NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 #Bayangan di balik layar

Malam jatuh dengan cepat menangkupi kediaman megah Aditama. Di ruang makan utama yang diterangi lampu kristal gantung yang mewah, meja kayu jati panjang itu kini dipenuhi oleh berbagai hidangan lezat. Seluruh sajian disesuaikan secara khusus demi memenuhi kebutuhan gizi Kaivandra yang baru saja pulih dan tentu saja, tidak ada satu pun makanan yang mengandung olahan seafood atau bahan penyebab alergi lainnya.

Kaivandra duduk tepat di sebelah kanan Gibran, sementara Wira Aditama duduk di ujung meja sebagai kepala keluarga. Bocah kecil itu tampak bingung menatap banyaknya piring dan mangkuk berkilauan di depannya. Matanya berkedip-kedip polos.

Melihat kebingungan sang putra, Gibran tersenyum penuh kasih sayang. Dengan telaten, CEO yang biasanya berhati dingin itu mengambilkan semangkuk sup ayam hangat dan meletakkannya di depan Kai.

"Sayang, coba ini dulu ya," ucap Gibran lembut. "Kalau kamu tidak suka sup ini, katakan pada Papa. Papa akan minta Bi Asri untuk membuatkan makanan lain yang kamu mau."

Kai mendongak, menyunggingkan senyum tulusnya. "Kai akan makan ini, Papa! Ini pasti enak kok. Kata Mama, kita tidak boleh buang-buang makanan dan harus selalu menghargai orang yang sudah memasak untuk kita dengan susah payah."

Gibran tertegun sejenak sebelum akhirnya mengusap lembut kepala putranya yang teramat pintar dan bijaksana itu. Kebijaksanaan Bening seolah melekat erat pada setiap tutur kata Kai.

Dengan perlahan, Kai menyuapkan sendok pertamanya. "Hmm! Ini enak sekali, Papa! Tapi..." Kai menyengir polos, "...tetap masakan Mama yang nomor satu di hati Kai!"

Tiba-tiba Kai menoleh ke arah seorang wanita paruh baya berseragam pelayan yang berdiri tak jauh dari meja makan. Bocah itu menutup mulutnya dengan telapak tangan kecilnya, memasang wajah bersalah. "Upss... Bibi, maafkan Kai ya! Masakan Bibi enak sekali kok! Terima kasih ya Bibi sudah memasakkan makanan lezat ini untuk Kai."

Bi Asri, asisten rumah tangga senior di rumah itu, menyatukan kedua tangannya di dada. Matanya berkaca-kaca menatap keturunan Aditama yang begitu santun. "Iya, Den Kai... tidak apa-apa. Bibi senang sekali kalau Den Kai suka."

Di dalam hatinya, dada Bi Asri berdesir hebat. Dulu, Bi Asri sangat dekat dengan Bening saat wanita itu masih bertatus sebagai nyonya muda di rumah ini. Bening adalah sosok majikan yang teramat baik, lembut, dan tidak pernah membeda-bedakan status. Saat perpisahan tragis tujuh tahun lalu terjadi, Bi Asri adalah salah satu orang yang paling terpukul. Hingga detik ini, Bi Asri tidak pernah percaya bahwa Bening berselingkuh. Namun, sebagai seorang ART biasa, dia tidak memiliki keberanian atau kekuatan untuk membela mantan majikannya di hadapan Wira Aditama.

Sementara itu, di ujung meja, Wira Aditama berpura-pura tersenyum tipis. Namun di balik tatapan matanya, rasa tidak senang meluap-luap. Ketidaksukaan pria tua itu meningkat pesat saat menyadari betapa kuatnya pengaruh Bening pada diri Kaivandra. Anak itu seolah tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang ibunya.

Puncak kekesalan Wira terjadi ketika Kai mendadak menepuk lengan Gibran.

"Papa... Kai boleh ya video call Mama?" pinta Kai dengan mata berbinar-binar penuh harapan. "Kai tetap mau makan malam bersama Mama. Biasanya kan Kai selalu makan sambil mengobrol sama Mama."

Gibran sempat membeku. Tatapannya melirik singkat pada ayahnya yang mendadak menegang. Namun melihat binar penuh kepolosan di mata Kai, Gibran tidak sanggup menolak. "Iya... boleh, sayang."

Kai segera mengambil ponselnya yang memang sudah dia miliki untuk saling berhubungan jika Bening harus meninggalkannya dirumah sendirian . Jemari mungilnya bergerak lincah menekan tombol panggilan video pada kontak bernama Mama.

Hanya dalam hitungan detik, nada panggil itu terhubung. Layar ponsel menampilkan wajah Bening yang sedang duduk di meja makan sederhana rumahnya, dengan piring nasi yang baru setengah terisi.

"Halo, assalamualaikum sayang..." sapa suara lembut Bening dari balik layar.

"Waalaikumsalam, Mama!" seru Kai riang, menyejajarkan ponselnya di atas meja. "Mama lihat! Kai sedang makan malam bersama Papa dan Kakek! Lauknya banyak sekali, Ma!"

Kai dengan polosnya mengarahkan kamera ponsel mengelilingi ruang makan, hingga sempat menyorot wajah Wira Aditama yang duduk kokoh di ujung meja.

Di balik layar ponselnya, napas Bening seketika tertahan. Rasa takut dan trauma masa lalu merayapi dadanya saat melihat wajah tegas Wira Aditama. Namun, melihat raut wajah Kai yang sangat gembira dan disambut baik di meja makan itu, ada sedikit rasa lega yang menyusup ke hati Bening. Setidaknya, putranya diterima dengan layak.

"Wah... banyak sekali makanan lezatnya. Kai harus habiskan supnya ya," tutur Bening dengan senyum manis yang tertahan.

"Iya, Mama! Tapi Kai kangen makan bareng Mama..." Kai lalu menarik tangan Gibran yang duduk di sisinya, mendekatkan wajah ayahnya ke depan layar kamera. "Papa! Ayo sapa Mama! Katakan sama Mama kalau sup buatan Bi Asri enak!"

Atmosfer di ruang makan itu seketika berubah menjadi sangat canggung dan tegang. Gibran terpaksa menatap layar ponsel, berhadapan langsung dengan sepasang mata bening milik Bening yang menatapnya cemas.

"Ehem..." Gibran berdeham canggung, mencoba mempertahankan ekspresi datarnya meski jantungnya berdegup tak karuan. "Bening."

"Mas... Gibran," sahut Bening terbata, "Terima kasih... terima kasih sudah menjaga Kai dengan baik."

"Dia anakku juga, sudah kewajibanku," jawab Gibran singkat. Namun kecanggungan itu dimanfaatkan Kai yang terus memaksa.

"Papa! Minta Mama cepat datang ke sini dong buat ajarin Bi Asri buat resep kue Mama! Biar Papa juga bisa makan kue buatan Mama lagi!" celetuk Kai polos.

Gibran makin salah tingkah. "Kai... Mama sibuk dengan pesanan kuenya di rumah."

"Iya sayang, Mama sedang banyak pekerjaan. Kai makan yang banyak ya..." potong Bening cepat, mencoba menyelamatkan situasi dari kepanikan. "Mas Gibran... tolong pastikan Kai tidak minum air dingin setelah makan."

Gibran menatap lurus pada layar. Perhatian kecil yang refleks dilontarkan Bening mendadak menyentil sudut hatinya yang paling dalam. "Aku tahu. Aku bisa merawat anakku sendiri."

Interaksi singkat, canggung, namun menyisakan kehangatan terselubung di antara Gibran dan Bening itu benar-benar ditangkap jelas oleh Wira Aditama. Tangannya yang menggenggam garpu mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa khawatir yang amat besar menjalar di dada Wira. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan mata Gibran saat menatap Bening di layar ponsel, tatapan yang sama persis seperti tujuh tahun lalu. Tatapan seorang pria yang masih memiliki celah cinta untuk wanitanya.

Wira tahu, jika dia tidak bertindak cepat dan menyusun rencana baru untuk menjauhkan Bening sepenuhnya, maka kebohongan dan rahasia besar yang selama ini dia simpan rapi akan hancur berantakan, dan Gibran akan kembali luluh ke dalam pelukan Bening.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!