Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pria Misterius dari Masa Lalu
Pagi itu, Nara datang ke kantor dengan pikiran yang masih dipenuhi kejadian kemarin.
Konfrontasinya dengan Bianca.
Kemunculan Adrian Pratama.
Dan yang paling mengganggu...
Cara pria itu memandangnya.
Tatapan tersebut bukan tatapan seorang investor kepada karyawan biasa.
Bukan pula tatapan orang asing.
Melainkan tatapan seseorang yang sedang melihat masa lalu.
Seolah wajah Nara mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia kenal.
---
"Nara!"
Suara Siska membuyarkan lamunannya.
Wanita itu muncul dengan segelas kopi di tangan.
"Kamu kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa."
"Kamu bohong."
Nara menghela napas.
"Kamu selalu bilang aku bohong."
"Karena memang begitu."
jawab Siska santai.
---
Nara akhirnya tertawa kecil.
Untungnya ada Siska.
Di tengah segala kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini, sahabatnya itu selalu berhasil membuat suasana lebih ringan.
---
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Sekitar pukul sembilan pagi, seluruh divisi mendapat pemberitahuan mendadak.
Semua kepala tim dan beberapa staf inti diminta hadir di aula utama.
Termasuk Nara.
---
"Ada apa lagi?"
gumamnya.
---
Saat memasuki aula, suasana sudah ramai.
Direksi hadir.
Manajer hadir.
Bahkan beberapa pemegang saham terlihat datang.
Jelas ada sesuatu yang penting.
---
Beberapa menit kemudian.
Pintu aula terbuka.
Dan pria yang kemarin ditemuinya masuk ke dalam ruangan.
Adrian Pratama.
---
Suasana langsung berubah.
Beberapa orang berdiri.
Beberapa lainnya bertepuk tangan.
Jelas sekali pria itu bukan orang sembarangan.
---
Direktur Utama segera mengambil mikrofon.
"Hari ini kita kedatangan salah satu mitra strategis perusahaan."
ucapnya.
"Beliau adalah Pak Adrian Pratama."
---
Tepuk tangan kembali terdengar.
Namun perhatian Nara justru tertuju pada Adrian.
Karena sekali lagi...
Pria itu sedang melihat ke arahnya.
---
Sangat jelas.
Sangat sengaja.
---
"Kenapa dia melihatmu terus?"
bisik Siska.
---
"Aku juga tidak tahu."
jawab Nara jujur.
---
Acara berlangsung hampir satu jam.
Namun Nara tidak bisa fokus.
Beberapa kali ia menangkap Adrian memperhatikannya.
Dan setiap kali itu terjadi, perasaan aneh kembali muncul.
---
Setelah acara selesai, para peserta mulai meninggalkan aula.
Nara berniat kembali bekerja.
Namun sebuah suara menghentikannya.
"Nara."
---
Ia menoleh.
Dan membeku.
---
Adrian berdiri tidak jauh darinya.
---
"Pak?"
---
"Aku bisa bicara sebentar?"
tanya pria itu.
---
Beberapa orang yang mendengar langsung melirik.
Siska bahkan terlihat hampir menjatuhkan ponselnya.
---
"Baik."
jawab Nara akhirnya.
---
Mereka menuju ruang tamu khusus.
Begitu pintu tertutup, suasana menjadi jauh lebih tenang.
---
Adrian duduk berhadapan dengannya.
Namun selama beberapa detik pria itu tidak berbicara.
Hanya memperhatikan wajah Nara.
---
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
tanya Nara akhirnya.
---
Adrian tersenyum kecil.
"Tidak."
---
"Lalu kenapa Bapak terus melihat saya?"
---
Pria itu terdiam sesaat.
Kemudian berkata pelan,
"Karena wajahmu sangat mirip seseorang."
---
Jantung Nara berdebar.
---
"Siapa?"
---
"Sahabat lamaku."
jawab Adrian.
---
"Sahabat?"
---
Pria itu mengangguk.
---
"Namanya Arman."
---
Tubuh Nara langsung menegang.
---
Arman.
Nama ayahnya.
---
Bagaimana mungkin?
---
"Kamu putri Arman, bukan?"
tanya Adrian.
---
Nara mengangguk pelan.
---
Untuk beberapa saat, Adrian hanya menatapnya.
Lalu tersenyum.
Senyum yang terlihat tulus.
Dan sedikit sedih.
---
"Ayahmu pasti bangga melihatmu sekarang."
ucapnya.
---
Kalimat sederhana itu membuat dada Nara terasa sesak.
---
Sudah lama sekali tidak ada yang berbicara tentang ayahnya.
Apalagi dengan nada sehangat itu.
---
"Bapak mengenal Ayah?"
tanyanya.
---
"Sangat mengenalnya."
jawab Adrian.
---
"Kami tumbuh bersama."
---
Mata Nara langsung membesar.
---
"Benarkah?"
---
Adrian mengangguk.
---
"Dulu kami seperti saudara."
---
Untuk pertama kalinya.
Nara merasakan harapan kecil muncul dalam dirinya.
Mungkin pria ini memiliki jawaban yang selama ini ia cari.
---
Di sisi lain.
Damar baru saja keluar dari rapat direksi.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Nara dan Adrian keluar dari ruang tamu bersama.
---
Keduanya tampak berbicara cukup akrab.
---
Entah kenapa.
Pemandangan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
---
"Kamu lagi."
suara Raka terdengar dari belakang.
---
Damar menoleh.
"Apa?"
---
"Kamu cemburu lagi."
---
"Aku tidak cemburu."
---
Raka langsung tertawa.
---
"Kalau begitu kenapa wajahmu seperti orang yang baru kehilangan saham perusahaan?"
---
Damar memilih berjalan pergi.
Karena ia tahu percuma berdebat dengan pria itu.
---
Namun jauh di dalam hati.
Ia mulai bertanya-tanya.
Apa hubungan Adrian dan Nara?
---
Sementara itu.
Di lantai bawah.
Bianca juga memperhatikan semuanya.
---
Ia melihat Adrian berbicara dengan Nara.
Melihat keduanya berjalan bersama.
Dan melihat ekspresi ramah yang tidak pernah diperlihatkan pria itu kepada karyawan lain.
---
Perasaan tidak nyaman mulai muncul.
---
"Ada sesuatu."
gumam Bianca.
---
Dan ia tidak menyukainya.
---
Menjelang sore.
Adrian kembali menemui Nara.
---
"Kamu sibuk malam ini?"
tanyanya.
---
Nara sedikit terkejut.
---
"Kenapa?"
---
"Aku ingin mengajakmu makan malam."
---
Jantung Nara berdebar.
---
"Makan malam?"
---
"Ada banyak hal tentang ayahmu yang perlu kamu ketahui."
jawab Adrian.
---
Kalimat itu langsung membuatnya setuju.
---
Karena selama ini.
Ia selalu merasa ada bagian dari masa lalu ayahnya yang belum pernah terungkap.
---
Malam pun tiba.
---
Restoran yang dipilih Adrian berada di kawasan yang tenang.
Tidak terlalu ramai.
Namun terlihat elegan.
---
Sepanjang makan malam, pria itu menceritakan banyak hal.
Tentang masa mudanya.
Tentang perjuangan membangun karier.
Dan tentang ayah Nara.
---
"Dia orang paling keras kepala yang pernah kukenal."
kata Adrian sambil tertawa.
---
Nara ikut tersenyum.
---
"Itu terdengar seperti saya."
---
"Tidak."
jawab Adrian.
---
"Kau jauh lebih keras kepala."
---
Untuk pertama kalinya malam itu, Nara tertawa lepas.
---
Namun suasana berubah ketika Adrian tiba-tiba menjadi serius.
---
"Ada alasan aku mencarimu."
ucapnya.
---
Nara langsung diam.
---
Pria itu membuka tas kulit yang dibawanya.
Lalu mengeluarkan sebuah amplop tua.
---
"Aku menyimpan ini selama bertahun-tahun."
---
Perlahan ia menyerahkannya kepada Nara.
---
"Tolong lihat."
---
Jantung Nara mulai berdetak cepat.
---
Ia membuka amplop tersebut.
Dan mengeluarkan sebuah foto lama.
---
Napasnya langsung tertahan.
---
Di dalam foto itu ada dua pria muda yang berdiri berdampingan.
Tersenyum ke arah kamera.
---
Salah satunya adalah ayahnya.
Ia langsung mengenalinya.
---
Namun sosok di samping ayahnya membuat tubuhnya membeku.
---
Wajah pria itu sangat familiar.
---
Terlalu familiar.
---
"Ini..."
suara Nara bergetar.
---
Adrian menatapnya.
---
"Ya."
---
"Itu ayahmu."
---
Nara perlahan menunjuk pria kedua.
---
"Kalau begitu..."
---
Siapa dia?"
---
Adrian menarik napas panjang.
---
Tatapannya berubah rumit.
Seolah selama bertahun-tahun ia memikul rahasia ini sendirian.
---
Kemudian ia berkata pelan.
---
"Dia sahabat terbaik ayahmu."
---
Nara menelan ludah.
---
Adrian melanjutkan.
---
"Dan dia juga..."
---
Keheningan memenuhi meja mereka.
---
"...ayah Damar Wijaya."
---
Dunia Nara seolah berhenti berputar.
---
Tangannya gemetar.
Foto tua itu hampir terlepas dari genggamannya.
---
Selama ini ia mengira hubungannya dengan Damar hanyalah kebetulan.
Dipertemukan oleh pekerjaan.
Dipersatukan oleh konflik.
Dan diperdekatkan oleh keadaan.
---
Namun malam itu.
Untuk pertama kalinya.
Ia sadar bahwa mungkin takdir mereka sudah saling terhubung jauh sebelum mereka lahir.
---
Dan jika ayah mereka benar-benar sedekat itu...
Maka muncul pertanyaan yang jauh lebih menakutkan.
---
Mengapa tidak ada seorang pun yang pernah menceritakannya?
---
Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu?
---
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan keluarga Wijaya?
---
Adrian menatap foto itu.
Lalu berkata pelan,
"Yang kau ketahui tentang kematian reputasi ayahmu hanyalah sebagian kecil dari kebenaran."
---
Mata Nara langsung membesar.
---
"Karena orang yang menghancurkan hidup ayahmu..."
---
Pria itu berhenti.
Seolah ragu untuk melanjutkan.
---
"...masih memiliki hubungan dengan keluarga Wijaya sampai hari ini."
---
Nara membeku.
---
Sementara jauh di tempat lain.
Damar sedang membuka sebuah arsip lama milik ayahnya.
Tanpa menyadari bahwa malam itu...
Sebuah rahasia besar yang menghubungkan dirinya dan Nara baru saja mulai terungkap.
Bersambung ke Bab 23