"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7 - Resign!
"Mulai sekarang, aku bukan lagi budak korporat."
Keesokan paginya, Raka datang ke kantor tanpa tas kerja lama.
Hanya laptop pribadi, sebuah amplop cokelat, dan ponsel yang terus menyimpan notifikasi dari Ratna yang belum ia buka.
Gedung kantor itu masih sama: lift sempit, karpet abu-abu yang mulai pudar, pendingin ruangan terlalu dingin, dan wajah-wajah lelah yang berpura-pura sibuk sebelum jam rapat pagi. Dulu, tempat ini terasa seperti satu-satunya jalan hidupnya.
Sekarang, tempat ini terlihat seperti ruang tunggu yang terlalu lama ia singgahi.
"Rak, modul payment udah beres?" tanya Denny dari kubikel sebelah. Matanya merah, jelas habis lembur.
"Belum."
Denny langsung menegang. "Lho? Pak Arif tadi udah nanya. Katanya klien mau demo jam sepuluh."
"Bagus. Berarti aku datang tepat waktu."
"Tepat waktu buat apa?"
Raka meletakkan amplop cokelat di atas meja.
Denny meliriknya, lalu mulutnya terbuka sedikit. "Jangan bilang itu..."
"Surat resign."
Beberapa kepala di dekat mereka langsung menoleh.
Satu keyboard berhenti berbunyi.
Seseorang berbisik, "Raka resign?"
Dalam ingatan mereka, Raka adalah orang yang selalu datang paling awal, pulang paling malam, dan menerima tugas tambahan dengan senyum kaku. Orang seperti itu seharusnya patah pelan-pelan, bukan berdiri tegak membawa surat pengunduran diri.
Denny menurunkan suara. "Lu serius? Di saat project lagi kebakar?"
"Justru karena selalu kebakar."
"Tapi kalau lu pergi, siapa yang handle backend?"
Raka menatap layar monitor kantor yang penuh tiket bug. "Orang yang dibayar untuk mengganti orang."
Denny tidak bisa menjawab.
Pintu ruang manajer terbuka.
Pak Arif keluar dengan kemeja lengan digulung dan wajah yang sudah siap marah. Ia melihat Raka, lalu amplop di meja.
"Raka, ke ruangan saya. Sekarang."
Raka mengambil amplop itu dan berjalan masuk.
Ruang Pak Arif sempit tetapi dibuat seolah penting. Ada papan tulis berisi timeline palsu, grafik target, dan slogan perusahaan yang menempel miring: Work Hard, Grow Together.
Raka hampir tertawa.
Dulu, ia bekerja keras.
Yang tumbuh hanya rekening orang lain.
Pak Arif duduk, menunjuk kursi tanpa mempersilakan. "Saya dengar kamu mau resign."
"Benar, Pak."
"Kamu sadar posisimu apa? Project ini bergantung pada kamu."
Raka meletakkan surat di meja. "Berarti struktur project-nya bermasalah."
Wajah Pak Arif mengeras. "Jangan sok pintar. Kamu programmer, bukan konsultan manajemen."
"Hari ini saya karyawan yang mengajukan pengunduran diri sesuai kontrak."
"Kontrak juga bicara soal tanggung jawab."
"Saya penuhi masa pemberitahuan sesuai aturan perusahaan. Dokumen serah terima akan saya buat rapi."
Pak Arif mengambil surat itu, membaca sekilas, lalu melemparkannya kembali ke meja.
"Kamu mau naik gaji? Bilang saja. Jangan main drama."
"Tidak."
"Berapa? Dua puluh persen?"
"Tidak perlu."
"Tiga puluh?"
Raka diam.
Mata Pemimpin aktif ketika ia menatap Pak Arif.
[Arif Prasetyo]
[Potensi manajerial: 52]
[Kecenderungan: menekan bawahan, menghindari tanggung jawab ke atas]
[Risiko: akan menyalahkan pihak terlemah saat proyek gagal]
Tidak mengejutkan.
Yang mengejutkan hanyalah betapa lama dulu Raka menerima orang seperti ini sebagai penentu harga dirinya.
"Pak," ucap Raka pelan, "saya tidak sedang menawar."
Pak Arif mencondongkan tubuh. "Kamu pikir di luar sana gampang cari kerja? CV kamu biasa saja. Umur juga bukan fresh graduate. Jangan karena emosi rumah tangga kamu bawa-bawa ke kantor."
Udara di ruangan itu seperti berhenti.
Raka mengangkat pandangan.
"Masalah rumah tangga saya bukan bahan evaluasi kerja."
Pak Arif sadar ia salah ucap, tetapi gengsinya lebih cepat daripada akalnya.
"Saya cuma bilang, kamu harus realistis."
"Saya realistis. Karena itu saya pergi."
Raka berdiri.
"Dokumentasi modul akan saya kirim hari ini. Akses repository bisa dicabut setelah masa transisi. Kalau perusahaan butuh konsultasi setelah itu, tarif saya Rp 5 juta per jam, minimal sepuluh jam."
Pak Arif tertawa pendek. "Kamu gila?"
"Tidak. Saya baru sadar harga waktu saya."
Ia keluar sebelum Pak Arif menemukan kalimat berikutnya.
Di area kerja, semua orang berpura-pura melihat layar. Raka tahu mereka mendengar semuanya.
Denny berdiri setengah ragu. "Rak..."
"Jangan lembur tanpa surat tugas tertulis," kata Raka. "Dan simpan semua chat kerja."
Denny menelan ludah. "Lu berubah banget."
"Aku baru berhenti jadi gratis."
Kalimat itu membuat beberapa orang menunduk, seolah baru saja melihat cermin yang terlalu jujur.
Raka mengirim file dokumentasi, membersihkan laci, menyerahkan kartu akses ke HR, lalu keluar dari gedung sebelum jam makan siang.
Di depan lobi, udara Surabaya terasa panas dan nyata.
Ia baru berjalan ke parkiran ketika suara perempuan memanggil dari sisi jalan.
"Mas Raka?"
Raka berhenti.
Seorang perempuan turun dari sedan putih dengan blazer krem, rambut hitam sebahu, dan langkah yang tenang. Tidak ada perhiasan berlebihan, tetapi cara petugas parkir segera membukakan jalan untuknya cukup menjelaskan kelasnya.
Sari Kusuma Wijaya.
Dulu, ia senior sekaligus atasan Raka di perusahaan pertama. Orang yang pernah memarahinya karena kode berantakan, lalu diam-diam mengirim template dokumentasi agar ia tidak dimaki direktur.
Setelah ia pindah kerja dan menikah dengan Ratna, hubungan itu putus pelan-pelan.
"Mbak Sari," kata Raka.
Sari mengamati wajahnya, lalu amplop kosong di tangan kirinya. "Kamu baru keluar dari sana dengan wajah orang yang baru membakar jembatan."
"Bukan membakar. Menutup jalan tol yang rugi."
Sari tertawa kecil. "Jawabanmu makin mahal."
Saat Raka menatapnya, panel tipis muncul.
[Sari Kusuma Wijaya]
[Potensi strategi bisnis: 91]
[Eksekusi: kuat]
[Kecenderungan: memegang janji, dominan dalam negosiasi, tidak suka orang lemah yang banyak alasan]
[Risiko: standar tinggi; akan meninggalkan mitra yang tidak bisa menjaga komitmen]
[Catatan: kepercayaan harus dibangun melalui keputusan nyata.]
Raka merasakan matanya sedikit hangat.
Sembilan puluh satu.
Ia belum pernah melihat angka setinggi itu.
Tetapi catatan terakhir justru membuatnya lebih waspada. Sistem tidak mengatakan Sari pasti berpihak padanya. Sistem hanya menunjukkan bahwa jika ia ingin berjalan bersama orang seperti ini, ia harus layak berdiri sejajar.
"Kopi?" tanya Sari.
"Aku baru saja bebas. Sepertinya kopi cocok untuk merayakan."
Mereka duduk di kafe dekat gedung, tempat para karyawan biasa mengeluh tentang bos dengan suara pelan. Sari memesan espresso, Raka memesan kopi hitam.
"Jadi," Sari membuka pembicaraan, "kenapa resign?"
"Karena aku sudah selesai dibayar murah untuk menyelamatkan kesalahan manajemen."
Alis Sari naik. "Itu jawaban yang biasanya keluar setelah orang punya tabungan besar atau sponsor kuat."
"Anggap saja aku baru belajar mengatur ulang hidup."
"Ratna tahu?"
Nama itu jatuh di meja seperti sendok besi.
"Dia tahu aku berubah. Belum tahu seberapa jauh."
Sari tidak mengejar. Itu salah satu hal yang dulu membuat Raka menghormatinya. Ia tajam, tetapi tidak murahan.
"Kamu mau bikin apa setelah ini?" tanya Sari.
"Bisnis sendiri. Belum semuanya aku buka. Tapi aku butuh orang-orang yang kuat di strategi, operasional, hukum, dan keamanan."
"Kedengarannya bukan bisnis kecil."
"Aku tidak berencana hidup kecil lagi."
Sari menatapnya lebih lama. Bukan tatapan romantis. Tatapan seorang pengusaha yang mendengar peluang dan risiko dalam satu kalimat.
"Mas Raka, kamu dulu pintar, tapi sering minta maaf untuk hal yang bukan salahmu. Hari ini kamu berbeda."
"Lebih buruk?"
"Lebih berbahaya."
Raka tersenyum tipis. "Itu pujian?"
"Tergantung kamu pakai untuk apa."
Percakapan mereka berlanjut hampir satu jam. Sari bercerita singkat tentang perusahaannya: konsultan bisnis yang kini menangani beberapa klien properti dan ritel di Surabaya. Tidak terlalu besar, tetapi tumbuh cepat. Ia tidak menawarkan bantuan kosong. Ia hanya memberi satu kartu nama.
"Kalau rencanamu sudah punya angka, hubungi aku. Aku tidak tertarik mimpi tanpa cash flow."
Raka menerima kartu itu dengan dua jari. "Aku juga tidak."
Sari berdiri lebih dulu. "Dan satu lagi."
"Apa?"
"Jangan datang kepadaku hanya karena kamu butuh orang pintar. Datanglah kalau kamu siap dihajar pertanyaan."
"Aku akan bawa data."
Sari tersenyum. "Bagus. Aku suka laki-laki yang belajar cepat."
Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Raka melihat kartu nama di tangannya.
Sari Kusuma Wijaya.
Founder, Wijaya Strategic Advisory.
Untuk pertama kalinya sejak lahir kembali, Raka merasa jalannya mulai melebar dari balas dendam. Ia sedang membangun sesuatu. Dendam memberi api, sementara perusahaan membutuhkan orang, struktur, dan kepercayaan yang diuji.
Malamnya, ia pulang ke apartemen.
Koridor sepi.
Lampu ruang tengah mati.
Ratna tidak ada di rumah.
Raka melepas sepatu, menyalakan laptop, lalu membuka dashboard kamera. Ia hanya bermaksud memastikan sistem berjalan.
Ada satu rekaman baru dari siang tadi.
Ruang tengah.
Ratna berdiri dekat jendela, ponsel menempel di telinga. Suaranya tidak terekam, tetapi gerak bibirnya jelas. Kamera tanpa audio tidak menangkap kata-kata, namun aplikasi membuat thumbnail cukup tajam saat ia memperbesar gambar.
Raka melihat senyum Ratna.
Senyum yang tidak pernah ia berikan kepadanya.
Lalu Ratna menunduk, mengetik sesuatu, dan layar ponselnya sesaat menghadap kamera.
Nama kontak itu terbaca.
Mas Kevin.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....