Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 : DARAH DI DERMAGA
⚠️ 𝙋𝙀𝙍𝙄𝙉𝙂𝘼𝙏𝘼𝙉 𝙆𝙊𝙉𝙏𝙀𝙉:
𝘾𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙖𝙬𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙚𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙠𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙣, 𝙙𝙚𝙨𝙠𝙧𝙞𝙥𝙨𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙧𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙧𝙪𝙩𝙖𝙡, 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙪𝙣𝙪𝙝𝙖𝙣. 𝙆𝙚𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙧𝙖𝙣𝙠𝙖𝙣.
...____________________________________...
𝘽𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙚𝙢𝙪𝙙𝙞𝙖𝙣...
Gerimis tipis mulai membasahi aspal Pelabuhan malam itu. Bau garam, karat besi kontainer, dan solar berbaur di udara yang pengap. Atas perintah mendadak dari Sang Ayah, Elara harus turun langsung ke Dermaga 9 untuk menginspeksi logistik faksi barat yang baru saja ia ambil alih.
Namun, alih-alih suasana kerja yang kondusif, Elara justru disambut oleh belasan mobil jip hitam milik faksi maritim. Di bawah lampu sorot dermaga yang temaram, Elder Marcus berdiri sembari mengisap cerutu, dikelilingi oleh belasan anak buahnya yang bertubuh kekar.
Dante malam itu tidak berada di sisi Elara, ia sengaja diperintahkan Sang Ayah untuk menahan pergerakan Julian di kediaman utama agar konsultan itu tidak melacak operasi malam ini. Elara datang sendiri, hanya ditemani dua pengawal internal yang ia perintahkan untuk menunggu di dalam mobil.
"Lihat siapa yang datang," cemooh Elder Marcus begitu langkah sepatu hak tinggi Elara bergaung di atas beton dermaga. Pria gempal itu meludahkan sisa tembakau ke laut. "Sang Putri Es turun ke kubangan lumpur. Apa Ayahmu sudah kehilangan akal sampai membiarkan seorang wanita mengurus jalur distribusi internasional?"
Elara terus melangkah maju, matanya menatap lurus ke arah manifes kapal di ujung dermaga. Ia mengabaikan Marcus seolah pria tua itu hanyalah tumpukan sampah yang kebetulan bisa berbicara.
"Kau pikir dengan menjebak Adrian dan Silas, kau bisa menguasai tempat ini, Elara?" Marcus melangkah menghadang jalur Elara, napasnya yang bau alkohol berembus kasar. "Di sini, hukumnya adalah otot dan air laut. Kau tidak lebih dari sekadar pajangan cantik yang beruntung lahir dari rahim yang tepat."
Elara berhenti tepat dua langkah di depan Marcus. Ia menatap pria itu dengan pandangan bosan yang merendahkan. "Singkirkan tubuhmu, Marcus. Aku di sini atas perintah langsung dari Ayah. Kecuali, kau ingin menyusul Silas ke sayap bawah tanah sebelum kapalmu sempat berlayar."
Marcus tertawa keras, tawa yang sarat akan kebencian dari seorang tetua yang harga dirinya diinjak-injak oleh anak muda. Ia memberi isyarat rahasia dengan jarinya di balik saku jaket.
"Aku harus memeriksa dek kapal. Nikmati malammu, Nona Elara," ujar Marcus dengan senyum sinis, sebelum berbalik bersama beberapa pengawalnya, sengaja meninggalkan Elara sendirian di area kontainer yang gelap dan sepi.
Begitu Marcus menghilang di balik lambung kapal, keheningan dermaga terasa mencekam. Suara deru ombak yang menghantam lambung kapal menjadi latar belakang yang sempurna untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dari balik bayang-bayang kontainer nomor 404, tiga orang pria bertubuh besar—bawahan setia Marcus yang sengaja ditinggalkan untuk memberikan "pelajaran" kepada Elara—melangkah keluar. Mereka memegang pipa besi dan sebilah pisau rambo yang besar.
"Marcus bilang, pastikan jalang ini tidak bisa berjalan dengan benar besok pagi," desis salah satu dari mereka yang memiliki tato ular di lehernya.
Tanpa banyak bicara, pria bertato itu menerjang maju, mengayunkan pipa besinya lurus ke arah kepala Elara.
Elara tidak bergerak mundur sedikitpun. Di bawah guyuran gerimis, matanya berkilat tajam. Saat pipa besi itu nyaris menyentuh pelipisnya, Elara merunduk, membiarkan angin serangan lewat di atas kepalanya.
Dengan memanfaatkan momentum tersebut, ia maju satu langkah, menyusup ke area buta lawan, menghantamkan pangkal telapak tangannya dengan presisi, menghancurkan jakun pria itu.
𝘒𝘙𝘈𝘒
Pria bertato ular itu langsung membelalakkan mata, memegangi lehernya yang hancur, lalu tumbang ke lantai dermaga sembari kejang-kejang kehabisan oksigen.
Dua orang sisanya tersentak melihat rekan mereka tumbang dalam satu gerakan, namun keputusasaan membuat mereka maju bersamaan. Pria kedua mengayunkan pisau rambonya dengan tebasan membabi buta. Elara menghindar dengan gerakan memutar.
Tangan kanannya dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan pria itu, memutarnya berlawanan arah jarum jam hingga sendi sikunya bergeser keluar dari mangkuknya dengan bunyi patahan yang mengerikan.
"AAARRGGHH!"
Belum sempat jeritan itu selesai, Elara merebut pisau rambo yang terlepas, memutarnya di udara, dan dengan dingin menghujamkan bilah tajam itu menembus rongga mata hingga menghujam langsung ke otaknya.
Pria ketiga, yang kini gemetar melihat dua temannya tewas secara tragis dalam waktu kurang dari satu menit, mencoba melarikan diri. Namun, Elara tidak mengenal kata ampun.
Ia memungut pipa besi yang terjatuh di lantai. Dengan kekuatan terukur dari teknik bela diri yang ia kuasai sejak remaja, Elara melemparkan pipa besi itu lurus ke arah kaki pria yang sedang berlari.
𝘉𝘜𝘔
Pipa itu menghantam bagian belakang lututnya hingga ia tersungkur mencium beton. Sebelum pria itu sempat berbalik, Elara sudah berada di atasnya. Ujung sepatu hak tingginya yang runcing menghantam tengkuk pria itu dengan injakan yang sangat brutal.
𝘒𝘙𝘌𝘛𝘌𝘒
Tulang leher pria ketiga itu patah seketika di bawah tumit Elara. Tubuhnya mengejang sekali sebelum akhirnya kaku tak bernyawa.
Area kontainer itu kembali sunyi, menyisakan suara tetesan air hujan yang bercampur dengan darah pekat yang mengalir dari tiga jasad di atas beton.
Elara berdiri tegak di tengah hujan. Ia mengeluarkan saputangan putih dari saku mantelnya, mengusap setitik cipratan darah yang mengenai pipinya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas yang membosankan.
Ia melempar saputangan yang kini bernoda merah itu ke atas wajah mayat di bawah kakinya, lalu melangkah pergi ke tempat Marcus berada.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..