Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : DUA SISI KEGILAAN
Kabar tentang pembantaian di Dermaga 9 menyebar di koridor kediaman Ouroboros seperti api yang menyambar bensin. Melalui jaringan radio internal yang terenkripsi, laporan kematian tiga bawahan utama Elder Marcus sampai ke telinga dua pria yang malam itu sengaja ditahan di rumah utama.
𝐊𝐚𝐦𝐚𝐫 𝐊𝐞𝐚𝐦𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐚𝐲𝐚𝐩 𝐁𝐚𝐫𝐚𝐭 — 𝐃𝐚𝐧𝐭𝐞
Dante sedang berada di ruang monitor ketika rekaman mentah dari kamera pengawas dermaga yang sempat terputus berhasil dipulihkan oleh tim forensik digital.
Saat video itu berputar, memperlihatkan detik-detik tiga pria kekar mengepung Elara, napas Dante seketika berhenti. Seluruh darah di tubuhnya terasa mendidih, tangan Dante yang bertumpu di tepi meja besi mencengkeram pinggiran meja begitu keras.
Mata Dante dipenuhi kegilaan dan murka. Fakta bahwa Elara dikepung saat ia tidak ada di sana adalah mimpi buruk terbesar dalam hidupnya.
Namun, ketika video itu berlanjut—memperlihatkan bagaimana Elara dengan mudah mematahkan jakun, menghujamkan pisau ke rongga mata, dan menginjak leher penyerang terakhir hingga patah—rahang Dante yang tegang perlahan mengendur.
Rasa amarahnya berubah menjadi kelegaan dan kekaguman yang luar biasa.
Dante menunduk di depan layar monitor yang membeku pada gambar Elara yang sedang mengusap setitik darah di pipinya dengan saputangannya. Jantung Dante berdegup kencang karena rasa takjub dan cinta yang posesif.
"Anda benar-benar hebat," bisik Dante parau.
Dante memutus sambungan monitor dengan satu sentakan kasar. Kelegaan di dadanya tidak serta-merta memadamkan api yang sudah telanjur membakar kepalanya.
Elara mungkin bisa melindungi dirinya sendiri, namun bagi Dante, membiarkan sebutir peluru atau sebilah pisau mengarah ke arah wanitanya adalah sebuah kegagalan yang harus ia bayar
Ia meraba interkom di telinganya, menekan frekuensi jalur hitam yang hanya diketahui oleh segelintir orang.
"Grup Alpha, aktifkan Protokol Pembersihan," perintah Dante, suaranya dingin, dan datar. "Bawa persenjataan berat. Temui aku di perimeter luar Dermaga 9 dalam sepuluh menit. Jika kalian terlambat satu detik, aku sendiri yang akan mengubur kalian."
"Dimengerti, Komandan," sahut sebuah suara berat dari seberang lini, diikuti suara kokangan senjata yang bergaung serentak.
Dante berbalik, menyambar kunci jip miliknya yang terparkir di garasi bawah tanah.
Jip hitam pekat tanpa plat nomor itu melesat keluar, menghantam gerbang besi sayap barat hingga terbuka paksa, meninggalkan decit ban di aspal basah.
Di dalam kabin yang gelap, wajah Dante mengeras, ia menggenggam lingkar kemudi begitu erat. Kakinya menekan pedal gas sedalam mungkin. Jarum penunjuk kecepatan melompat melewati angka 160 km/jam di jalanan pesisir yang berkelok dan licin oleh air hujan.
Jip besar itu beberapa kali terlempar sedikit saat menghantam genangan air.
Di kepalanya, hanya ada satu pikiran yang terus berputar: Marcus harus mati sebelum fajar menyingsing.
𝐑𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐫𝐣𝐚 𝐃𝐢𝐠𝐢𝐭𝐚𝐥 — 𝐉𝐮𝐥𝐢𝐚𝐧
Di bagian lain kediaman, Julian Vance duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi pendaran cahaya biru dari tiga monitor besar.
Tablet retak yang tempo hari sudah diganti dengan yang baru, dan di layar itulah Julian membaca laporan serta log kronologi yang bocor dari sistem pelabuhan.
Julian menyandarkan punggungnya ke kursi. Hidungnya yang masih sedikit diperban akibat duel dengan Dante tidak lagi terasa sakit, digantikan oleh sengatan adrenalin yang luar biasa kuat saat ia membaca detail bagaimana pria kedua tewas dengan pisau rambo menembus kepala.
Julian tertawa, sebuah tawa rendah, lepas, dan sarat akan kegilaan.
"Luar biasa... benar-benar luar biasa," gumam Julian, matanya melebar di balik kacamata barunya.
Dia mengira telah memahami batasan Elara setelah melihat wanita itu menghindar di koridor tempo hari. Namun, membunuh tiga pembunuh bayaran profesional sendirian di bawah guyuran hujan, tanpa sekejap pun kehilangan ketenangannya? Itu adalah level kegilaan yang membuat sisi gelap dalam diri Julian merasa menemukan rumahnya.
Julian mengusap bibirnya yang pecah, membayangkan bagaimana rasanya berada di bawah kuasa wanita sekejam itu. Obsesinya yang tadinya berupa ambisi untuk menaklukkan, kini bermutasi menjadi keinginan untuk dimiliki dan menghancurkan bersama.
Julian melirik monitor kecil yang menampilkan 𝘊𝘊𝘛𝘝 koridor luar, di mana ia bisa melihat siluet Dante yang berjalan dengan langkah berat, memancarkan aura haus darah menuju ke arah bawah tanah.
Julian tersenyum miring, mengetuk jemarinya di atas meja. "Anjing penjagamu sedang mengamuk karena merasa tidak berguna, Nona Elara."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..