"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATASAN YANG HAMPIR RETAK
Keringat dingin mulai tampak di pelipis tegap Arga Dirgantara. Di bawah temaram lampu restoran Jepang yang mewah itu, dunianya seolah sedang diguncang oleh gempa tektonik berkekuatan besar. Di hadapannya, Keysha masih asyik berbincang dengan Karin mengenai tren fesyen terbaru di Jakarta, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang berada di ambang batas kegilaan akibat ulah mahasiswinya sendiri.
Di bawah meja makan yang tertutup taplak tebal, kaki mulus Queen masih terus bergerak dengan ritme yang teratur, memberikan tekanan yang semakin berani tepat di pusat keintiman Arga. Sentuhan kulit hangat yang halus itu terasa begitu kontras dengan celana kain hitam kaku yang dikenakan Arga, menciptakan sensasi gesekan yang membuat kejantanan sang dosen kian menegang dan berjenis kencang.
Arga mengetatkan rahangnya hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Napasnya memburu, ngos-ngosan mencoba mempertahankan sisa-sisa akal sehat yang ia miliki. Tangannya yang memegang garpu bergetar sangat tipis. Sifat cegil Queen bener-bener berada di luar kendali. Di depan istrinya sendiri, gadis berusia 20 tahun itu berani melancarkan aksi se-sensual ini tanpa kedipan mata sedikit pun.
"Mas Arga, kamu beneran gak apa-apa? Wajahmu pucat banget," tanya Keysha lagi, menghentikan obrolannya dengan Karin. Pandangan matanya yang tajam mulai menyipit, menaruh curiga pada gelagat aneh suaminya sejak dua mahasiswi ini bergabung di meja mereka.
"Saya... saya perlu ke toilet sebentar," jawab Arga dengan suara bariton yang teramat serak dan rendah, hampir menyerupai bisikan yang tertahan.
Sebelum Keysha sempat merespons, Arga dengan sentakan kasar mendorong mundur kursi makannya. Di bawah meja, ia menarik kakinya dengan paksa, memutus jepitan kaki Queen yang berani sebelum terlepas. Arga bangkit berdiri dengan tubuh kaku, merapikan bagian depan kemeja flanelnya yang terasa mendadak sempit, lalu melangkah lebar dengan tergesa-gesa menuju arah toilet pria yang berada di bagian belakang restoran.
Queen yang melihat pelarian sang dosen hanya tersenyum miring penuh kemenangan. Ia dengan santai memakai kembali sepatu sandal hak tingginya di bawah meja, lalu menyeruput jus jeruknya dengan gaya bar-bar khasnya yang sangat tenang.
"Eh, Kak Keysha, maaf ya... aku juga mau ke toilet bentar. Kebelet banget gara-gara kebanyakan minum jus," pamit Queen dengan wajah baby face-nya yang menampilkan ekspresi polos tak berdosa.
"Oh, iya silakan, Queen," jawab Keysha dengan senyum ramah yang dipaksakan, meskipun insting wanitanya mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres di antara suami dan mahasiswanya itu.
Karin yang ditinggal sendirian bersama Keysha hanya bisa tersenyum canggung, merutuki nasibnya di dalam hati karena harus terjebak di situasi yang teramat canggung ini bersama istri dari dosen paling menyeramkan di kampus.
Arga berdiri di depan wastafel toilet pria yang sepi. Ia menyalakan keran air dengan kekuatan penuh, lalu membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin. Napasnya masih terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat menahan gairah yang bergejolak hebat di dalam tubuh matangnya.
"Sialan..." desis Arga, menumpukan kedua tangannya di pinggiran wastafel, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan penuh kemarahan dan frustrasi.
Bagaimana bisa seorang pria berusia 30 tahun yang dikenal dingin dan kaku seperti dirinya bisa dikendalikan sampai sejauh ini oleh seorang gadis belia? Sentuhan kaki Queen di bawah meja tadi bener-bener hampir meruntuhkan seluruh harga diri dan perisai es yang ia agungkan selama ini. Keliaran Queen terasa seperti candu yang berbahaya, merusak logikanya. Namun, di tengah kekacauan itu, Arga mencengkeram pinggiran wastafel lebih kuat. Logikanya berteriak. Pernikahannya dengan Keysha meski retak dan penuh luka adalah sesuatu yang masih ingin ia selamatkan. Ia tidak boleh melangkah terlalu jauh hingga menghancurkan segalanya.
Cklek.
Suara pintu utama toilet yang dikunci dari dalam mendadak memecah kesunyian ruangan.
Arga menoleh dengan cepat, dan jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh ketika melihat sosok yang baru saja masuk.
Queen. Gadis itu berdiri di sana dengan senyuman nakal yang teramat manis, menyandarkan punggungnya pada pintu kayu toilet yang kini telah ia kunci rapat. Matanya yang bulat menatap Arga dengan binar lapar yang tidak lagi ia sembunyikan.
"Queen! Apa yang kamu lakukan?! Ini toilet pria!" bentak Arga dengan suara bariton yang ditekan serendah mungkin, matanya berkilat penuh amarah sekaligus keterkejutan yang luar biasa.
"Aku tahu ini toilet pria, Pak Arga ganteng," sahut Queen dengan nada manja yang teramat seksi. Ia melangkah maju dengan gerakan lambat yang sensual, mendekati Arga yang kini berdiri kaku di depan wastafel. "Habisnya... di luar tadi Bapak kelihatan tegang banget gara-gara kaki aku. Sebagai mahasiswi yang berbakti, aku cuma mau mastiin kalau dosen aku gak kena serangan jantung di dalam sini."
"Keluar, Queen! Sebelum saya benar-benar kehilangan kesabaran dan menyeretmu keluar dari sini!" ancam Arga, tubuh tegapnya menegang sempurna saat mencium aroma parfum vanila manis yang mulai menginvasi udara toilet.
Namun, ancaman dingin Arga justru menjadi bahan bakar bagi sifat cegil Queen. Bukannya takut, Queen malah semakin merapatkan tubuhnya. Ia berhenti tepat di depan Arga, mendongak menatap rahang tegas sang dosen yang mengeras rapat.
"Bapak gak bakal berani seret aku keluar, Pak," bisik Queen bar-bar, kedua tangan lentiknya dengan berani merambat naik, mencengkeram kerah kemeja flanel Arga, menarik tubuh tegap pria itu hingga mengikis jarak di antara mereka. "Kalau Bapak ribut di sini, istri Bapak di luar sana bakal tahu apa yang kita lakuin di bawah meja tadi. Bapak mau skandal kita terbongkar sekarang?"
"Queen..." suara Arga memberat, berubah menjadi sangat serak dan dalam.
"Kenapa, Pak? Bapak marah karena aku ganggu makan siang romantis Bapak?" goda Queen, tubuhnya sengaja dimajukan hingga dadanya yang padat berisi bergesekan langsung dengan dada bidang Arga. "Bapak bohongin diri Bapak sendiri terus. Di depan istri Bapak, mata Bapak terus-terusan ngelirik ke arah bibir aku, kan? Bapak kangen sama ciuman kita?"
"Ciuman apa?!" potong Arga dengan suara bariton yang tajam dan menusuk. Pria itu menatap Queen dengan sorot mata yang mendadak kembali sedingin es, membekukan atmosfer di antara mereka. "Jangan mengada-ada, Queen. Di kelas kemarin tidak terjadi apa-apa, dan di sini pun tidak akan pernah terjadi apa-apa."
Arga memegang kedua pergelangan tangan Queen yang mencengkeram kemejanya. Dengan satu gerakan tegas dan kuat, ia melepaskan tangan gadis itu lalu mendorongnya mundur hingga jarak di antara mereka kembali tercipta. Arga berdiri tegak, memancarkan aura intimidasi yang mutlak sebagai seorang pria dewasa yang memiliki kendali penuh atas dirinya.
"Dengar baik-baik, Queen," ucap Arga, suaranya terdengar sangat kaku, lambat, namun penuh penekanan yang tidak bisa dibantah. "Saya adalah suami dari wanita yang sedang duduk di luar sana. Apapun masalah yang terjadi di dalam rumah tangga saya, itu adalah urusan saya, dan saya masih ingin menyelamatkan pernikahan saya. Kamu tidak lebih dari sekadar mahasiswi yang kebetulan lewat dalam hidup saya."
Senyum centil di bibir Queen memudar, digantikan oleh binar keterkejutan. Sifat egois dan bar-bar miliknya merasa terpukul telak oleh penolakan yang begitu tegas di ruang tertutup ini.
"Pak Arga... tapi semalam di kamar Bapak, Bapak hampir—"
"Saya bilang cukup!" bentak Arga, memotong ucapan Queen dengan kejam. Mata elangnya menatap Queen tanpa ada lagi kabut gairah, melainkan ketetapan hati yang kuat. "Semua tindakan liarmu ini tidak akan mengubah apa pun. Saya tidak akan menodai komitmen saya, dan saya tidak akan membiarkan seorang gadis kekanak-kanakan seperti kamu mengacaukan hidup saya. Sekarang, buka pintunya dan keluar."
Queen mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Dadanya bergemuruh hebat antara rasa kesal, malu, dan jiwa cegil-nya yang justru merasa semakin tertantang karena dinding es Arga ternyata jauh lebih tebal dan kokoh dari yang ia duga.
"Oke, hari ini Pak Arga boleh sok setia!" seru Queen dengan nada bar-bar yang bergetar menahan emosi. Ia memutar kunci pintu toilet dengan sentakan kasar. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh ke arah Arga dengan tatapan tajam yang membara. "Tapi ingat ya, Pak. Selama Bapak masih satu kampus sama aku, aku gak akan pernah berhenti. Kita lihat seberapa lama Bapak bisa bertahan demi istri Bapak itu!"
Brak!
Queen melangkah keluar dan menutup pintu dengan keras, meninggalkan Arga Dirgantara yang langsung mengembuskan napas panjang yang teramat berat di dalam toilet. Pria itu menunduk, memejamkan matanya rapat-rapat seraya memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia berhasil mengendalikan dirinya malam ini demi pernikahannya, namun Arga tahu, ujian dari sang mahasiswi cegil ini baru saja dimulai.