Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Fondasi Kerajaan Bayangan
#
Setelah keberhasilan negosiasi sama Pak Gunawan, Om Timur mulai ngasih Rendra ruang yang lebih lebar buat ngembangin dirinya sendiri. Bukan cuma latihan latihan kecil lagi, tapi kesempatan buat bener bener bangun sesuatu, fondasi yang, kalo dijaga bener, bisa jadi kekuatan yang nggak akan bisa diinjek injek lagi kayak dulu.
"Kamu udah punya dasar yang cukup," Om Timur bilang, suatu sore, "sekarang, waktunya kamu bangun kendaraan kamu sendiri. Perusahaan, identitas bisnis, apapun namanya, yang bisa jadi tempat kamu ngumpulin kekuatan tanpa ada yang curiga siapa kamu sebenernya."
Rendra, dibantu Pak Wahyu dan sedikit modal awal yang berhasil dia kumpulin dari hasil hasil kecil selama pelatihan, mulai ngedaftarin sebuah perusahaan investasi kecil, namanya diambil dari nama barunya sendiri, "Alief Capital", perusahaan yang di atas kertas cuma keliatan kayak firma investasi kecil biasa, ngurusin dana dana kecil dari orang orang lokal yang pengen invest tapi nggak punya modal gede.
Tapi di balik layar, Alief Capital jadi kendaraan buat Rendra ngumpulin info, ngumpulin koneksi, dan pelan pelan, ngumpulin kekuatan finansial yang suatu hari bakal dia pake buat ngelawan balik.
Malem malem, setelah kerjaan sehari harinya ngurusin klien klien kecil, Rendra duduk sendirian di kantor sempitnya, kantor yang cuma disewa di lantai dua ruko tua, dan dia mulai kerjain proyek pribadinya sendiri, ngumpulin data soal Hartono Group, sedikit demi sedikit, dari sumber sumber yang legal maupun yang, hmm, agak abu abu.
Dia minta Bara bantuin lacak laporan keuangan Hartono Group yang dipublikasiin buat pemegang saham, nyari celah celah kecil, angka angka yang nggak nyambung, transaksi transaksi yang keliatan janggal kalo diliat teliti.
"Bang," Bara bilang, suatu malem, layar laptopnya penuh grafik grafik dan tabel, "saya nemuin beberapa hal menarik. Hartono Group ternyata punya utang yang lebih gede dari yang mereka laporin ke publik. Ada beberapa anak perusahaan yang keliatannya sengaja dibikin buat nyembunyiin arus kas yang sebenernya."
"Terus?" Rendra nanya, matanya fokus ke layar.
"Terus, ada beberapa orang di posisi penting yang keliatannya lagi nggak puas. Saya nemuin dari forum forum diskusi bisnis, ada yang komentar komentar kecil soal 'ketidaktransparanan manajemen', meski nggak nyebut nama perusahaan langsung, tapi konteksnya cocok banget."
Rendra ngangguk, nyatet semuanya, dan dia mulai nyusun peta besar di kepalanya, peta soal siapa aja yang mungkin bisa jadi sekutu diem diem, orang orang dalem Hartono Group yang mungkin, kalo didekatin dengan cara yang tepat, bisa jadi sumber info berharga.
Selain itu, dia juga mulai belajar soal celah celah hukum, gimana caranya perusahaan bisa dijatuhin lewat gugatan gugatan kecil yang, satu satu keliatan nggak penting, tapi kalo dikumpulin, bisa jadi bola salju yang ngegulung makin gede.
Bulan bulan berlalu, dan Alief Capital, meski masih kecil, mulai dapet reputasi yang lumayan baik di kalangan investor lokal, soalnya Rendra selalu jujur soal resiko, nggak pernah janjiin untung yang berlebihan, dan itu bikin orang orang percaya, meski mereka nggak pernah bener bener ketemu langsung sama pemilik perusahaan itu, soalnya Rendra selalu ngirim perwakilan buat urusan urusan yang butuh tatap muka, dia sendiri lebih milih tetep di balik layar.
Suatu malem, waktu Rendra lagi ngecek dokumen due diligence buat calon klien pertamanya yang lumayan gede, sebuah perusahaan kecil yang mau invest ke sektor properti, dia nemuin sesuatu yang bikin dia berenti scroll.
Di salah satu lampiran dokumen itu, ada daftar nama nama pihak yang, katanya, "berpotensi menjadi risiko reputasi" buat kerjasama yang lagi mereka rencanain, soalnya nama nama itu berhubungan sama investigasi investigasi yang lagi berjalan di beberapa perusahaan besar, termasuk Hartono Group.
Dan di situ, ada satu nama yang bikin jantung Rendra berdebar kenceng.
"Wulandari Kusuma, jurnalis independen, dikenal aktif menyelidiki dugaan pelanggaran keselamatan kerja di beberapa perusahaan besar, termasuk kasus ledakan pabrik Hartono Group tahun lalu yang masih menyisakan tanda tanya."
Rendra ngeliatin nama itu lama banget. Jurnalis. Yang lagi nyelidiki kasus ledakan pabrik itu, kasus yang sama yang ngancurin hidupnya sendiri.
"Bara," Rendra manggil, suaranya agak beda, "cari tau soal orang ini. Wulandari Kusuma."
Bara mulai ngoprek lagi, dan nggak lama, dia nemuin beberapa artikel yang ditulis atas nama Wulandari Kusuma, artikel artikel investigatif yang lumayan berani, ngebongkar beberapa kasus korupsi kecil di daerah, dan yang paling bikin Rendra penasaran, ada satu artikel, ditulis beberapa bulan lalu, judulnya "Ledakan Pabrik Hartono: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?", tapi artikel itu, anehnya, cuma bertahan beberapa jam online sebelum ditarik, dan nggak ada penjelasan resmi kenapa.
"Artikelnya ditarik, Bang," Bara bilang, "kayaknya ada tekanan dari atas. Media tempat dia kerja, beberapa bulan setelah itu, keliatannya lagi ada masalah keuangan, dan Wulandari ini akhirnya keluar, sekarang kerja independen, ngirim tulisan ke berbagai media secara lepas."
Rendra duduk diem, mikirin, ada orang lain yang, ternyata, udah lama nyoba ngebongkar kasus yang sama, kasus yang ngancurin hidupnya, dan orang itu, sama kayak dia, ternyata juga kena "dihalangin" secara diem diem oleh kekuatan kekuatan yang nggak keliatan.
Dia mikir, apa mungkin, orang ini bisa jadi sekutu? Atau malah bahaya, soalnya kalo dia ketauan lagi deket deket sama jurnalis yang nyelidiki kasusnya sendiri, itu bisa jadi bumerang yang ngebongkar identitasnya sebagai Rendra Alief, ngebongkar kalo dia sebenernya Damar yang "udah mati".
Tapi ada sesuatu yang lain juga, sesuatu yang lebih personal, yang bikin dia nggak bisa berenti mikirin nama itu. Orang ini, Wulandari Kusuma, kenapa dia begitu gigih nyelidiki kasus itu, sampe rela kehilangan pekerjaannya, sampe artikelnya ditarik paksa, tapi dia tetep lanjut, dengan cara lepasan, sendirian.
Rendra nyimpen nama itu baik baik di kepalanya, di catetan pribadinya yang cuma dia yang tau isinya, dan dia mikir, suatu hari nanti, mungkin, dia bakal butuh ketemu orang ini, entah sebagai sekutu, entah sebagai bagian dari rencana besar yang lagi dia susun pelan pelan, sebongkah demi sebongkah, kayak orang yang lagi nyusun ulang puzzle yang udah dipecah berkeping keping oleh orang orang yang seenaknya ngancurin hidupnya.
Malem itu, sebelum tidur, di kamar kosnya yang masih sederhana meski udah lebih layak dari kamar kos pertama dulu, Rendra ngeliatin lagi catetannya, nama Wulandari Kusuma tertulis rapi di situ, dan entah kenapa, ada perasaan yang beda, yang nggak bisa dia jelasin, muncul tiap kali dia baca nama itu, perasaan yang jauh lebih rumit dari sekedar rasa penasaran biasa soal seorang sekutu potensial.