Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: JANJI
Suara derit halus pintu ruang VIP poliklinik memecah keheningan yang sempat membeku di antara Victor dan Ayu. Sersan Satu Johan melangkah masuk dengan sangat hati-hati, membawa sebuah kantong plastik besar berisi beberapa kotak makanan hangat yang baru saja ia beli dari luar ksatrian. Sebagai ajudan yang telah bertahun-tahun mendampingi Victor, Johan sangat paham apa yang harus ia lakukan tanpa perlu menerima perintah verbal yang panjang lebar.
Setelah meletakkan makanan tersebut di atas meja kecil, Johan memberikan isyarat hormat yang samar kepada Victor, lalu melaporkan sesuatu dengan nada suara yang sangat rendah. Ia melaporkan bahwa dirinya telah menyuruh beberapa prajurit yang berjaga di depan kamar inap Arkan untuk bergegas kembali ke pos. Malam ini, Johan sendiri yang akan berdiri tegap di depan pintu luar kamar inap Arkan, memastikan keamanan dan privasi sang komandan beserta keluarga kecil tersebut terjaga utuh dari pandangan-pandangan miring anggota lain.
Begitu Johan melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat, atmosfer di dalam ruangan kembali dikuasai oleh dominasi sang Kolonel. Victor meraih satu kotak bubur ayam dan air mineral, lalu meletakkannya tepat di hadapan Ayu yang masih terduduk lemas di tepi sofa panjang.
"Makan," perintah Victor pendek. Suara baritonnya tidak keras, namun sarat akan penekanan yang tidak menerima bantahan apa pun.
Ayu mendongak, menatap kotak makanan itu dengan pandangan kuyu. Wanita berstatus ibu dari Arkan itu mengembuskan napas berat secara perlahan. Sungguh, di dalam situasi genting dan penuh tekanan batin seperti ini, ia sama sekali tidak memiliki selera untuk menelan makanan apa pun. Kerongkongannya terasa kering, dan lambungnya terasa diaduk oleh rasa cemas yang belum sepenuhnya reda.
"Saya tidak lapar, Komandan. Nanti saja," tolak Ayu lirih, mencoba mempertahankan sisa-sisa jarak formalitasnya.
Mendengar penolakan tersebut, Victor tidak mengeluarkan argumen panjang lebar. Pria raksasa itu hanya membalikkan tubuh tegapnya, berdiri tegak di hadapan Ayu, lalu melotot tajam ke arah sepasang mata sembab wanita itu. Sorot mata kelam Victor berkilat tegas laksana seorang panglima yang sedang mendisiplinkan prajurit pembangkang di garis depan.
Ditatap dengan kilat mata seintimidatif itu, mental Ayu yang sedang berada di titik terendah mendadak mencos. Ada sebersit rasa takut yang tiba-tiba menyergap nuraninya. Tanpa sadar, ia menelan ludahnya sendiri, lalu dengan gerakan perlahan dan agak canggung, Ayu meraih sendok plastik di dalam kotak tersebut. Demi menghindari ledakan amarah sang Kolonel yang jauh lebih mengerikan, Ayu akhirnya terpaksa menyuap makanan itu ke dalam mulutnya. Satu suapan... dua suapan... hingga suapan ketiga. Ayu memaksakan dirinya mengunyah lambat, asal ada makanan yang masuk ke dalam perutnya agar fisiknya tidak ikut tumbang.
Entah sudah jam berapa malam itu, namun jarum jam dinas di dinding kamar VIP tampaknya sudah merayap jauh melewati tengah malam. Suasana di luar jendela poliklinik benar-benar telah sepi senyap, hanya menyisakan deru angin malam yang bergesek dengan daun-daun pohon flamboyan.
Setelah memastikan Arkan masih terlelap tenang di atas brankar dengan infus yang mengalir konstan, seluruh tenaga dan energi Ayu rasanya benar-benar telah terkuras habis hingga ke titik nol. Rasa lelah yang teramat sangat setelah berhari-hari didera ketegangan sidang perceraian, kurang tidur, dan ketakutan melihat kondisi Arkan yang drop, mendadak menyerangnya berupa rasa kantuk yang luar biasa hebat.
Tanpa disadarinya, posisi duduk Ayu yang semula tegak di atas sofa panjang yang terletak tepat di sebelah ranjang brankar Arkan perlahan-lahan mulai goyah. Kesadarannya merosot turun ke alam bawah sadar, membiarkan tubuhnya bersandar pasrah pada sandaran sofa.
Di sisi lain sofa yang sama, Kolonel Victor juga sempat memejamkan kedua matanya sejenak untuk melepas penat setelah berhari-hari bolak-balik luar kota tanpa istirahat yang cukup. Namun, sebagai seorang perwira lapangan yang telah terlatih bertahun-tahun di medan operasi, kepekaan taktis dan refleks tubuh Victor tentu saja sangat tinggi. Begitu merasakan ada sebuah beban yang mendadak mendarat dan terasa berat di pundak kanan tegapnya, Victor secara spontan langsung membuka kedua matanya dengan cepat. Naluri intelijennya seketika siaga.
Pria raksasa itu menolehkan kepalanya sedikit ke sisi kanan. Detik itu juga, napas Victor tertahan sejenak. Ternyata, kepala Ayu telah bersandar dengan sangat pasrah di atas bahu kokohnya. Rambut halus yang menyembul dari balik jilbab instannya yang agak longgar menebarkan aroma parfum tipis yang familier di indra penciuman Victor—sebuah aroma yang seketika membangkitkan tumpukan memori lama yang terkunci rapat.
Victor menatap lekat wajah wanita yang kini tengah terlelap dalam tidurnya itu. Garis-garis kelelahan tercetak jelas di sekitar kelopak matanya yang sembab, namun sisa-sisa kecantikan alaminya tetap memancarkan kehangatan yang tak mampu ia pungkiri. Victor tahu betul, Ayu pasti sangat-sangat kelelahan hari ini, baik secara fisik maupun mental.
Secara perlahan, agar tidak menimbulkan gerakan kasar yang bisa mengejutkan kesadaran Ayu, Victor menggeser posisi duduknya. Pria raksasa itu bangkit berdiri dari sofa dengan sangat hati-hati. Salah satu telapak tangannya yang besar dan kasar menopang lembut bagian belakang kepala Ayu, menjaga agar leher wanita itu tidak cedera, sementara tangan kanannya yang lain merengkuh bahu Ayu untuk merebahkan tubuh mungil itu secara perlahan di atas bantalan sofa panjang. Victor mengatur posisi kepala Ayu sedemikian rupa di atas bantal kecil agar ia mendapatkan posisi tidur yang baik dan nyaman.
Setelah posisi tidur Ayu nyaman, Victor tidak langsung menjauh. Ia berlutut dengan satu kaki di samping sofa, bertumpu pada lututnya sendiri sembari memandangi wajah cantik yang berada dalam jarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Wajah Ayu tampak begitu tenang, damai, dan sangat cantik kalau sedang tertidur lelap seperti ini—sebuah pemandangan langka yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan kesehariannya di kantor Satdik, di mana wanita itu selalu tampil kaku, suka mengomel dengan bahasa protokol, atau sekadar melipat alisnya tertekuk dalam-dalam demi menjaga wibawa kedinasan sebagai Pasi Intel.
Melihat kedekatan wajah mereka di bawah temaram lampu tidur poliklinik, ingatan Kolonel Victor mendadak terlempar jauh ke belakang, melakukan flashback pada masa-masa indah di mana ia pertama kali merajut jalinan hubungan kasih dengan Ayu bertahun-tahun lalu, sebelum badai ego dan kesalahpahaman memisahkan jalur hidup mereka.
Bibir tipis kecil milik Ayu yang kini terkatup rapat dalam tidurnya itu seketika mengingatkan Victor pada sebuah malam di masa lalu. Pria berwatak dominan ini tersenyum tipis, mengingat bagaimana ia telah berhasil merampas ciuman pertama Ayu secara sepihak dalam sebuah momen manis yang penuh romansa terlarang di masa muda mereka.
Waktu itu, Ayu yang terkejut setengah mati langsung membelalakkan matanya, lalu secara spontan melayangkan pukulan-pukulan kecil yang bertenaga ke dada bidang Victor. Dengan wajah yang memerah padam menahan malu dan kesal, Ayu mencak-mencak dan menuduh Victor sebagai seorang pria pencuri ciuman pertamanya. Kenangan lama itu terasa begitu nyata, membuat dada tegap Victor berdenyut hangat oleh rasa rindu yang teramat dalam.
Namun, saat Victor masih terlalu fokus memandangi garis wajah cantik Ayu yang terlelap, tiba-tiba dari arah belakangnya, terdengar sebuah suara halus yang samar-samar laksana bisikan kecil. Suara itu berulang kali memanggil nama jabatannya dengan nada serak yang khas.
"Ayah... Ayah Besal..."
Victor tersentak kecil dari lamunannya. Ia membalikkan tubuh raksasanya secara perlahan ke arah ranjang brankar. Ternyata dugaan batinnya benar. Arkan telah terbangun dari tidurnya. Sepasang mata bulat bocah kecil itu tampak berkedip-kedip menyesuaikan cahaya lampu, menatap ke arah Victor dengan binar kerinduan yang besar.
Melihat anak itu telah sadar, seulas senyuman tulus seketika terbit di wajah tegas Victor. Sebelum beranjak menghampiri ranjang, Victor bergerak cepat melepas jaket seragam loreng PDL-nya yang tegap. Dengan gerakan lembut, ia membentangkan kain loreng tebal berkancing lambang pangkat Kolonel itu di atas tubuh Ayu, menjadikannya sebagai selimut hangat pelindung dari dinginnya embusan angin AC poliklinik. Tindakan itu menyisakan tubuh kekar Victor yang kini hanya berbalut baju dalaman kaos khas militer berwarna hijau tua yang mencetak jelas lekuk otot dada dan lengannya yang kokoh.
Victor melangkah mendekati brankar Arkan, lalu segera mengisyaratkan jari telunjuk kanannya tepat di depan bibirnya sendiri. "Ssst..." bisik Victor pelan, memberi tanda agar Arkan tidak membesarkan suaranya.
Bocah kecil yang cerdas itu langsung paham. Ia melirik ke arah sofa, melihat ibunya ternyata sedang tidur lelap di bawah selimut jaket loreng milik Ayah Besarnya. Arkan mengangguk kecil dengan patuh, mengerti bahwa ayahnya sedang menyuruhnya untuk tidak berisik agar tidak mengganggu istirahat sang ibu.
Alih-alih mengeluh tentang rasa sakit dari jarum infus di tangan kirinya, Arkan justru langsung merentangkan kedua tangan kecilnya lebar-lebar ke atas—sebuah pertanda universal dari seorang anak kecil bahwa ia ingin segera didekap dan digendong oleh pria yang dirindukannya itu.
Victor tidak tega menolak. Dengan cekatan, ia menyandarkan tubuhnya, merengkuh tubuh ringkih Arkan ke dalam gendongannya yang kokoh dengan tangan kanan yang menjaga botol infus agar tidak tertarik. Demi menjaga ketenangan istirahat Ayu, Victor membawa langkah kaki tegapnya berjalan perlahan keluar menuju ke arah balkon luar yang terhubung langsung dari arah jendela kaca besar kamar inap ruangan VIP tersebut.
Udara malam yang dingin langsung menyergap kulit saat mereka berdua berdiri di area balkon yang menghadap langsung ke arah jajaran pohon beringin ksatrian. Cahaya bulan malam itu menerangi separuh wajah mereka.
"Arkan..." panggil Victor lembut, menatap bocah di dalam dekapannya.
"Iya, Ayah?" sahut Arkan dengan suara bisikan yang pelan namun penuh semangat. Senyum di wajah anak itu seketika mengembang sangat lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan bersih. Rasa bahagianya seolah mampu mengalahkan sisa-sisa rasa linu akibat demam tinggi yang menyerang tubuhnya.
Victor mengusap rambut halus Arkan dengan jemarinya yang besar. "Arkan harus janji ya sama Ayah... gak boleh sakit-sakit lagi seperti ini, ya? Arkan gak kasihan melihat Ibu sampai menangis dan kelelahan seperti itu?"
Mendengar nama ibunya disebut, binar ceria di wajah Arkan mendadak menyusut, berganti dengan gurat ekspresi cemberut.
"Ayah... Ibu itu malah-malah telus sama Alkan... karena Alkan selalu cali Ayah. Ibu malah katanya... Ayah Besal itu bukan ayahnya Alkan," tutur Arkan dengan nada mengadu yang polos, sembari memasang wajah kesal yang teramat menggemaskan. Jari telunjuk kecilnya yang bebas bahkan menunjuk-nunjuk berulang kali ke arah dada bidang Victor yang berbalut kaos militer, seolah meminta penegasan atas kebenaran kata-kata ibunya.
Victor yang mendengar penuturan jujur dari bibir mungil itu terdiam sejenak. Tebakan batin intelijennya kini telah mendapatkan kepastian mutlak. Anak kecil di dalam gendongannya ini jatuh sakit dan demam tinggi murni karena tekanan emosi di dalam kepalanya yang belum stabil, diperparah oleh sikap Ayu yang berwatak keras kepala yang terus-menerus menekan psikologis Arkan agar berhenti mencari dirinya atau memaksa anak itu membuang anggapan bahwa Victor adalah ayahnya. Ayu terlalu keras menerapkan batasan realitas pada anak sekecil Arkan. Arkan mendongak, menatap lekat sepasang mata kelam Victor yang meneduhkan.
"Ayah... memang yang dikatakan Ibu itu benal ya? Ayah Besal... bukan ayahnya Alkan?" tanya anak sekecil itu dengan nada suara yang mendadak berubah lirih dan penuh keraguan. Rasa ingin tahunya yang teramat besar dan kecerdasan emosionalnya yang tinggi membuat ia sangat butuh mendengar jawaban langsung dari mulut pria di hadapannya.
Victor menatap dalam-dalam sepasang mata bulat Arkan yang bersih tanpa dosa. Di bawah langit malam ksatrian Bukit Raya, ego kepemimpinan Victor runtuh sepenuhnya. Pria raksasa itu hanya menyunggingkan sebuah senyuman hangat yang teramat tulus.
"Arkan, dengarkan ya. Ini Ayah," ucap Victor dengan nada bariton yang mantap, sarat akan ketulusan yang mengunci keyakinan anak itu. "Jadi... kamu bebas mau panggil Ayah kapan saja kalau Arkan butuh bantuan, oke? Ayah selalu ada di sini."
Benar. Detik itu juga, melalui kalimat penegasannya, Kolonel Victor telah secara sadar menanamkan sebuah doktrin kata yang akan Arkan tanam dan kunci erat di dalam jiwanya sepanjang hayat, tanpa memedulikan seberapa besar dampak atau badai rumit yang akan menanti garis hidup Victor di masa depan akibat pengakuan sepihak ini. Bagi Victor, melindungi senyum anak ini jauh lebih penting daripada aturan kaku kedinasan.
"Tapi... kenapa kemalin Ayah tidak mau ketemu sama Alkan?" ucap Arkan tiba-tiba, nada suaranya berubah menjadi sedih dan matanya kembali berkaca-kaca. Jemari kecilnya mulai memainkan ujung kain kaos militer Victor, merasa diabaikan selama beberapa hari terakhir.
Victor menahan napasnya sejenak, merasakan cubitan halus di hatinya melihat kesedihan anak itu. "Karena Ayah sedang sangat sibuk, Jagoan. Kan Ayah harus bekerja mengurus barak dan prajurit di depan," dusta Victor demi menutupi perang dinginnya dengan Ayu.
Pria raksasa itu kemudian mengecup dahi Arkan yang masih terasa agak hangat, mencoba mengalihkan perhatian sang anak dari rasa sedihnya. "Sekarang, Ayah punya janji untuk Arkan. Janji deh... kalau Arkan cepat sembuh, patuh minum obat dari dokter, dan tidak nakal lagi sama Ibu, nanti Ayah akan belikan mainan baru yang banyak untuk Arkan. Mau?"
Mendengar kata mainan dan janji dari sang komandan tertinggi, mata Arkan seketika kembali berbinar terang. "Janji ya, Ayah?" ucapnya sembari mengacungkan jari kelingking kecilnya yang bebas dari jarum infus ke hadapan wajah Victor.
Victor terkekeh rendah, memajukan jari kelingkingnya yang berukuran tiga kali lebih besar untuk saling mengaitkan janji di bawah saksi bisu rembulan malam. "Janji. Sekarang, kita kembali ke dalam ya? Arkan harus istirahat lagi supaya besok paginya badannya sudah segar."