Bagaimana kalau tubuh laki-laki seorang pembunuh bayaran berakhir di tubuh perempuan yang tidak ia kenal. Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
“Apa semuanya sudah siap, Dit?” tanya Hazel sambil merapikan riasan wajahnya di depan cermin.
“Sudah, Nona. Semua yang Nona minta sudah disiapkan,” jawab Radit dengan tenang.
“Bagus. Sekarang kita tinggal menunggu target datang,” ucap Hazel dengan senyum menyeringai yang penuh arti.
Sebelum Radit pergi, dia sempat menyampaikan sesuatu. “Nona, sepertinya Tuan Athan Mikaelson beserta teman-temannya juga akan hadir malam ini.”
“Athan? Jadi para casanova itu akan datang juga?” Hazel mengangkat alis, lalu mengangkat bahu acuh tak acuh. “Biarkan saja, aku tidak peduli lagi.”
“Baik, Nona.”
Setelah Radit pergi, Hazel bangkit dan melangkah ke arah lemari kaca di sudut ruangan. Ia membuka lemari itu perlahan, dan dari dalamnya, ia mengambil revolver untuk berjaga-jaga jika situasi jadi kacau.
“Hari terakhir untuk lo Raga gue cuman mau membalaskan dendam atas apa yang lo perbuat ke Hazel, lo laki-laki bajingan yang pernah gue temui, apa setelah ini selesai gue akan mati lagi lalu Hazel yang asli akan datang mengambil tubuhnya?.”ucapnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah perumahan mewah yang tenang, malam turun perlahan, membalut rumah keluarga Raga dalam kehangatan lampu-lampu lembut. Di ruang keluarga yang luas dan elegan, Raga duduk santai di atas sofa, menunggu Elora yang masih sibuk berdandan di lantai atas. Ia sesekali melihat ke arah tangga dengan tatapan tak sabar.
Langkah-langkah ringan terdengar menuruni anak tangga. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya muncul — elegan, anggun, dan membawa aura otoritas. Ibu Raga menghampiri putranya dengan raut wajah penuh pertimbangan.
“Raga, apa kamu benar-benar akan membawa Elora malam ini?” tanyanya, suaranya datar namun mengandung ketegasan.
Raga melirik ibunya sekilas, lalu kembali bersandar santai.
“Iya, Mah. Memangnya kenapa? Lagipula Hazel nggak akan ada di sana.”
Ibu Raga mengerutkan kening. “Tapi kalau sampai ketahuan, bagaimana? Apa kata rekan-rekan bisnismu jika mereka melihatmu datang bersama Elora, bukan istrimu?”
Raga terkekeh pelan, menyilangkan kaki dan menatap ibunya dengan ekspresi penuh percaya diri.
“Ah, tinggal bilang aja kalau Hazel yang menyuruh Elora menemani aku. Katakan saja Hazel sedang sibuk dan nggak bisa hadir.”
Ibu Raga menghela napas panjang, lalu tersenyum miring sambil menggeleng pelan.
“Kamu ini selalu punya alasan yang licik…” Ucapnya sambil menatap putranya lekat-lekat. “Kamu benar-benar anakku.”
Kemudian, nada suaranya berubah sedikit lebih dingin.
“Lalu… kapan kamu akan menceraikan Hazel?”
Pertanyaan itu membuat udara seolah membeku sesaat. Raga tak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan, diam, seolah mempertimbangkan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri enggan hadapi.
Langkah Elora perlahan menuruni anak tangga, membelah keheningan dengan suara hak tinggi yang terdengar mantap. Gaun malam yang membalut tubuhnya jatuh anggun di lekuk pinggang, namun bagian atasnya sengaja dirancang rendah—cukup untuk menampilkan pesonanya yang menggoda.
Saat matanya bertemu dengan Raga yang duduk di bawah, ia tersenyum manis, dengan sorot mata yang penuh percaya diri dan keanggunan. Kecantikannya memancar, dan ia tahu betul dampaknya pada pria yang kini menatapnya tak berkedip.
“Aku sudah siap, Mas,” ucap Elora lembut, suaranya seperti alunan nada yang merayu.
Raga terdiam sesaat, matanya menyapu seluruh penampilan Elora dari ujung rambut hingga kaki—lalu kembali terfokus pada dada yang menonjol dengan jelas di balik belahan gaun. Sorot kagum dan gairah tak bisa ia sembunyikan.
“Kamu benar-benar mempesona, Elora,” gumam Raga, suaranya menurun, nyaris serak. “Cantik, seksi… kamu sedang mencoba menggodaku, ya? Rasanya ingin sekali aku kurung kamu di kamar sekarang juga.”
Ia menghela napas dalam, lalu menambahkan, “Sayangnya, kita masih harus hadir di acara amal itu.”
Elora tertawa pelan, melangkah lebih dekat.
“Nanti setelah acara selesai… aku akan berikan sesuatu yang spesial untuk Mas,” bisiknya genit, senyum nakal terpulas di bibirnya.
Raga nyaris tergelak, lalu membisikkan balasan, “Aku tidak sabar menunggunya, Sayang. Tubuhku juga mulai tak tahan.”
Elora mencubit pinggangnya pelan dengan ekspresi geli.
“Mas! Di sini ada Mama…” bisiknya, separuh menegur, separuh menggoda.
Raga hanya menoleh sekilas ke arah ibunya yang berdiri tak jauh dari mereka, ekspresinya datar.
“Biarkan saja. Anggap saja Mama tidak ada.”
Ibu Raga menghela napas tajam, mendengus kesal. Wajahnya menegang melihat putranya lagi-lagi bersikap mesum yang tak tahu tempat.
“Sudahlah, pergi sana. Jangan sampai terlambat,” ucapnya dingin, mengibaskan tangannya seperti mengusir mereka.
“Baiklah, Mah,” jawab Raga cepat sambil tersenyum canggung. Ia lalu menggandeng Elora mesra.
“Ayo, Sayang.”
Dengan langkah penuh gaya, pasangan itu meninggalkan rumah, menyisakan keheningan dan pandangan jengah dari seorang ibu yang sudah terlalu sering menyaksikan drama anaknya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lobi hotel bintang lima itu tampak megah dengan langit-langit kristal dan pencahayaan hangat yang memantul indah di permukaan marmer. Para tamu berdatangan dengan pakaian formal, suasana dipenuhi wangi parfum mahal dan alunan musik klasik yang dimainkan oleh kuartet senar di sudut ruangan.
Calvin tiba bersama Clesha. Jas hitamnya terpotong rapi, wajahnya tenang namun penuh wibawa. Di sampingnya, seorang wanita muda berjalan anggun mengenakan gaun berwarna merah marun yang memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna.
Clesha—pendamping Calvin malam itu—tersenyum ramah pada siapa pun yang menyapa. Kehadirannya menarik perhatian, tapi sikapnya tetap elegan dan terukur. Ia tahu posisinya, dan tahu bagaimana memainkan peran sosialnya di dunia para elite.
“Mereka semua sudah datang?” tanya Clesha pelan saat mereka menaiki tangga menuju ballroom utama.
“Hampir semua,” jawab Calvin singkat. Matanya menyapu ruangan. “Tinggal satu orang lagi… si raja telat itu.”
“…Athan?” tebak Clesha, tersenyum kecil.
Calvin hanya mengangguk pelan. “Dia selalu datang paling akhir. Katanya, biar semua orang tahu saat dia muncul.”
Clesha tertawa pelan. “Kebiasaan orang sok dingin.”
Calvin membalas dengan senyum simpul, lalu kembali menatap ke arah pintu masuk. Athan baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobi hotel.
“Lo datang sendiri Than?”tanya Razi pada Athan.
“Hm.”balas singkat Athan.
“Gue kira lo ajak Galena.”suara kecewa Razi.
“Galena?”gumam Clesha membuat Athan menoleh ke arahnya.
“Lo ah kenapa gak ajak Galena biar gue ada temannya.” Protes Clesha pada Athan.
“Kan lo ada Calvin Sha.”bukan Athan yang menjawab tapi Kavian.
Athan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ballroom hotel, tidak memperdulikan para teman-temannya yang masih berdebat.
“Lah si kamvret dia malah ninggalin kita, ayo kita juga masuk perut gue udah minta diisi makanan.”celetuk Razi sambil melihat Athan yang sudah pergi.
“Lo selalu saja dimanapun berada makanan terus yang di pikirin.”decak Kavian berjalan di samping Razi.
“Ya jelas lah gue datang ke sini cuman buat makan enak bukan ikutan amal.”balas Razi berjalan mengikuti Athan.
“Kalian berdua selalu saja berantem emang pasangan yang cocok.”terkekeh Clesha melihat kelakuan kedua teman tunangannya itu.
“Gue sama dia? Ih… sowrrry ya gue normal mata gue masih bisa membedakan terong sama serabi.”decak Razi melirik ke Clesha.
“Dih pait pait pait… minggir lo jangan deket-deket gue, nanti dikira kita pasangan hombreng.”tambah Kavian.
“Dih gue juga najis mata gue sepet lihatin lo terus mending gue langsung ke stand makanan.” Razi langsung pergi putar haluan ke arah stand makanan.
“Kenapa tuh anak?”tanya Calvin melihat Razi udah kabur duluan.
“Gak tahu mungkin lagi kesambet setan dugong.”jawab asal Kavian.
udah ngerbut raga dari Hazel eh tapi malah bagus dong baj•ngan sama lacu•r sama sama cocok jadi satu
manuk diobral nang cangkeme wong wedok gak nggenah..
eh apa msh aktif jd pembunuh bayaran Thor?
koq gak pernah liat aksinya lagi..?