NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana

Angin Grand Line bertiup stabil, mengisi layar hitam legam kapal Tartarus yang meluncur mulus membelah lautan biru. Sinar matahari siang terasa menyengat, kontras dengan cuaca gila yang baru saja mereka lewati beberapa jam lalu. Di atas dek kapal, suasana santai namun sarat akan ketegangan tak kasat mata menyelimuti para penumpangnya.

​Di ujung tiang utama, duduk bersila dengan sebelah kaki menggantung, Enel sedang mengunyah sebuah apel merah dengan santai. Mulutnya mendecak pelan menikmati rasa manis buah itu, sementara matanya yang arogan menatap ke bawah, ke arah Roy Mustang yang sedang bersandar di pagar pembatas dek.

​"Yahahahaha! Hei, Manusia Api," seru Enel dari atas tiang, membuang inti apel sembarangan hingga jatuh nyaris mengenai sepatu mengkilap Mustang. "Kudengar dari Pencipta, kau bisa membuat ledakan. Tapi melihat betapa lambannya pergerakanmu, aku ragu kau bisa menyentuh ujung celanaku. Di Skypiea, orang sepertimu hanya cocok menjadi penyala api unggunku."

​Mustang melirik inti apel di dekat sepatunya, lalu mendongak menatap Enel dengan senyum tipis yang sangat sopan, namun memancarkan sarkasme tajam.

​"Dengan segala hormat, Dewa," balas Mustang, menekankan kata terakhir dengan nada mengejek. Ia merapikan kerah seragam birunya perlahan. "Di dunia bawah sini, ketepatan jauh lebih berharga daripada kilatan cahaya yang berisik. Petirmu mungkin cepat, tapi jika kau terlalu sibuk memuji dirimu sendiri, oksigen di sekitarmu bisa menghilang sebelum kau sempat mengambil napas."

​"Oh? Kau menantangku, Manusia Biru?" Enel menyeringai lebar. Cincin di punggungnya mulai memercikkan arus listrik biru keputihan. BZZZT! "Ingin merasakan seperti apa rasanya dihakimi oleh kekuatan alam yang sesungguhnya?"

​"Hentikan omong kosong kalian."

​Suara Muzan Kibutsi yang tenang, dingin, dan tidak terlalu keras memotong perdebatan itu seketika. Namun, dampaknya jauh melampaui teriakan komandan militer mana pun. Sebuah riak tipis Haoshoku Haki memancar dari ruang kapten, menyapu dek kapal.

​Percikan listrik di punggung Enel mati seketika. Sang Dewa Petir mendecakkan lidah, namun ia segera menundukkan kepalanya, tidak berani membantah. Mustang pun menghela napas, memberikan gestur hormat ke arah ruang kapten sebelum kembali fokus menatap lautan.

​Vivi, yang duduk bersama Mr. 9 di dekat buritan, menelan ludah dengan susah payah. Ia mengusap lengannya yang merinding.

​Mereka berdua jelas-jelas monster yang bisa menghancurkan kota sendirian, batin Vivi ngeri. Tapi pria berjubah hitam itu... dia mengendalikan mereka hanya dengan satu kalimat. Seperti menenangkan dua ekor anjing penjaga.

​Muzan melangkah keluar dari ruang kapten. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin laut yang mulai membawa hawa panas nan kering. Aroma pasir dan debu mulai tercium di udara.

​"Kita sudah memasuki perairan iklim gurun," ucap Muzan, berjalan mendekati haluan kapal. Ia melirik ke arah Vivi. "Tuan Putri, kita akan mendarat di Nanohana. Bersiaplah."

​Vivi tersentak, segera berdiri. "Nanohana? Pelabuhan utama Alabasta? Tapi... kota itu pasti diawasi ketat oleh jaringan Billions milik Baroque Works! Apalagi setelah kau menelepon Crocodile..."

​"Justru itu yang kita inginkan," Muzan menyeringai tipis di balik tudungnya. "Seorang raja mafia yang paranoid akan melakukan kesalahan. Dia akan mengumpulkan pasukannya di satu titik untuk menyambut kita, dan itu akan memudahkan pekerjaan kita membersihkan sampah."

​Sementara itu, jauh di pedalaman Alabasta, di dalam ruang bawah tanah VIP kasino Rain Dinners.

​Ruangan mewah itu berantakan. Asbak kaca pecah berkeping-keping, meja mahoni terbelah menjadi dua. Sir Crocodile duduk di sofa kulitnya, menghisap cerutu dengan napas memburu. Urat-urat di dahi sang Shichibukai menonjol keluar.

​"Erebus..." geram Crocodile. Pasir mulai berjatuhan dari ujung jari-jari tangannya yang mengepal. "Berani-beraninya seekor tikus tak bernama mengetahui tentang Pluton."

​Di ambang pintu, Miss All Sunday (Nico Robin) berdiri dengan tenang, meski ia baru saja tiba menggunakan penyu raksasanya dari Whiskey Peak.

​"Mereka bukan tikus biasa, Mr. 0," ucap Robin dengan nada dewasa dan berhati-hati. "Mereka meratakan seratus agen di Whiskey Peak tanpa berkeringat. Dan pemimpin mereka... memiliki semacam kekuatan yang bisa menembus pertahanan mentalku."

​Crocodile menatap Robin dengan tatapan membunuh. "Aku tidak peduli apakah dia iblis dari neraka sekalipun! Tidak ada yang boleh mengacaukan Operasi Utopia! Aku sudah mengirimkan perintah ke seluruh jaringan Billions di Nanohana. Jika ada kapal layar berwarna hitam legam yang merapat, mereka harus menenggelamkannya sebelum awaknya sempat menginjakkan kaki di pasir Alabasta!"

​"Menggunakan ratusan agen kelas menengah untuk melawan mereka?" Robin tersenyum tipis. "Itu sama saja dengan melempar kayu kering ke dalam api."

​"Itu hanya untuk mengukur kekuatan mereka yang sebenarnya," sahut Crocodile, bangkit berdiri. Kait emas di tangan kirinya berkilat menakutkan. "Jika mereka bisa lolos dari Nanohana, aku sendiri yang akan mengubur mereka hidup-hidup di lautan pasir."

​Dua jam kemudian, bayangan daratan Alabasta mulai terlihat di cakrawala. Pelabuhan Nanohana, kota yang dipenuhi bangunan berbentuk kubah tanah liat dan aroma rempah-rempah yang tajam, tampak sibuk dari kejauhan.

​Namun, di perairan depan pelabuhan, aktivitas perdagangan yang biasanya ramai kini terhenti total.

​Empat kapal galleon besar milik agen Billions Baroque Works berjejer membentuk blokade. Puluhan meriam hitam diarahkan langsung ke laut lepas. Ratusan agen berbaju zirah dan bersenjata senapan panjang bersiap di atas dek, mata mereka menatap tajam ke arah cakrawala.

​Dan di sanalah, menembus kabut tipis panas matahari, kapal Tartarus muncul. Hitam, tanpa bendera, meluncur lurus ke arah blokade tanpa niat untuk mengurangi kecepatan sedikit pun.

​"Itu kapalnya! Kapal hitam tanpa bendera!" teriak salah satu komandan Billions dari atas kapal blokade. "Tembak! Hancurkan kapal itu sekarang juga! Ini perintah langsung dari bos!"

​BAM! BAM! BAM! BAM!

​Puluhan peluru meriam raksasa melesat membelah udara, menciptakan lintasan asap hitam, mengarah lurus untuk menghancurkan lambung dan tiang layar Tartarus.

​Di atas kapal hitam itu, Vivi menjerit tertahan. "Mereka menembak! Tuan Muzan, kita harus menghindar!"

​Muzan, yang berdiri di haluan dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung, bahkan tidak berkedip. Ia tidak menyentuh kemudi.

​"Enel. Mustang," panggil Muzan santai, seolah ia sedang memesan kopi di kafe. "Bersihkan jalannya. Jangan sampai ada debu meriam yang mengotori geladak kapalku."

​"Yahahahaha! Akhirnya!" Enel melompat turun dari tiang utama. Tubuhnya berhenti di tengah udara, melayang dengan bantuan elektromagnetik. Ia merentangkan kedua lengannya.

​"Manusia-manusia fana yang menyedihkan... sambutlah kilatan dewamu!"

​Enel mengetuk salah satu gendang di punggungnya dengan tongkat emasnya.

​"Sango (Sambaran Petir)!"

​ZAP-THOOOOOMMM!

​Sebuah jaring petir raksasa meledak dari tubuh Enel, melesat ke depan dengan kecepatan cahaya. Jaring petir jutaan volt itu menyapu puluhan peluru meriam yang sedang melayang di udara. Besi-besi meriam itu meleleh seketika di udara, meledak prematur menjadi kembang api abu yang tidak berbahaya, puluhan meter sebelum mencapai Tartarus.

​Belum selesai keterkejutan para agen Billions, Roy Mustang melangkah ke tepi pagar pembatas kapal.

​"Tangkisan yang terlalu mencolok, tapi bolehlah," gumam Mustang. Ia menarik napas dalam, memfokuskan pandangannya pada jejeran empat kapal musuh yang menghalangi jalan.

​Ia tidak membakar kapalnya secara langsung. Menggunakan wawasan taktisnya, Mustang mengincar ruang mesiu di lambung bawah keempat kapal tersebut berdasarkan struktur standar kapal galleon.

​SNAP!

​Satu jentikan jari terdengar pelan di tengah deru ombak.

​Namun dampaknya adalah neraka.

​Oksigen di dalam ruang mesiu keempat kapal Baroque Works itu dipadatkan secara ekstrem dan disulut secara serentak.

​KABOOOOOOOOMMMM!!!

​Ledakan berantai yang luar biasa masif membelah lautan Nanohana. Empat kapal raksasa yang memblokade jalan itu meledak dari dalam secara bersamaan. Papan kayu tercabik-cabik, tiang layar patah dan terlempar ke udara layaknya tusuk gigi. Ratusan agen Baroque Works menjerit panik, terlempar ke laut lepas dalam kondisi hangus, atau pingsan terkena gelombang kejut.

​Blokade yang dirancang dengan persiapan matang itu hancur lebur bahkan sebelum kapal Tartarus berada dalam jarak tembak efektif senapan mereka. Seluruh prosesnya tidak memakan waktu lebih dari lima detik.

​Penduduk Nanohana yang menonton dari pinggir dermaga mematung, rahang mereka jatuh. Mereka tidak pernah melihat penghancuran laut yang begitu presisi dan absolut.

​Kapal Tartarus meluncur dengan mulus menembus puing-puing kayu yang terbakar, riak ombaknya menyapu sisa-sisa kapal Baroque Works yang mulai tenggelam. Kapal hitam legam itu akhirnya merapat sempurna di dermaga utama Nanohana, mengabaikan api yang masih berkobar di sekitarnya.

​Muzan Kibutsi menurunkan tudung jubahnya, membiarkan angin gurun menerpa wajahnya. Senyum dingin sang Dalang terukir sempurna.

​"Nah, Tuan Putri," ucap Muzan, melirik ke arah Vivi yang tubuhnya mematung kaku karena syok melihat pembantaian instan barusan. "Kita sudah sampai. Mari kita mulai kudetanya."

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!