NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4.Bayangan misterius yang tinggal.

Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya di balik perbatasan hutan lebat, menyisakan semburat ungu kemerahan yang perlahan tertelan kegelapan pekat. Langit malam mulai terbentang luas di atas rumah besar itu, dihiasi bintang-bintang yang berkelap-kelip samar di antara gumpalan awan tipis, sementara cahaya bulan purnama baru mulai menyelinap lembut menembus celah dedaunan pohon rindang, menciptakan bayangan panjang yang meliuk-liuk di permukaan tanah halaman. Keheningan malam menyelimuti seluruh bangunan itu, hanya sesekali terdengar suara jangkrik yang mulai bersahutan dari kejauhan, menyatu dengan desiran angin malam yang berhembus pelan menyentuh dinding-dinding rumah tua itu.

Di dalam kamar yang kini menjadi miliknya, Raisa tak sadar sepenuhnya telah terlelap pulas. Rasa lelah akibat perjalanan panjang, ketegangan batin yang mendera sepanjang hari, serta kenyamanan luar biasa yang dirasakannya dari ranjang empuk itu perlahan membuat kelopak matanya tak mampu lagi menahan rasa kantuk. Ia memejamkan mata perlahan, napasnya teratur dan damai, seolah segala beban berat yang memikul pundaknya selama bertahun-tahun sejenak lenyap begitu saja. Wajahnya yang pucat kini tampak lebih tenang, sepotong senyum tipis mengembang di sudut bibirnya saat ia terlelap, seakan mimpi indah mulai menyambutnya di alam bawah sadar. Ia tak tahu sama sekali bahwa di luar sana, di lorong-lorong rumah yang sunyi itu, ada sosok-sosok yang sejak tadi mengawasi setiap gerak-geriknya dengan penuh perhatian.

Sementara itu di lantai dua, suasana terasa jauh lebih sepi dan remang-remang. Cahaya bulan yang masuk lewat celah-celah jendela hanya mampu menerangi sebagian kecil lorong panjang itu, menyisakan sebagian besar ruangan dalam kegelapan yang pekat dan misterius. Lantai kayu yang dilapisi karpet tebal menyerap segala suara langkah kaki, namun samar-samar terdengar suara langkah yang ringan namun mantap mendekat, bergerak dengan kehati-hatian luar biasa seolah tak ingin mengganggu ketenangan siapa pun yang sedang beristirahat. Sosok itu berjalan menyusuri lorong yang gelap menuju ujung paling jauh di lantai dua, di mana terdapat sebuah pintu besar yang ukirannya begitu rumit dan indah—pola ukiran itu persis sama dengan yang ada pada kunci unik yang dibawa Raisa, seolah keduanya diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain.

Pintu itu terbuka perlahan tanpa disentuh tangan, menyisakan celah yang cukup bagi sosok misterius itu untuk melangkah masuk. Di dalam ruangan yang remang itu, berdiri sesosok pria bertubuh tinggi besar dan gagah, memancarkan wibawa yang begitu kuat hingga udara di sekitarnya terasa menekan. Ia berdiri membelakangi pintu, menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke arah hutan, punggungnya tegak lurus seolah tak pernah mengenal rasa lelah sedikitpun.

“Tuan,” ucap sosok yang baru masuk itu dengan suara rendah namun penuh rasa hormat dan ketaatan mutlak. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani mendongak sebelum diperintahkan. “Nona Raisa kini sedang tertidur pulas di kamarnya. Ia tampak sangat lelah namun juga tenang, seolah akhirnya ia menemukan tempat yang tepat untuknya.”

Pria itu bernama Jatmika—seorang siluman ular yang telah mengabdi setia seperti kakek Raisa yang juga pengikut setia selama berabad-abad, dan setelah Raden pergi hanya Jatmika yang sebagai pelayan setia Arya tapi hanya bisa untuk urusan antar makhluk gaib.

Sedangkan untuk urusan antar manusia, Arya mengandalkan Raden sebagai perantara nya.

Arya tetap berdiri diam sejenak, tak langsung menjawab. Hanya suara napasnya yang teratur terdengar di tengah keheningan ruangan itu, hingga akhirnya suara berat, maskulin, dan berwibawa meluncur dari bibirnya yang tampak tegas namun menggoda.

“Panggil Sekar. Perintahkan ia untuk melayani Nona Raisa mulai sekarang sebagai pengganti kakek dan neneknya,dan jangan biarkan siapapun melangkah di lantai ini.”

“Baik, Tuan,” jawab Jatmika singkat namun tegas, lalu menundukkan kepalanya sekali lagi sebagai tanda hormat sebelum berbalik badan.

Begitu ia melangkah keluar dari ruangan itu, wujud manusianya perlahan berubah dan menyatu dengan kegelapan. Sesaat kemudian, seekor ular putih berukuran besar dengan sisik yang berkilau halus bagaikan mutiara meluncur keluar dari balik pintu kamar Arya, bergerak dengan lincah namun senyap menyusuri lorong gelap menuju ke arah bagian lain rumah itu, menghilang seketika dalam sekejap mata.

Tinggallah Arya sendirian di ruangan itu. Ia tetap berdiri mematung di dekat jendela, tubuhnya seolah menyatu dengan kegelapan yang menyelimutinya, hanya bagian bawah wajahnya yang tampak samar tertimpa cahaya bulan yang masuk. Bibirnya yang tampak seksi perlahan bergerak, menyebutkan satu nama dengan nada yang sulit diartikan—campuran antara rasa rindu, harap, dan tekad yang membara.

“Raisa...” bisiknya pelan, namanya bergema lembut di udara ruangan yang luas itu.Sambil Arya membayangkan tatapan Raisa yang menganggu ketenangan nya selama ini.

Pikiran Arya pun melayang mundur, membawa dirinya kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu—saat untuk pertama kalinya setelah setahun penuh kepergian Raden Margono, suara telepon rumah di ruang tengah itu berdering nyaring memecah keheningan yang selama ini menyelimuti rumah besar itu.

Kilas balik: Beberapa hari yang lalu...

Sore itu sama seperti hari-hari lainnya sejak kepergian Raden Margono. Rumah besar itu sunyi senyap, tak ada lagi suara tawa pelayan, tak ada lagi aktivitas karyawan yang sibuk melayani keperluan keluarga. Semua orang yang dulu bekerja di sana memilih pergi setelah tuannya tiada, tak sanggup menahan rasa takut menghadapi suasana yang makin angker dan tak biasa di rumah itu.

Arya sedang duduk diam di kursi kebesarannya di ruang kerja utama, menikmati ketenangan sore yang perlahan berganti senja, ketika tiba-tiba dentingan telepon rumah tua itu terdengar bergetar nyaring, menciptakan gema yang panjang di seisi ruangan. Suara itu begitu asing setelah sekian lama tak pernah terdengar lagi. Arya yang tadinya tenang seketika menegakkan tubuhnya, mendengarkan dengan saksama. Setelah beberapa kali berdering, pesan suara otomatis mulai bergema dari alat itu, suara gadis muda terdengar sedikit gugup namun jelas terdengar:

“Maaf mengganggu... jika anda memiliki hubungan dengan Restu dan Rahayu, saya adalah anak mereka. Jika ada, tolong segera hubungi saya kembali karena saya sangat membutuhkan bantuan. Nama saya Raisa Margono.”

Sambungan suara itu pun terputus seketika.

Nama itu membuat jantung Arya yang selama ini tak pernah berdegup seperti manusia biasa seakan berpacu lebih cepat. Ia langsung memanggil Jatmika yang segera muncul tak jauh dari sana. “Hubungi Munir. Sekarang juga,” perintahnya singkat namun tegas, tak menyisakan ruang untuk penundaan sedikitpun.

Tak butuh waktu lama bagi pengacara tua itu untuk datang. Munir sudah lama bekerja sama dengan keluarga Raden Margono, ia tahu betul tentang keberadaan Arya dan Jatmika, serta aturan-aturan yang berlaku di rumah itu. Sesampainya di sana, seperti biasa Arya tak pernah menampakkan wujud utuhnya kepada orang luar; ia hanya berdiri membelakangi Munir di sudut ruangan yang agak gelap, namun kehadirannya yang berwibawa mampu membuat siapa pun yang hadir di sana merasa seakan ditekuk oleh beban yang tak terlihat.

“Munir,” ucap Arya dengan suara yang menancap tegas. “Bawa Raisa, cucu Raden Margono, ke sini. Serahkan surat warisan yang telah disiapkan Raden Margono sebelumnya kepadanya, serta berikan kunci rumah ini. Temukan dia segera, tanpa menunda sedetik pun.”

“Baik, Tuan Arya. Saya akan segera melaksanakannya,” jawab Munir hormat, lalu segera bergegas pergi. Berdasarkan rekaman suara dan nomor telepon yang tertinggal, Munir segera menghubungi Raisa, meminta alamat tempat tinggalnya, dan menyusun rencana pertemuan secepat mungkin.

Saat itu Raisa sedang dilanda kebingungan dan keputusasaan yang mendalam—beberapa hari lagi ia harus mengosongkan rumah kecilnya karena penggusuran, dan ia sama sekali tak tahu harus berpindah ke mana. Kedatangan Munir beserta berita tentang warisan itu bagaikan cahaya terang yang tiba-tiba menembus kegelapan pekat yang menyelimuti hidupnya. Awalnya ia sempat meragukan ucapan pengacara itu, mengira ini hanyalah salah paham atau mungkin ada orang yang mempermainkannya. Namun melihat keseriusan Munir, melihat surat-surat resmi yang lengkap, serta memikirkan nasibnya yang tak punya tempat tujuan, Raisa akhirnya memilih untuk percaya dan menyambut kesempatan itu dengan hati yang terbuka. Wajahnya yang tadinya murung perlahan berubah berseri, senyum tulus merekah di bibirnya untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia tak peduli seberapa jauh tempat itu dari kota, yang penting ia memiliki tempat berteduh yang layak, satu-satunya jejak keluarga yang masih tersisa baginya.

Dan kini, setelah semua perjalanan itu terlewati, Raisa akhirnya berada di sini, di rumah yang menjadi warisan kakeknya, sedang tidur nyenyak di atas ranjang yang empuk dan bersih tanpa mengetahui segala upaya yang telah dilakukan untuk mempertemukannya dengan tempat ini.

Kilas balik perlahan memudar, membawa Arya kembali ke ruangannya yang sunyi. Ia menatap ke arah kegelapan di luar jendela, seolah bisa menembus jarak hingga melihat sosok Raisa yang sedang tidur lelap di kamarnya. Sebuah senyum tipis yang jarang sekali terlihat kini mengembang di bibirnya, meski masih samar tertutup bayangan malam.

“Tidurlah dengan tenang, Raisa,” bisiknya pelan pada udara kosong. “Mulai hari ini, tak ada lagi yang boleh menyakitimu, tak ada lagi yang boleh membuatmu merasa sendirian. Aku Arya, dan aku akan menjagamu, sebagaimana aku telah berjanji kepada kakekmu.”

 ​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!