Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Felia perlahan terbangun dari tidurnya. Alih-alih merasakan kehangatan selimut merah mudanya yang nyaman, ia justru merasakan dinginnya lantai semen yang menusuk kulit.
Kamar merah mudanya yang nyaman berganti menjadi sebuah ruangan bawah tanah yang dingin, lembap, dan hanya diterangi satu lampu gantung yang bergoyang perlahan, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan di dinding yang retak.
Saat kesadarannya pulih, Felia menyadari tangannya terikat di kursi mungil.
Tali tambang yang kasar mengikat pergelangan tangan dan dada kecilnya, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Rasa sakit dan dingin seketika menjalar, memicu kepanikan luar biasa di dalam benak bocah sekecil itu.
Di sudut ruangan, sesosok bayangan hitam tinggi sedang berdiri membelakanginya, diam tak bergerak laksana malaikat maut.
Terjadilah histeria anak kecil. Bayangan itu berbalik perlahan setelah mendengar helaan napas Felia yang memburu.
Felia melihat sosok itu mengenakan jubah hitam dan wajahnya ditutupi oleh topeng porselen putih yang tersenyum kaku.
Senyuman palsu pada topeng itu terlihat sangat mengerikan di bawah pendaran lampu yang remang-remang.
Ketakutan luar biasa membuat Felia menjerit histeris, "Mama! Papa! Tolong Felia!!"
Tangisnya pecah seketika, air mata membanjiri pipinya yang tembam.
Tubuh mungilnya bergetar hebat saat sosok bertopeng itu mulai melangkah mendekat, langkah sepatunya bergaung lambat di lantai ruang bawah tanah, mengabaikan jeritan pilu sang anak yang terus memanggil kedua orang tuanya.
Sosok bertopeng itu melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat terasa begitu intimidatif bagi Felia yang terikat tak berdaya. Suaranya terdengar serak namun mencoba dibuat lembut saat ia berlutut di depan Felia.
"Felia sayang, ini mama, Nak," ucap Selena, mencoba menyentuh pipi mungil Felia dengan jemarinya yang dingin.
Untuk meyakinkan Felia, Selena membuka topengnya.
Ia berharap putrinya akan langsung memeluknya setelah melihat wajah aslinya.
Namun, bukannya wajah cantik yang diingat Felia di foto-foto lama, yang tampak adalah wajah yang rusak penuh jaringan parut, luka bakar yang mengerikan, dan tatapan mata yang penuh kegilaan akibat kecelakaan masa lalu yang disembunyikannya. Kulit wajahnya yang hancur membuat senyuman Selena kini tampak seperti seringai yang cacat dan mengerikan.
Melihat visualisasi horor di depannya, Felia menjerit lebih keras, tubuhnya meronta hingga kursi kayunya berderit hebat di atas lantai semen.
"Bukan! Kamu bukan Mama Selena!" teriak Felia dengan histeris, air matanya mengalir makin deras.
Felia ketakutan setengah mati melihat monster di hadapannya dan teringat kelembutan Amira, mama tirinya yang selama ini merawatnya.
Di dalam benak bocah itu, ibu yang ia kenal hanyalah Amira—wanita penyabar yang selalu memeluknya dengan hangat, menyuapinya, dan melukis bersamanya, bukan sosok menakutkan yang kini menatapnya dengan penuh obsesi gila di ruang bawah tanah ini.
Sementara itu, Daniel memacu mobilnya membelah jalur antarprovinsi dengan kecepatan ekstrem di bawah guyuran sisa hujan.
Indikator spidometer hampir menyentuh batas maksimal.
Deru mesin mobil menderu keras, memotong keheningan jalan tol yang sepi, seolah merepresentasikan detak jantung Daniel yang berpacu dengan maut.
Terjadilah ancaman baru. Ponsel Daniel kembali bergetar. Layarnya menyala di tengah kegelapan dasbor.
Kali ini bukan foto, melainkan rekaman suara teriakan Felia yang histeris memanggil nama Amira.
"Mama Amira! Papa! Tolong Felia! Lepasin!!" suara cempreng nan pilu itu terdengar pecah melalui pengeras suara mobil.
Rekaman itu disusul pesan teks baru:
"Waktu kalian tinggal 2 jam sebelum wajah cantik anakmu ini kubuat sama rusaknya dengan wajahku. Bawa uang 30 miliar itu ke gedung tua pelabuhan."
Mendengar ancaman sadis itu, Amira yang tadinya lemas mendadak dilingkupi amarah seorang ibu.
Ketakutannya luruh, berganti menjadi keberanian mutlak yang membakar dadanya.
Air matanya mengering seketika, digantikan oleh tatapan mata yang tajam dan dingin.
Ia mencengkeram tas berisi dokumen asuransi senilai 30 miliar itu dengan sangat erat, hingga kuku-kukunya memutih.
Amira bersumpah tidak akan membiarkan wanita gila itu menyentuh seujung kuku pun dari Felia.
Meski Felia bukan anak kandungnya, ikatan batin yang terjalin selama ini membuat Amira siap mempertaruhkan nyawanya sendiri demi melindungi putri kecilnya dari monster masa lalu Daniel.
"Injak gasnya lebih dalam lagi, Mas," bisik Amira, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ancaman mematikan.
Daniel menghubungi tim keamanannya yang berada di Jakarta untuk mengepung area pelabuhan secara senyap.
Ia sadar ini adalah jebakan maut, namun ia tidak punya pilihan.
Sambil memegang kemudi dengan satu tangan, ia memberikan instruksi taktis agar pasukannya menyebar dan mengunci setiap titik pelarian di sekitar dermaga tua itu.
Mobil Daniel akhirnya melewati gerbang selamat datang Jakarta.
Kecepatan mobil kian menggila membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang menjelang subuh.
Di saat yang sama, Selena di tempat penyekapan mengambil sebuah pisau kecil, mengarahkannya ke pipi Felia sambil tersenyum sinis menatap jam dinding.
Waktu maut dimulai. Kilatan anak pisau itu memantulkan cahaya lampu yang bergoyang, membuat Felia semakin terisak dalam senyap, tak berani bergerak sedikit pun saat besi dingin itu menyentuh kulit pipinya yang halus.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil Daniel mengerem mendadak di area luar kompleks pelabuhan yang gelap dan berbau garam.
Atmosfer di sekitar gedung tua itu terasa begitu mencekam dan sepi.
Sesampainya di sana, mereka turun dari mobil. Daniel menggenggam tas dokumen asuransi dengan erat, sementara Amira melangkah di sampingnya dengan waspada.
Namun, mereka tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata telah mengintai dari balik kegelapan pilar beton.
Bugh!
Bugh!
Dua hantaman keras menggunakan balok kayu bersarang telak di tengkuk Daniel dan Amira dari arah belakang.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar seketika sebelum pandangan mereka menggelap sempurna.
Daniel dan Amira langsung pingsan, ambruk ke atas tanah yang basah tanpa sempat memberikan perlawanan.
Tanpa membuang waktu, beberapa pria berbadan kekar suruhan Selena langsung menyeret tubuh keduanya.
Mereka membawa masuk ke dalam gudang tua yang pengap, mendekatkan kedua orang tua itu ke dalam perangkap utama yang telah disiapkan sang monster.
Amira membuka matanya dengan susah payah, kepalanya berdenyut hebat.
Kesadarannya kembali perlahan, namun ia segera menyadari kondisi yang mengenaskan: dirinya terikat kuat di atas tempat tidur besi yang berkarat di tengah ruangan gudang yang lembap.
Matanya menyapu sekeliling dengan panik.
Ia melihat Felia dan Daniel juga terikat di kursi tak jauh dari tempatnya, mulut mereka disumpal kain.
Felia menangis tanpa suara, tubuh kecilnya gemetar hebat, sementara Daniel berusaha meronta meski ikatannya terlalu kuat.
Beberapa saat kemudian, Daniel membuka matanya, langsung menoleh ke arah Amira dengan tatapan penuh rasa bersalah dan ketakutan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat mendekat.
Wanita bertopeng itu masuk bersama beberapa dokter berjas putih yang wajahnya tertutup masker. Sorot mata para dokter itu kosong, seolah mereka hanyalah pion yang telah dicuci otaknya.
"Operasi wajahnya agar bisa aku pakai," ucap wanita itu dingin, menunjuk ke arah Amira yang masih terikat.
Wanita itu melangkah mendekati Daniel, lalu berhenti tepat di depan wajah pria itu. Dengan gerakan perlahan, Selena membuka topengnya untuk memperlihatkan wajah aslinya.
"Bagaimana kabarmu, Mas?" sapanya dengan suara yang sarat akan kebencian dan kegilaan.
Daniel melihat luka bakar yang sangat parah yang menutupi separuh wajah Selena.
Kulitnya melepuh, jaringan parutnya menarik bibir dan kelopak matanya ke posisi yang tidak wajar.
Wajah yang dulu cantik itu kini telah sirna, digantikan oleh pemandangan mengerikan yang membuat siapa pun yang melihatnya akan bergidik ngeri.
"Setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu lagi," bisik Selena, menyentuhkan jemarinya yang dingin ke dagu Daniel.
"Dan sebentar lagi, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku—wajah istrimu ini." ucap Selena.