Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Ketetapan Sepihak
...
Ketukan palu sidang hari itu terdengar bagai suara hantaman gada besi yang memecahkan seluruh sisa keangkuhan di dalam dada Zidan.
Di dalam ruang kerja kantornya yang luas dan berlantai parket kayu mahal, Zidan duduk termenung menatap selembar dokumen resmi yang baru saja diantarkan oleh Tulus, sekretaris pribadinya. Dokumen dengan kop lambang garuda itu menyatakan sebuah keputusan mutlak: Pengadilan Agama telah mengesahkan perceraian antara Zidan Arkatama dan Pamela Winata secara verstek.
Karena keegoisan dan kesombongan narsisnya, Zidan sengaja mengabaikan tiga kali surat panggilan sidang. Dia berpikir dengan tidak datang dan menolak menandatangani berkas apa pun, dia bisa mengulur waktu atau memaksa Pamela untuk bertekuk lutut dan memohon kembali padanya. Namun, hukum tidak berjalan mengikuti ego besarnya. Ketidakhadirannya yang berturut-turut justru membuat majelis hakim mengambil keputusan sepihak.
Hari ini, statusnya resmi berubah. Pamela bukan lagi istrinya. Wanita itu telah benar-benar terlepas dari cengkeramannya, membawa pergi seluruh ketenangan yang selama tujuh tahun ini menjaga hidup Zidan tetap kokoh.
"Pak Zidan..." Tulus berucap dengan sangat hati-hati, memecah keheningan ruangan yang mencekam. "Kuasa hukum Ibu Pamela juga menyampaikan bahwa urusan pembagian harta gono-gini sudah dianggap selesai. Ibu Pamela sama sekali tidak menuntut sepeser pun aset rumah, tanah, atau saham perusahaan atas nama Bapak. Beliau hanya meminta haknya atas kebebasan penuh."
Brak!
Zidan menyentak dokumen di atas mejanya hingga beberapa pena bermerek terlempar ke lantai. Napasnya memburu, wajah tampannya mengeras dengan guratan emosi yang meluap-luap. Kekerasan verbal yang biasa dia gunakan untuk mengintimidasi orang lain kini keluar begitu saja.
"Dia pikir dia siapa, hah?! Keluar dari rumah saya tanpa membawa apa-apa, seolah-olah semua pemberian saya selama ini adalah sampah?!" raung Zidan, suaranya bergetar hebat antara amarah yang membakar dan rasa frustrasi yang teramat pekat.
Sifat narsisnya terluka parah. Pamela tidak menginginkan uangnya. Pamela tidak menginginkan kemewahannya. Wanita itu justru memperlakukannya seolah-olah Zidan dan seluruh kekayaannya adalah sebuah kutukan yang harus dijauhi sejauh mungkin.
Tulus hanya bisa menunduk, tidak berani menyahut. Dia sudah cukup lama bekerja dengan Zidan untuk tahu bahwa di balik bentakan kasar itu, bosnya sedang didera ketakutan dan penyesalan yang sangat dalam.
"Tulus! Siapkan mobil sekarang!" perintah Zidan tiba-tiba, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh tuntutan. Pria itu bangkit berdiri, menyambar kunci mobil sportnya dari atas meja.
"B-baik, Pak. Kita mau ke rumah sakit atau ke rumah besar?" tanya Tulus terburu-buru.
"Kita cari Pamela," desis Zidan dengan mata yang merah, memancarkan keputusasaan yang tajam. "Saya tahu kemarin saya melihat dia di kota pinggir pantai itu. Cari detail alamat kedai kopi bernama 'Selasih' yang tempo hari sempat kita lewati. Saya sendiri yang akan seret dia pulang. Dia tidak bisa menceraikan saya seperti ini!"
Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya, angin sore bertiup lembut menerpa teras Kedai "Selasih". Aroma manis dari klepon gula aren yang baru saja direbus oleh Pamela menguar ke udara, bercampur dengan wangi kopi hitam yang pekat.
...
Pamela sedang berdiri di balik konter, menuangkan kuah aren kental di atas mangkuk-mangkuk kecil dengan gerakan yang sangat tenang dan stabil. Wajah manisnya tampak begitu rileks. Kabar tentang putusan sidang perceraiannya sudah dia terima dari pengacaranya lewat pesan singkat tadi siang.
Saat membaca pesan itu, tidak ada air mata yang menetes. Pamela hanya memejamkan mata sejenak, menghirup dalam-dalam udara pantai yang bersih, lalu mengembuskannya bersama dengan seluruh sisa penderitaan masa lalunya. Dia merasa seolah sebuah batu besar yang selama tujuh tahun ini mengikat lehernya kini telah hancur lebur menjadi abu. Dia resmi merdeka.
"Mbak Pamela, ini ada titipan surat dari Ibu Sarah," ucap seorang pelayan pria kedai bernama joni, menyodorkan sebuah amplop cokelat kecil. "Katanya ini sisa uang transportasi harian dan bonus karena kue mangkok buatan Mbak kemarin laris manis diborong dinas pariwisata."
Pamela menerima amplop itu dengan senyuman tulus. "Terima kasih banyak ya, Jon."
Saat membuka amplop tersebut dan melihat beberapa lembar uang ratusan ribu hasil keringatnya sendiri, dada Pamela berdesir hangat. Jumlahnya mungkin tidak ada seujung kuku dari uang belanja yang biasa ditaruh Zidan di atas meja dengan cara dilempar dulu. Namun, uang di tangannya saat ini adalah uang yang memiliki harga diri. Uang yang dia dapatkan karena kemampuannya diakui, bukan karena belas kasihan atau bayaran atas perlakuan kasarnya keluarga Arkatama.
Kehidupannya yang baru kini terasa semakin manis. Pamela bertekad untuk menabung sebagian besar penghasilannya di kedai ini untuk modal membuka warung kuenya sendiri suatu hari nanti. Dinding es di dalam hatinya untuk urusan asmara mungkin sudah membeku total, namun untuk urusan masa depan, semangatnya menyala lebih terang dari biasanya.
...
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mengubah warna langit menjadi jingga kemerahan yang pekat ketika mobil sport milik Zidan berbelok kasar dan berhenti tepat di depan pelataran parkir Kedai "Selasih".
Zidan tidak memedulikan tatapan heran dari beberapa pengunjung kedai yang sedang menikmati kopi sore. Pria itu keluar dari mobil dengan gerakan terburu-buru, kemeja kerjanya berantakan, dan aura dingin serta emosi yang meluap terpancar jelas dari setiap langkah kakinya.
Dia melangkah lebar memasuki area kedai, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan liar, mencari sosok wanita yang mengacaukan seluruh isi kepalanya selama beberapa minggu ini.
"Mencari siapa ya, Pak? Maaf, kalau mau memesan bisa langsung ke konter," sapa Ibu Sarah yang kebetulan sedang berada di area depan, menatap tajam ke arah Zidan dengan insting seorang ibu yang langsung merasa waspada melihat kedatangan pria asing yang tampak penuh emosi buruk itu.
Zidan menghentikan langkahnya di depan Ibu Sarah, napasnya memburu. "Di mana Pamela?! Saya tahu dia bekerja di sini! Panggil dia keluar sekarang!" tuntut Zidan dengan nada suara yang meninggi, mengabaikan sopan santun.
Mendengar nama Pamela disebut dengan cara sekasar itu, mata Ibu Sarah seketika berubah menjadi sedingin es. Dia langsung bisa menebak siapa pria narsis di hadapannya ini. Ini adalah pria kota yang telah meremukkan hati dan harga diri karyawannya yang paling rajin.
"Maaf, Pak. Di kedai ini tidak ada urusan pribadi yang bisa diselesaikan dengan cara berteriak-teriak," jawab Ibu Sarah dengan suara yang sangat tenang namun penuh penekanan yang tegas. "Jika Anda mencari Mbak Pamela untuk urusan yang tidak penting, saya minta Anda keluar dari properti saya sekarang juga."
"Saya suaminya! Saya punya hak atas dia!" bentak Zidan, emosinya pecah, membuat beberapa pelanggan kedai mulai berbisik-bisik dan menoleh ke arah mereka.
"Suami?" Ibu Sarah mendengus sinis, menatap Zidan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menghina. "Setahu saya, Pamela sudah tidak punya suami sejak palu sidang diketuk tadi siang. Anda hanya orang asing yang datang membawa kekacauan ke tempat ini."
Kata-kata Ibu Sarah seperti sebuah gada yang menghantam tepat di luka batin Zidan yang paling dalam. Kenyataan bahwa semua orang bahkan orang asing di kota kecil ini tahu tentang status perceraian mereka membuat harga diri narsisnya terasa diinjak-injak.
Dari arah pintu dapur dalam, bunyi denting piring yang diletakkan agak keras terdengar. Pamela berjalan keluar dengan langkah yang sangat tenang, berdiri di samping Ibu Sarah. Dia menatap Zidan yang tampak berantakan di depannya.
Tidak ada ketakutan di mata Pamela. Tidak ada getaran gugup di tubuhnya. Pandangan mata wanita itu begitu datar, kosong, dan sedingin hamparan salju di musim dingin. Menatap Zidan kini tidak lebih dari sekadar menatap seonggok masa lalu yang tidak lagi memiliki arti apa pun di dalam hidupnya.
"Pamela..." bisik Zidan, suaranya mendadak melunak saat melihat wajah wanita itu dari dekat. Ada rasa lega sekaligus sesak yang aneh yang menghantam dadanya. "Ayo pulang, Pam... Rumah berantakan tanpa kamu. Papa kritis di rumah sakit terus-terusan manggil namamu. Ryan dan Riana nangis setiap hari..."
Pria narsis itu kembali menggunakan taktik manipulasi emosionalnya, berharap rasa bersalah akan membuat Pamela luluh seperti yang biasa terjadi dulu.
Namun, Pamela hanya menatapnya dengan senyuman tipis yang terasa sangat menyakitkan bagi Zidan. "Rumahmu berantakan, Zidan? Papa kritis? Anak-anak menangis? Lalu, apa hubungannya semua itu dengan saya?"
Suara Pamela terdengar sangat lembut, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya mengiris ulu hati Zidan seperti pisau belati yang sangat tajam.
...
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
saling support sabi kali ya😉