"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.
Vector nampak diam mematung, ia membayangkan jika nanti di dalam kamar mandi Jenny memandikannya dalam posisi kentungnya yang berdiri tegak seperti ini. Apalagi Jenny adalah sosok primadona yang ada di sekolahnya, di tambah lagi sosok primadona itu adalah gadis yang sudah lama sangat ia cintai.
"Aku sangat malu, aku sangat takut jika Jenny melihatku Kentung ku berdiri. Dia akan beranggapan jika aku adalah orang yang buruk." gumam Vector dalam hatinya, ia benar benar di buat bingung sendiri. Mau mandi sendiri pun, dirinya sangat takut.
Karena selama ini Vector memang selalu di mandikan oleh ibunya, kadang jika Vector ingin mandi sendiri, karena moodnya itu sangat baik. Ibunya itu tetap stay dan berada di dalam kamar mandi, karena Ibu kandung Vector itu takut kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada putranya.
Jenny sendiri hanya memandang Vector dengan tatapan kosong, iya walau pun pandangannya sekarang ini melihat ke arah Tuan mudanya. Tapi yang terjadi, ia sedang memikirkan nasib yang akan menghampiri dirinya setelah ini.
Akhirnya lamunan Jenny tersadar, saat jam di dinding kamar Tuannya itu terdengar mengeluarkan bunyi lonceng. Karena memang lonceng jam di dinding Tuannya itu akan berbunyi setiap pukul enam pagi.
"Tu - Tuan, Ayo lebih baik anda mandi sekarang juga! Karena saya takut jika Nyonya Vina itu kembali marah dan juga mengamuk! Dan saya juga harus mandi, bukankah saya akan ikut bersekolah dengan Tuan?"
Ucapan Jenny sungguh membuat lamunan Vector buyar, ia pun lantas melihat ke arah Jenny.
"Ta - tapi Jenny, gimana ya jelasinnya!"
"Jelasin apa Tuan?"
Lidah Vector sungguh terasa sangat kelu, ia benar benar bingung harus menjelaskan dengan cara bagaimana? Perihal Kentung miliknya yang masih berdiri dengan tegak. Karena walaupun dirinya itu punya penyakit mental, tapi ia adalah manusia normal yang memiliki hawa napsu.
Vector nampak terdiam, ia terlihat mengigit bibir bawahnya.
Jenny sendiri terlihat melirik ke arah jarum jam yang terus berjalan, ia terlihat menghembuskan nafas dengan kasar.
"Hari ini bisa saja aku berangkat sekolah dengan menaiki bis! Kan sekarang aku hanya seorang pelayan miskin yang mempunyai banyak hutang pada keluarga ini! Gerbang sekolah di tutup pukul delapan tepat, akh aku harus segera menyeret Tuan muda ini untuk mandi bersama! Setidaknya aku harus bersekolah dengan benar, dan menjadi orang sukses atau pun wanita karir. Hanya sebagai pelayan, tidak mungkin hutang keluargaku itu akan berkurang. Apa lagi di tambah pengobatan ibuku yang masih di lakukan sampai sekarang. Ayo Jenny semangat kamu pasti bisa! Percuma saja meratapi nasib sekarang ini, toh dengan meratapi nasib, tidak akan ada yang berubah dari hidupmu. Sekarang buruan mandi, persetan mandi bersama dengan Vector!" gumam Jenny dalam hatinya.
Jenny lantas terlihat berdiri, lalu ia memegang tangan Tuannya. Ia terlihat menarik tangan Tuannya itu dengan sangat lembut seraya berkata, "Ayo Tuan! Kita mandi bersama, aku takut kalau sampai kita berdua itu terlambat berangkat ke sekolah karena dari tadi malah sama sama melamun di pagi hari."
Melihat tatapan memohon yang di tunjukkan oleh Jenny, Vector pun tidak ada pilihan lain. Ia menjawab ucapan Jenny dengan sebuah anggukan kepala.
Jenny menggandeng Vector untuk masuk ke dalam kamar mandi, walaupun Vector sudah mati matian untuk memalingkan pandangannya itu ke arah lain, agar pandangannya itu tidak melihat ke arah rok mini yang di kenakan oleh Jenny.
Tetap saja pandangannya itu menatap dengan fokus ke arah paha mulus Jenny.
Bukan hanya kentungnya yang sekarang ini nampak berdiri dengan tegak, namun tubuhnya juga semakin di buat panas dingin.
Puk
Puk
Karena pengaruh obat obatan dari penyakit mental yang selama ini ia konsumsi. Otak Vector nyatanya jadi bodoh dan terlalu lama berpikir, semua itu terjadi karena efek samping dari obat obatan itu.
Akhirnya ia teringat, jika sekarang ini Jenny sang primadona sekolah bekerja di rumahnya sebagai pelayan yang khusus melayani dirinya.
Puk
Vector terlihat menepuk nepuk pipinya sendiri, untuk menyakinkah apakah ini mimpi atau tidak? Sampai Vector tidak menyadari jika sekarang ini dirinya sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Jenny terlihat memegang tangan Vector yang menempuk pipinya sendiri.
"Tolong jangan lakukan ini Tuan! Saya takut, jika Nyonya Vina marah dan mengira kalau saya yang menyakiti Tuan jika sampai pipi anda itu lecet!" tegur Jenny dengan raut wajah takut.
Karena rasa sakit di pipinya masih terasa sampai sekarang, rasa sakit akibat tamparan yang di lakukan oleh Vina.
"Maaf Jenny," sahut Vector.
Jenny nampak menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Tidak perlu minta maaf Tuan, karena Tuan muda tidak pernah salah!"
Jenny teringat akan perilaku sopan yang di tunjukkan oleh pelayannya, saat dirinya salah pun tetap pelayan rumahnya dahulu yang meminta maaf. Jenny bertekad untuk menjadi pelayan yang baik, dimana lagi ia bisa bekerja sebagai pelayan sambil sekolah. Apalagi majikannya itu sungguh terlalu baik, mau menampung dirinya yang sudah tidak mempunyai apa apa, bahkan dengan sebuah hutang yang menggunung keluarga Jayde masih terlalu baik untuk membiayai ibunya.
"Tu - tuan, mau anda lepas sendiri atau saya bantu lepaskan?" tawar Jenny.
"Aku bisa sendri," sahut Vector dengan wajah malu.
Jenny terlihat melepaskan baju pelayan yang sedari tadi menempel di tubuhnya, ia memilih mandi tanpa menggunakan kacamata dada atau pun celana dalam. Karena Jenny berjaga jaga, takut jika sampai majikannya itu hanya memberikan seragam sekolah tanpa dalaman.
Karena seingat Jenny, dirinya itu datang kesini tanpa membawa pakaiannya satu pun.
Vector pun terlihat sangat kesulitan untuk melepas bajunya sendiri, apalagi melihat tubuh sang primadona sekolahnya yang ada di depannya tanpa sehelai benang. Sungguh Vector sendiri merasa seperti mendapatkan sebuah jackpot.
Karena dulu baginya berkontak fisik hanya sekedar berjabat tangan saja dengan Jenny rasanya tidak mungkin.
Penyakit mental yang Vector derita selain membuatnya kesulitan untuk berpikir, ia juga sangat kesulitan untuk melepas bajunya sendiri. Makanya setiap pelajaran olahraga di sekolahnya, Vector selalu paling lama dalam mengganti pakaiannya.
Sudah aslinya melepas pakaiannya sendiri itu lama, Vector masih harus di perlihatkan pemandangan yang sungguh aduhai untuk di lihat. Membuat dirinya sendiri semakin panik dan semakin lama sekali untuk melepas pakaian nya.
Melihat Tuannya yang terlihat kesulitan untuk melepas pakaiannya, di tambah ingatan Jenny saat di masa sekolah kalau Vector pernah di bully perihal saat pakai dan melepas pakaiannya sendiri.
"Astaga, waktu akan terus berjalan. Dan sekarang ini kamu sudah tidak ada pilihan lain lagi Jenny, selain membantu Nathan untuk melepas pakaiannya." gumam Jenny dalam hatinya, ia juga terlihat menghembuskan nafasnya itu dengan kasar.
Vector benar benat di buat bertambah panik, ia malah semakin kesulitan untuk melepaskan pakaiannya.
"Tuan Muda, biarkan saya yang melepaskan pakaian anda!" Tanpa menunggu persetujuan dari Tuannya, Jenny terlihat langsung membantu melepaskan pakaian Tuan Mudanya itu.
Vector sendiri hanya bisa pasrah dan menurut saja, di hadapkan oleh Jenny tubuhnya benar benar sangat sulit untuk memberontak apalagi untuk bergerak. Bahkan sekarang ini pipinya benar benar berwarna merah merona.
Jenny pun terlihat mandi di bawah guyuran shower, sedangkan Vector nampak mandi di atas bathtub sembari mencuri curi pandangan ke arah Jenny.
Ia benar benar sulit untuk memalingkan pandangannya itu, jakunnya terus terlihat naik turun.
Glek
kalo berkenan mampir juga ya😉