Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 | YOU CAN'T
Suasana di dalam apartemen Elara mendadak terasa mencekik. Dante masih duduk di sofa dengan angkuhnya, menatap Elara yang berdiri mematung. Pria itu tidak hanya menaklukkan ruang gerak Elara, dia kini menaklukkan kewarasannya.
"Kau memohon Padaku, Wild Cat," bisik Dante, suaranya rendah dan serak, merayap di kulit Elara seperti bisa ular.
" Dan sekarang kau ingin mengusirku? Kau benar-benar wanita yang sangat membingungkan."
Elara mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. " Keluar dari apartemenku, Dante. Sekarang."
Dante tidak beranjak. Sebaliknya, ia menarik tangan Elara dengan satu sentakan kuat, membuat Elara terjatuh tepat ke Pangkuannya. Elara tersentak, mencoba berontak, namun Dante mengunci pinggangnya dengan tangan yang sekeras baja.
"Apa yang kau inginkan dariku?" suara Elara kini tidak lagi terdengar galak, melainkan bergetar karena emosi yang tertahan.
Dante mendekatkan wajahnya ke leher Elara. Ia tidak langsung mencium, melainkan membiarkan bibirnya menyapu kulit sensitif Elara menimbulkan sensasi panas yang menjalar hingga ke tulang belakang gadis itu. Elara memejamkan mata, napasnya memburu. Ia benci betapa tubuhnya bereaksi pada sentuhan pria ini.
" Aku menginginkan kejujuran," bisik Dante di telinga Elara. " Katakan padaku, Elara. Saat aku menyentuhmu seperti ini apa yang sebenarnya kau rasakan? Rasa benci? Atau rasa haus yang selama ini kau sembunyikan di balik lencana agenmu?"
Dante mengecup rahang Elara dengan intensitas yang membuat dunianya seolah berputar. Elara mencengkeram bahu Dante, mencoba mendorongnya, namun ia justru berakhir meremas kemeja pria itu semakin erat.
Dante menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Elara yang matanya kini sayu dan bibirnya sedikit terbuka. Ibu jari Dante mengusap bibir Elara Perlahan, seolah sedang menghafal bentuknya.
"Kau ingin aku menciummu, bukan? Kau bisa memohon, Elara. Hanya satu kata darimu, dan aku akan memberikan apapun yang kau inginkan."
Elara menatap Dante, matanya berkilat dengan amarah yang terselubung gairah. Ia tahu ini adalah perangkap. Jika ia menyerah, ia kalah. Jika ia melawan, ia justru terjebak dalam permainan Dante.
" Kau pengecut, Dante," desis Elara. "Kau menggunakan ketakutanku untuk memuaskan egomu."
Dante tertawa, tawa yang penuh kemenangan. Ia tidak mencium Elara. Ia justru bangkit berdiri, melepaskan Elara dengan kasar hingga gadis itu hampir tersungkur di sofa. Dante merapikan jasnya dengan tenang, tatapannya kini berubah dingin kembali.
" Kau benar. Aku memang pengecut karena aku belum bisa memilikimu sepenuhnya," ujar Dante datar. "Tapi ingat, Elara kau tidak bisa selamanya menahan diri. Suatu hari nanti, kau akan datang padaku dan memohon bukan karena aku memaksamu, tapi karena kau sendiri yang tidak sanggup lagi hidup tanpaku."
Dante melangkah menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti. " Oh, dan satu hal lagi. Dave rekanmu yang bersembunyi di balkon tadi sampaikan padanya bahwa lain kali, lebih baik dia membawa senjata jika ingin memata-mataiku. Aku tidak suka bermain dengan pecundang yang hanya bisa bersembunyi di balik gorden."
Elara membeku. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang mematikan.
Napas Elara memburu. Pria itu tahu. Dante tahu sejak awal bahwa Dave ada di sana. Seluruh adegan tadi semua permainan psikologis, semua kedekatan itu hanyalah cara Dante untuk mempermalukan mereka sekaligus menunjukkan betapa lemahnya posisi Elara.
Elara berlari ke arah balkon, menatap ke arah tempat Dave seharusnya melarikan diri. Pikirannya kalut. Ia bukan hanya sedang diawasi ia sedang ditertawakan oleh monster itu.
Ia jatuh terduduk di lantai, menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil, setiap rencana yang ia buat dengan Dave, sudah diketahui oleh Dante bahkan sebelum rencana itu dijalankan. Ia benar-benar sendirian di dalam sarang singa, dan Dante Moretti baru saja memastikan bahwa tidak ada jalan keluar lagi baginya.
●●●●