NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Sepanjang perjalanan pulang, isak tangis Aurora tak juga mereda. Setiap kali ia memberanikan diri melirik ke arah Adrian, dadanya kembali terasa sesak. Sorot mata kakaknya yang biasanya teduh kini dipenuhi gejolak emosi yang sulit disembunyikan. Bukan hanya kemarahan, tetapi juga kekecewaan yang begitu dalam, seolah dua perasaan itu saling bertabrakan hingga meninggalkan luka yang nyata.

Aurora belum pernah melihat wajah Adrian seperti itu. Pria yang selama ini selalu menjadi tempatnya berlindung kini hanya memandang lurus ke depan dengan rahang mengeras, berusaha menahan begitu banyak hal yang ingin ia ucapkan.

Keheningan di dalam mobil terasa lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.

Adrian akhirnya mengembuskan napas panjang. Suaranya terdengar berat, nyaris serak ketika memecah kesunyian.

"Aurora... apa salahku sampai kau harus memikul semuanya sendirian? Apa aku sudah gagal menjagamu?"

Kalimat itu menghantam hati Aurora jauh lebih keras daripada amarah.

Air matanya kembali jatuh tanpa bisa dibendung. Entah mengapa, ia justru berharap Adrian memarahinya habis-habisan. Setidaknya dengan begitu, rasa bersalah yang menggerogoti dadanya mungkin akan sedikit berkurang. Namun kelembutan dan kepedihan dalam suara sang kakak justru membuat penyesalan itu semakin menyesakkan.

Aurora menundukkan kepala dalam-dalam. Bahunya bergetar hebat menahan tangis.

"Maafkan aku, Kak... semua ini salahku. Aku sudah mempermalukan dan mencoreng nama Kak Adrian."

Ucapannya nyaris tak terdengar, tenggelam di antara isakan yang tak mampu lagi ia tahan. Tangannya mengepal erat di atas pangkuan, sementara air mata terus menetes tanpa henti, membawa serta seluruh penyesalan yang sejak tadi membebani hatinya.

Adrian terdiam cukup lama sebelum akhirnya kembali membuka suara. Nada bicaranya tetap rendah, tetapi setiap katanya terasa begitu berat, seolah ia sedang menahan amarah yang bercampur dengan rasa kecewa.

"Kalau memang kau memilih jalan seperti itu, setidaknya kau bisa datang dan bicara padaku lebih dulu, Aurora. Atau paling tidak, kau menjaga dirimu sendiri dengan lebih bijaksana. Aku tidak pernah mengekang kehidupanmu. Aku memberimu kebebasan karena aku percaya padamu, bukan supaya kau mempertaruhkan masa depanmu tanpa memikirkan akibatnya."

Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya sebelum melanjutkan.

"Apa kau pikir membesarkan seorang anak hanya soal biaya? Tidak, Aurora. Seorang anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, tenaga, kesiapan mental, dan sosok ayah yang akan mendampinginya tumbuh. Semua itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele."

Suara Adrian tetap terdengar lembut, tetapi kepedihan yang tersimpan di balik setiap ucapannya justru terasa semakin menusuk.

Aurora menggigit bibirnya kuat-kuat. Air mata kembali mengalir membasahi pipinya, sementara kepalanya semakin tertunduk.

"Aku mengerti, Kak... Aku tahu semua itu."

Jawaban singkat itu tak mampu menghapus kegelisahan di hati Adrian. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menatap adiknya dengan sorot mata yang dipenuhi luka.

"Kalau memang kau memahami semua risikonya... lalu apa yang membuatmu sampai nekat mengambil keputusan seceroboh itu?"

Nada suaranya mulai meninggi, bukan semata karena marah, melainkan karena sulit menerima kenyataan bahwa Aurora pernah berada di titik begitu putus asa hingga berniat mengakhiri kehidupan yang sedang bertumbuh di dalam kandungannya. Pikiran itu saja sudah cukup membuat hati Adrian terasa diremas, meninggalkan rasa takut yang belum juga hilang.

Aurora menggeleng pelan. Air mata yang sejak tadi mengalir membuat pandangannya semakin kabur. Bibirnya bergetar, seolah ada begitu banyak hal yang ingin dijelaskan, tetapi tak satu pun sanggup keluar dari tenggorokannya.

Sejak awal, ia sama sekali tidak berniat menghilangkan kandungannya. Rencananya sederhana—memancing Kael agar datang menemuinya, lalu meminta Adrian turun tangan untuk memaksa pria itu bertanggung jawab melalui pernikahan. Namun semua yang telah ia susun hancur dalam sekejap ketika dokter itu diam-diam menyuntikkan obat penenang hingga membuat semuanya berada di luar kendalinya.

"Lalu bagaimana dengan uang itu?" batin Aurora getir.

Ia teringat uang lima belas juta rupiah yang telah diserahkannya kepada asisten dokter. Jumlah itu bukan sesuatu yang kecil, terlebih bagi dirinya yang belum memiliki pekerjaan tetap. Kini uang itu lenyap begitu saja, sementara rencananya gagal total. Tak ada yang bisa ia lakukan selain memendam penyesalan seorang diri.

Keheningan kembali memenuhi mobil hingga akhirnya Adrian memecahnya. Kali ini nada suaranya jauh lebih tegas.

"Lalu apa yang sebenarnya mendorongmu sampai mengambil keputusan seperti itu, Aurora?" tanyanya, menatap lurus ke depan sebelum mengalihkan pandangan kepada adiknya. "Apa kau sadar betapa mengerikannya pilihan yang hampir kau ambil? Apa kau benar-benar sanggup hidup dengan penyesalan jika sesuatu yang tak bisa diperbaiki itu benar-benar terjadi?"

Nada suara Adrian meninggi di akhir kalimatnya. Bukan semata-mata karena amarah, melainkan karena rasa takut yang sejak tadi ia tekan akhirnya meluap.

Mendengar itu, tubuh Aurora refleks tersentak. Ia kembali menggeleng pelan. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan, sementara bibirnya bergetar menahan tangis yang sejak tadi ia paksa agar tidak pecah.

"Kak... sebenarnya aku datang ke klinik itu bukan benar-benar ingin mengakhiri kandunganku," ucapnya lirih. "Aku hanya ingin membuat Om Kael mau bertanggung jawab. Bayi ini... adalah anaknya."

Kalimat itu seketika membuat Adrian kehilangan fokus.

Refleks ia menginjak pedal rem hingga mobil berhenti mendadak di bahu jalan. Suara decit ban memecah keheningan, sementara napas Adrian memburu karena syok.

Ia menoleh cepat ke arah adiknya.

"Apa maksudmu, Aurora?" tanyanya dengan suara meninggi, antara marah, bingung, dan tak percaya. "Jelaskan semuanya pada Kakak."

Air mata Aurora akhirnya jatuh.

"Aku dijebak, Kak..." isaknya. "Malam itu bukan sesuatu yang aku rencanakan. Semuanya terjadi begitu saja."

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan suara yang semakin parau.

"Setelah aku hamil, Om Kael tidak percaya kalau bayi ini anaknya. Dia bilang dirinya mandul dan tidak mungkin memiliki keturunan."

Aurora menundukkan kepala, bahunya bergetar menahan sesak.

"Padahal... aku bersumpah, Kak." Suaranya pecah. "Aku tidak pernah bersama laki-laki lain selain Om Kael."

Ia mengangkat wajahnya yang telah basah oleh air mata.

"Demi Tuhan... dan demi bayi yang sedang kukandung, aku tidak berbohong."

Tangisnya pecah tanpa mampu dibendung lagi.

Selama berminggu-minggu ia memikul semuanya seorang diri—ketakutan, penolakan, dan rasa putus asa yang perlahan menggerogoti hatinya.

Adrian terdiam.

Tatapannya berubah tajam menembus kaca depan.

Bila semua yang dikatakan Aurora benar, maka seseorang telah menyakiti adik yang paling ia lindungi.

Dan sebagai seorang kakak, ia tidak akan tinggal diam.

"Kurang ajar!"

Suara Adrian menggema di dalam mobil. Kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledak. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa pria yang selama ini begitu ia hormati ternyata telah menyentuh adiknya, lalu membiarkan Aurora memikul semuanya seorang diri ketika kehamilan itu terungkap.

Dengan napas yang masih memburu, Adrian menoleh ke arah adiknya.

"Jadi... dia juga laki-laki pertama yang menyentuhmu?" tanyanya pelan, meski suaranya tetap bergetar oleh emosi.

Aurora menggigit bibir bawahnya. Air mata kembali memenuhi pelupuk matanya sebelum akhirnya ia mengangguk lirih.

"Iya, Kak..."

Jawaban singkat itu terasa seperti hantaman telak bagi Adrian.

Sesaat ia menginjak pedal gas dan hampir memutar balik mobil menuju mansion Kael. Keinginan untuk menuntut pertanggungjawaban pria itu membakar seluruh pikirannya. Namun logikanya segera mengambil alih.

Melawan Kael bukan perkara sederhana. Pria itu memiliki kuasa yang mampu menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu perintah. Jika ia bertindak gegabah, bukan hanya dirinya yang berada dalam bahaya, tetapi juga Aurora dan bayi yang sedang dikandungnya.

Adrian memejamkan mata sejenak, memaksa amarahnya surut. Sebesar apa pun kebenciannya, ia tidak boleh mempertaruhkan keselamatan adiknya.

Ia mengembuskan napas panjang sebelum menoleh kembali kepada Aurora. Wajahnya yang semula dipenuhi kemarahan kini berubah menjadi kesedihan yang dalam.

"Tenanglah, Aurora," ucap Adrian lembut sambil menggenggam tangan adiknya. "Kakak tidak akan membiarkan hidupmu hancur karena semua ini. Kakak akan mencarikan laki-laki baik yang bisa menerimamu dan anakmu. Kau tidak akan menghadapi semuanya sendirian."

Aurora hanya terdiam. Dadanya terasa semakin sesak mendengar ucapan sang kakak.

Sepanjang perjalanan, pikiran Adrian dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan.

Benarkah Kael memang tidak dapat memiliki keturunan seperti yang selama ini dikabarkan? Ataukah semua itu hanyalah topeng untuk menghindari tanggung jawab atas apa yang telah terjadi pada Aurora?

Ia tidak memiliki jawaban.

Namun bagi Adrian, kebenaran itu bukan lagi hal yang paling mendesak. Yang terpenting sekarang adalah menjaga adiknya. Ia tidak ingin Aurora kembali mengambil keputusan gegabah yang dapat membahayakan dirinya maupun bayi yang sedang dikandungnya. Bayi itu kini bukan hanya harapan Aurora, tetapi juga calon keponakan yang sudah ia anggap sebagai bagian dari keluarganya.

Adrian menggenggam kemudi lebih erat sebelum perlahan mengembuskan napas panjang. Mobil kembali melaju membelah jalan yang mulai lengang, membawa mereka pulang.

Sesekali ia melirik Aurora yang duduk diam di kursi penumpang. Wajah gadis itu masih sembap karena tangis, matanya kosong menatap ke luar jendela. Pemandangan itu membuat hati Adrian terasa diremas.

Ia tidak pernah sekalipun berniat menyalahkan adiknya.

...****************...

Sebagai seorang ayah, tentu ada luka dan kekecewaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Menerima kenyataan bahwa kehidupan Aurora berubah sedrastis ini bukan perkara mudah. Namun rasa sayangnya jauh lebih besar daripada segala bentuk penyesalan.

Semua sudah terjadi.

Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berdiri di sisi Aurora, melindunginya, dan memastikan putrinya tidak menghadapi badai itu seorang diri.

Dalam hati, Adrian memanjatkan doa tanpa suara.

Semoga waktu perlahan menyembuhkan luka yang kini terasa begitu dalam. Semoga suatu hari nanti senyum Aurora kembali seperti dulu. Dan semoga, di balik semua penderitaan yang sedang mereka lalui, Tuhan masih menyimpan kebahagiaan yang pantas untuk putri kesayangannya.

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!