Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA DI TENGAH KEPUTUSASAAN
BAB 23: CAHAYA DI TENGAH KEPUTUSASAAN
Di tengah lautan darah dan rongsokan perisai yang berserakan, Jenderal Veron memutar tubuhnya dengan susah payah untuk menghindari tebasan cakar para beast.
Dalam pergerakan memutar itu, sepasang mata lelah sang komandan menangkap kilatan cahaya keemasan dari arah timur.
Mata sang Jenderal menajam. Di balik kabut asap yang pekat, siluet sebuah jalan setapak dari elemen bumi mendadak mencuat, membelah lautan beast dengan paksa.
Binar kebahagiaan yang telah lama padam kini menyala kembali di sepasang mata tuanya.
"Mereka... akhirnya mereka datang," gumam Jenderal Veron dengan suara serak yang bergetar penuh kelegaan.
BOOOOOM! BRAKKKK!
Menyerap sisa-sisa energi terakhir di wadah jiwanya, sang Jenderal mengayunkan pedang besarnya dengan sisa tenaga. Anima Serigala Zirah Besi di punggungnya ikut mengaum, menghantam mundur tiga ekor Beast sekaligus hingga terpelanting.
"Dengarkan perintahku!" teriak Jenderal Veron menggelegar, suaranya membelah deru pertempuran.
"Pertahankan formasi kalian! Jangan ada yang mundur satu langkah pun! Kesempatan hidup kita kembali terbuka!"
Para prajurit Volcania yang sedari tadi bertarung membabi buta dalam keputusasaan langsung mendongak.
Mendengar seruan komandan mereka dan melihat bala bantuan tiba, sisa-sisa harapan yang telah hancur kini mengobarkan kembali semangat juang di dada mereka. Tombak dan perisai yang retak kembali diangkat tinggi-tinggi menyambut maut.
BOOOOM! BOOOOM! BOOOOM!
Tepat saat para prajurit merapatkan formasi, langit di atas gerbang Volcania mendadak memerah.
Rentetan bola api raksasa menghujani barisan belakang kawanan Beast. Ledakan demi ledakan dari burung Phoenix purba, Pyrael, meratakan puluhan beast menjadi abu hitam yang beterbangan tertiup angin panas.
"Jalan terbuka, Kapten!" seru Elena dari udara. Sayap apinya berkibar megah, memberikan pelindungan udara yang mematikan dan absolut.
Di darat, Kapten Gareth memimpin serangan frontal yang tak terhentikan.
"Haaaaaaaaaaa!" raung sang Kapten veteran, menggetarkan medan tempur.
Anima Banteng Tanduk Baja yang menyelimuti tubuhnya menerobos masuk bak palu dewa yang dijatuhkan dari langit. Setiap serudukannya mementalkan belasan Beast Peringkat Menengah ke udara, menghancurkan tulang dan zirah batu musuh hingga berkeping-keping.
Di sisi lain, kilatan cahaya melesat zig-zag dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata biasa.
Itu adalah Suna. Menggunakan akselerasi penuh dari Anima Cheetah Kinetik, gadis itu berpindah dari kiri ke kanan layaknya hantu pencabut nyawa. Belati di tangannya memotong urat leher Beast yang lengah, mengamankan titik buta Kapten Gareth.
Setelah ketiganya berhasil memecah fokus pertempuran, tanah bergetar hebat menyambut kedatangan anggota tim berikutnya.
Hugo tiba dengan napas memburu dan jubah yang basah kuyup oleh keringat. Pemuda tambun itu menggertakkan giginya kuat-kuat, meredam sisa rasa takutnya.
"Morgrath, ayo!" teriak Hugo beringas.
BRUUUSHHH!
Mammoth Purba raksasa bermanifestasi penuh, menempatkan posisinya tepat di tengah lautan musuh.
Morgrath mengayunkan sepasang gading emasnya yang melengkung tajam, menembus tubuh keras para Beast bagai menusuk kertas tipis. Belalainya yang masif melilit beast yang mencoba menyergap, lalu melemparkannya jauh ke udara hingga hancur berantakan.
Hugo berdiri kokoh di tengah pelindungan elemen tanah tersebut. Ia terus mengikuti pergerakan sang Mammoth, memastikan tidak ada celah bagi musuh untuk menyerang punggung rekan-rekannya.
Kengerian yang tadinya hanya milik prajurit Volcania, kini berbalik menjadi neraka pembantaian bagi kawanan Beast. Gabungan kekuatan Ranah Emas, Perak, dan Anima Mitologi dari Scar Horizon menciptakan simfoni peperangan yang luar biasa brutal.
Sementara itu, di jalur lintasan yang cukup jauh di belakang mereka.
Kael dan Ren terus memacu langkah tanpa henti, berlari menembus sisa-sisa kabut ngarai.
Wajah Kael tampak sangat tenang, dingin, bak permukaan danau yang membeku. Tidak ada sedikit pun riak kegugupan di sepasang matanya. Namun, ritme pernapasannya menandakan bahwa ia sedang memacu batas stamina fisiknya.
"Kita harus lebih cepat, Ren," ucap Kael tanpa menoleh, terus menatap lurus menembus jarak.
Di sebelahnya, Ren berlari dengan cengiran lebar yang tak kunjung pudar.
Pemuda berambut merah itu masih dimabuk oleh kemenangannya melawan Beast Peringkat Menengah tadi. Dalam kepalanya, ia sudah membayangkan sorak-sorai dan pujian dari rekan-rekan guildnya saat ia tiba.
"Ya, kau benar, Kael!" sahut Ren berapi-api, gairahnya meletup-letup. "Tanpa aku, mereka pasti tidak akan bisa menang! Hehehe."
Mendengar bualan kelewat percaya diri itu, Kael hanya bisa mengembuskan napas panjang.
Sebagai seorang yang terbiasa menganalisis segala hal secara rasional, Kael seolah bisa membaca isi kepala kawan barbarnya ini. Ego Ren memang selalu meroket menembus langit setelah berhasil mengalahkan musuh kuat.
"Kita juga harus memulihkan sisa jiwa kita sambil berlari," tukas Kael, mengalihkan topik agar mereka kembali berfokus pada persiapan taktis.
Langkah Ren mendadak sedikit tertahan. Pemuda itu merogoh saku jubahnya dengan wajah polos.
"Ah! Aku lupa!" seru Ren tiba-tiba. "Aku bawa pil tingkat menengah pemulih jiwa, Kael!"
Kael nyaris tersandung kakinya sendiri. Langkah efisiennya terputus selama sepersekian detik.
Wajah Kael yang biasanya datar tanpa ekspresi kini menatap Ren dengan ketidakpercayaan yang mendalam. Rahangnya mengeras seketika.
Bagaimana mungkin bocah bodoh ini dari tadi hanya diam dan baru ingat membawa barang seberharga itu?! umpat Kael dalam hati.
Jika saja Ren memberikan pil itu sejak awal, mereka berdua bisa memulihkan wadah jiwa Perunggu mereka jauh lebih cepat.
"Cepat keluarkan pilnya, Ren!" desak Kael, nada dinginnya kini bercampur dengan kekesalan tipis. "Kenapa kau tidak bilang dari tadi, hah?!"
Ren hanya tertawa tanpa dosa sambil menyodorkan sebuah botol porselen kecil ke arah Kael.
"Ah, maaf, maaf, aku lupa, Kael. Rupanya, aku terlalu terbawa suasana kemenangan kita tadi," ucap Ren polos, memamerkan cengirannya yang menyebalkan.
Kael mengambil pil tersebut lalu langsung menelannya bulat-bulat tanpa membuang waktu.
Dalam sekejap mata, energi murni dan hangat dari ramuan tingkat menengah itu mengalir ke seluruh sistem sarafnya. Retakan-retakan kecil di wadah jiwanya yang sempat diakibatkan oleh tarikan Morthas kini mulai tertutup dan memadat kembali.
Keduanya kembali melesat, memacu kecepatan yang kini telah meningkat berkat pemulihan instan tersebut.
Tak berselang lama, di kejauhan ujung cakrawala, letupan asap hitam yang mengepul tebal mulai terlihat jelas. Suara dentuman ledakan bergaung pelan namun beruntun.
Kael menyipitkan matanya, mengamati kilatan merah di udara sambil terus menyerap pasokan energi dari pil di perutnya.
"Itu tidak salah lagi," gumam Kael dingin. "Pyrael sedang menyerang. Mereka sudah tiba di sana."
Gejolak volcania semakin membara, bagai kan kobaran api di siram minyak, akan kah kael d!tang tepat waktu!?