemudi transportasi daring.
“Buruan naik!” akhirnya Altair mengalah sambil menyerahkan helm kepada Aquilla. Ia sendiri segera mengenakan helmnya agar wajahnya yang terluka tidak terlihat. “Jangan lemot!”
Aquilla menangkap helm tersebut, lalu cemberut saat mencoba mengaitkan talinya. “Sabar, Al. Susah makenya.”
Melihat Aquilla yang justru membuat talinya semakin kusut, kesabaran Altair habis. Ia turun dari motor, mengambil alih helm tersebut, dan mengaitkan talinya dengan cepat.
Klik. Pas.
“Apaan sih yang lo bisa? Merepotkan,” omel Altair pelan. Namun, tangannya tetap telaten merapikan posisi helm agar rambut Aquilla tidak terjepit.
Aquilla mendongak, menatap tajam dari balik helm. “Banyak. Salah satunya bikin lo sakit kepala. Nggak mau nebeng? Ya udah, dari tadi bilang. Nggak usah bentak-bentak.”
Kedua orang itu sama-sama keras kepala.
“Naik!” Altair kembali duduk di jok dan menyalakan mesin. Suara raungan Ducati langsung memecah suasana parkiran.
Aquilla naik ke jok belakang dengan canggung. Karena bingung harus berpegangan pada bagian mana, ia hanya memegang ujung jaket Altair menggunakan dua jari.
“Awas ngebut!” ancam Aquilla.
Jawaban Altair hanya satu: ia langsung menarik gas dengan cepat.
NGEEEENG!
Motor melesat seketika. Aquilla terkejut hingga pegangannya terlepas. Secara refleks, kedua tangannya langsung memeluk perut Altair dengan erat dari belakang.
“Pelan-pelan, Al! Baru tadi suruh pelan!” serunya dari balik punggung. Cowok tidak merespon sama sekali.
Lima belas menit kemudian, Altair membelokkan motornya ke area parkir bawah tanah sebuah pusat perbelanjaan.
“Kok ke mall? Katanya mau pulang?” tanya Aquilla bingung sambil menepuk punggung Altair.
Altair tidak menjawab. Ia turun, melepas helm, lalu melangkah cepat menuju lift. Aquilla hanya bisa berlari kecil mengikutinya dari belakang.
Di dalam lift, Aquilla melipat tangan di dada. “Gue nanya kenapa ke mall. Lo luka-luka gini bukannya ke klinik, malah ke mall. Mau beli Betadine? Di Alfamart juga ada, Al.”
“Beli tablet,” sahut Altair singkat saat lift tiba di lantai tiga.
“Tablet?” Kening Aquilla berkerut. “Lo demam? Tablet apa? Bodrex?”
“Bukan buat gue. Buat lo.”
Altair melangkah menuju toko elektronik terbesar di lantai tersebut. Begitu masuk, ia langsung berbicara kepada staf toko, “Tablet gambar. Yang terbaik. Pressure sensitivity-nya tinggi. Buat desain. Buat DKV.”
Aquilla terpaku di sampingnya. Ia memang kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan membutuhkan tablet gambar, tetapi belum ada uangnya. Altair langsung membelikannya tanpa banyak bertanya dan melakukan pembayaran tanpa ragu.
Saat kantong belanja diserahkan, sikap gengsi Aquilla melunak. Tanpa sadar, ia maju dan merangkul lengan Altair sejenak.
“Buat gue?” bisiknya pelan.
Tubuh Altair mendadak kaku, tetapi ia tidak mendorong Aquilla. “Ya. Biar lo nggak bengong di kelas gambar. Berisik. Ganggu orang lain belajar.”
Meskipun ucapannya terdengar ketus, rona merah di ujung telinga Altair terlihat sangat jelas di bawah sorotan lampu toko.
Aquilla segera melepas rangkulannya sambil tersenyum tipis, lalu memeluk kantong belanjaan itu dengan erat. “Ya... ya udah. Makasih.”
Mereka berjalan keluar dari toko. Altair melangkah di depan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
“Jangan rusak,” gumam Altair tanpa menoleh. “Nggak ada ganti kedua. Anggap aja investasi biar lo nggak minta uang jajan lagi.”
“Iya, Bos,” jawab Aquilla seraya terkekeh pelan, mengikutinya dari belakang.