Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu?
Waktu menunjukkan pukul 15.00. Suasana kamar perawatan Keana terasa begitu tenang, diiringi sayup-sayup suara pendingin ruangan dan denting halus jarum jam di dinding yang terus berputar.
Di dalam kamar, hanya ada Gavin yang sedang menyandarkan punggungnya di sofa, sementara Keana duduk di tepi ranjang sambil bermain handphone.
Mama Soraya, Papa Arland, dan Elvan masih bekerja saat ini. Sehingga hanya mereka berdua saja di dalam kamar.
Ponsel Gavin tiba-tiba bergetar di saku celananya. Ia merogohnya, melihat notifikasi yang masuk, lalu mendongak menatap adiknya.
"Kea," panggil Gavin sambil berdiri dan mengantongi ponselnya kembali.
"Ojol yang bawa makanan pesenan kakak udah nyampe di bawah. Kakak turun sebentar ya, mau ngambil makanan"
Keana menoleh dan mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum tipis. "Iya, Kak. Jangan lama-lama ya."
"Siap, Tuan Putri. Kakak cuma sebentar kok, lima menit juga balik lagi. Lo tunggu di sini, jangan aneh-aneh," goda Gavin seraya mengacak rambut Keana gemas sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu kamar perawatan.
Kini, Keana benar-benar sendirian di ruangan yang hening itu. Suara langkah kaki Gavin makin menjauh di lorong. Keana menghela napas lega, menikmati momen tenang itu.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Klek
Gagang pintu bergerak. Pintu terbuka perlahan, tapi langkah kaki yang terdengar masuk bukanlah langkah cepat khas Gavin, melainkan langkah sepatu kulit yang berat dan terukur.
Keana mendongak, menyangka papanya atau petugas medis yang masuk. Namun, sosok yang berdiri di ambang pintu membuat keningnya berkerut bingung.
Seorang pria paruh baya berpakaian rapi dengan jas gelap melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangan tanpa suara. Pria itu memiliki perawakan tegap dengan garis wajah yang tegas dan tajam. Ada kemiripan samar yang tak bisa dijelaskan Keana pada wajah itu. Tatapan mata pria itu begitu intens, menatap Keana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan bauran ekspresi yang sulit diartikan, antara rasa ingin tahu, ambisi, dan kepemilikan.
Keana refleks menegakkan duduknya, meremas ujung selimut di pangkuannya. Rasa canggung dan sedikit waspada mulai merayapi dadanya.
"Maaf... paman cari siapa, ya?" tanya Keana sopan, walau suaranya terdengar agak ragu.
"Kalau cari Papa…maksud ku Dokter Arland, lagi di bawah."
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat di samping ranjang tempat Keana duduk. Senyum tipis yang terasa asing dan dingin terlukis di bibirnya.
"Saya tidak sedang mencari Arland," ucap pria itu, suaranya berat dan bernada dalam.
"Saya ke sini khusus untuk melihat kamu... Keana," panggil pria itu lembut, namun ada nada dominan yang membuat bulu kuduk Keana berdiri.
Keana makin mengerutkan keningnya, hatinya berdesir aneh. Siapa pria ini? Dan bagaimana bisa dia tahu namanya dengan begitu fasih?
"Paman... siapa ya?" tanya Keana lagi, kali ini suaranya sedikit tertahan di tenggorokan. Ada sesuatu dari tatapan pria itu yang membuatnya merasa tidak nyaman, meski pria itu tersenyum padanya.
Pria itu terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terkesan dingin di telinga Keana.
"Sepertinya kamu memang lupa dengan paman. Terakhir kita bertemu saat umurmu masih 3 tahun dan kamu masih bersama dengan ayah dan ibumu" jawab Imran
"Nama saya Imran, kakak kandung ayah"
Keana terpaku. Paman Imran?. Nama itu terasa begitu asing di telinganya. ia tidak mengingat apapun tentang nama itu, keluarganya hanyalah Ibu, ayah, Papa Arland, Mama Soraya, Bang Elvan, dan Gavin.
Melihat kebingungan di wajah Keana, ia kembali menjelaskan.
"Kamu, ayah dan ibu memang sangat jarang sekali berkunjung ke Sulawesi Selatan tempat kelahiran ayah. Saat usiamu 3 tahun di situlah kita pertama kali bertemu dan juga terakhir kali bersama kedua orang tuamu. " ucap Imran dengan nada santai, seolah sedang menceritakan kenangan manis.
"Dulu... Paman dekat sekali dengan Ayahmu. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Ayahmu itu orang yang hebat, Kea. Dan melihat kamu sekarang... wajahmu mirip sekali dengannya."
Keana terdiam, jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Mendengar kata 'Ayah' terlontar dari mulut orang asing di kamar rawatnya membuat dadanya terasa sesak.
Imran memperhatikan perubahan raut wajah Keana, lalu senyumnya kian melebar, senyum tipis yang menyimpan rencana terselubung. Ia sengaja menanamkan rasa penasaran dan keraguan di kepala gadis muda itu.
"Paman tahu, keluarga Hardian merawatmu dengan sangat baik di sini," ucap Hendra, nada suaranya berubah misterius, tidak secara gamblang menyalahkan Arland, namun menyelipkan sindiran halus. "Tapi bagaimanapun... ikatan darah itu tidak bisa dihapus, Kea. Kamu punya keluarga kandung yang selalu mengingat kamu. Seharusnya kamu ikut dengan keluarga kandungan mu, yaitu kami, bukan dengan keluarga angkat mu"
Imran lalu mengulurkan tangannya, bermaksud mengusap bahu Keana, namun Keana refleks sedikit menarik tubuhnya ke belakang. Imran tidak tersinggung, ia justru menarik kembali tangannya dengan tenang.
"Sekali-kali, datanglah berkunjung ke tempat Paman," bisik Hendra halus, nada ajakannya terdengar seperti bujukan yang manis namun manipulatif.
"Ikutlah dengan Paman. Ada banyak hal tentang Ayahmu dan masa lalumu yang tidak pernah diceritakan oleh 'keluarga' ini... tapi Paman bisa menceritakannya semuanya padamu."
Imran tersenyum lembut namun dengan arti yang berbeda. Ia kemudian meninggalkan keana yang termenung mengingat setiap kata yang paman Imran keluarkan.
"Kamu punya keluarga kandung "
"Seharusnya kamu ikut dengan kami"
"Bukan dengan keluarga angkat mu"
"Kea"
"Keana"
"KEANA!!"
Keana tersentak kaget mendengar suara keras yang memanggil namanya. Gavin sudah berdiri di sisi brangkarnya yang entah sejak kapan berada disana.
"Kamu melamun? Kakak panggil-panggil kok kamu gak dengar"
"Apa yang kamu pikirkan?" berbagai pertanyaan Gavin lontarkan. Ia takut trauma Keana kembali lagi.
"Ahh...Kea lagi nggak mikir apa-apa kok. Heheh" Keana berbohong dengan mencari alasan.
"Bohong Kakak nggak percaya"
"Isss……kak Gavin nih, pesimis amat sama Kea. Kea hanya lagi mikir sepertinya cemilan Kea di rumah itu tinggal sedikit nanti pulang dari rumah sakit kita singgah beli cemilan dulu ya? tapi nanti dimarahin Papa sama Mama apa lagi ada Kak Elvan"
Gavin menghela napas panjang, menatap Keana intens selama beberapa detik seolah berusaha mencari celah kebohongan di matanya. Namun, melihat riak polos dan senyum tipis yang dipaksakan adiknya itu, pertahanan Gavin akhirnya runtuh juga.
"Dasar penjahat cemilan," cetus Gavin sambil mengetuk pelan dahi Keana dengan ujung jarinya.
"Kakak kira kamu mikirin apaan sampai melamun segitunya, ternyata cuma gara-gara micin!"
Keana meringis pelan sambil memegangi dahinya, menyunggingkan cengiran khasnya untuk menutupi gemuruh di dada. Di dalam hatinya, kata-kata Paman Imran masih berputar bagai kaset rusak membuat kepalanya terasa berat. Namun, melihat wajah Gavin yang berada begitu dekat dengannya, rasa aman yang familiar itu perlahan kembali menyelimuti.
"Ya lagian Kak Gavin nanya kayak penguji skripsi," gerutu Keana manja, mencoba mencairkan suasana.
"Jadi gimana? Mampir mini market dulu kan habis ini?"
Gavin menaikkan satu alisnya, lalu menyilangkan tangan di dada dengan gaya sok tegas. "Mampir sih bisa aja. Tapi kalau sampai Bang El tau kamu makan chiki yang dikulit hidup-hidup bukan cuma kamu ya, Kea. kakak juga bakal kena imbasnya!"
"Ya makanya jangan kasih tahu Kak El!" sahut Keana cepat. "Kita sembunyiin di bawah jok mobil. Kan mobil yang satu lagi bagasinya luas!"
"Wah, ngajar-ngajarin konspirasi nih anak," kekeh Gavin sambil merangkul pundak Keana gemas, menariknya sedikit ke dalam dekapan hangatnya.
"Kalau kamu berhasil membuat Papa sama Mama mengizinkan mu membeli Chiki urusan bang El itu gampang, nanti kita pinter-pinter ngeles aja pas di rumah"
"Iya, Kakak cerewet," balas Keana pelan.
*******
Sore harinya, sekitar pukul empat sore, Keana akhirnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Mobil hitam keluarga Hardian perlahan membelah jalanan kota hingga akhirnya berhenti di depan pagar rumah mereka yang asri dan tenang. Keana juga berhasil membujuk papa dan Mamanya untuk singgah di minimarket membeli cemilan.
Aroma harum pepohonan di halaman rumah langsung menyambut Keana begitu Gavin membukakan pintu mobil. Rasanya sangat lega bisa kembali ke rumah setelah seharian mencium bau obat-obatan yang menyesakkan.
"Sampai juga di markas!" seru Gavin riang sambil membawakan tas kecil milik Keana.
"Ayo, Tuan Putri, karpet merah sudah digelar."
Keana tertawa kecil, melangkah masuk didampingi Mama Soraya yang mengapit lengannya erat, sementara Papa Arland memantau langkahnya dari belakang dengan tatapan penuh kehangatan.
"Langsung ke kamar ya, Sayang. Istirahat dulu," tutur Mama Soraya lembut begitu mereka sampai di ruang tengah.
"Iya, Ma. Tapi... Kea beneran udah sembuh, kok. Gak usah terlalu khawatir," jawab Keana manis.
Papa Arland tersenyum, mengusap puncak kepala Keana. "Fisikmu memang sudah pulih, Kea. Tapi Papa mau memastikan pikiran dan hatimu juga ikut tenang. Makanya, mulai minggu depan, Papa sudah minta bantuan seseorang untuk mendampingi mu."
Keana menatap papanya bingung.
"Mendampingi? Maksud Papa... dokter?"
"Bukan dokter bedah seperti Papa atau Bang El," potong Papa Arland hangat. "Beliau adalah Psikolog Klinis, namanya dokter Sarah. Beliau ini ahli dalam membimbing remaja untuk menyembuhkan trauma masa lal."
Papa Arland menatap mata Keana dengan lembut, tidak ingin putrinya merasa menganggap dirinya "sakit jiwa" atau gila.
"Ini bukan karena Kea 'sakit', ya. Tapi ini cara Papa dan Mama supaya Kea punya teman cerita yang tepat, yang bisa mengajarkan Kea cara mengatasi rasa takut kalau tiba-tiba Kea teringat api lagi. Supaya Kea bisa lepas sepenuhnya dari bayang-bayang trauma itu," tambah Papa Arland menjelaskan.
Keana merenungkan ucapan papanya sebentar, lalu mengangguk perlahan. Rasa aman yang diberikan keluarganya membuat ia percaya bahwa keputusan papanya adalah yang terbaik.
"Iya, Pa. Kea mau."
"Nah, gitu dong! Anak pintar," puji Gavin sambil mengacak-acak rambut Keana. "Nanti kalau stres gara-gara konseling, bilang ke kakak, biar kakak ajak jalan-jalan beli es krim."
Keana tersenyum mendengarnya. Meskipun terkadang bisikan itu terus terngiang membakar pikirannya, ia memantapkan hatinya. Di sini, di samping Gavin, papa, dan mama, di dalam rengkuhan keluarga Hardian, ia tahu di manakah tempatnya yang sebenarnya.