Aluna adalah seorang gadis cantik dan seorang Hacker yang sangat hebat, namun ia menutupi kehebatannya itu untuk membalas dendam kepada seseorang dimasa lalunya, sampai ia bertemu dengan CEO menyebalkan yang membuat harinya berwarna, mampukah Aluna membalaskan dendam masa lalu yang telah menghancurkan hidupnya, dan juga mampukah Aluna menerima cinta pria menyebalkan yang terus mengusik harinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geregetan
Alex membuka ruko hendak mengeluarkan mobilnya, matanya mengernyit melihat sebuah mobil terparkir didepan ruko dan menghampirinya, dan melihat Juna yang tertidur didalam mobil dengan kaca mobil yang terbuka.
“Bangun! Gelandangan dilarang tidur disini” teriak Alex yang membuat Juna tergeragap kaget langsung terduduk, dan menatap Alex yang berdiri disamping mobilnya, Juna langsung bergegas turun.
“Luna mana?” Juna langsung bertanya.
“Untuk apa kau mencari Luna, ia tidak ada sudah pergi jauh.”
“Kau bohong, ayolah semalam itu hanya salah paham aku tidak ada hubungan apa-apa dengan sekretaris ku.” sentak Juna memberi informasi.
“Gak usah nyolot deh lo, kau pikir mentang-mentang lo kaya lo bisa seenak jidat lo mempermainkan hati adek gue, asal lo tahu ya lo itu tidak ada apa-apanya dibanding Luna kalau ia mau habis perusahaan lo sudah, dan kalau hanya uang ia tak butuh uang lo, ia sudah lebih kaya dari lo camkan itu, pergi dari sini, menyakiti mata saja.” hardik Alex kesal membuat Juna meradang mendengar ucapan alex yang pedas laksana bon cabe level seratus.
“Siapa yang mempermainkannya, aku bilang aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Nindy, ia hanya sekretaris ku!” bentak Juna balik namun Alex hanya tersenyum miring.
“Terserah lo, pergi sana.”
“Tidak mau aku mau bertemu dengan Luna.” ucap Juna langsung masuk kedalam ruko membuat Alex kelabakan mengejar dan sialnya pas Luna naik keatas melihat Alex dan Juna saling tarik.
“Hentikan! Kalian apa an sih kayak anak kecil!” teriak Luna yang langsung membuat mereka terdiam.
“Sayang.. aku menelfon sejak semalam, aku mencari mu kesana kemari, jangan salah paham sayang, aku beneran tidak ada hubungan apa-apa sama Nindy ia hanya sekertaris kantor yang menemaniku dalam acara resmi kalau Bara tidak ada.” Juna langsung menjelaskan panjang kali lebar, Luna hanya melihat Juna dengan tatapan dingin membuat hati Juna langsung menciut.
“Sudah Lun tinggalkan saja biar aku yang urus.” sela Alex.
“Lo pulang saja Lex kasian ibu menunggu.”
“Lun, kamu mau memaafkan laki-laki tak tahu diri ini.”
“Siapa yang kau bilang tak tahu diri, jangan sembarangan ya, kalau bukan kau saudara Luna sudah ku pukul habis mulutmu yang tanpa filter itu.” oceh Juna tak terima membuat Alex hanya mendengus pelan.
“Lun..” Alex mencoba nego.
“Pergilah, ini urusanku.” Alex terdiam membenarkan apa yang dikatakan Luna tak baik ia ikut campur terlalu jauh, Alex mengangguk dan masuk kedalam mobilnya tak lama mobil itu sudah tak terlihat, Luna masuk kedalam ruangan bawah tanah diikuti Juna yang tersenyum senang.
“Aku ke kamar mandi dulu, sudah tak tahan.” Juna langsung ngacir ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban Luna, sedang kan Luna membuat teh hangat dan menaruhnya diatas meja sementara ia kembali ke kursi kerjanya menatap layar datar itu dengan serius.
“Sayang.. ini teh untukku, apa gak ada makanan, aku lapar sekali dari tadi malam belum makan.” rengek Juna tak tahu malu membuat Luna rasanya ingin sekali menampol wajah Juna.
“Ada dimeja makan, makanlah.”jawab Luna masih dengan nada datar tak berpaling sama sekali, membuat Juna cemberut namun langsung menuju meja makan, yang penting menurut ia adalah mengisi perut dulu baru memberi penjelasan untuk kekasih tercinta, tak lama Juna sudah selesai dan menghampiri Luna yang masih fokus dengan pekerjaannya.
“Sayang, berhenti dulu, aku mau ngomong.” pinta Juna membuat Luna menghentikan kedua jarinya diatas keyboard laptopnya.
“Katakanlah, gue mendengarkan.” jawab Luna masih tidak berpaling membuat Juna gemes dan frustasi langsung mengangkat tubuh Luna membawanya duduk di sofa tanpa perduli dengan teriakan Luna yang memekakkan telinga.
“Lepaskan Juna!” teriak Luna yang sudah duduk dipangkuan Juna, Juna menggeleng pelan dan semakin menekan pinggang Luna agar gadis itu tidak kabur.
“Dengarkan dulu penjelasanku.” Luna mendengus pelan akhirnya mengalah menatap wajah Juna yang sudah terlihat fresh tidak seperti tadi yang acak amburadul, Luna juga baru sadar kalau Juna sekarang hanya mengunakan kaos lengan pendek, memperlihatkan otot tangannya yang kekar.
“Apa kamu masih marah, apa yang aku katakan tadi itu benar, aku benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Nindy, ini semua karna Bara, gara-gara ia yang menyuruhku hadir di acara itu bersama Nindy karna ia tidak bisa menemani karna ia lagi keluar kota bersama papa, maaf sayang kalau membuatmu salah paham, maaf ya, jangan marah lagi, aku tidak bisa tenang kalau kamu marah denganku.” bujuk juna sembari menatap Luna lekat.
“Aku memaafkan mu, tapi tidak untuk seminggu lo menghilang tanpa kabar.’ jawab luna penuh penekanan, dan dengan panggilan yang semrawut membuat Juna melebarkan matanya.
“Sayang.. itu..”
“Tuk!
“Aaauw.. sakit sayang.”
“Tuk!” kembali Luna menyentil kening Juna membuat Juna kembali meringis.
“Aku bisa jelasin sayang, maafkan kekasih kurang ajar mu ini, aku sangat sibuk sayang bolak balik luar kota bersama Bara.”
“Tidak ada alasan, memang lo tak punya ponsel.”
“Itulah keburukan ku sayang, aku memang sangat susah berkomunikasi, kemaren aku dihukum sama mama gara-gara aku jarang menelponnya tolong jangan hukum aku sayang, cukup mama saja yang sudah menghukum ku, hingga telinga ku mau putus rasanya, maafkan aku sayang aku akan rubah kebiasaan ku itu mulai saat ini, aku akan menelepon mu setiap hari, tapi tolong maafkan aku.” pinta Juna kembali membujuk Luna yang kembali marah karna ia lupa tak menghubunginya apa lagi setelah ia mengatakan cinta, betapa laknatnya ia hingga melupakan semua itu. Luna masih terdiam tak merespon sama sekali ingin memberikan hukuman yang setimpal karna dengan seenak jidat Juna datang dan pergi dari kehidupannya.
“Sayang jangan diam saja.” Juna memeluk tubuh Luna erat Luna dapat merasakan degup Jantung Juna yang berdegup kencang.
“Jangan marah sayang, maafkan aku, harus dengan apa aku meyakinkan kamu, apa perlu aku telfon mama untuk datang kesini, agar kau percaya kalau aku benar-benar serius denganmu?” tanya Juna serius membuat Luna membulatkan kedua matanya dan langsung mengurai pelukan itu dan menatap juna lekat.
“Kamu sudah bilang kepada orang tuamu?” tanya Luna tergagap Juna mengangguk dengan yakin.
“Tuk!
“Aauww... sayang sakit apa salah ku, mama sudah sangat ingin mempunyai cucu.”
“Tuk! Luna kembali menyentil kening Juna sangat gemas bagaimana pria itu dengan enteng mengatakan tentangnya, apa lagi cucu, astaga Luna bahkan tidak berfikir untuk segera menikah dengan laki-laki dihadapannya itu.
“Sayang.. kau menyakitiku.”
“Jangan cengeng, kenapa kau begitu seenaknya, bahkan aku saja belum memikirkan tentang pernikahan, masih banyak yang ingin aku kerjakan.”
“Kan bisa walau sudah menikah sayang, aku tidak akan membatasinya.”
“Tuan Juna yang terhormat kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku, kau tak tahu apa yang sudah aku lalui, aku tidak mau kau menyesal setelah menikah kalau kau tahu betapa bejat keluargaku.” Luna mengucapkannya penuh emosi.
“Sayang, maaf.”
“Kita baru mengenal tuan Juna, tak seharusnya kau mengambil keputusan terlalu jauh.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan, katakan mama sudah tahu kalau kita pacaran, dan ingin segera aku menikahi mu, apa salah keinginan mereka, sayang aku benar-benar mencintaimu, kalau ada yang tak kutahu tentang keluargamu bukankah kau harus memberitahuku, kau harus memberi tahuku tentang hidupmu, agar aku bisa membela dan melindungi mu kalau ada yang akan menyakitimu sayang, aku tidak akan mencari tahu tentangmu, tapi tolong jujurlah padaku.” Luna menghela nafas panjang ia belum siap, inilah kenapa ia malas selama ini untuk berpacaran karna bakalan ribet begini terlebih orang itu akan serius dengannya sebelum semua yang ia kerjakan selesai, tapi bagaimana ia bisa mengendalikan rasa cinta yang tiba-tiba menyapa hatinya, kalau selama ini ia bisa menghindar karna memang belum ada yang bisa menggoyahkan hatinya, namun sekarang berbeda karna Juna sudah mampu membuat getaran indah itu dalam hatinya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana, sebaiknya kita menjaga jarak.”
“Aku tidak mau, emangnya aku mobil yang berada dibelakang angkot harus jaga jarak, kalau bisa kita kayak rel kereta api selalu bergandengan.” celetuk Juna membuat Luna tertawa mendengarnya dan Juna sangat suka melihat gadisnya tertawa begitu sangat cantik.
“Cantik.” seloroh Juna sembari mengelus lembut pipi Luna, membuat Luna seketika terdiam dan memandang Juna yang sudah menatapnya penuh cinta.
“Juna, jangan macam-macam.” ucap Luna terbata saat Juna sudah mendekatkan wajahnya.
“Cuma satu macam saja sayang.” jawab Juna yang sudah langsung menyambar bibir Luna dengan bibirnya memagut nya dengan lembut membuat Luna tak bisa lagi menolak sentuhan lembut itu di bibirnya dan membalasnya meremas rambut belakang Juna dengan lembut karna pria itu semakin menciumnya penuh hasrat.