NovelToon NovelToon
The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yaya haswa

Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.

Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.

Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.

Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.

Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.

Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.

Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertangkap Basah

Keheningan malam menyelimuti rumah besar keluarga Hardian. Jam dinding di kamar Keana menunjukkan pukul 21.05. Tugas-tugas sekolah yang menumpuk akhirnya selesai juga ia kerjakan.

Namun, begitu pulpen ia letakkan, perutnya rasanya ingin di isi dengan snack saat itu.

Keana menghela napas, teringat bahwa seluruh snacknya miliknya yang disita tempo hari kini tersimpan rapi di kamar Elvan.

"Kak Elvan kan lagi di luar kota dari pagi... Katanya ada darurat medis di daerah pelosok dan bakalan nginep," gumam Keana pada dirinya sendiri. Senyum jahil perlahan terukir di wajahnya.

Yakin kakaknya yang posesif itu tidak akan pulang malam ini, Keana berjingkat keluar dari kamarnya. Koridor lantai dua terasa sangat lengang. Dengan hati-hati, ia menuju kamar Elvan dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Ia mendorong pintu kamar Elvan.

Kamar yang beraroma khas kayu cendana dan eucalyptus yang dingin. Tanpa menyalakan lampu utama agar tidak memancing perhatian Gavin atau orang tuanya di bawah, Keana hanya mengandalkan cahaya remang dari koridor dan lampu jalanan di luar jendela.

Ia berjalan lurus menuju meja kerja Elvan, lalu membuka beberapa laci, hingga laci paling bawah ia menemukannya.

"Nah, ketemu!" cicit Keana senang saat jemarinya menyentuh bungkusan chiki kesukaannya di dalam laci.

Dengan mata berbinar di tengah kegelapan, ia sibuk memilah-milah kantong mana yang akan ia bawa kabur ke kamarnya.

Saking fokusnya berjongkok dan membongkar laci, Keana tidak mendengar suara mobil yang baru saja berhenti di garasi.

Ia juga tidak mendengar suara langkah kaki yang sangat tenang namun mantap membawanya naik ke lantai dua.

"Kenapa pintu kamarku terbuka? apa aku lupa menutupnya tadi?" batin Elvan.

Ia mendorong pintu kamarnya pelan, hingga tubuh tingginya berdiri di ambang pintu. Jaket yang ia kenakan terlipat rapi di lengan, kemejanya sedikit kusut dan dua kancing atasnya terbuka, memperlihatkan jejak kelelahan setelah perjalanan jauh. Namun, rasa lelah itu seketika menguap berganti dengan tatapan intens saat matanya menangkap sosok mungil yang sedang berjongkok memunggunginya di balik meja kerja.

Elvan menyipitkan mata. Sudut bibirnya terangkat tipis. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Elvan melangkah masuk. Sepatu kulitnya menapak tanpa bunyi di atas karpet tebal. Ia mendekati Keana yang masih sibuk menggeledah lacinya, sama sekali tak menyadari bahwa bahaya besar kini sudah berdiri tepat di belakang punggungnya.

Elvan berhenti tepat di belakang Keana. Bayangan tubuhnya yang tinggi besar kini sepenuhnya menutupi tubuh mungil gadis itu.

"Asyik banget pilihnya, Kea?" suara berat dan dingin Elvan mendadak berbisik tepat di dekat telinga Keana, memecah keheningan kamar.

"Aakh!"

Keana terperanjat hebat sampai tubuhnya terhuyung ke belakang. Reflex, ia memeluk erat satu-satunya bungkus snack yang ia temukan di dalam laci tepat di dadanya, seolah-olah itu adalah tameng pelindung.

Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kaget, tapi juga karena posisi Elvan yang berada tepat di atasnya. Bayangan tinggi abangnya itu mengurung Keana dari belakang.

"K-Kak Elvan?!" cicit Keana, suaranya bergetar dengan mata membulat sempurna.

Ia buru-buru mendongak, mendapati wajah tampan Elvan yang tampak lelah namun memancarkan tatapan tajam dan mengintimidasi dalam kegelapan remang kamar.

"K-kok... kok udah pulang? Katanya menginap di luar kota?"

Elvan tidak langsung menjawab. Ia sengaja membiarkan hening menggantung sejenak, membuat napas Keana makin tertahan. Perlahan, Elvan ikut membungkuk, menyandarkan satu tangannya di tepi meja belajar sehingga posisi Keana makin terkunci di antara tubuhnya dan meja.

"Kalau aku nggak pulang, aku nggak bakal tahu kalau ada pencuri kecil yang masuk ke kamar ku malam-malam," bisik Elvan, suara beratnya begitu dekat hingga Keana bisa merasakan hembusan napas hangat yang menyapu pelipisnya.

Muka Keana mendadak memanas. Ia berusaha menekan tubuhnya makin rapat ke laci meja, memeluk bungkusan chiki itu makin erat.

"K-Kea bukan mencuri!" bantah Keana gugup, matanya bergerilya ke mana saja asal tidak beradu pandang dengan mata hitam Elvan.

"Ini... ini kan emang punya Kea! Kea cuma mau mengambil hak Kea yang disita..."

"Hak?" Elvan terkekeh dingin, suara kekehannya bergetar rendah di tenggorokan.

Ia mengulurkan tangannya yang bebas, lalu jemari panjangnya yang dingin membelai pelan pipi Keana yang hangat, mendorong helai rambut gadis itu ke belakang telinga.

"Di rumah ini, semua yang menyangkut kamu adalah hak dan tanggung jawab Ku, Kea. Termasuk makanan yang kamu pegang itu."

Sentuhan jari Elvan di pipinya membuat Keana menahan napas seketika. Ada sensasi aneh yang tidak biasa, sebuah desir asing yang membuat dadanya bergemuruh lebih kencang dari sekadar rasa takut ditangkap basah.

"Kak... Kea cuma mau ngemil satu... tadi belajar Fisika pusing banget," rengek Keana, memelankan suaranya seraya mencoba meminta belas kasihan. "Boleh ya? Satuuu aja. Kakak kan baik..."

Elvan menatap bibir Keana yang mengerucut pasrah, lalu naik kembali menatap manik mata gadis itu yang berkilat dalam remang.

Perasaan asing dan gelap yang selalu berusaha ia tekan dalam-dalam mendadak mencengkeram dadanya dengan begitu kuat. Keinginan untuk mengurung gadis ini, memilikinya sepenuhnya, dan memastikan tak ada siapapun baik Arlo maupun Paman Imran yang bisa menyentuhnya.

"Satu?" Elvan memiringkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka tersisa beberapa senti saja. "Lalu bayarannya apa buat aku yang udah capek-capek pulang malam ini dan mendapati kamu melanggar aturan lagi, hmm?"

Keana meneguk ludah sukar. Napasnya tertahan, sementara dadanya bergemuruh hebat. Jarak yang bertambah terkikis membuat aroma eucalyptus dari tubuh Elvan menguar makin tajam, mengepung seluruh inderanya.

"B-bayaran?" cicit Keana gagap, matanya berkedip cepat berusaha melarikan diri dari tatapan Elvan yang mendominasi. "Kan... kan Kak El kakak aku. Masa sama adik sendiri pakai bayaran segala?"

Mendengar kata 'adik' keluar dari bibir Keana, raut lembut di wajah Elvan seketika mengeras tipis. Ia tidak suka dengan kata itu. Mata hitamnya berkilat ganjil dalam kegelapan remang, mengirimkan sensasi dingin yang tak biasa ke seluruh tubuh Keana.

"Aku?" Elvan merendahkan suaranya, memajukan wajahnya sedikit lagi hingga bisikannya menyapu bibir Keana. Tangannya yang tadinya berada di tepi meja kini perlahan naik, mengelus rahang Keana dengan ibu jarinya secara perlahan namun posesif.

"Berapa kali aku harus bilang... jangan pernah memancing kesabaran ku, Kea."

Keana membeku total. Tubuhnya tidak bisa bergerak, terkunci rapat di antara meja dan himpitan tubuh Elvan yang perkasa. Ia belum pernah melihat tatapan kakaknya yang seperti ini, bukan tatapan seorang kakak yang sedang marah, melainkan tatapan seorang pria yang menatap sesuatu yang sangat ingin ia miliki secara utuh.

"K-Kak El..." bisik Keana pelan, hampir tak terdengar. Suaranya bergetar penuh rasa takut bercampur kebingungan yang teramat sangat.

"Kea... Kea mau kembali ke kamar..."

Elvan menatap Keana lekat-lekat. Ia bisa merasakan tubuh mungil di hadapannya bergetar halus. Menyadari ketakutan Keana yang makin memuncak dan membentak rasionalitasnya, Elvan menghela napas panjang. Ia perlahan menarik kembali wajahnya, memberikan ruang bernapas bagi Keana, meski jemarinya masih enggan melepas rahang gadis itu.

Elvan mengambil bungkusan chiki dari dekapan Keana yang melonggar, lalu meletakkannya kembali di atas meja.

"Satu bungkus. Tapi besok sore," ucap Elvan dingin, kembali mengendalikan emosi gelap yang hampir saja menguasainya.

"Sekarang, kamu makan buah saja. Aku akan mengambilkannya untuk mu dan memotongnya kecil-kecil. Itu cemilan yang lebih bagus"

"Tapi…"

"Tidak ada bantahan. Ikut aku" Elvan berdiri sembari meriah tangan Keana dan menggenggamnya. Membawanya keluar dari kamar menuju dapur.

Genggaman tangan Elvan di jemarinya terasa begitu hangat dan erat, mengunci pergelangan tangannya tanpa menyakitinya sama sekali. Namun, dominasi itu membuat Keana tak punya pilihan selain mengekor pasrah di belakang langkah kakaknya.

Langkah kaki mereka memecah keheningan koridor lantai dua yang temaram. Saat menuruni tangga menuju dapur di lantai bawah, Keana hanya bisa menunduk, menatap tautan tangan mereka. Ada rasa hangat yang protektif, tetapi juga ada debar asing yang terus mengusik benaknya semenjak tatapan intens Elvan di kamar tadi.

Sesampainya di dapur yang serba putih dan modern itu, Elvan menyalakan lampu gantung beraksen kuning hangat. Ia mendudukkan Keana secara perlahan di atas bar stool tinggi di samping meja kitchen island.

"Duduk diam di situ," ujar Elvan singkat. Ia melepas kancing lengan kemejanya, menyingsingkannya hingga ke siku, lalu membuka kulkas besar dua pintu untuk mengambil beberapa buah apel segar, stroberi, dan kiwi.

Keana memperhatikan gerak-gerik Elvan. Rahang tegas kakanya tampak mengeras menahan lelah, tetapi ketelitian pria itu saat mencuci buah dan meraih pisau dapur sungguh tak berkurang sedikit pun. Elvan mulai mengupas dan memotong buah-buah itu menjadi dadu-dadu kecil yang rapi.

"Kak El..." cicit Keana pelan, mencoba memecah keheningan di antara berdentingnya pisau dan talenan kayu.

"Kakak kan capek baru pulang... Kea bisa potong sendiri kok."

Elvan menghentikan pergerakan pisaunya sejenak. Ia tidak mendongak, namun suaranya terdengar begitu dalam di dapur yang sepi.

"Aku nggak pernah capek kalau itu buat kamu, Kea," sahut Elvan datar, namun sarat akan makna tersembunyi yang membuat tenggorokan Keana mendadak kering.

Elvan memindahkan potongan buah itu ke dalam piring kaca kecil, lalu menusukkan satu garpu buah di atasnya. Ia mendorong piring itu perlahan ke hadapan Keana, lalu berdiri tepat di samping bar stool Keana, menyandarkan pinggulnya pada tepi meja sambil bersedekap dada.

"Makan," perintah Elvan halus, matanya yang tajam dan pekat menatap Keana tanpa berkedip sedikit pun, seolah enggan melewatkan satu milidetik pun dari pergerakan adiknya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena terus diawasi dari jarak sedekat itu, Keana meraih garpunya dan menyuapkan sepotong apel ke dalam mulutnya.

"Enak... manis," gumam Keana pelan sambil mengunyah, berusaha menghindari kontak mata langsung.

"Bagus," balas Elvan tipis. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tajam yang samar.

"Selama aku masih ada di rumah ini, aku yang akan memastikan hanya hal-hal baik yang masuk ke tubuh kamu..."

Keana menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mengalihkan perhatian dengan menatap potongan apel di piring kecilnya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis dan canggung.

"M-makasih buahnya, kak... Kea udah kenyang kok," cicit Keana pelan, berusaha mengakhiri situasi yang membuatnya salah tingkah ini.

Ia segera beranjak dari bar stool, berniat kabur kembali ke kamar. "Udah malam juga, besok Kea harus sekolah pagi. Kea tidur duluan ya, kam. Selamat malam."

Baru dua langkah Keana meninggalkan meja pulau dapur, sebuah tangan yang hangat dan besar tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya dengan lembut namun tidak memberikan celah untuk melepaskan diri.

Keana terkesiap, menghentikan langkahnya dan menoleh dengan jantung berdegup kencang.

"Belum habis, Kea," ucap Elvan pelan

"Bawa ini ke kamar mu dan habiskan, setelah itu tidur!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!