NovelToon NovelToon
Masa Berlaku Cintaku Sudah Habis

Masa Berlaku Cintaku Sudah Habis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.

Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.

Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kiara 15

Langkah Kiara keluar dari gedung RS Medika malam itu terasa begitu ringan sekaligus berat di saat yang sama. Berat karena hatinya hancur, namun ringan karena tidak ada lagi keraguan yang membayangi pikirannya. Keraguan yang selama satu setengah bulan ini menahannya, kini berganti menjadi kejelasan yang utuh. Vino tidak pernah berubah, pria itu hanya pandai berjanji saat keadaan mendesaknya.

Sampai di rumah, Kiara juga langsung menuju ke dalam kamar dan mengurung dirinya di dalam sana. Kedua orangnya entah tahu atau tidak. Namun saat ini Kiara belum mau bercerita kepada mereka berdua.

Keesokan harinya, Kiara sengaja berangkat sangat pagi menggunakan taksi online. Dia mengabaikan beberapa pesan singkat dan panggilan telepon dari Vino yang masuk sejak pukul 06.30 WIB, pria itu tampaknya masih berakting seolah tak terjadi apa-apa, menanyakan apakah Kiara benar-benar sudah berangkat dengan temannya.

Setibanya di kantor, lobi masih tampak lengang. Kiara berjalan lurus menuju lantai atas, langsung mengarahkan langkahnya ke ruangan Pak Aris, kepala divisi sekaligus atasannya.

Melalui dinding kaca, terlihat Pak Aris sudah berada di dalam, sedang menyeruput kopi paginya sambil memeriksa beberapa berkas. Kiara menghela napas panjang, menetralkan dadanya yang masih terasa agak sesak, lalu mengetuk pintu kayu tebal itu.

"Masuk," suara Pak Aris terdengar dari dalam.

Kiara membuka pintu dan melangkah masuk dengan raut wajah tenang namun penuh ketegasan. Pak Aris mendongak, sedikit terkejut melihat kehadiran bawahannya yang paling diandalkan itu sepagi ini.

"Eh, Kiara. Masih pagi sekali. Ada hal penting yang mau dibicarakan?"

"Selamat pagi, Pak Aris. Maaf menggangu waktunya sebentar," ucap Kiara sopan, berdiri tegak di depan meja kerja atasannya.

"Saya ingin membicarakan tawaran yang Bapak sampaikan minggu lalu."

Pak Aris menaikkan kedua alisnya, memajukan posisi duduknya dengan raut tertarik.

"Tawaran rotasi dan promosi ke kantor pusat di Jakarta?"

"Iya, Pak," Kiara mengangguk mantap tanpa ada sedikit pun keraguan di matanya.

"Minggu lalu saya memang sempat menolak karena pertimbangan pribadi. Tapi jika posisi itu masih terbuka, saya ingin mengajukan diri dan menerima tawaran tersebut." Pak Aris tersenyum lebar, tampak sangat puas mendengarnya.

"Tentu saja masih sangat terbuka, Kiara! Jujur, dari awal keputusanmu menolak minggu lalu buat saya agak disayangkan, karena performa dan kapabilitas kamu di sini sudah sangat matang untuk pegang divisi baru di pusat. Pihak manajemen pusat pun sebenarnya memang mengharapkan kamu yang naik."

Atasannya itu mengambil satu stopmap tebal dari laci mejanya, menyerahkannya ke arah Kiara.

"Proses administrasi bisa kita percepat. Paling lambat dalam waktu empat hari kamu sudah harus berada di sana. Karena atasan kamu yang baru akan pulang dari Jepang satu minggu kedepan. Apa kamu siap dengan konsekuensi pindah secepat itu?"

Empat minggu. Waktu yang sangat cukup untuk membereskan sisa-sisa kehidupannya di sini, sekaligus menghapus keberadaan Vino secara permanen dari kesehariannya.

"Saya sangat siap, Pak. Terima kasih banyak atas kepercayaan dan kesempatan besar ini," jawab Kiara mantap, menerima dokumen tersebut dengan kedua tangannya.

"Bagus. Mulai hari ini kamu bisa persiapkan semuanya. Saya akan langsung berkordinasi dengan HRD pusat pagi ini," puji Pak Aris.

Keluar dari ruangan Pak Aris, Kiara menggenggam erat dokumen penugasannya. Rasa lega perlahan merayap di relung dadanya. Tempat ini, kota ini, dan semua ingatan tentang Vino sudah tak lagi memiliki ruang untuk ditahan. Jika dulu dia bertahan demi memberi kesempatan pada pria yang salah, kini saatnya Kiara melangkah maju demi menghargai dirinya sendiri.

Baru saja Kiara melangkah keluar dari ruangan Pak Aris dan kembali ke meja kerjanya, layar ponselnya yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat tanpa henti. Notifikasi demi notifikasi terus membanjiri layarnya, datang dari dua orang yang berbeda.

Kiara menarik napas panjang lalu duduk di kursi kerjanya. Dengan wajah dingin tanpa ekspresi, ia meraih ponsel tersebut.

Pesan pertama datang dari nomor tak dikenal, nomor Shela. Wanita itu kembali mengirimkan belasan foto terbaru yang diambil tadi malam dan pagi ini. Foto-foto itu memperlihatkan Vino yang tertidur lelap di kursi sebelah ranjang rawat Shela, foto jemari Vino yang sedang dipegang oleh Shela, hingga foto nampan sarapan rumah sakit di mana sosok Vino tampak sedang berdiri di sudut kamar, sibuk menelepon seseorang.

Disertai pula serangkaian pesan penuh nada kemenangan dan nada ejekan.

"Lihat kan, Kiara? Mas Vino bela-belain menginap di sini semalaman cuma buat jagain aku."

"Dia bahkan ketidaktakutan waktu aku mengeluh kesakitan semalam. Mana 'calon suami tegas' yang kamu bangga-banggakan itu?"

"Sadar diri, Kiara. Mau bagaimanapun kamu berusaha, tempat utama di hati Mas Vino itu tetap aku. Kamu cuma persinggahan sementara saat dia lagi bosan."

Kiara menatap pesan-pesan provokatif itu. Dulu, barisan kalimat menusuk itu pasti akan mengiris hatinya hingga berdarah-darah. Namun kini, setelah menyaksikan sendiri kebohongan Vino semalam dan memegang berkas kepindahannya ke kantor pusat, foto-foto itu tak lebih dari sekadar lelucon murah. Senyum tipis yang sarat akan rasa kasihan terukir di bibir Kiara. Kasihan pada Shela yang begitu bangga mendapatkan sisa-sisa pria yang tak memiliki pendirian, dan kasihan pada dirinya sendiri yang dulu sempat memberi kesempatan kedua.

Tanpa membalas sepatah kata pun, karena memberi panggung pada Shela adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan. Kiara menggeser layarnya dan memilih langsung memblokir nomor Shela secara permanen.

Selanjutnya, mata Kiara tertuju pada puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dan rentetan pesan dari satu nama. Vino. Pesan dari pria itu masuk bertubi-tubi sejak pukul 06.00 pagi, penuh dengan nada panik dan kegelisahan yang dibuat-buat:

"Ra, kamu sudah berangkat? Kok panggilan Mas tidak diangkat sama sekali?"

"Kamu pergi sama siapa pagi-pagi begini, Ra? Laki-laki atau perempuan? Tolong kabari Mas, Mas khawatir sekali."

"Ra, perasaan Mas dari semalam tidak enak banget. Suara kamu waktu telepon semalam beda sekali. Ada apa, Sayang? Kalau Mas ada salah, tolong bilang."

"Mas baru mau jalan ke rumah kamu nih buat pastikan kamu baik-baik saja. Tolong angkat telepon Mas, Ra!"

Membaca pesan-pesan khawatir dari Vino justru membuat perut Kiara terasa mual. Pria itu sibuk berakting sebagai kekasih yang sangat perhatian dan penuh rasa cemas, padahal beberapa jam yang lalu ia baru saja membalas kebaikan Kiara dengan kebohongan manis sambil menginap di kamar rawat wanita lain.

Ponsel di genggamannya kembali bergetar, panggilan masuk dari Vino untuk kesekian kalinya.

Kiara menatap nama itu di layar selama beberapa detik. Jemarinya melayang di atas tombol hijau. Dia tidak menangis, tidak juga gemetar. Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah keheningan yang teramat dingin.

Perlahan, Kiara menggeser tombol merah. Ia menolak panggilan tersebut, lalu dengan cepat mengetikkan satu balasan pesan singkat untuk Vino:

"Aku sibuk, Mas. Jangan telepon atau kirim pesan terus-terusan. Fokus saja pada 'berkas pekerjaan' yang sedang kamu urus dan sangat penting sampai kamu berbohong padaku!."

Setelah pesan itu terkirim, Kiara menonaktifkan seluruh notifikasi dari kontak Vino, lalu meletakkan ponselnya menelungkup di meja kerja. Kiara menarik napas dalam-dalam, membuka laptopnya, dan mulai fokus pada berkas handover pekerjaan yang harus ia selesaikan dalam dua minggu ini.

1
gaby
Selang seling dong thor banyak, jgn Kiara mlulu. Kan aq penasaran sm kehancuran Vino & shela. Gmn kabar Shela, bisa kluar dr RS ga?? Dah 3bab dr kmrn isinya Kiara mlulu, krg greget jadinya
falea sezi
🤣🤣Vino cocok ma sella playing victim cwek menye menye kn yg di butuhkan Vino laki kayak prett
Masha 235
mkanya vino bisa kejebak ma Shela, vino emang butuh cwek kyak Shela, ya apa2 ngadu,ngeluh,curhat ini itu,selalu brgantung pmberian&kasihan org, biar si vino mrasa superior,mrasa dibutuhkan, beda dgn Kiara yg apa2 bisa sndiri,mandiri,jarang ngeluh..
Fri5
ini sebenarnya Kiara ada di JKT / mo ke JKT ya?
Ambu Rinddiany Thea
semoga atasannya baik ya kiara yg bisa melindungi kamu , da semoga temen temennya ga ada yg kaya siluman
sunaryati jarum
Selamat bekerja di kantor baru, sepertinya
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
sunaryati jarum
Kenapa marah pada Shela yang tidak tegas itu kamu sendiri, memang itu tujuan Shela memutuskan hubungan kamu dengan Kiara,lalu menjeratmu.Kamu saja yang tidak setia
nely_48
selamat bertugas d kantor jakarta kiara
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
falea sezi
🤣🤣putus hubungan berarti elo, pcrn aya ma sella. 🤣🤣 alahh. munafik
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍 Rania pintar kamu
ryuka
jadikan lah ini pelajaran vino.. pelajaran yg sangat mahal
Ambu Rinddiany Thea
maakk oh emaaaak , ari s shela teh jelema apa siluman sih ko bebal amat ya mak ga bisa d bilangin baik2 emang stres gt ya orang nya , ambu ampe gemeretek sendiri nih mak kesel campur sari we lah 😩😩
Ambu Rinddiany Thea: oh pantesan ath , boro rek d bawa k gunung kawi, ah te jd ath 🤭😩
total 2 replies
Muft Smoker
betul Ra jgn mau d sentuh ,,
nanti km ketularan rabies ,,
Yam_zhie: astaga rabies 🤣🤣🤣
total 1 replies
mama
satu kata buat km vin,KAPOOOOKKKK..skrg mkn tu yg namanya kasihan sm shela🤣
Juvie Ja
pernyataanmu salah.kau putus tunangan dgn Kiara lebih dulu sblm memutus hbgn sma sheila hahaha rasain
Juvie Ja
mungkin kau ada rasa yg special trhdpnya sbb tau dia hati busuk apa dia ckp kau tetap telan bulat2..cinta buta
Siti M Akil
shela itu pemalas
Juvie Ja
Kiara pemilik jiwa,Sheila pemilik raga
nely_48
s dugong Shela msh menjual air mata sedih n seolah jd org tersakiti trs,, kop tah ambil s vino yg udh miskin
sunaryati jarum
Ayo Vino tolong Shela , bukankah kamu bangga dibutuhkan Shela , hingga bohong.Kalian sama- sama suka mengarang kebohongan.Untuk Kiara semoga kau segera sembuh dari luka yang ditorehkan Vino , sukses dalam pekerjaan serta mendapatkan jodoh yang menghargai pasangan
Siti M Akil: kn udh kere g bisa bayar rumah sakit 🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!