Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.
Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.
Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.
Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.
Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.
Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
...*彡[]彡 Bab 1 彡[]彡*...
Suara Harrison berdengung bagai guntur, menghantam dinding-dinding marmer ruang tamu rumah keluarga Wadde’.
Di bawah lampu gantung yang berpendar temaram, amarah pria itu tampak nyata, seolah mampu membakar apa saja yang dilewatinya.
"Kau gila?! Kau membawa anak harammu ke rumahku?!"
Sloane, sang istri, berdiri beberapa langkah di depannya.
Wajahnya pucat pasi, kontras dengan gaun rumahnya yang sederhana.
Namun, di balik ketakutan yang nyata, ada binar kepasrahan sekaligus tekad yang tertanam kuat di matanya. Ia meremas jemarinya sendiri, mencoba meredam gemetar hebat yang menjalar dari ujung jari hingga ke bahunya.
"Maafkan aku, Harri. Ayahnya menitipkannya padaku... untuk dua tahun saja," ucap Sloane.
Suaranya nyaris berbisik, namun di dalam keheningan ruangan yang mencekam itu, setiap suku kata terdengar seperti hantaman palu sidang.
Harrison tertawa sinis. Sebuah suara kering, parau, dan sama sekali tidak mengandung humor.
"Dua tahun? Kau pikir rumah ini tempat penitipan anak-anak terlarang?!" Pria itu melangkah maju, postur tubuhnya yang besar mengintimidasi Sloane, membuat wanita itu refleks mundur satu langkah.
Di sudut ruangan yang remang-remang, berdiri seorang remaja perempuan berusia 16 tahun.
Namanya Issabelle Reichenbach. Ia berdiri dengan punggung tegak, kaku bagai patung lilin.
Pakaiannya tampak kusut setelah penerbangan panjang lintas Atlantik, namun ada aura dingin yang tak beralasan memancar dari sekujur tubuhnya.
Sloane menatap Issabelle dengan tatapan yang rumit—campuran antara rasa bersalah yang teramat sangat, kerinduan yang tertahan belasan tahun, dan ketakutan akan masa depan.
Issabelle adalah putrinya.
Darah dagingnya sendiri yang selama ini tumbuh besar di Jerman bersama mantan kekasih Sloane, jauh sebelum Sloane terjebak dalam pernikahan yang menyesakkan bersama Harrison di Amerika ini.
"Kita memiliki tiga orang anak, Sloane!" teriak Harrison lagi, urat-urat di lehernya menegang, memerah padam.
"Dan mereka mau makan apa kalau anak harammu kemari, hah?! Apa kau pernah berpikir dengan otakmu?!"
Tiga orang anak yang dimaksud Harrison adalah dua anak kandung dari pernikahan pertamanya sebelum bersama Sloane—si kembar yang selalu menjadi prioritas utama di rumah ini—dan satu anak lagi yang merupakan hasil pernikahannya sendiri dengan Sloane.
Ekonomi keluarga Wadde' bukanlah tipe keluarga kaya raya di pinggiran Los Angeles; mereka hidup dalam batas kecukupan yang ketat, di mana setiap sen harus dihitung dengan cermat.
Sloane menelan ludah, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Ia menatap Harrison dengan pandangan memohon, lalu beralih menatap Issabelle.
"Hanya dua tahun saja, Harri... dia tidak akan membebanimu," ucap Sloane lirih, mencoba meyakinkan suaminya yang sedang murka.
Sloane kemudian melangkah mendekati Issabelle, menatap mata gadis yang baru saja ia lihat kembali setelah hari di mana ia melahirkannya lalu terpaksa meninggalkannya.
"Kau akan bekerja kan nanti, sayang? Membantu Ibu?"
Issabelle tidak berkedip. Ia hanya menatap wanita yang menyebut dirinya 'Ibu' itu dengan pandangan kosong.
Bibirnya terkunci rapat.
Tidak ada jawaban, tidak ada anggukan, tidak ada air mata.
Keheningan gadis itu justru terasa lebih mengerikan daripada amukan Harrison.
Harrison mendengus kasar, menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Dan apa?" tuntut Harrison kasar.
"Dan apa lagi, Sloane? Anak harammu ini akan sekolah di tempat yang sama dengan si kembar putriku? Begitu maksudmu?! Memalukan mereka dengan statusnya?!"
Si kembar, putri-putri Harrison dari pernikahan terdahulu, saat ini berusia 18 tahun.
Bagi Harrison, reputasi kedua putrinya adalah segalanya. Kehadiran seorang anak asing dengan nama belakang Jerman yang rumit jelas merupakan ancaman bagi tatanan hidup yang sudah ia bangun.
Issabelle mendengar setiap kata. Setiap hinaan.
Kalimat "anak haram" yang dilontarkan Harrison berulang kali berdenging di telinganya. Namun, wajahnya tetap sedatar permukaan es di musim dingin. Ia diam. Benar-benar diam.
Kata-kata kasar pria paruh baya di depannya ini sama sekali tidak menyentuh harga dirinya, bukan karena ia menerima hinaan itu, melainkan karena di dalam kepalanya, suara lain yang lebih dominan sedang berputar.
Flashback
Malam itu di Frankfurt, Jerman. Langit malam tertutup jelaga dan hujan badai yang ekstrem.
DOR! DOR!
Suara tembakan senjata api kaliber berat menggema, memecah keheningan mansion mewah keluarga Reichenbach.
Dinding-dinding kaca antipeluru retak, dan bau mesiu menyengat indra penciuman.
"Belle! Sayang, kemari...!" sebuah suara bariton yang berat namun penuh kepanikan memanggil dari balik pintu ruang kerja yang terbuat dari kayu mahoni tebal.
Issabelle yang saat itu mengenakan gaun tidur sutranya berlari dengan kaki telanjang, mencengkeram lengan kemeja pria paruh baya yang selalu dipanggilnya Daddy.
"Daddy, aku takut... Apa yang terjadi di luar?" tanyanya dengan napas memburu, mendengar suara teriakan para penjaga di halaman bawah yang tewas satu demi satu.
Sang ayah, seorang pria dengan garis wajah tegas yang kini dipenuhi peluh dan darah, memegang kedua bahu Issabelle dengan cengkeraman yang kuat—menyakitkan, namun penuh proteksi.
"Dengarkan Daddy, Belle. Martha akan mengantarmu ke Los Angeles malam ini juga. Lewat jalur bawah tanah, jet pribadi sudah siap di pangkalan udara militer," ucap sang ayah, matanya menatap lurus ke dalam manik mata putrinya.
"Daddy sudah mengurus semua dokumen pelarianmu. Kau akan tinggal bersama ibumu di sana."
"Ibu? Tapi Daddy bilang—"
"Dia hanya orang asing, Belle. Kau tidak boleh menceritakan apa pun pada ibumu di sana. Jangan percayai siapa pun! Dia tidak tahu apa-apa tentang bisnis kita, dan dia tidak boleh tahu," potong sang ayah dengan cepat saat suara ledakan kembali terdengar di lantai satu.
"Tapi kita membutuhkannya untuk saat ini, sayang. Hanya untuk perlindungan hukum dan status sipilmu. Dua tahun saja. Daddy akan menjemputmu kalau masalah klan ini telah selesai. Semua musuh kita akan Daddy bersihkan."
Pria itu mengecup kening Issabelle dengan dalam, menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang dimilikinya.
"Daddy mencintaimu, sayang. Jaga dirimu baik-baik di negeri orang. Dan yang paling penting... pastikan kau tetap mengingat dan menghafal semua kode rekening bank Swiss milik keluarga kita. Jangan pernah menuliskannya di mana pun. Tetaplah berada di bawah radar. Jangan terlihat menonjol di sekolah atau di lingkungan barumu. Ingat pesan Daddy: kau harus bisa mengendalikan dirimu, apa pun yang terjadi."
Flashback Off
Kedipan mata lambat membawa Issabelle kembali ke ruang tamu yang bising di Amerika ini.
Ia memandang wanita di depannya—Sloane Wadde'.
Wanita yang melahirkannya, namun kini tampak begitu menyedihkan.
Sloane sedang bersimpuh di dekat kaki Harrison, menangis sesenggukan, memohon agar suaminya tidak mengusir anak yang baru saja tiba dari Jerman.
Di dalam hati, Issabelle mengutuk wanita itu.
Menjijikkan, batinnya dingin.
Dia bahkan memohon seperti anjing pada pria rendahan ini.
Bagi Issabelle yang tumbuh di lingkungan klan von Reichenbach yang penuh darah, kuasa, dan kemewahan mutlak, melihat seorang wanita memohon-mohon demi uang belanja dan ruang kamar adalah pemandangan yang memuakkan.
Jika bukan karena perintah mutlak dari ayahnya untuk bertahan hidup dan tetap tersembunyi selama dua tahun, Issabelle bersumpah ia sudah akan meninggalkan tempat kumuh ini sejak menit pertama.
"Harri, kumohon... dia bisa tidur di loteng, atau di ruang bawah tanah. Dia tidak akan mengganggu si kembar," ratap Sloane, air matanya merusak riasan wajahnya yang murah.
"Aku akan mengambil kerja lembur. Aku yang akan membiayai makannya!"
Harrison mendengus, menatap Sloane dengan pandangan meremehkan sebelum mengalihkan pandangannya pada Issabelle.
Pria itu berjalan mendekat, berhenti tepat dua langkah di depan Issabelle.
Bau alkohol murah dan keringat asam menguar dari tubuh Harrison, membuat Issabelle harus menahan diri agar tidak menunjukkan ekspresi jijik.
"Hei, anak haram," sapa Harrison, nadanya penuh intimidasi.
"Kau dengar apa yang dikatakan ibumu? Di rumah ini, tidak ada makanan gratis. Kalau kau membuat masalah sedikit saja, atau membuat dua putriku menangis, aku sendiri yang akan melemparmu ke jalanan Los Angeles yang penuh dengan gelandangan. Paham?!"
Issabelle menatap lurus ke dalam manik mata Harrison.
Untuk sesaat, kilatan dingin yang mematikan muncul di mata abu-abu milik Issabelle—kilatan yang biasa dimiliki oleh para pembunuh dari klan Reichenbach.
Harrison sempat tertegun, merasakan hawa dingin yang aneh menusuk tengkuknya.
Namun, sebelum pria itu menyadarinya, Issabelle dengan cepat menurunkan pandangannya, memasang topeng kepatuhan yang sempurna seperti yang dipesankan oleh ayahnya.
"Saya paham, Tuan," jawab Issabelle. Suaranya datar, tanpa emosi, dalam bahasa Inggris yang fasih dengan aksen Eropa yang kental.
"Bagus," ketus Harrison, mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang sempat melintas di hatinya tadi.
"Sloane! Bawa anak ini ke kamar pelayan di dekat dapur bawah. Dan pastikan besok pagi dia sudah tahu cara membersihkan rumah!"
Harrison berbalik, melangkah kasar menaiki tangga kayu yang berderit menuju lantai dua, meninggalkan keheningan yang kembali mencekam di ruang tamu tersebut.
Setelah punggung Harrison menghilang, Sloane langsung bangkit berdiri. Ia menghapus air matanya dengan tergesa-gesa dan mendekati Issabelle, mencoba menyentuh bahu putrinya.
Namun, dengan gerakan halus yang tampak natural, Issabelle melangkah mundur, menghindari sentuhan fisik tersebut.
"Issabelle... maafkan Ibu," bisik Sloane dengan suara serak, matanya memancarkan rasa bersalah yang mendalam. "Harrison... dia hanya sedang stres karena pekerjaannya di bengkel tidak berjalan lancar. Dia sebenarnya orang baik."
Orang baik tidak menggonggong seperti anjing rabies, batin Issabelle.
Namun, yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Di mana kamar saya?"
Sloane tersenyum getir, menyadari jarak tak kasat mata yang membentang lebar di antara mereka. "Mari, Ibu antar. Kamarmu agak kecil, tapi Ibu sudah menyiapkannya sejak kemarin."
Kamar yang dimaksud ternyata lebih mirip gudang penyimpanan yang dipaksakan menjadi kamar tidur.
Terletak di bagian paling belakang rumah, tepat di bawah tangga menuju ruang bawah tanah.
Kamar itu hanya berisi sebuah ranjang single dengan kasur yang tipis, sebuah lemari pakaian kayu yang sudah mengelupas catnya, dan sebuah jendela kecil yang menghadap langsung ke tempat pembuangan sampah di gang samping.
"Ini... hanya untuk sementara, sayang," kata Sloane ragu-ragu di ambang pintu.
"Besok Ibu akan mendaftarkanmu ke sekolah yang sama dengan Chloe dan Claire. Mereka adalah kakak tirimu. Ibu harap kalian bisa berteman baik."
"Terima kasih," jawab Issabelle pendek, tanpa menatap ibunya. Ia meletakkan koper hitam kecilnya di lantai.
Sloane berdiri di sana selama beberapa detik, berharap putrinya akan memeluknya atau setidaknya menangis di bahunya setelah bertahun-tahun terpisah.
Namun, Issabelle hanya berdiri diam memunggungi pintu, menunggu wanita itu pergi.
Dengan helaan napas berat, Sloane akhirnya menutup pintu kamar, meninggalkan Issabelle dalam kesunyian.
Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki Sloane menjauh, atmosfer di dalam kamar kecil itu langsung berubah.
Issabelle mengunci pintu kamar dari dalam. Ia berjalan menuju ranjang, duduk di tepinya, dan mengembuskan napas panjang yang sudah ditahannya sejak mendarat di Bandara LAX.
Seluruh otot tubuhnya yang tegang perlahan mulai rileks.
Ia membuka koper hitamnya. Di lapisan paling bawah yang tersembunyi di balik kain pelapis, terdapat sebuah paspor palsu dengan nama alias, sebuah pisau lipat taktis berbahan titanium yang tidak terdeteksi oleh pemindai bandara, dan sebuah memori kecil yang berisi enkripsi data.
Issabelle memejamkan matanya, memanggil kembali memori visual di dalam otaknya.
Deretan angka dan huruf rumit—kode akses ke tujuh rekening bank rahasia di Zurich dan Cayman Islands yang menyimpan total kekayaan ratusan juta Euro milik ayahnya.
Kekayaan yang cukup untuk membeli seluruh lingkungan perumahan ini beserta isinya tanpa berkedip.
"Dua tahun," bisik Issabelle pada kegelapan malam di luar jendela.
Ia harus bertahan di lingkungan kelas pekerja Amerika yang bising ini.
Menghadapi seorang ayah tiri yang kasar, seorang ibu kandung yang lemah dan menyedihkan, serta dua bersaudara tiri yang belum ia temui namun sudah bisa ia tebak tabiatnya. Ia harus menjadi gadis biasa yang tidak mencolok.
Gadis yatim yang malang dan tak berdaya.
Issabelle Reichenbach akan memainkan peran itu dengan sempurna. Namun, jika ada satu saja dari mereka yang berani melintasi batas dan mengancam keselamatannya, Issabelle tidak akan ragu untuk menunjukkan pada mereka, mengapa nama belakang Reichenbach ditakuti di seluruh dataran Eropa Barat.
Dengan pikiran itu, Issabelle merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang keras.
Di luar, suara sirine polisi Amerika meraung-raung di kejauhan, menandakan bahwa ia kini berada di dunia yang sama sekali baru.
Sebuah dunia di mana ia harus merangkak di dalam lumpur sebelum akhirnya kembali naik ke atas takhta yang menjadi hak miliknya.
...****************...
Happy reading 🫶🏻 Mohon Dukungannya untuk Meninggalkan Jejak Komentarnya Yaa Kak Reader 🥰
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂