Dinda yang berawal mengetahui jika rumah tangganya selalu baik-baik saja, ternyata salah. Kehadiran orang ketiga membuatnya harus berpisah dengan suaminya, yang bernama Dimas.
Awalnya ia rapuh, namun ketika ucapan Dimas penuh dengan penghinaan terhadap Dinda, akhirnya ia bangkit untuk mencari kehidupannya sendiri.
Dimas yang menyesal dengan perbuatannya, perlahan mendekati kembali Dinda untuk meminta maaf. Namun, adanya kehadiran seorang pria yang selalu menjadi pelindung Dinda.
Siapakah dia? Saksikan terus ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Suryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19 Terlalu percaya diri
Dimas menunggu semua rekan bisnisnya meninggalkan ruangan tersebut, dan kini hanya tersisa mereka bertiga.
Kevin melangkah menghampiri Dimas yang masih terduduk di kursinya, sementara Dinda hanya membuntuti Kevin. Karena ia sudah tak mau lagi berhadapan dengan kesombongan Dimas.
"Apakah masih ada yang perlu di tanyakan kembali, Bapak Dimas Candra Adhinatha?" Tanya Kevin dengan tutur kata yang halus.
"Ku rasa masih ada. Dan itu menyangkut privasiku bersama Dinda". Jawabnya semakin angkuh.
Kevin hanya mengangguk sembari tersenyum, sementara Dinda hanya mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Memandangnya pun ia sudah tak sudi.
"Pak Kevin, apa saya boleh berbicara dengan Dinda? Ada hal yang ingin saya selesaikan". Ucap Dimas meminta izin.
"Silahkan, hanya saja saya tidak percaya terhadap pria sepertimu. Jadi maaf, jika pengawalku akan senantiasa menjaga Dinda". Jawab tegas Kevin.
Hanya dengan tatapan, Jack sang pengawal pun mengerti dan kemudian berdiri di belakang Dinda. Kevin melangkah keluar meninggalkan mereka.
'Sial! Bicara dengannya saja harus memakai pengawal, ternyata Dinda memang di perlakukan istimewa olehnya. Apa hubungan mereka?' Gumam Dimas yang secara tidak sengaja kagum dengan Dinda yang sekarang.
"Ada apa Pak Dimas? Saya masih banyak pekerjaan, jika Anda hanya ingin melamun di depan saya. Sebaiknya saya pergi". Ucap Dinda yang ingin hendak meninggalkannya, namun tangannya langsung di cengkram oleh Dimas.
"Maaf, bisa lepaskan tangan Anda? Atau saya akan membuat Anda menyesal". Ancam Jack terhadap Dimas. Sontak ia pun melepaskan tangan Dinda dengan cepat.
"Tunggu dulu Dinda, aku hanya ingin bertanya. Apa hubunganmu dengannya?" Tanya Dimas.
"Hubungan kami hanya sebatas pegawai dan atasan, jangan terlalu memikirkan hubungan saya dengan siapapun. Karena itu bukan urusan Anda". Jawab Dinda.
"Oh, iya.. Minggu depan aku akan menikah dengan Lidya. Apa kamu tidak cemburu atau sedikit keberatan? Jika iya, mungkin dengan senang hati aku akan membatalkan pernikahanku". Ucap Dimas yang membuat Dinda memicingkan matanya, nampak bingung dengan sikapnya.
"Lanjutkan saja, aku sungguh tidak tertarik dengan tawaran Anda. Cukup sekali saya terjebak dalam perangkap pria buas seperti Anda". Ketus Dinda.
"Jangan berpura-pura Dinda sayang, aku tahu kau masih berharap denganku 'kan?". Ucap Dimas dengan percaya diri.
"Maaf, apakah Anda lupa? Dulu saya pernah mengatakan, saya tidak tertarik. Dan saya rasa, sampai sekarang pun jawabannya masih sama. TIDAK TERTARIK". Tegas Dinda.
"Saya mohon dengan sangat, tolong jauhi kehidupan saya. Kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun, dan satu lagi. Jangan terlalu merasa percaya diri jika saya akan dengan mudahnya kembali luluh kepada Anda". Sambungnya kembali dengan berlalu begitu saja, tanpa menunggu jawaban Dimas.
"Dinda.. Tunggu.." Teriak Dimas. Ia hendak mengejar Dinda, namun pengawal Kevin dengan sigap mencegahnya.
"Silahkan Anda meninggalkan perusahaan ini sekarang, Bu Dinda sudah tidak mempunyai urusan lagi dengan Anda". Ucap Jack.
Dimas mendengus kesal, lalu pergi dengan perasaan yang berkecambuk.
'Aarrgghh.. Sial!' Gerutunya.
**
Setelah memasuki ruangannya, Dinda menghempaskan tubuhnya ke kursi kebangsaannya. Ia tak henti mengusap-ngusap wajahnya frustasi. Ia sampai menutup wajahnya agar tak mengingat wajah Dimas dalam otaknya.
"Iihh.. Percaya diri banget dia, siapa dia bisa-bisanya selalu menghantui hidupku? Aarrgghh.. Bertemu dengannya sangat menguras tenaga, terutama emosiku. Rasanya ingin ku cabik-cabik mulutnya.. Astagfirullah.." Gerutu Dinda.
"Lebih baik hidupku di ganggu oleh Pak Kevin, dari pada pria itu". Dengan tak sadar ia meracau tidak jelas.
"Oh, jadi kau suka saya ganggu? Baiklah, jika itu keinginanmu saya bersedia". Ucap Kevin membuat Dinda membelalakan mata, terkejut dengan kehadirannya yang secara tiba-tiba.
Ia kehabisan kata-kata dihadapan Kevin, wajahnya memerah menahan malu.
'Aahh.. kenapa aku tidak mengetahui kedatangannya? Aku malu.. Rasanya aku ingin pingsan, agar tak mengingat kejadian ini. Tubuh.. Melemahlah..' Lirih hatinya menjerit, saking menahan malu.
"Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Lain kali kau berbicara di depanku saja, agar aku mengetahuinya". Kekeh Kevin yang mengerjai Dinda. Ia sangat menyukai wajah Dinda yang terlihat malu seperti ini.
**
Suasana di kediaman Dimas sangatlah sepi, Heru yang biasa pergi bekerja di saat seperti ini. Sedangkan Utami tengah duduk di depan balkon rumahnya.
Meskipun beberapa hari lagi putranya akan melangsungkan pernikahan, di kediaman rumah orang tua Dimas tak terlihat aktivitas selayaknya akan melangsungkan pesta.
Tidak seperti pernikahan Dimas bersama Dinda dulu, mereka begitu antusias. Sebaliknya dengan sekarang, yang terlihat acuh. Seakan mereka tak menginginkan pernikahan tersebut.
Ketika Utami tengah menikmati angin yang meniup ke arahnya dengan begitu lembut, terdengar seorang pelayan yang mengetuk pintu kamarnya.
Setelah ia membukanya, ia begitu malas untuk mendengar pernyataan pelayan yang memberitahu Lidya datang ke rumahnya.
Utami pun terpaksa melangkah menemui Lidya.
"Ada apa kamu ke sini?" Tanya sinis Utami.
"Bu, aku membawa sedikit makanan untuk Ibu. Semoga Ibu suka dengan makanan yang aku bawa". Ucap Lidya yang terlihat anggun, namun keanggunannya tak berarti di mata Utami.
"Saya tidak kekurangan makanan di sini. Bawa lagi pulang makananmu, saya punya koki khusus yang handal". Ketus Utami, membuat wajah Lidya seketika memerah mendengar ucapannya.
"Ta-tapi, Bu.."
"Sudahlah, saya belum bisa menerimamu menjadi menantuku. Namun, pasti ada niat yang tidak baik menyelimuti hatimu. Batin seorang Ibu bisa menebak, meskipun belum terlihat". Ucapnya yang menyela pembicaraan Lidya.
"Bu, jika saja aku tidak mengandung anak Mas Dimas, aku tidak akan memperjuangkan pernikahan ini". Ucap Lidya yang memperlihatkan wajah sedihnya.
"Setelah usia kandunganmu sudah agak besar, saya ingin melakukan tes DNA. Karena saya juga ingin bukti bahwa anak itu adalah anak Dimas". Ucap Utami yang masih dengan wajah masamnya.
"Tapi ini benar anak Mas Dimas, Bu. Saya tidak pernah berbohong terhadao siapa pun". Jawab Lidya, dengan air mata yang menetes.
"Sudahlah, saya tak mau penjelasan apapun. Yang saya inginkan adalah bukti bahwa itu memang anak Dimas, baru saya akan menganggapmu seorang menantu". Jelasnya.
Utami memang belum sepenuhnya percaya akan kehamilan Lidya. Karena beberapa minggu yang lalu, Dimas telah mengungkapkan penyesalannya berpisah dengan Dinda terhadap Utami.
Saat ia hendak memutuskan hubungan dengan Lidya, tiba-tiba Lidya menangis mengaku bahwa ia tengah mengandung anak Dimas.
Meskipun berat hati, Dimas pun bersedia bertanggung jawab karena memang ia mengakui sering melakukannya dengan Lidya.
"Baik Bu, aku akan melakukannya nanti. Namun aku menginginkan Mas Dimas untuk tidak mengingkari janjinya untuk bertanggung jawab". Ucap Lidya.
Utami tidak mengucapkan kata apapun setelah itu, sehingga Lidya pergi meninggalkan rumahnya setelah berpamitan.
"Saya pamit pulang, Bu". Pamitnya dengan nada lesu.
'Wanita tua itu tetap saja teguh pada pendiriannya, aku harus mencari cara untuk meluluhkan hatinya'. Gumam hatinya sembari melangkahkan kakinya pergi dari rumah orang tua Dimas.
**
good dinda