NovelToon NovelToon
Cinta Yang Datang Terlambat

Cinta Yang Datang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. Aipp

Follow IG @samsularipin_101

"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".

Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.

Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.

Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan Api di Lantai Bursa

Pukul enam pagi, aroma kopi hitam yang pekat kembali menguasai udara penthouse. Jevandra sudah berdiri di dekat jendela kaca besar, mengancingkan kemeja birunya dengan gerakan yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Ada beban berat yang terangkat setelah tersingkirnya Baskoro semalam, namun ada ketegangan baru yang merayap di dadanya. Pagi ini, ia bukan lagi sekadar CEO yang mempertahankan posisi; ia harus melangkah masuk ke kantor sebagai penguasa baru dari divisi investasi yang ditinggalkan pamannya.

Alana keluar dari kamar dengan pakaian yang tak kalah tajam. Setelan celana bahan hitam berpotongan lurus dikombinasikan dengan kemeja sutra berwarna merah marun gelap, memberikan kesan dominan yang pekat. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, memperlihatkan anting-anting mutiara kecil yang elegan.

"Surat pengunduran diri Baskoro sudah masuk ke sistem legal sepuluh menit yang lalu," ujar Alana tanpa basa-basi, meletakkan tabletnya di atas meja makan yang kini bersih dari sisa-sisa perjamuan semalam. "Papa sudah menandatanganinya. Tapi jangan senang dulu, Jev. Baskoro tidak akan pergi begitu saja tanpa meninggalkan bom waktu di dalam divisi investasi."

Jevandra berbalik, merapikan kerah jasnya di depan cermin besar. "Saya tahu. Tim analis saya sudah berada di kantor sejak jam lima pagi untuk membekukan semua otorisasi transaksi yang pernah dikeluarkan Baskoro. Jika dia mencoba menarik likuiditas atau memindahkan aset di detik-detik terakhir, sistem akan langsung menguncinya."

Alana berjalan mendekat, menatap Jevandra dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. "Bagus. Kamu mulai berpikir seperti seorang pemburu, bukan korban. Mari kita lihat apakah taringmu cukup tajam untuk menghadapi pasar hari ini."

...****************...

Gedung Pratama Tower lantai dua puluh empat tampak seperti sarang lebah yang terusik saat mereka tiba. Berita mundurnya Baskoro Pratama secara mendadak telah menyebar ke lantai bursa bahkan sebelum bel pembukaan perdagangan berbunyi. Para pialang saham dan analis keuangan sibuk berbisik di koridor, sementara beberapa wartawan media finansial sudah mulai berkumpul di lobi utama gedung.

Begitu Jevandra duduk di kursi kebesarannya, layar monitor di depannya langsung menampilkan pergerakan saham Pratama Group ($PRAM) yang dibuka melemah dua persen akibat sentimen negatif mundurnya sang Direktur Investasi.

"Pak Jevandra," sekretarisnya, Rini, masuk dengan wajah cemas. "Pihak Temasek Capital baru saja menghubungi divisi humas. Mereka meminta konfirmasi tertulis apakah pergantian manajemen ini akan memengaruhi struktur kepemilikan saham atau komitmen proyek Bekasi."

"Katakan pada mereka, struktur tetap solid. Saya sendiri yang mengambil alih kendali penuh atas divisi investasi per jam ini," jawab Jevandra tegas, memancarkan karisma pemimpin yang sempat meredup selama beberapa minggu terakhir. "Dan jadwalkan konferensi pers singkat jam sebelas siang nanti. Kita harus menghentikan pendarahan saham ini sebelum sesi pertama ditutup."

Rini mengangguk cepat dan keluar dari ruangan. Jevandra langsung beralih ke berkas-berkas internal divisi investasi yang baru saja dipindahkan ke mejanya. Namun, baru beberapa menit ia membaca lembar pertama, Alana yang duduk di sofa ruang kerjanya tiba-tiba menegakkan punggung sambil menatap layar ponselnya.

"Jev," panggil Alana, suaranya yang biasanya datar kini mengandung nada urgensi yang pekat. "Baskoro baru saja melakukan pergerakannya."

Jevandra mendongak. "Apa yang dia lakukan? Semua rekeningnya sudah dibekukan."

"Dia tidak menyentuh rekening perusahaan," Alana berjalan cepat ke meja Jevandra, memutar ponselnya agar suaminya bisa melihat sebuah unggahan di salah satu forum komunitas investor terbesar di Asia Tenggara. "Dia membocorkan rekaman suara internal. Bukan rekaman Hendra... tapi rekaman pertengkaranmu dengan Silvia di apartemen sebulan yang lalu."

Darah Jevandra seolah berhenti mengalir. Ia meraih ponsel Alana dengan tangan yang mulai dingin. Di layar itu, sebuah berkas audio anonim telah diunduh oleh ribuan pengguna dengan judul yang sangat provokatif: “Sisi Gelap CEO Pratama Group: Manipulasi Pernikahan Bisnis dan Penggelapan Terselubung.”

Meskipun Alana semalam telah membersihkan bukti finansial terkait penggelapan apartemen Silvia, rekaman suara Jevandra yang menjanjikan kemewahan dan kompensasi dari dana tak terduga perusahaan terdengar sangat jelas dan tidak bisa dibantah secara publik dengan mudah. Isu moralitas korporasi yang sangat ditakuti oleh investor Singapura kini benar-benar meledak ke permukaan.

Layar monitor saham Jevandra langsung merespons. Grafik $PRAM menukik tajam, merosot hingga lima persen dalam hitungan menit. Ini adalah kepanikan pasar yang nyata.

"Sialan!" Jevandra memukul meja kerjanya dengan keras. "Baskoro benar-benar ingin membakar seluruh rumah ini!"

"Tenang, Jevandra!" bentak Alana, mencengkeram lengan suaminya untuk menghentikan kepanikannya. Matanya yang tajam berputar cepat, mencari solusi di tengah badai yang melanda. "Jika kamu panik sekarang, pasar akan melihatnya sebagai pengakuan dosa. Baskoro ingin kita membatalkan konferensi pers jam sebelas agar rumor ini semakin liar."

"Lalu apa rencana kita? Rekaman itu asli, Alana! Media akan mencecar saya dengan pertanyaan tentang Silvia, dan Temasek tidak akan mau menandatangani MOU dengan seorang CEO yang tersangkut skandal moralitas dan fraud!"

Alana menarik napas dalam-dalam, melepaskan cengkeramannya dari lengan Jevandra. Ia berjalan mondar-mendir di depan meja kerja, menatap langit-langit seolah sedang merangkai kepingan strategi baru.

"Kita tidak akan membantah rekaman itu," ujar Alana tiba-kira, membalikkan tubuhnya dengan senyuman yang begitu dingin hingga membuat Jevandra meremang.

"Kamu gila?! Kalau kita tidak membantahnya, Papa akan mencopot saya siang ini juga!"

"Kita tidak membantahnya, tapi kita mengubah konteksnya," Alana mendekat, menumpu kedua tangannya di atas meja kerja Jevandra, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Rekaman itu dipotong, Jev. Baskoro hanya menyebarkan bagian di mana kamu bicara tentang uang dan akomodasi untuk Silvia. Kita akan mengatakan pada publik bahwa suara itu adalah bagian dari penyelidikan internal yang sedang kamu lakukan untuk memancing keterlibatan Hendra dan oknum luar—yaitu Baskoro sendiri."

Jevandra mengernyitkan dahi. "Siapa yang akan percaya cerita itu, Alana? Itu terlalu klise."

"Mereka akan percaya jika akulah yang mengatakannya," sahut Alana mutlak. "Di konferensi pers jam sebelas nanti, aku tidak akan duduk di barisan belakang. Aku akan duduk di sebelahmu, menggenggam tanganmu di depan kamera, dan memberikan pernyataan sebagai istri sekaligus perwakilan dari Wijaya Group."

Alana menegakkan tubuhnya, merapikan kerah kemeja marunnya yang kontras. "Aku akan mengatakan bahwa hubunganmu dengan Silvia adalah bagian dari skenario operasi intelijen korporasi yang sudah disetujui olehku dan manajemen risiko Wijaya Group untuk membongkar jaringan penggelapan dana yang dipimpin oleh Hendra dan Baskoro. Kita akan membuat publik percaya bahwa suamiku adalah seorang martir yang rela mengorbankan reputasi pribadinya demi membersihkan Pratama Group."

Jevandra menatap Alana dengan rasa takjub yang bercampur dengan ketakutan yang mendalam. Wanita ini tidak hanya memiliki kemampuan untuk bertahan; ia memiliki bakat alami untuk memutarbalikkan fakta paling kotor menjadi sebuah narasi kepahlawanan yang agung.

"Tapi Alana... jika kita melakukan ini, kamu akan selamanya terikat dalam sandiwara ini di depan publik," kata Jevandra, suaranya melembut, menyadari pengorbanan reputasi yang juga harus dipertaruhkan oleh istrinya.

Alana menatap Jevandra dengan pandangan yang kembali mendingin, mengingatkan suaminya pada realitas hubungan mereka yang sebenarnya.

"Aku tidak melakukannya untukmu, Jevandra. Aku melakukannya karena Wijaya Holdings memegang opsi saham tujuh persen milikmu yang baru kita tanda tangani semalam. Jika saham Pratama Group hancur hari ini, maka nilai aset pribadiku juga akan ikut menguap. Aku hanya sedang melindungi hartaku."

Alana berjalan menuju pintu keluar, namun sebelum membukanya, ia menoleh sedikit ke arah Jevandra.

"Bersiaplah, Jevandra. Jam sebelas nanti, seluruh lampu kamera akan mengarah pada kita. Pastikan kamu tidak merusak akting terbaik yang akan kita mainkan dalam hidup kita."

Pintu tertutup rapat, meninggalkan Jevandra yang kini menatap grafik sahamnya yang mulai bergerak mendatar, seolah menanti badai besar yang akan segera dipicu oleh sepasang suami istri yang saling memanfaatkan di atas altar kekuasaan.

Bersambung.......

1
fatmawati (pipit)
mungkin digaleri ini jevandra dijebak dari seseorang yg tidak menyukai dirinya dan bisa saja jevandra menghamili alana... setelah itu mungkin alana pergi jauh yg tidak diketahui oleh orang jevandra
fatmawati (pipit)
Alana terpaksa menikah dengan orang iblis bermuka manusia lalu silvia pintar cari muka dari jevandra
fatmawati (pipit)
kenapa alana masih bertahan, klau memang dia masih mencintai masa lalu lebih baik pergi dari kehidupan javier saja
fatmawati (pipit): klau nikah karna kerjasama lebih baik perusahaan bangkrut lalu pelan pelan bangkit memulai usaha sendiri tanpa ada suntikan dana dari perusahaan lain
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!