Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjagaan Sang Raja
Pagi itu, kabut dingin bertengger amat pekat di atas tajuk-tajuk pohon Hutan Hitam. Jarak pandang tak lebih dari beberapa meter. Derak dedaunan basah dan lolongan angin pagi yang menusuk tulang menjadi satu-satunya saksi saat dua figur melangkah keluar dari gubuk bambu yang telah menjadi saksi bisu kebersamaan mereka selama berminggu-minggu.
Aura menggendong ransel hijau militernya dengan erat di punggung. Di dalamnya, tumpukan batangan emas dan kenangan pahit keluarganya tersimpan rapi. Pakaian yang ia kenakan sangat sederhana—jaket kain kusam dan celana kain tebal yang agak longgar—namun matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa.
Di sampingnya, Dante melangkah dengan tegap. Pria bertubuh tinggi besar itu tak lagi memakai kayu penopang. Setiap tumpuan kakinya mantap dan bertenaga, menunjukkan bahwa sang raja telah kembali ke kondisi puncaknya.
Sesuai instruksi rahasia yang ia berikan pada Valerio kemarin, tim penjemput terlatihnya telah bersiap di titik koordinat yang ditentukan di ujung jalur hulu sungai.
"Pegang tanganku atau berada tepat di belakangku, Aura," ucap Dante dengan suara beratnya yang dalam, suaranya membelah keheningan kabut pagi. "Jalur hulu ini penuh dengan batu karang licin dan tebing terjal."
"Aku sudah terbiasa berjalan di hutan, Dante," sahut Aura dengan ketabahan yang dipaksakan, walau napasnya mulai sedikit terengah menahannya jalur naik yang makin curam.
Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak alami yang dipenuhi akar-akar pohon raksasa dan batuan runcing. Kabut yang tebal membuat pemandangan sekitar tampak misterius, seolah hutan itu sendiri enggan melepaskan mereka. Namun bagi Dante, setiap langkah naik ini adalah proses transisi—meninggalkan kesunyian gubuk bambu dan melangkah kembali ke medan perang yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Aura berkali-kali menoleh ke belakang, menatap gubuk bambu kecil di hilir yang perlahan makin menghilang tertutup tebalnya kabut putih. Ada rasa berat yang menggelayuti dadanya. Gubuk itu adalah rumahnya selama dua tahun, tempat pelariannya dari dunia yang kejam. Namun, saat tatapannya beralih pada punggung tegap Dante yang melangkah mantap di depannya, rasa ragu itu menguap.
"Kita hampir sampai di puncak tebing hulu," kata Dante tanpa menoleh, matanya yang setajam elang sudah menangkap sinyal-sinyal samar di balik rimbunnya semak di depan mereka.
Firasat dan perhitungan Dante tak pernah meleset. Di balik kabut tebal di ujung jalan setapak terjal tersebut, Valerio dan pasukan taktis klan kepercayaannya telah bersiap dalam diam, menunggu komando penuh dari sang bos besar untuk memulai babak baru pertumpahan darah.
Menembus ketebalan kabut di ujung celah tebing hulu, medan terjal hutan mendadak berujung pada sebuah jalan aspal tua yang tersembunyi. Di sana, terparkir tiga unit SUV mewah berwarna hitam legam dengan kaca film ekstra gelap dan ban off-road khusus. Kilauan bodi mobil yang mengilap tampak sangat kontras dengan suramnya pepohonan Hutan Hitam.
Begitu Dante dan Aura melangkah keluar dari rimbunnya semak, pintu penumpang dari mobil paling depan terbuka.
Valerio melangkah keluar dengan gaya yang amat dominan. Ia mengenakan jas hitam mahal yang terpotong rapi, dipadukan dengan kacamata hitam bertangkai perak dan sepatu kulit yang berkilau. Di belakangnya, empat pria bertubuh tegap berpakaian taktis rapi berdiri sigap, dengan gestur tubuh penuh kewaspadaan tinggi.
Aura mendadak menghentikan langkahnya. Jantungnya berdebar kencang saat melihat gestur dan aura dingin dari orang-orang tersebut. Pengalaman pahit sepuluh tahun lalu saat keluarganya dibantai oleh klan Arcanum mendadak berputar hebat di kepalanya.
Aura meremas tali ransel militernya, berbisik panik pada Dante, "Dante... Siapa mereka? Kenapa... kenapa penampilannya seperti para mafia itu?"
Sebelum ketakutan Aura memuncak, Dante meraih dan menggenggam erat jemari tangan Aura. Genggaman tangan pria itu begitu hangat, kokoh, dan memberikan rasa aman yang instan di tengah kepanikan.
Dante menatap lurus ke dalam mata cokelat Aura yang dipenuhi keraguan. "Aku akan memberitahumu semuanya nanti saat kita sampai di apartemen. Tidak ada lagi yang akan kusembunyikan darimu. Tapi sebelum itu, kita harus keluar dari hutan ini sekarang. Cepat atau lambat, musuhku akan menemukan kita."
Kata-kata "musuhku" meluncur dari bibir Dante dengan nada yang begitu dalam dan dingin. Kata itu langsung menghantam pikiran Aura.
Musuh Dante? Siapa sebenarnya Dante? Mungkinkah dia bukan sekadar korban biasa seperti yang kikirakan selama ini? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala gadis itu. Namun, genggaman erat tangan Dante dan sorot mata pria itu yang tidak memancarkan sedikit pun niat jahat kepadanya membuat Aura memilih untuk bungkam. Rasa percaya yang telah terbangun selama berminggu-minggu di gubuk bambu menang atas keraguannya.
Aura mengangguk pelan. "Baiklah... Aku mempercayaimu."
Valerio melangkah mendekat, lalu membungkukkan badannya dengan sangat hormat—sebuah gestur tunduk yang membuat Aura makin terperanjat. Dengan cekatan, Valerio membukakan pintu penumpang belakang mobil SUV mewah tersebut.
"Silakan masuk, Tuan... dan Nona," kata Valerio dengan suara berat yang sopan namun formal.
Dante menuntun Aura masuk ke dalam kabin mobil yang harum dan berlapis kulit mewah, sebelum ia sendiri duduk di samping gadis itu. Pintu ditutup rapat, mengisolasi mereka sepenuhnya dari udara dingin Hutan Hitam.
Dengan raungan mesin V8 yang halus namun bertenaga, iring-iringan tiga SUV hitam itu melaju kencang meninggalkan hutan, membelah kabut pagi menuju jantung kota tempat pertumpahan darah dan pembalasan dendam telah menanti.