Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekasih Gelap
Deg
Tut … Tut … Tut …
Telepon itu langsung tertutup tanpa memberi kesempatan Rindu untuk menjawab pernyataan suara wanita tadi. Kebetulan posisi Rindu memang tidak bisa menjawab pernyataan itu. Sambil memegang gagang pesawat telepon, Rindu mematung. Tubuhnya bergetar. Bibirnya mengatup tertutup dan dadanya bergerak naik turun.
Rindu bersusah payah meletakkan gagang telepon itu kembali. Ia juga berusaha menetralkan jantung dan hatinya. Kemudian, perlahan Rindu duduk kembali di sofa agar Elang tak curiga.
Benar saja, pintu ruangan itu terbuka saat Rindu baru saja duduk.
“Hei, kamu sudah datang.”
Rindu mengangguk. Pria yang masuk itu adalah Elang.
“Lang, aku ke kamar mandi sebentar,” ucap Rindu yang berlalu dari hadapan Elang dan memasuki kamar mandi yang berada di dalam ruangan itu.
Elang pun mengangkat gagang pesawat telepon yang ada di atas mejanya. Dari kamar mandi, Rindu mengintip suaminya yang sedang menelepon seseorang dari benda yang semula ia pegang dan membuat tubuhnya bergetar setelahnya.
Hingga kini, tubuh Rindu masih bergetar. Ia kalut dan bingung harus berbuat apa? Lalu, Rindu keluar dari ruangan itu setelah menekan alat pembersih di dalam sana, seolah ia memang baru saja menggunakan kamar kecil.
Ceklek
Rindu keluar dari kamar mandi dengan posisi Elang yang sudah duduk sempurna di kursi kerjanya dan tidak menelepon.
“Lang, sepertinya aku harus kembali ke kantor,” ujar Rindu.
Elang pun langsung menoleh ke arah itu, sebenarnya saat Rindu baru keluar dari kamar mandi, pria itu sudah melirik ke arahnya.
“Kenapa buru-buru? Kita tidak makan bersama seperti biasa?” tanya Elang.
Rindu menggeleng. “Mendadak bosku telepon. Ada kerjaan yang harus aku revisi sekarang.”
Elang pun mengangguk. “Ya sudah kalau begitu. Sampaikan salamku pada Pak Dirga.”
Elang cukup mengenal bos istrinya. Ia tak pernah khawatir sang istri bekerja pada pria seperti Dirga, mengingat Dirga memang bukan pria genit dan hidung belang. Itu sebabnya, Elang memberi izin pada Rindu untuk tetap bekerja hingga saat ini.
Rindu mengambil tas dan menghampiri suaminya yang masih duduk di meja kerjanya. “Kalau begitu aku pergi.”
Rindu mengecup pipi sang suami. Elang yang memang kaku dan dingin, hanya menerima kecupan tanpa membalas kecupan untuk istrinya. Seharusnya, paling tidak Elang juga memberi ciuman pipi atau kening, jika tidak bisa memberi kecupan bibir.
“Apa pria ini mencintaiku?” pertanyaan itu yang selalu muncul dalam benak Rindu. Namun, selalu ia tepis karena Elang pandai menarik ulur dirinya.
“Tunggu!”
Seperti saat ini. Tiba-tiba Elang menahan kaki Rindu yang sudah memegang handle pintu dan hendak keluar dari ruangan itu.
Elang bangkit dari kursi kerjanya dan berlari menghampiri Rindu yang berdiri di pintu.
Cup.
Elang mengecup bibir sang istri sekilas dan merapikan rambut Rindu yang memang sedikit berantakan karena saat ini hatinya pun sedang berantakan.
“Hati-hati!”
Dua kata dan sikap Elang yang seharusnya membuat Rindu berbunga. Namun keadaan sebelumnya membuat ia hanya bisa tersenyum tipis.
Kepala Rindu hanya mengangguk dan segera berlalu dari hadapan itu.
Lima belas menit dari kepergian Rindu, Elang segera mengambil jas dan memakainya. Ia keluar meninggalkan ruangan dan meninggalkan rantang makanan yang Rindu letakkan di atas meja.
Elang berjalan terburu-buru menuju lift sambil melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Elang menekan tombol P1 untuk menuju mobil miliknya yang terparkir ekslusif di sana.
Tepat saat mobil Elang keluar dari gedung, Rindu yang ternyata sudah menunggu di luar dengan taksi langsung mengikuti. Ia sengaja menggunakan taksi dan meninggalkan mobilnya di kantor Elang agar sang suami tak curiga saat dibuntuti.
Dret… Dret… Dret…
Ponsel Rindu berdering dan menampilkan nama salah satu rekan kerjanya bernama Lita Janeta.
“Halo.”
“Rin, udah otw ke kantor lagi kan?”
“Belum,” jawab Rindu yang masih di dalam taksi dengan arah mata tertuju pada mobil suaminya di depan sana.
Rindu sedang membuntuti Elang.
“Ck. Pacaran mulu sih, lu. Cepetan ke kantor karena bos baru yang akan menggantikan Pak Dirga akan datang. Dari tadi gue disuruh Pak Dirga buat nelepon lu.”
“Iya. Abis urusanku selesai, aku langsung ke kantor lagi.”
“Oke. Bye!”
Rindu langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dadanya semakin bergemuruh, saat mobil Elang masuk ke dalam gedung hotel.
“Mbak, kita ikut masuk ke dalam hotel juga?” tanya si supir taksi yang duduk di depan Rindu.
“Iya, Pak. Turunkan saya di lobby.”
Supir itu mengangguk dan melaksanakan sesuai perintah. Rindu turun dari taksi, setelah Elang masuk ke dalam lobby hotel dan berbicara pada bagian resepsionis.
Dari balik tembok, Rindu melihat interaksi suaminya dengan petugas resepsionis. Setelah, Elang pergi dari meja petugas itu,
Rindu pun langsung mendekati meja yang sama seperti yang disinggahi suaminya tadi.
“Mba, saya pesan kamar nomor tiga ratus tiga,” ucap Rindu pada resepsionis.
“Oh, maaf, Nona. Kamar itu sudah dipesan.”
“Masih ada kamar lagi di lantai tiga?” tanya Rindu.
“Tunggu sebentar.”
Resepsionis wanita yang terlihat masih muda dan cantik itu pun mengarahkan matanya pada layar pc komputer yang ada di atas mejanya. “Ada, Nona. Nomor tiga ratus tiga puluh empat.”
“Apa itu jauh dari kamar nomor tiga ratus dua?” tanya Rindu lagi.
Resepsionis wanita itu pun mengangguk dengan tatapan bingung. Namun, dia tetap menjawab. “Ya, cukup jauh.”
Kalau begitu saya pesan.” Rindu tidak berpikir lagi, yang penting dia bisa sampai di lantai tiga saja.
Transaksi dengan resepsionis pun selesai. Rindu melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang kurang lima belas menit. Ia sudah melewatkan waktu makan siang cukup panjang dan belum kembali ke kantor.
Rindu berlari tergesa-gesa menuju lift dan menuju kamar yang ia dengar dari suara wanita di telepon yang ia angkat saat berada di ruangan suaminya tadi. Sesampainya di lantai tiga, Rindu mencari kamar tiga ratus dua.
Kepala Rindu menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari nomor kamar itu. Namun, saat berada di lorong pertigaan dan hendak belok ke kanan, Rindu mendapati sosok suaminya yang berada di bagian lorong kanan dan hendak berjalan lurus. Kaki Rindu pun seketika mundur. Untung saja, saat mereka hampir berpapasan, Elang sedang menunduk menghirup sebuket bunga yang ia pegang entah untuk siapa. Rupanya pria itu belum berada di dalam kamar, padahal sudah sedari tadi dia berlalu dari hadapan resepsionis.
Elang lupa mengambil bunga dan kembali ke parkiran untuk mengambil bunga itu di dalam mobilnya yang sudah diparkir oleh petugas saat ia sampai di lobby.
Rindu berinisiatif menelepon suaminya.
Tut … Tut … Tut …
“Halo.”
Dari balik dinding lorong, Rindu melihat Elang mengangkat teleponnya.
“Lang, kamu di mana?”
“Kenapa?” Elang balik bertanya.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya bagaimana rasa gudeg buatanku? Enak kan?”
Ah, iya enak. Enak sekali,” jawab Elang yang sudah pasti bohong.
“Apa kamu sedang memakan makan siang yang aku bawa tadi?” tanya Rindu untuk memastikan kebohongan sang suami yang terpampang nyata.
Rindu menatap punggung belakang Elang yang sudah melewati pertigaan lorong.
Elang sempat menengok ke belakang. Untung, Rindu segera bergerak cepat dan menghindar dengan menarik mundur tubuhnya, sehingga saat menoleh ke belakang, Elang tak menemukan ada manusia di sana sama sekali.
“Ya. aku sedang memakan masakanmu,” jawab Elang, membuat Rindu tersenyum getir.
Lagi-lagi Rindu merasa tertipu. Sungguh, hatinya sangat sesak. Namun, ia berusaha tegar.
“Baiklah, selamat makan.”
“Hm.”
Elang hanya menjawab dengan deheman dan sambungan telepon itu tertutup.
Ceklek
Tiba-tiba pintu sebuah kamar tepat di tempat Elang berdiri pun terbuka.
“Akhirnya, kamu datang tepat waktu. Dari tadi dia sudah uring-uringan pengen ketemu pacar gelapnya.”
“Mas.”
Seorang wanita muda dari balik tubuh wanita paruh baya yang Rindu kenal sebagai ibu wanita muda itu pun muncul.
Ya, wanita itu adalah gadis yang memayungkan Rindu saat rintik hujan mulai mengenai tubuhnya yang sedang duduk di taman untuk menghilangkan sesak karena melihat suaminya yang terlalu akrab dengan teman ibunya.
“Mas, aku kangen banget.” Gadis remaja yang katanya baru duduk di kelsa dua belas SMA itu memeluk Elang.
“Sama, Sayang. Mas juga kangen.” Elang membalas pelukan hangat dari seorang gadis remaja yang semestinya menjadi keponakannya.
“Vera,” teriak seseorang dari balik tubuh Elang.
Pria itu melewati jalan yang sama seperti yang dilewati Elang tadi dan kini berada di belakang Elang.
Sontak, Rindu menutup mulutnya yang menganga. Ternyata, ia baru mengetahui bahwa wanita paruh baya yang diperkenalkan sebagai Tante Miskha memiliki nama asli Vera, sementara nama Miskha sebenarnya adalah nama putrinya.
“Nah, Om Doni udah dateng. Gih Mama sana sama Om Doni. aku masu mesra - mesraan sama Mas-ku,” ucap Gadis remaja yang bernama Miskha dan sudah tak gadis lagi.
“Dasar, ana kurang ajar! Pake ngusir Mama-nya.”
Miskha nyengir. “Kan kurang ajar aku juga nurun dari Mama.”
Vera kesal. Ia pun keluar dari kamar itu, bergantian Elang yang memasuki kamar.
“Ayo, aku juga kangen sama kamu,” ujar pria yang dipanggil Om Doni, oleh Miskha.
Pria itu langsung menggandeng Vera, sementara Miskha menggandeng Mesra suami orang yang saat ini istrinya tengah menyaksikan dari balik tembok yang berjarak.
Rindu mengintip. Kelakuan ibu dan anak itu sangat menjijikkan. Bahkan, Vera membiarkan putrinya berselingkuh dengan pria beristri. Ditambah, Vera sendiri juga berselingkuh dari suaminya.
“Lang,” teriak Vera sebelum meninggalkan kamar itu. “Jangan lupa pakai pengaman. Tante tidak ingin Miskha hamil sebelum study-nya selesai.”
“Beres, Tante.” Elang mengangkat ibu jarinya ke atas dan tersenyum.
Sungguh, ini sangat menjijikkan. Rasanya Rindu ingin muntah, perutnya tiba-tiba mual. Padahal sebelumnya, Rindu ingin menghampiri kamar itu dan menguping untuk mendengar langsung apa yang terjadi di dalam sana, tapi sepertinya ia tak kuasa mendekati kamar itu. Bahkan saat ini rasanya lututnya terlalu lemas untuk dipakai berjalan.
Rindu pun tertatih meninggalkan lantai itu dan menggunakan tangga darurat karena khawatir akan bertemu dengan Vera dan selingkuhannya ketika menggunakan lift.