Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Sore harinya mereka sudah selesai untuk kelas hari itu, tapi tiba-tiba Rey mendapat telepon dari sang bunda.
“Iya, Bunda, ada apa?” ucap Rey datar.
“Rey, pernikahan kalian itu dua hari lagi tapi kenapa belum fitting.. Kami di butik sudah nungguin loh,” ucap Bunda tegas.
“Bunda kan tahu hari ini Rey masih kuliah, Bun. Ya udah, sekarang pulang kuliah, Rey langsung ke sana. Ini baru keluar dari kelas..” jawab Rey panjang lebar.
“Oke baiklah, Rey, tapi langsung bareng sama Emily ya..” ucap Bunda menekankan.
“Hah? Kita belum sedekat itu, Bun, masa harus bareng sih..” tanya Rey sinis.
“Ya nggak apa-apa kan, proses belajar. Dua hari lagi juga kalian jadi suami istri.. Pokoknya Bunda nggak mau tahu kalian harus datang ke sini barengan,” ucap Bunda sebelum menutup telepon.
“Arghhh…” Rey mendengus kesal. “Gue kan belum punya nomor tuh cewek, gimana bisa gue ngajakin dia bareng? Nanti dianggap gue yang kegatelan lagi, ih, ogah banget! Tapi kalau nggak ibunda gue pasti marah… Ini gimana dong?” gerutu Rey panjang sambil menepuk jok motor nya.
Akhirnya dia punya ide mengambil nomor Emily dari grup kelas.
Tuuut… telepon berdering.
“Halo, siapa ini?” tanya Emily di balik telepon.
“Bunda nyuruh kita pulang bareng, langsung ke butik sekarang juga, nggak ada penolakan. Gue tunggu di pertigaan..” ucap Rey datar.
“Gue bawa motor, bego..” jawab Emily sinis.
“Terserah, yang penting kita nyampe barengan..” ucap Rey mendesah.
“Bilang aja lo pengen bareng sama gue, pakai alasan suruh Bunda segala… klasik… Alasan lo udah dikasih tahu kan alamat butiknya, ngapain juga harus barengan?” ucap Emily pedas.
“Serah lu, gila.. Arghhhhh..” ucap Rey geram.
Akhirnya Rey memutuskan untuk pulang, tapi sebelum itu, Elea, wanita yang selalu mengejar dia, mendekati Rey dengan anggunnya.
“Rey, kamu belum pulang?” tanya Elea.
“Ini mau pulang,” jawab Rey singkat.
“Aku boleh numpang nggak, Rey? Soalnya sopir aku nggak jadi jemput, katanya tadi bannya bocor..” tanya Elea.
“Udah, Rey ajakin aja,” ucap Ezra yang baru saja datang.
“Bareng Ezra aja kalau mau, gue ada urusan juga..” jawab Rey datar.
“Ih, nggak mau! Ezra sudah punya cewek..” protes Elea.
“Idih, sok tahu loh..” ucap Ezra sambil tertawa.
“Ya udah kalau gitu gue pesenin Gojek aja ya..” ucap Rey pasrah.
“Ehh, eh, nggak usah, nggak usah. Biar aku nunggu sopir aja kalau kamu nggak bisa, Ray..” ucap Elea cepat.
Rey tidak menjawab, tapi langsung pergi begitu saja dari hadapan Elea.
Dan benar saja, saat di perempatan, dia sudah bertemu dengan Emily yang sudah nangkring di atas motornya.
“Sialan lu emang ,ngajakin pulang bareng tapi lu malah pacaran dulu..” ucap Emily sewot.
“Siapa yang pacaran?” jawab Rey dingin.
“Alah, alasan klasik aja lo, Ray. Ayo cepat, keburu malam..” ucap Emily kesal.
Akhirnya mereka berangkat bersama dengan motor yang berbeda menuju butik tempat mereka akan meeting baju. Memang hanya akad saja, tapi mereka tetap melakukan fitting karena nanti Emily dan Rey akan tetap menggunakan pakaian pengantin untuk membuat sesi foto keluarga. Begitu pun dengan Altan yang sudah hadir di sana.
“Akhirnya kalian datang juga,” ucap Bunda Rania lega.
“Assalamualaikum, Tante..” ucap Emily sopan tapi dingin.
“Waalaikumsalam, calon menantu.. Anak seanggun ini, kenapa dibilang barbar?” tanya Bunda sambil tersenyum.
“Itu sudah wataknya, Tante, .” ucap Altan santai.
“Kalau di mata Tante, Emily tetap gadis imut dan anggun sama seperti waktu kecil..” ucap Bunda tersenyum hangat.
Setelah bersalaman kepada para orang tua, tidak lupa Rey juga bersalaman kepada Altan. Rey juga tidak begitu akrab dengan Altan karena di kampus mereka seadanya; Altan seorang ketua BM, sedangkan Rey dan Emily hanya mahasiswa biasa yang fokus ke urusan fakultas bisnis dan balapan motor.
Jika disebut, Emily dan Rey memang memiliki hobi yang sama, yaitu balapan motor. Bedanya, Emily seorang wanita, terlalu liar di dunia malam di area sirkuit, membuat papah dan kakaknya selalu khawatir, padahal Altan terlihat begitu seperti cowok cool yang kalem dan tidak neko-neko. Bahkan Altan juga memiliki motor tapi hanya untuk digunakan nongkrong biasa, bukan balapan seperti adiknya Emily.
“Emang sepertinya jiwa mereka tertukar; di mana laki-laki jadi kalem dan anggun, sedangkan adik perempuan bar-barnya, astagfirullah..”
*********
Hari berlalu, hari yang sebenarnya paling ingin mereka hindari akhirnya tiba juga. Malam nanti mereka akan melakukan akad nikah.
Sedangkan Emily sedang memikirkan cara bagaimana ia bisa lari dari pernikahan ini.
“Arghhh, sialan! Gue nggak mau nikah. Gue belum siap hamil, gue belum siap jadi istri… arghhh! Kalo gue kabur, Ibu Papa pasti lebih kecewa sama gue… arghhhhhh!” gerutu Emily sambil mondar-mandir.
Tak lama, Emily mengirimkan pesan kepada Reyze.
“Lo yakin nggak mau batalin, Rey?” ucap Emily lewat chat.
“Yah, kalo lo bisa, batalin aja. Kalo nggak malu..” jawab Rey santai.
“Tapi gue belum siap, Rey,” balas Emily cepat.
“Belum siap apa? Di unboxing? Tenang, gue belum minat. Jadi lo nggak mungkin gue sentuh..” ucap Rey sinis.
“Anj, pikiran lo mesum terus! Bukan itu maksud gue. Lo pikir aja, seumur hidup itu lama, gue belum siap segalanya..” jawab Emily ketus.
“Lo pikir gue udah siap? Gue cuma nggak mau ngecewain ortu gue aja..” timpal Rey dingin.
“Lah terus gimana? Kita sama-sama belum siap tapi harus hidup satu atap. Gimana ceritanya?” tanya Emily sewot.
“Lah jalanin aja. Lagian masih dirahasiakan kan? Jadi nggak ada yang tau. Kedepannya kita pikirin nanti..” ucap Rey datar.
“Huppshh… yaudah. Tapi awas lo! Kita hidup masing-masing. Awas lo kalo ikut campur urusan gue,” ucap Emily menekankan.
“Yang penting lo harus tau diri kalo lo udah punya suami..” jawab Rey santai.
“Suami yang tidak diinginkan, hhha..” Emily tertawa mengejek.
“Emily sinting..” ucap Rey ketus.
“Rey bego..” balas Emily cepat.
“Awas lo, liatin aja kalo udah nikah mulut lo masih begitu..” ucap Rey geram.
“Jihh, ngatur. Siapa lo?” ucap Emily meremehkan.
“Calon suami lo dan calon donatur lo. Jadi gue bebas ngatur lo..” timpal Rey.
“Anj! Baru aja gue ngomong jangan ikut campur urusan hidup gue,
Rey sialan!!!!!!!” teriak Emily kesal.
Telepon dimatikan.
Emily langsung melempar handphonenya ke kasur. Dia sudah geram, belum apa-apa Rey sudah mau mengatur-ngatur hidupnya. Padahal dia paling tidak suka diatur.
“Dasar sialan! Baru juga calon suami udah sok ngatur gue,” gerutu Emily kesal sambil mendengus.
Sedangkan di seberang sana, Rey justru tersenyum tipis.
“Hhh.. lihat saja, Emily. Apa setelah ini lo masih bisa jadi orang pembangkang? Apa lo bakal tetap jadi lawan gue di sirkuit? Hhhaha…” ucap Rey sinis dalam hati.
“Lo pikir gue nggak tahu kalau kita dijodohin ini buat memperbaiki sikap masing-masing? Padahal kenyataannya kita punya hobi yang sama. Balapan. Bedanya, gue bisa kontrol diri, sedangkan lo keras kepala. Bokap lo udah nitipin lo ke gue… buat jagain lo. Pertanyaannya… apa bisa gue bikin cewek bandel kayak lo jadi nurut?” ucap Rey pelan, menatap layar handphone yang sudah mati.