Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Bukan Pemuda Bertanggung-Jawab
"Bapak kuat sekali minumnya? Apa tidak pusing?" tanya Mawar, memicingkan mata penuh drama kepura-puraan.
"Ini belum seberapa, Mawar. Alkohol tidak akan bisa membius kepalaku yang sedang stres ini," sahut Bagas santai, meletakkan botol vodkanya dengan entakan pelan di atas meja bar. "Aku ini peminum hebat."
"Apa?" Mawar tersentak. Bingung, panik campur jadi satu. Ia mencari lubang kesempatan. Menunggu Bagas lengah.
Hingga saat Bagas menoleh ke arah lantai dansa. Mawar dengan gerakan yang super cepat mengeluarkan botol air putih miliknya, yang sudah dicampur obat tidur dosis tinggi dari dalam tas. Ia langsung menuangkan cairan bening itu ke dalam sisa botol vodka Bagas. Rencananya berhasil. Anak atasannya di kantor itu, bahkan tidak menyadari perbuatannya.
"Minum lagi, Pak, biar penatnya hilang," bujuk Mawar, menyodorkan kembali botol vodka yang telah tercampur obat itu dengan senyuman manis penjerat.
Bagas tanpa curiga langsung meraih botol tersebut dan menenggaknya hingga tandas. Membuat Mawar bersorak kemenangan dalam hati, karena jebakannya tinggal selangkah lagi menuju keberhasilan.
“Kenapa aku tiba-tiba pusing ya?” Bagas memijat kepalanya. “Kalau hanya belasan botol … biasanya ... aku ku … at.”
Tubuh tegap itu ambruk. Dengan kepala menelungkup di atas meja bar yang dingin di bawah pendar lampu disko yang remang.
“Berhasil.” Mata Mawar membulat sempurna. Seringai licik terukir di bibirnya saat melihat jebakan intriknya sukses besar.
Cekatan, ia membopong tubuh Bagas. “Berat,” gerutunya, menahan beban tubuh pria itu yang mendadak terkulai pasrah dalam pengaruh obat tidur dosis tinggi.
Hampir putus asa karena tenaganya tak sebanding dengan tubuh Bagas, harapannya kembali bersinar saat ia melihat sosok berpakaian security masuk ke area bar. “Pak, bisa bantu saya?” panggil Mawar dengan raut wajah yang sengaja dibuat panik penuh drama.
“Iya, Non. Ada yang bisa dibantu?” tanya security itu mendekat.
“Bisa bantu angkat suami saya? Ke dalam mobil. Tolong. Dia terlalu banyak minum karena kami sedang bertengkar,” dusta Mawar, memasang ekspresi asmara yang tersakiti demi kelancaran rencananya.
“Baik, Non. Biar saya bopong.” Security itu sigap merangkul pundak Bagas yang tak sadarkan diri, memapahnya keluar menembus pintu lobi klub malam, lalu mendudukkannya di kursi penumpang depan mobil sedan mewah milik Bagas.
“Terima kasih.” Mawar mengambil lembaran uang, lalu memberikannya ke security sebagai pelicin. “Huft.” Ia menyeka peluh di dahinya yang mulai basah. Kemudian bergegas masuk ke kursi kemudi mobil Bagas.
“Untung aku bisa menyetir mobil.”
Perlahan Mawar mulai menginjak gas. Menuju hotel terdekat yang sudah ia incar di pusat kota.
Sesampainya di lobi hotel mewah itu, Mawar kembali menyewa dua orang pelayan hotel untuk memapah Bagas naik menggunakan lift menuju kamar nomor 404 yang telah disewanya secara tunai.
Begitu para pelayan pergi dan pintu kamar terkunci rapat, atmosfer berubah senyap dan sarat akan intrik dewasa.
"Sekarang, kamu adalah milikku, Bagas," bisik Mawar penuh kelicikan, menatap tubuh tegap yang terbaring pasrah di atas ranjang king size.
Mawar melepas sepatu Bagas dengan terburu-buru, lalu mulai menanggalkan kancing kemeja pria itu satu per satu dengan jemari yang gemetar karena gairah dan ketakutan yang bercampur baur.
Tanpa belas kasihan, ia menyobek sedikit kerah bajunya sendiri, mengacak-acak rambutnya, dan menyebarkan sisa aroma alkohol ke atas seprai putih.
Di bawah temaram lampu kamar hotel, Mawar merebahkan tubuhnya di samping Bagas yang tak sadarkan diri. Sengaja menaruh lengan kekar pria itu untuk memeluk pinggangnya erat-erat, bersiap menyusun sandiwara pelecehan yang tak akan bisa dibantah oleh pemuda itu saat fajar menyingsing esok hari.
----
“Aduh,” pekik Bagas, perlahan membuka mata. Seketika kaget saat mendapati Mawar yang tertidur dalam pelukannya.
Refleks, ia mendorong tubuh Mawar. “K-kenapa aku seranjang denganmu?” Bagas meloncat mundur hingga punggungnya membentur sandaran ranjang. Matanya membelalak menatap tubuhnya sendiri yang polos di balik selimut.
Mawar terbangun. Mulai memainkan lakon. Bersandiwara. “Kenapa saya ada satu ranjang dengan Bapak?” Netranya membulat sempurna. Memaksakan diri supaya permainannya berjalan sesuai.
Ia menarik selimut untuk menutupi dada, memasang raut wajah yang hancur berkeping-keping penuh drama asmara yang tersakiti.
“Aku tak ingat apa-apa.” Bagas menarik seprai. Ia kembali dikejutkan dengan noda merah di atas ranjang. “I-ni ….” Pria itu menunjuk noda palsu hasil tetesan obat merah yang disiapkan Mawar semalam dengan jemari yang bergetar hebat.
“Tidak!” Mawar menangis terisak, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk menyembunyikan kilat intrik di matanya. “Kenapa Bapak melakukan ini kepada saya? Saya ini pegawai Pak Heru, Ayah Bapak!”
“Aku tak ingat apa pun.” Bagas panik. Ia mengacak rambutnya frustrasi, mencoba merangkai memori malam dewasa yang hilang total dari kepalanya.
“Mungkin Bapak lupa … semalam kita mabuk lalu ….”
“Sudah jangan diteruskan!” Bagas memotong kalimat Mawar, membentak. Bangkit sambil menutup bagian bawah tubuhnya dengan lilitan selimut tebal. “Masalah ini kalau sampai Ayah apalagi Ibu tahu, bisa mati aku! Reputasi keluarga Utama bisa hancur lebur!”
“Bapak hanya memikirkan diri sendiri. Bapak enak, laki nggak ada bekas. Sedangkan saya?” Mawar kembali menangis histeris, menatap Bagas dengan pandangan tajam yang menghakimi. “Kalau Ibu saya tahu, apa dia masih mau menerima? Sedangkan mahkota saya sudah Bapak renggut.”
“Kita melakukannya dalam keadaan sama-sama mabuk. Kok jadi aku seperti salah sendiri?” Bagas menunjuk dirinya, suaranya meninggi, dipenuhi kepanikan yang luar biasa.
"Sudahlah. Aku akan membayarmu dengan uang layak. Lupakan ini. Anggap saja tak pernah terjadi sesuatu di antara kita. Oke"
“Saya tidak mau! Bapak harus tanggung jawab!” hardik Mawar tajam. Ia mencengkeram ujung bantal, syok dan dilingkupi kepanikan akut.
Rencana matangnya seketika berantakan tatkala menyadari bahwa Bagas bukanlah pria bertanggung jawab dan berhati lembut seperti yang dikiranya. Melainkan pria pengecut yang ingin cuci tangan. “Kalau saya hamil bagaimana? Bapak mau saya menggugurkan darah daging Bapak?”
“Itu kalau hamil,” sergah Bagas, “aku kira kalau cuma sekali, kamu tak mungkin hamil. Tolonglah, kita sama-sama dewasa. Ini aib! Kamu dan aku masih muda. Masa depan kita masih panjang. Kamu punya karier yang harus kamu kejar. Sementara aku? Ah, ini bisa mencoreng keluarga Utama kalau sampai publik tahu.”
Tak membuang waktu, Bagas memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dengan terburu-buru. Ia melangkah cepat. Menuju ke arah kamar mandi, lalu membanting pintunya dengan keras. Bunyi gemericik air mulai terdengar dari dalam.
Di sisi lain, Mawar bersungut, kesal. Seluruh tubuhnya mendadak lemas dan dingin. “Sialan, dia ternyata bukan pria bertanggung jawab. Bagaimana ini? Apa aku harus merubah rencana? Minta uang buat operasi keperawanan?”
Ia bangkit. Menatap kaca. "Tapi kalau beneran hamil anak Herwanto? Bagaimana?' Mawar akhirnya menyadari jerat asmara gelapnya, justru seakan berbalik menjadi bumerang yang mengancam masa depannya. Andai ia benar-benar positif hamil anak Herwanto nanti.