Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 10
“Tapi, Mbak ….” rautnya seperti orang tertekan.
“Buruan masuk!” Niar melototi.
Terpaksa Ayunda kembali mengayunkan kakinya, detak jantungnya mulai tidak beraturan. ‘Padahal cuma mau minta cuti, tapi berasa seperti di ruang sidang,’
Tok!
Tok!
Tidak sampai semenit, terdengar suara klik pintu menggunakan akses kode maupun kartu yang bisa dikontrol menggunakan sebuah remot – Ayunda memutar handle, lalu mengatur napas.
“Kamu habis dikejar-kejar rentenir, terus ngumpet disini ya, Ayunda?” goda Iyan, terkekeh melihat raut tegang wanita berjalan mendekat.
“Atau mau ngutang?” lanjutnya menambah rasa gugup wanita memakai blouse putih bahan satin.
“Pak Iyan, bisa diam sebentar gak? Nanti aku lupa mau ngomong apa?” geramnya kala sudah berdiri di depan meja besar, mengkilap.
Iyan menggelengkan kepala. “Jarang-jarang loh menyaksikan kamu gugup mirip orang baru kepergok lagi enak-enak.”
Ayunda tersenyum kaku, mulai mengabaikan sang asisten bos, lalu fokus pada pria menyandarkan punggung pada sandaran kursi kebanggaannya seraya menatap lekat.
“Tuan,” katanya seperti suara bisikan.
“Keras sedikit bisa kali, Yunda,” Iyan masih ingin menggoda.
Rasanya Ayunda mau menangis, tapi dia butuh. “Tuan!”
“Kekencengen itu, Ayunda! Bisa-bisa orang sakit jantung langsung kumat, terus _”
Ayunda bergerak cepat menyamping. “Pak Iyan jangan ganggu dulu bisa, nggak?!”
Iyan mengangkat kedua tangan tanda menyerah, lalu jemarinya bergerak layaknya mengunci mulut.
Daksa Wangsa masih bergeming, kedua siku bersandar pada pegangan kursi. Pandangannya tetap berpusat ke wanita yang wajahnya memerah.
“Tuan, saya mau izin cuti. Apa boleh?” takut-takut ia mengintip sang bos lewat lirikan mata.
Lirikan maut tuan Daksa menghentikan bibir Iyan yang sudah bergerak-gerak samar.
“Alasannya?”
“Mau menemani Ibu. Bapak tengah dirawat di rumah sakit,” katanya nyaris terbata-bata.
“Berapa lama?” ia masih belum mengalihkan tatapannya meskipun sang lawan bicara menunduk.
“Tiga hari.” Ayunda sedikit mendongak, kala bertemu tatap dengan netra hitam pekat, cepat-cepat menunduk lagi. Dia paling takut berada di situasi seperti ini – minta cuti.
“Kapan pulang kampung?”
“Kalau boleh hari ini, soalnya jadwal operasi bapak besok pagi, Tuan,” rasanya lega sekali bisa mengutarakan keinginan.
“Pinta Yusniar mengirim surat cuti kamu ke bagian HRD.”
“Saya boleh pergi sekarang, Tuan?” ia tersenyum lebar, pipinya terlihat cantik dengan lekuk sedikit dalam.
“Apa perlu saya ulangi kata-kata tadi?” netra Daksa seolah menantang.
Ayunda menggeleng cepat, lalu membungkuk badan. “Terima kasih, tuan Daksa. Terima kasih.”
“Senengnya yang mau cuti, jangan-jangan kamu bohong. Aslinya mau liburan, kan?” canda Iyan.
Ayunda melirik singkat lalu setengah berlari keluar, tidak kesulitan meskipun menggunakan flatshoes bagian tumit sedikit tinggi.
Ketika sampai diluar, dan pintu sudah ditutup, langsung saja Ayunda ditodong pertanyaan oleh Yusniar.
“Boleh, kan?”
“Iya, Mbak. Sekarang aku mau pulang dulu ke apartemen, habis itu ke bandara.” Ayunda masuk ke sela meja, membuka laci mengambil tas kerja.
“Yunda! Kesinikan buku resep racikan teh. Eh, bisa ditunda dulu gak cuti mu? Aku sama sekali gak hafal ramuan minuman tuan Daksa,” Yusniar tampak panik.
“Sering tak ingetin, belajar Mbak. Jadi, kalau pas kayak gini gak kelimpungan lagi.” Ayunda mengambil buku agenda tersimpan pada laci, memberikan kepada atasannya.
“Baru kepikirannya sekarang, Ayunda.” Yusniar tertawa.
“Huu … tapi kita ini sama-sama punya kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi ya, Mbak?” Ia menarik resleting tas sandang nya.
“Maksudnya?”
“Mbak Niar paling males belajar resep buat minuman tuan Daksa yang diajari seorang Tea Master. Sedangkan aku, enggan kalau harus menemani klien dari luar negeri. Mungkin karena itu kita cocok jadi rekan kerja ya, Mbak?” Yunda mengedipkan mata kirinya.
“Bisa aja kamu. Udah buruan pulang, biar surat cutimu aku yang urus.” Yusniar beranjak dari kursinya, lalu menepuk lembut pundak sang bawahan. “Titip salam ke ibu, dan semoga operasi bapak berjalan lancar.”
Ayunda memeluk hangat teman sekaligus atasan yang banyak mengajarinya. Dia suka dengan kepribadian Yusniar ... tidak suka ikut campur dalam urusan bukan ranahnya, bisa dibilang cuek. “Terima kasih, Mbak. Aku pulang dulu, ya?”
“Hati-hati di jalan. Harus fokus, Yunda!”
“Iya, Mbak.”
Pelukan itu pun diakhiri, Ayunda bergegas menuju lift. Tidak dapat dipungkiri, perasaannya sedikit kalut. Tadi, salah satu tetangga hunian orang tuanya mengabari kalau bapak sudah dua hari di rumah sakit.
***
Setengah jam sebelum keberangkatan, Ayunda baru tiba di bandara Soekarno-Hatta. Biasanya penumpang domestik diharuskan sudah ada di sana dua jam sebelum keberangkatan.
Namun, seseorang menemani wanita cantik yang hanya membawa koper ukuran kecil nanti akan diletakkan pada kabin pesawat.
Setelah proses check in, Ayunda langsung ditemani berjalan masuk ke dalam pesawat. Bisa dibilang dia penumpang terakhir yang diantarkan sampai duduk di bangku bisnis class.
“Terima kasih, Bu,” katanya sopan kepada staff bandara memiliki jabatan penting yang membantunya.
“Kembali kasih, Nona. Semoga perjalanan anda menyenangkan,” balasnya ramah, sebelum memanggil nona, sudah lebih dulu mengecek status Ayunda pada kartu tanda pengenal.
Staff tadi pun keluar dari dalam pesawat, dan pintu langsung ditutup oleh seorang pramugari.
Ayunda menyamankan posisi duduk, meletakkan tas bahu disebelahnya. Sebelum mematikan ponsel, terlebih dahulu mengambil satu potret dirinya lalu dikirim ke seseorang, barulah menaruh benda canggih itu ke dalam tas.
‘Semoga bapak gak kenapa-kenapa?’ ia menatap lapangan bandara. Masih terngiang-ngiang kabar mengejutkan tadi yang sempat membuatnya shock.
Tidak berapa lama pesawat mulai take off, bergerak di landasan pacu, siap mengudara.
Ayunda berusaha untuk merilekskan tubuh, mengendurkan otot-otot sempat tegang karena rasa cemas dan terburu-buru.
***
Satu jam empat puluh menit kemudian – Ayunda sudah tiba di bandara Internasional Juanda Surabaya. Kembali dia mendapatkan perlakuan khusus, mobil jemputan siap mengantarkannya ke salah satu rumah sakit.
Dalam perjalanan cukup memakan waktu satu jam itu, Ayunda tidak mencoba beramah tamah dengan sang sopir, hanya menyapa sopan.
“Kita sudah sampai, Bu.” Sopir turun dari dalam mobil, lalu membukakan pintu samping.
“Terima kasih, Pak.” Ayunda menunduk sopan.
“Sama-sama, Bu. Ibu masuk saja dulu, biar kopernya saya yang bawa,” ia menawarkan diri, bekerja secara profesional.
Sekali lagi Ayunda mengucapkan terima kasih, lalu berjalan cepat menuju lantai empat tempat ayahnya di rawat.
.
.
“Loh, Nduk … kok wangsul? Sopo sing wei reti?!” (Nak, kenapa pulang? siapa yang ngasih tahu?”
Tangis Ayunda pecah, dia mengikis jarak, memeluk erat wanita yang banyak berkorban demi dia tetap hidup di dunia ini. “Ibu ….”
.
.
Bersambung.
Selia ini nanti kayaknya bakalan jadi pawangnya pak iyan🤭.
Bu Niar...,, mqkn sudah mengetahui sesuatu yang tersembunyi d antara padak dan Yunda...,, tapi qta belum tau apa yang d sembunyikan oleh Dwira🤔.
ini gmn ya
apa karna tau mantunya hamil jd mau menetap
wis mboh lah
tauuu aja🤭
Amran tabarik-Daksa wangsa
daksa ga doyan yang udah di laletin
doyannya yg tertutup kaya Yunda hanya daksa yg buka .
ga kaya kamu di obral di ewer2 ke semua orang,,