Cerita Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Obat Perangsang
Setelah menghadapi hari yang penuh dengan gedebak-gedebuk dan membuat napas sesak, serta tubuh belingsatan tidak karuan, kini Raska—sang asisten Bagas Aryanaka itu akhirnya bisa merasa sedikit lega karena telah tiba waktunya untuk istirahat makan siang.
Pria berkulit sawo matang dengan setelan kemeja biru itu saat ini memilih menyegarkan diri dengan mampir ke kedai kopi langganannya yang terletak dekat dengan kantor tempatnya bekerja.
Namun, baru saja hendak menyesap espresso yang tadi ia pesan, gangguan tiba-tiba saja datang melalui dering telefon yang setia ia simpan pada saku celana.
"Halo, dengan Raska disini? Siapa ya anyway by the way busway?"
Nomornya asing, jadi Raska bersikap santai saja. Ia hanya berpikir tak acuh, "Ah paling orang nawarin utang panci lagi."
Akan tetapi, dugaannya ternyata salah. Karena detik berikutnya, terdengar suara lantang dari wanita paruh baya yang sangat ia hindari sebenarnya.
Ya, diseberang sana, ibunda dari atasannya itu langsung saja menyerocos kepadanya dengan nada menggebu khas ibu-ibu.
"Raska! Kenapa dari kemarin kamu susah sekali dihubungi HAH?! Saya 'kan sudah bilang mau informasi secepatnya tentang orang suruhan Bagas yang katanya ditugasi nyari tau tentang Thalia."
Sejenak Raska menurunkan handphone dan mengusap telinganya yang seketika terasa berdengung setelah menghadapi omelan keras dari Suratih Aryanaka.
Dengan hati-hati, Raska pun memberanikan untuk menjawab. "Aduh, maaf nyonya. Kemarin saya sibuk untuk mengurus dokumen - dokumen yang dikasih pak Bagas secara mendadak." Mengambil napas perlahan, Raska kembali melanjutkan, "Nyonya tenang saja, hasil pencarian tentang bu Sarah, eh maaf maksud saya Thalia—aman kok nyonya. Berkasnya sudah saya ambil selagi belum disampaikan ke pak Bagas."
Walau merasa kesal karena Raska yang kemarin sangat sulit dihubungi, tetapi Suratih diseberang sana kini dapat cukup bernapas lega. Setidaknya, Raska berhasil menghentikan langkah Bagas untuk mendapatkan detail identitas Thalia.
Memang kondisi Bagas masih amnesia. Pria itu tidak mungkin langsung mengenal Sarah sebagai istrinya. Tapi bukan berarti Suratih bisa tenang. Karena bisa saja Bagas dapat mengingat Sarah yang dulu sempat berkali-kali menemuinya saat ia dirawat di rumah sakit. Kalau tidak, juga takutnya sang putra akan menyelidiki lebih lanjut terkait kebohongan identitas si pembantu baru itu.
"Ya sudah, bagus kalo gitu. Lanjutkan Raska! Ingat ya, kamu juga harus laporkan segala hal yang terjadi di rumah, dan apa yang dilakukan sama si wanita setan itu. SEMUANYA!" tegas Suratih mutlak.
Mendapatkan ultimatum dari sang nyonya, seketika Raska menjadi ingat, kalau dirinya belum memberikan laporan terakhir terkait hal yang dilakukan Sarah tadi pagi di kediaman Aryanaka. Lebih tepatnya, informasi yang ia dapat dari salah satu pelayan yang telah ia jadikan rekan untuk membantunya mengawasi Sarah yang sedang menyamar menjadi Thalia.
Raska menggigit bibirnya, kemudian dengan nada ragu ia berkata, "Emm, maaf nyonya, saya lupa mengabari, se-sebenarnya tad-tadi pagi, eem ada paket yang datang untuk Bu Sarah—eh Thalia maksud saya nyonya."
"APAA?! BISA - BISANYA KAMU BARU BILANG SEKARANG RASKA!"
Sudahlah nasib, alamat telinganya akan tuli besok. Raska hanya bisa menangis dalam hati.
"Ck, kamu memang tidak bisa diandalkan ya Raska! Hah sudahlah, capek saya. Memang apa isi paketnya?"
"Isi paketnya itu—
...****************...
KEDIAMAN ARYANAKA
"Obat perangsang?!"
Sarah nyaris berteriak saat mengetahui bahwa Rania mengirimkan paket berisi obat perangsang yang katanya harus ia gunakan untuk melancarkan aksinya nanti malam.
Well, lebih tepatnya yang akan ia gunakan kepada Bagas Aryanaka.
Tapi memang harus ya sampai memakai obat perangsang? Sarah masih trauma sebenarnya. Karena dulu, benda sialan itu lah yang membuat dirinya dan Bagas terjebak dalam kesalahan satu malam.
"Aduh mba, itu 'kan sesuai sama masa lalu kalian. Kalo ndak pake obat itu, gimana kita mau jebak pak Bagas dan bikin dia ingat?" jelas Rania pada sambungan telfon mereka.
"Tapi waktu itu aku udah kasih opsi lain Ran, bisa pake obat tidur aja!"
"Ah mba Sarah, ndak usah panik gitu lah mba. Tenang aja, saiki sama yang dulu itu yo beda. Kali ini kontrol penuh di mbak Sarah loh. Itu aku wes kirim juga sama suntikan bius kok. Jadi waktu pak Bagas mulai gragas, tinggal cus aja, habis itu pingsan deh. Besoknya yang dia inget mesti cuma bagian udah anu-anuin mbak Sarah aja pokoknya hehe."
Sarah memutar bola mata—merasa jengah mendengarkan ucapan Rania yang kelewat santai disaat ia yang harus menjadi pemeran utama dalam permainan ini. Resikonya besar dan Sarah sebenarnya takut.
Takut jika ia yang seharusnya memegang kendali, nantinya malah ia juga yang kehilangan kendali.
Sial.
"Wes mbak, percoyo sama aku. Aman pokok e. Bismillah aja mbak," ujar Rania mencoba menenangkan.
"Ran, ran. Mau melakukan tindak kriminal loh kita ini, malah ucap bismillah."
"Hehehe, oh iya lupa mba. Ya semoga lancar lah mbak ya. Gud luk kalo kata orang Inggris," kekeh Rania girang, sebelum akhirnya menutup panggilan telfon karena harus membangunkan Thalia untuk bersiap berangkat sekolah.
Mendengus pasrah, Sarah pun mau tak mau hanya bisa mengiyakan.
Hendak bagaimana lagi?
Obat perangsang kini sudah ada diatas kasurnya beserta dengan berbagai perlengkapan lainnya yang terbungkus rapat dalam satu kesatuan di dalam box berwarna coklat yang ia terima dari kurir suruhan Rania yang datang pada subuh pagi hari ini.
"Huh...Oke, fighting Sarah.You can do it!" ucap Sarah memberikan afirmasi positif kepada dirinya sendiri.
Tok! tok! tok!
Terdengar ketukan pintu di belakang Sarah. Dengan panik ia menutupi paket kiriman Rania itu dengan selimut secara cepat. Setelahnya ia pun membuka pintu untuk menemui orang yang ada dibaliknya.
Saat pintu terbuka, dapat Sarah lihat sosok wanita paruh baya dengan daster motif bunga andalan-nya, yakni bik Umi.
Sambil membawa keranjang cucian, bik Umi meminta tolong kepada Sarah untuk membantunya mencuci pakaian yang jumlahnya terlihat lumayan banyak.
"Thalia, bantuin cuci baju - bajunya tuan ini ya. Saya sama yang lain mau masak sarapan dulu."
"Siap bik. Oh iya, tapi ini 'kan masih jam setengah 6 pagi bik, tumben masak sarapannya pagi sekali?"
Sarah tentu langsung menyanggupi arahan bik umi. Namun pertanyaan tentang sarapan yang dimasak lebih pagi tidak bisa ia tahan untuk ia tanyakan kepada pelayan senior itu.
"Oh itu, tuan Bagas katanya mau berangkat lebih pagi," jawab bik Umi.
"Tumben," batin Sarah heran.
Sarah pun hanya memperlihatkan anggukan mengerti kepada bik Umi. Keduanya kini bergegas melakukan pekerjaan masing-masing. Tetapi sebelum itu, Sarah tidak lupa untuk mengunci pintu kamarnya.
Tentu saja, karena disana banyak RAHASIA. Jadi ia harus sangat berhati-hati.
Sayangnya, mau sebaik apapun manusia menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin orang lain ketahui—ada saja pengacau yang selalu ingin mencari tahu dan menyingkap apa yang seharusnya disembunyikan.
Seperti salah seorang pelayan perempuan yang kini terlihat mengendap-endap mendekat ke arah kamar Sarah. Kepalanya bergerak ke segala penjuru arah—memastikan bahwa tidak ada yang melihat tindakannya saat ini.
Perlahan, setelah mengawasi keadaan sekitar yang dirasanya telah aman, perempuan itu dengan cepat mengeluarkan kunci dibalik saku seragamnya.
Ceklek