Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinginnya Daun Pintu dan Keteguhan Sebuah Hati
Suara bantingan pintu yang begitu keras menggema di telinga Kirana, bagaikan hantaman petir yang meremukkan seluruh dunianya seketika.
Tubuhnya yang lemas masih terduduk bersimpuh di atas lantai teras rumah ibunya yang dingin dan berdebu. Air mata yang keluar dari sepasang matanya tidak lagi mengalir perlahan, melainkan tumpah ruah membasahi kain kerudung anggunnya yang kini berlumur debu teras.
Dada Kirana terasa sesak, seolah pasokan udara di sekitarnya telah habis tersedot oleh rasa sakit yang teramat sangat akut.
Namun, penderitaan Kirana tidak berhenti sampai di situ. Di tengah isak tangisnya yang coba ia redam dengan gigitan bibir, dinding rumah kayu yang sederhana itu tidak mampu menyembunyikan suara lantang yang berasal dari dalam ruang tamu.
Suara Willy, kakak lelakinya, kembali terdengar menggelegar penuh amarah. Kali ini, amarah itu ditumpahkan kepada ibu mereka.
"Ibu! Kenapa Ibu diam saja?!" bentak Willy dengan nada suara yang penuh tuntutan dari balik pintu.
"Melihat Kirana berpakaian aneh seperti itu, masuk ke rumah ini dengan membawa jalan hidup yang baru, kenapa Ibu masih membiarkan dia melangkah masuk ke ruang tamu kita?!
Harusnya dari awal dia menapakkan kaki di halaman, Ibu langsung mengusir dia keluar! Dia sudah mempermalukan nama keluarga kita, Bu!"
DEG...
Hati Kirana mencelos, rasanya seperti disayat sembilu yang teramat berkarat mendengar kalimat kejam dari mulut kakak kandungnya sendiri. Setiap kata yang diucapkan Willy menjadi paku panas yang menancap tepat di jantungnya.
Namun, di tengah cercaan bertubi-tubi dari Willy, tidak ada satu pun suara pembelaan yang terdengar dari sang ibu. Rumah itu kembali hening, hanya menyisakan suara napas Willy yang memburu.
Mendengar keheningan tersebut, tangisan Kirana semakin pecah dalam diam. Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara raungannya tidak terdengar ke dalam. Kirana tahu... dia teramat sangat tahu bahwa ibunya pasti merasakan kekecewaan yang teramat mendalam atas keputusan hidupnya ini. Namun, Kirana juga tahu, jauh di dalam lubuk hati wanita itu, sang ibu sangat menyayangi dirinya. Karena rasa sayang yang bercampur dengan luka itulah, sang ibu hanya bisa diam membisu, tidak mampu dan tidak mau menjawab pertanyaan tajam dari Willy.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Kirana perlahan-lahan berusaha bangkit berdiri. Kakinya terasa gemetar dan mati rasa, tapi dia memaksakan dirinya untuk melangkah mendekati daun pintu kayu yang terkunci rapat itu.
Dengan pergerakan yang teramat sangat sentimentil, Kirana menempelkan telapak tangan kanannya ke permukaan daun pintu. Tidak hanya itu, dia juga menyandarkan kening dan pipinya yang basah oleh air mata ke arah kayu pintu yang dingin tersebut. Merasakan tekstur pintu itu, seolah-olah dia sedang bersandar di dada sang ibu untuk yang terakhir kali.
"Buuu..." bisik Kirana dengan suara yang teramat serak dan bergetar hebat di depan permukaan pintu. "Kirana... Kirana pamit ya, Bu..."
Kirana mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengontrol dadanya yang kian bergemuruh hebat oleh rasa perih.
"Jaga kesehatan Ibu baik-baik di dalam sana... Ibu gak perlu mencemaskan atau mengkhawatirkan keadaan Kirana lagi. Kirana janji... Kirana juga akan selalu menjaga diri Kirana dengan baik di manapun Kirana berada sekarang, Bu. Maafin semua kesalahan Kirana ya, Bu... Kirana sayang banget sama Ibu..."
Kirana menjeda kalimatnya sejenak, air matanya menetes jatuh mengenai celah bawah pintu. "Kirana pergi dulu ya, Bu... Salam hangat terakhir dari Kirana..."
Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya kesunyian dingin yang membalas ucapan tulusnya.
Kirana membalikkan badannya dengan perlahan. Dengan langkah kaki yang terasa teramat sangat berat bagaikan di lilit rantai besi, dia berjalan meninggalkan halaman rumah masa kecilnya menuju taksi yang masih setia menunggunya di pinggir jalan raya.
Sebelum benar-benar membuka pintu dan masuk ke dalam kabin taksi, gerakan tangan Kirana mendadak terhenti. Ada sebersit harapan kecil yang tiba-tiba membubung di dalam dadanya. Kirana menengok sekali lagi ke belakang, menatap lurus ke arah pintu rumah ibunya.
Di dalam hati kecilnya yang paling dalam, Kirana berharap... berharap ada keajaiban di mana sang ibu akan berlari keluar, membuka pintu tersebut, dan memeluknya kembali tanpa memedulikan perbedaan yang ada.
Namun, takdir memaksa Kirana untuk menelan pil pahit sekali lagi di hari yang sama. Harapan itu pupus seketika. Pintu rumah ibunya tetap bergeming, tertutup rapat seolah telah menjelma menjadi benteng batu yang tak akan pernah bisa ia tembus lagi.
Dengan senyuman getir yang teramat sangat menyedihkan, Kirana menghapus sisa air mata di pipinya, lalu melangkah masuk ke dalam taksi
Begitu mobil taksi melaju membelah jalanan, menjauh dari rumah yang telah membuangnya, Kirana menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil. Sepanjang perjalanan panjang kembali menuju ruko konveksi di ibu kota, Kirana terus mencoba menguatkan jenggala hatinya sendiri.
Kirana memejamkan mata, memeluk tas busana ibadah yang ada di pangkuannya. Kirana tahu, air mata tidak akan mengubah kenyataan yang ada. Dia tidak boleh dan tidak akan membiarkan dirinya berlarut-larut dalam kesedihan yang tak berujung. Jalan hijrah yang ia pilih bukan jalan yang bertabur bunga, melainkan jalan penuh duri yang harus ia lalui dengan kepala tegak demi mempertahankan keimanannya.
Di dalam hati yang terluka parah itu, terselip sebuah keyakinan baru yang teramat sangat kokoh: "Aku yakin... suatu hari nanti, Sang Pencipta benar-benar akan membuat semuanya menjadi indah pada waktu yang tepat."
Beberapa jam kemudian, taksi akhirnya berhenti di depan ruko konveksi milik Kirana. Hari sudah menjelang sore ketika Kirana melangkah masuk ke dalam ruko. Wajahnya tampak pucat, penat, dan sepasang matanya terlihat bengkak akibat tangisan sepanjang hari.
Aisyah yang sejak tadi duduk gelisah di dekat mesin jahit menunggu kepulangan sahabatnya, langsung melompat berdiri begitu melihat kehadiran Kirana.
"Kirana!" pekik Aisyah langsung berlari maju dan memeluk erat tubuh Kirana. Aisyah tidak perlu bertanya apa yang terjadi, karena melihat kondisi fisik dan mata sembab Kirana, dia tahu bahwa sahabatnya baru saja melewati gerbang neraka penolakan yang teramat kejam.
"Aisyah..." ucap Kirana lirih di dalam pelukan sahabatnya. Kali ini, tidak ada lagi air mata yang tumpah. Matanya kosong, namun memancarkan ketegaran yang luar biasa. "Aku... aku sudah tidak punya rumah lagi, Syah."
Aisyah kian mempererat pelukannya, air mata Aisyah justru yang ikut menetes karena tidak tega melihat ketabahan Kirana yang begitu hebat. "Kamu punya rumah di sini, Kirana! Ruko ini rumahmu, aku keluargamu! Kita akan berjuang sama-sama di sini, kamu tidak sendirian!"
Kirana tersenyum tipis—sebuah senyuman yang teramat anggun sekaligus menyimpan sejuta luka terdalam.
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia