Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pada akhirnya, Bara justru mengalahkan ego kejamnya. Ia bergerak untuk melindungi Andrea. Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati agar tidak mengganggu tidur lelap gadis itu, Bara menyelimuti tubuh polos Andrea kembali.
Tepat pukul enam pagi, sebelum Selina atau pelayan rumah mulai terjaga, Bara membangunkan Andrea dengan bisikan lembut, membimbing gadis itu kembali ke kamarnya sendiri melalui koridor belakang yang sepi. Bara memastikan keberadaan Andrea di kamarnya malam ini tidak diketahui oleh siapa pun.
***
Malam berikutnya, permainan emosi yang Bara tanamkan justru berbalik membakar dirinya sendiri. Selepas memenangkan balapan liar yang menegangkan di pinggiran kota dan menghabiskan beberapa jam meneguk minuman beralkohol di basecamp bersama Mike dan gengnya, pikiran Bara sama sekali tidak bisa lepas dari bayangan kehangatan tubuh Andrea. Hasrat dominannya telah terlanjur kecanduan pada kepasrahan yang diberikan gadis itu.
Hampir pukul dua dini hari ketika mobil sport hitam Bara memasuki halaman rumah. Tanpa mempedulikan rasa lelah atau bau aroma samar alkohol yang menguar dari tubuhnya, Bara langsung melangkah menuju lantai atas.
Langkah lebarnya berhenti di depan kamar Andrea. Tanpa mengetuk dengan sopan atau meminta izin lebih dulu, Bara memutar knop pintu yang dikunci dengan gerakan kuat sambil mengetuknya beberapa kali. Di dalam kamar yang remang, Andrea yang memang belum sepenuhnya tertidur langsung terperanjat.
Apalagi saat mendengar kalau itu adalah Bara. Yang ada di pikiran Andrea, mungkin terjadi sesuatu pada pria itu karena suaranya seperti orang kesakitan. Akan tetapi saat pintu sudah terbuka, Bara langsung menerobos masuk. Mendorong Andrea hingga terduduk ke atas ranjang.
"Kak Bara ... ada apa—"
Kalimat Andrea terputus begitu saja. Bara tidak memberikan ruang untuk bertanya. Dengan satu gerakan yang teramat cepat dan bertenaga, tangan kokoh Bara menyusup ke bawah tengkuk dan lipatan lutut Andrea, membopong tubuh yang hanya terbalut gaun tidur tipis bermotif salur itu ke dalam pelukannya.
"Kak, lepas... nanti Mama lihat," lirih Andrea panik, detak jantungnya bertalu-talu saat wajahnya terbenam di dada bidang Bara yang berbalut kemeja hitam dengan kancing atasnya yang sudah terbuka.
Tapi Bara tidak peduli. Ia membawa Andrea keluar dari kamarnya, melangkah lebar melewati koridor dan langsung menguncinya di dalam kamar miliknya sendiri. Begitu tubuh Andrea diturunkan ke atas ranjang yang luas, Bara langsung merayap naik, mengunci pergerakan gadis itu di bawah kungkungan tubuh kekarnya.
"Aku merindukanmu, Andrea," bisik Bara, suaranya parau, berat, dan dipenuhi oleh getaran gairah yang teramat dalam. Tatapan matanya yang kelam mengunci sepasang manik mata jernih Andrea, meluluhkan seluruh kepanikan gadis itu dalam sekejap mata.
Bara menunduk, merayu Andrea dengan kecupan-kecupan lembut namun menuntut, di sepanjang rahang dan ceruk lehernya, membuat bulu kuduk Andrea meremang hebat.
"Malam ini, jadilah milikku lagi ... hanya milikku," bisik Bara tepat di depan bibir Andrea sebelum mengklaimnya dalam ciuman yang teramat panas.
Sentuhan yang intens itu seketika memicu sengatan yang membakar habis sisa akal sehat keduanya. Bara bergerak dengan keliaran seorang predator yang kelaparan namun tetap membungkusnya dengan kelembutan yang memabukkan. Tangannya yang hangat merayap turun, menyingkap gaun tidur tipis Andrea hingga terekspos sempurna keindahan tubuh indah gadis itu di bawah temaram lampu tidur yang minim.
Andrea mendesah pasrah, meracaukan nama Bara berulang kali seiring dengan jemari kokoh Bara yang mulai menjelajahi area-area sensitifnya tanpa berlapis apa pun. Rasa panas dan geli yang menjalar membuat tubuh indah Andrea menggeliat hebat, melengkung ke depan seolah menyerahkan seluruh intinya seutuhnya kepada Bara. Ia tidak lagi mampu menahan diri. Kepolosannya telah lumpuh di bawah pesona dan sentuhan memabukkan pria di atasnya.
Gairah di dalam kamar itu kian membara, menembus malam. Bara menanggalkan sisa pakaian yang menghalangi mereka, menyatukan kembali tubuh mereka dalam ritme yang teramat intens, panas, dan menuntut kepasrahan. Setiap lumatan, sentuhan, dan pergerakan yang bergelora malam itu sengaja dirancang untuk mengunci jiwa Andrea agar semakin bergantung dan jatuh cinta sedalam-dalamnya pada dirinya.
Andrea sendiri hanya bisa mencengkeram kuat bahu bidang Bara, membiarkan dirinya hanyut sepenuhnya dalam pusaran kehangatan yang membakar sisa malam mereka hingga menjelang fajar.
****
Pagi pun datang menyapa. Suasana di meja makan keluarga Adikara pagi itu awalnya terasa hening dan canggung seperti biasa. Denting sendok dan garpu beradu tipis dengan piring porselen. Pak Danu sudah lebih dulu berangkat ke kantor, menyisakan Selina yang duduk anggun di kursinya. Sementara Andrea di sisi kiri, dan Bara yang duduk bersandar dengan santai di sisi kanan sembari menikmati sarapannya.
Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika Andrea membungkuk sedikit untuk meraih cangkir tehnya. Pergerakan itu membuat kerah kemeja kasual yang ia kenakan sedikit menurun, mengekspose area tulang selangka dan leher bagian bawahnya yang sebenarnya sengaja ia sembunyikan di balik kemeja oversize miliknya.
Sayangnya mata tajam Selina sudah menangkap sesuatu tak biasa di area itu. Detik berikutnya Selina langsung menghentikan gerak jemarinya yang sedang memegang pisau roti. Manik matanya membelalak karena menangkap beberapa bercak kemerahan bercampur keunguan yang tercetak amat kontras di atas kulit mulus sang putri. Sebuah tanda yang ia yakini sebagai bekas percintaan panas.
Selina meletakkan alat makannya dengan kasar hingga menimbulkan suara berdenting nyaring yang mengejutkan.
"Andrea!" panggil Selina, suaranya meninggi, dan penuh amarah, menbuat Andrea tersentak hingga refleks mendongak menatap ibunya dengan wajah pucat. "I-iya, Ma ... ada apa?"
"Pakaian macam apa yang kamu pakai itu?! Buka kerahmu!" perintah Selina tegas tanpa kompromi.
Tangan Andrea gemetar hebat. Dengan panik, ia justru menaikkan kerah kemejanya dan merapatkannya ke leher. "Gak ada apa-apa kok Ma ... Andrea cuma—"
"Mama bilang BUKA!" bentak Selina seraya bangkit dari kursinya. Tanpa mempedulikan etika di meja makan, Selina mendekati Andrea dan dengan kasar menyentak kerah kemeja putrinya ke samping.
Mata Selina membelalak lebar melihat kiss mark yang begitu jelas dan segar berjejer di leher hingga dada atas Andrea. Amarah hebat seketika membakar dada wanita itu. Wajah anggunnya berubah merah padam.
"Tanda apa ini, Andrea?! Katakan pada Mama, tanda apa ini?!" teriak Selina histeris dengan tangan yang mencengkeram bahu Andrea hingga gadis itu meringis kesakitan. "Kamu melakukan hal tidak senonoh dengan siapa?! Jangan bilang kamu sudah menyerahkan dirimu pada laki-laki tidak jelas!"
Air mata Andrea seketika luruh, mengalir deras membasahi pipinya. Rasa takut dan bersalah menghantamnya bertubi-tubi. Ia tidak mungkin menyebutkan nama Bara yang saat ini sedang duduk di depan mereka.
"Jawab, Andrea! Siapa bajingan yang sudah menyentuhmu?!" desak Selina semakin menjadi-jadi sambil mengguncang-guncang tubuh lemas putrinya.
"I-itu ... itu bekas ... pa-pacar Andrea, Ma .... " bisik Andrea terbata-bata dalam isak tangisnya, mencoba mengarang cerita demi melindungi keberadaan Bara. "K-kami ... kami cuma tidak sengaja .... "
"Keterlaluan kamu Andreaaa!!"
Amarah Selina meledak mendengar pengakuan itu. Ia merasa harga diri dan martabat keluarga yang selalu ia banggakan telah dicoreng oleh putrinya sendiri. "Mama membesarkanmu bukan untuk jadi perempuan murahan yang bisa disentuh sembarangan!!"
PLAKKK
Selina yang sangat marah menampar putrinya begitu saja tanpa peduli pada Bara yang masih ada di sana.
Bara sendiri awalnya bersikap sangat dingin dan tidak peduli. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia bahkan terus mengunyah sarapannya seolah pertengkaran di depannya hanyalah pertunjukan teater murahan. Di dalam pikirannya, ia mencoba meyakinkan diri bahwa inilah yang ia inginkan, yaitu melihat Selina hancur, emosi, dan menderita karena kelakuan Andrea.