Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROPOSAL GILA DIUJUNG KEPUTUSASAAN.
Aroma obat-obatan yang menyengat selalu sukses membuat dada Davina Zuhaira sesak. Namun, pemandangan tubuh ringkih sang nenek yang terbaring lemah di bangsal kelas tiga Rumah Sakit Umum Daerah jauh lebih menyiksa batinnya. Suara monitor jantung berbunyi konstan, seolah menjadi mesin penghitung mundur sisa usia satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini.
Davina meremas selembar kertas di tangannya. Lembar tagihan rumah sakit. Angka yang tertera di sana begitu fantastis bagi seorang gadis desa seperti dirinya. Biaya operasi dan perawatan intensif tersisa tiga hari lagi untuk dilunasi, atau pihak rumah sakit terpaksa menghentikan pengobatan secara sepihak.
"Tuhan, dari mana aku harus mencari uang sebanyak ini?" bisik Davina lirih, air matanya menetes di atas kertas putih tersebut.
Tiba-tiba, suara ketukan pantofel yang tegas memecah keheningan koridor rumah sakit yang sepi. Langkah kaki itu berhenti tepat di depan ruang rawat nenek Davina. Pintu bergeser terbuka, menampilkan sosok pria jangkung dengan setelan jas hitam yang tampak sangat kontras dengan suasana ruangan yang kumal.
Davina mendongak, bersiap untuk menegur orang asing yang salah masuk kamar. Namun, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Matanya melebar sempurna menatap wajah tegas di hadapannya. Rahang yang kokoh, sepasang mata elang yang tajam, dan tatapan dingin yang tak tersentuh.
"Barra?" sebut Davina, suaranya bergetar.
Pria itu tidak tersenyum. Sepuluh tahun menghilang sejak dijemput keluarganya ke kota saat SMP, Barra Alfarizi kini berdiri di sana. Pemuda hangat yang dulu sering memanjat pohon mangga bersamanya telah menjelma menjadi pria asing yang memancarkan aura intimidasi yang pekat.
"Lama tidak bertemu, Davina," ucap Barra. Suaranya berat, bariton, dan tanpa emosi.
"Kamu... bagaimana bisa ada di sini?" Davina menghapus air matanya dengan cepat, mencoba berdiri tegak meski lututnya terasa lemas. "Kabar yang kudengar, kamu sekolah di luar negeri."
Barra tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berjalan mendekati ranjang sang nenek, menatap sekilas wanita tua yang tak sadarkan diri tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Davina. Tatapannya jatuh pada kertas tagihan yang diremas Davina.
"Aku tahu kondisimu. Nenekmu butuh operasi besar segera, bukan?" tanya Barra langsung pada inti masalah.
Davina menunduk, mendadak merasa rendah di hadapan cinta pertamanya. "Itu bukan urusanmu, Barra. Kami bisa mengatasinya."
"Mengatasinya dengan apa? Dengan menangis di pojok kamar?" Barra mendengus sinis, membuat dada Davina berdenyut nyeri. "Kenyataannya, dalam tiga hari nenekmu akan dikeluarkan dari sini jika kamu tidak memegang uang ratusan juta."
"Kenapa kamu tiba-tiba datang hanya untuk menghinaku?" Davina menatap Barra dengan kilatan amarah. "Kalau kamu ke sini cuma mau pamer kekayaan dan menertawakan kemiskinanku, silakan pergi!"
Barra tidak bergeming. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna hitam, lalu melemparkannya ke atas meja nakas di samping ranjang.
"Aku ke sini bukan untuk menghinamu. Aku ke sini untuk memberikan penawaran," kata Barra tenang.
Davina melirik map tersebut dengan dahi berkerut. "Penawaran apa?"
"Buka dan baca sendiri."
Dengan tangan gemetar, Davina membuka map tersebut. Di halaman pertama, sebuah judul dengan huruf tebal langsung menusuk matanya: PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK. Davina membalik halaman berikutnya dengan cepat, membaca poin-poin yang tertera di sana.
Pernikahan akan berlangsung selama tepat dua tahun. Selama masa pernikahan, pihak pertama akan menanggung seluruh biaya hidup dan fasilitas pihak kedua, termasuk seluruh biaya pengobatan darurat medis. Setelah dua tahun, kedua belah pihak sepakat untuk berpisah secara baik-baik tanpa menuntut harta gono-gini.
"Kamu gila, Barra?" Davina menatap Barra dengan pandangan tidak percaya. "Pernikahan kontrak? Kamu menjadikanku mainan?"
"Ini bisnis, Davina. Saling menguntungkan," jawab Barra, nadanya sedatar es. "Aku membutuhkan seorang istri di atas kertas untuk memenuhi syarat warisan keluargaku di kota. Dan kamu, membutuhkan uang untuk menyambung nyawa nenekmu. Bukankah ini adil?"
Davina menggelengkan kepala, kemandiriannya berontak. "Pernikahan itu sakral! Bagaimana bisa kamu memperjualbelikannya seperti ini? Aku memang miskin, tapi aku tidak semurah itu."
"Kalian orang desa terlalu banyak menggunakan perasaan," potong Barra kejam. Ia melangkah mendekati Davina, memangkas jarak di antara mereka hingga Davina bisa menghirup aroma parfum mahal yang maskulin namun mengintimidasi. "Gengsimu tidak akan bisa membayar biaya operasi itu, Davina. Pikirkan baik-baik. Nenekmu tidak punya banyak waktu."
"Kenapa harus aku, Barra?" tanya Davina dengan suara serak, menahan tangis yang siap pecah. "Ada banyak wanita kota yang cantik dan kaya yang pasti mengantre untuk menjadi istrimu. Kenapa kamu repot-repot kembali ke desa ini dan mencariku?"
Satu detik, Barra tampak menegang. Matanya berkilat menatap Davina, namun dengan cepat ia menguasai ekspresinya kembali menjadi sedingin tembok batu.
"Karena kamu yang paling mudah dikendalikan. Kamu tidak punya relasi di kota, dan kamu tidak punya kekuatan untuk menuntutku lebih dari apa yang tertulis di kontrak ini," jawab Barra tanpa perasaan.
Kata-kata itu bagai belati yang menghunjam tepat di jantung Davina. Sepuluh tahun ia menyimpan rasa, mengirimi surat tanpa balas, dan selalu merindukan pemuda hangat masa kecilnya. Kini, pria itu kembali hanya untuk menginjak-injak harga dirinya dan menjadikannya alat bisnis yang dinilai "mudah dikendalikan".
"Bagaimana jika aku menolak?" tantang Davina dengan sisa keberaniannya.
Barra melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya, lalu berbalik arah menuju pintu. "Silakan menolak. Aku akan mencari wanita lain, dan kamu bisa mulai mempersiapkan pemakaman untuk nenekmu."
"Barra, jaga bicaramu!" teriak Davina, air matanya akhirnya luruh juga.
Barra menghentikan langkahnya di ambang pintu, namun ia tidak berbalik. "Aku beri waktu sampai besok pagi. Tandatangani kontrak itu, bawa ke hotel tempatku menginap, dan seluruh biaya rumah sakit ini akan lunas dalam hitungan detik. Jika tidak, anggap kita tidak pernah bertemu lagi."
Pintu bergeser menutup, meninggalkan Davina dalam kesunyian yang mencekam.
Gadis itu perlahan merosot ke lantai, berlutut di samping ranjang neneknya. Ia menggenggam tangan keriput sang nenek yang terasa dingin. Isak tangisnya pecah di dalam ruangan sepi itu. Di satu sisi, egonya terluka parah oleh sikap Barra yang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat kasar dan dingin. Namun di sisi lain, wajah pucat sang nenek seolah mengingatkannya bahwa ia tidak punya pilihan lain.
Davina menatap map hitam di atas meja. Secercah harapan bodoh di sudut hatinya yang paling dalam sempat berbisik, apakah mungkin ini jalan dari Tuhan untuk mendekatkannya kembali dengan cinta pertamanya? Namun, bayangan tatapan mata Barra yang penuh kebencian dan keangkuhan tadi langsung menghancurkan harapan itu.
Malam itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, Davina mengambil sebuah pena. Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang membasahi kertas, ia menorehkan tanda tangannya di atas dokumen tersebut.
Davina tahu, ia baru saja menjual kebebasannya. Ia baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh pria yang pernah sangat ia cintai. Dan ia tidak pernah tahu, neraka seperti apa yang sedang menantinya di kota nanti bersama Barra Alfarizi.