NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Baru dan Hujan Surabaya

Dua minggu berlalu dengan kecepatan yang membingungkan, seolah waktu di Semarang sengaja dipercepat untuk memaksa Meylani bergerak maju tanpa memberinya kesempatan untuk ragu-ragu. Proses administrasi mutasi, serah terima jabatan yang rumit, hingga pencarian tempat tinggal di Surabaya menyita seluruh energi mental dan fisiknya. Ia hampir tidak memiliki waktu luang untuk berpikir, apalagi untuk meratapi kesedihan yang masih tersisa di sudut-sudut hatinya. Dan ironisnya, justru kesibukan itulah yang menjadi obat bius paling efektif bagi luka yang belum sepenuhnya kering. Setiap jam yang terisi rapat adalah satu jam di mana ia tidak perlu bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Andrian, atau apakah pria itu memikirkan dirinya sama sekali.

Hari ini adalah hari keberangkatan. Hari di mana lembaran lama benar-benar ditutup, dan lembaran baru yang masih putih bersih siap untuk ditulisi.

Pagi itu, langit Semarang tampak cerah tanpa awan, sebuah kontras yang tajam dengan suasana hati Meylani yang campur aduk antara harap-harap cemas dan sedih. Di depan rumah orang tuanya di kawasan Banyumanik, sebuah mobil box sewaan sudah terparkir rapi, muatannya penuh dengan barang-barang pribadi Meylani: tumpukan buku desain dan novel, pakaian-pakaian kerja yang telah disetrika rapi, laptop beserta perlengkapannya, serta beberapa pot tanaman hias kecil seperti kaktus dan lidah mertua yang selalu ia rawat dengan telaten sejak masa kuliah. Barang-barang itu bukan sekadar benda mati; mereka adalah saksi bisu perjalanan hidupnya, potongan-potongan identitas yang ia bawa serta menuju kota baru.

Ibunya, wanita paruh baya dengan keriput halus di sudut mata yang menceritakan kisah kasih sayang tak berujung, tampak sibuk memasukkan berbagai bungkusan makanan ke dalam tas jinjing besar milik Meylani. "Ini sambal goreng ati buatan Ibu, sudah dikemas vakum jadi awet. Ini rendang daging, jangan lupa dipanaskan dulu sebelum dimakan. Oh ya, ini kue kering favoritmu, buat teman ngopi kalau lagi lembur di sana," ujar ibunya sambil terus bekerja, suaranya terdengar berusaha ceria namun ada getaran halus yang menandakan penahan tangis.

Meylani menonton ibunya dengan perasaan haru yang mendalam. Ia tahu, di balik kesibuan menyiapkan bekal makanan itu, tersimpan kekhawatiran seorang ibu yang harus melepaskan anak perempuannya untuk hidup mandiri di kota orang. "Bu, nanti Meylani masak sendiri kok. Jangan repot-repot banget," kata Meylani lembut, mencoba meringankan beban ibunya.

"Ah, kamu itu kalau ditinggalin pasti malas masak. Nanti makan mie instan terus, sakit lambung kamu kambuh lagi. Sudah, terima saja," balas ibunya tegas, meski matanya berkaca-kaca saat menatap putrinya.

Ayahnya berdiri di samping mobil box, tangan dimasukkan ke saku celana kainnya, posturnya tegak namun wajahnya tampak lebih tua dari biasanya. Ada keheningan berat di antara mereka, jenis keheningan yang hanya bisa dipahami oleh ayah dan anak yang saling mencintai namun sulit mengungkapkannya dengan kata-kata. "Jaga kesehatan, Nak," akhirnya ayahnya berbicara, suaranya berat dan berwibawa. "Surabaya itu kota besar, ritmenya cepat, orang-orangnya dikenal keras dan to the point. Tapi di balik itu, mereka punya hati yang baik dan solidaritas tinggi. Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Telepon Bapak. Ingat, rumah ini selalu terbuka untukmu."

Meylani merasa dadanya sesak. Ia melangkah mendekati ayahnya, memeluk pria tua itu erat-erat, menghirup aroma khas rokok kretek dan minyak angin yang selalu melekat pada tubuh ayahnya. Aroma yang akan sangat ia rindukan selama berada di perantauan. "Terima kasih, Pak. Meylani janji akan baik-baik saja. Meylani janji akan membuat kalian bangga dengan prestasi Meylani di sana," bisik Meylani, suaranya tercekat oleh emosi yang membuncah.

Tak lama kemudian, Rina, sahabat sekaligus rekan kerja terdekatnya, datang dengan wajah sembab. Matanya merah karena menangis sejak pagi. "Aku bakal kangen banget sama kamu, Mey! Siapa lagi temen curhatku soal klien nyebelin? Siapa lagi temen makan siang yang bisa diajak gosipin drama kantor?" keluh Rina sambil memeluk Meylani erat, seolah takut jika dilepaskan, Meylani akan menghilang selamanya.

"Kita masih bisa video call setiap malam, Rin. Dan aku bakal sering pulang ke Semarang kalau ada proyek atau liburan panjang. Jarak cuma tiga jam pakai kereta cepat sekarang, kan?" jawab Meylani sambil tersenyum, meski ia tahu bahwa frekuensi pertemuan mereka tidak akan pernah sama seperti dulu. Meninggalkan sahabat terbaiknya terasa seperti kehilangan sebagian dari sistem pendukung emosionalnya, namun Meylani sadar bahwa ini adalah harga yang harus dibayar untuk pertumbuhan karir dan kedewasaan pribadinya.

Setelah serangkaian pelukan perpisahan yang haru dan penuh air mata, Meylani akhirnya masuk ke kursi penumpang depan mobil sewaan yang akan dikemudikan oleh seorang supir profesional hingga ke pintu apartemennya di Surabaya. Ia menurunkan kaca jendela, melambaikan tangan terakhir kali pada keluarganya yang berdiri di pagar rumah. Ibunya melambai dengan tangan yang gemetar, ayahnya mengangguk tegas, dan Rina masih terlihat menghapus air matanya. Saat mobil mulai bergerak menjauh, meninggalkan kompleks perumahan yang telah menjadi saksi tumbuh kembangnya, air mata Meylani akhirnya lolos juga dari kendali. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia memilih untuk menatap jalan lurus di depannya, jalan tol yang lebar dan mulus, yang akan membawanya keluar dari zona nyaman yang telah memanjakannya selama dua puluh enam tahun.

Perjalanan menuju Surabaya memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam, tergantung kondisi lalu lintas di ruas tol Trans-Jawa. Meylani menghabiskan sebagian besar waktu perjalanan dengan mendengarkan podcast tentang kepemimpinan strategis dan manajemen krisis, mencoba mengalihkan pikirannya dari kesedihan perpisahan dan kecemasan akan tantangan baru. Pemandangan hijau pedesaan Jawa Tengah dengan sawah-sawah yang membentang luas perlahan-lahan berganti menjadi pemandangan industri, pabrik-pabrik besar, dan perkotaan yang semakin padat saat mereka mendekati batas wilayah Jawa Timur. Perubahan lanskap itu seolah menjadi metafora visual dari perubahan hidup yang sedang ia alami: dari ketenangan dan keakraban, menuju dinamika dan kompetisi.

Sesampainya di Surabaya, hal pertama yang Meylani rasakan adalah perbedaan atmosfer yang mencolok. Udara di sini terasa lebih panas, lebih lembap, dan lebih berat di paru-paru dibandingkan dengan sejuknya udara Semarang yang dikelilingi bukit. Suara klakson kendaraan bermotor terdengar lebih agresif, lebih sering, dan lebih bernada mendesak. Jalanan tampak lebih macet, gedung-gedung pencakar langit menjulang lebih tinggi dan lebih rapat, menciptakan kesan kota yang tidak pernah tidur dan selalu bergerak cepat. Kota Pahlawan memang sesuai dengan namanya: penuh semangat, penuh perjuangan, dan tidak kenal ampun bagi mereka yang lambat.

Supir mengantarnya ke sebuah kompleks apartemen menengah di daerah Surabaya Barat, lokasinya strategis karena dekat dengan kawasan bisnis dan kantor pusat perusahaan cabang baru. Apartemen yang ia sewa berukuran 30 meter persegi, bertipe studio minimalis dengan fasilitas lengkap namun sederhana. Jendela besar di ruang utama menghadap langsung ke hiruk-pikuk jalan raya arteri utama, memberikan pemandangan kota yang dramatis namun juga bising. Tidak mewah, tidak megah, tapi bersih, fungsional, dan yang terpenting, milikinya sendiri.

Setelah supir membantu membawa semua kardus masuk ke dalam unit apartemen dan pergi, Meylani berdiri di tengah ruang tamunya yang masih kosong melompong. Hanya ada tumpukan kardus cokelat yang berserakan di lantai keramik putih. Keheningan di sini terasa berbeda dengan keheningan di kamarnya di Semarang. Di Semarang, keheningan itu diisi oleh kehadiran keluarga, oleh suara televisi dari ruang bawah, oleh aroma masakan ibu. Di sini, kesepian terasa lebih nyata, lebih asing, dan lebih menusuk. Tidak ada suara siapa-siapa. Hanya suara dengungan AC sentral yang monoton dan deru lalu lintas yang samar-samar menembus kaca jendela kedap suara.

Meylani menghela napas panjang, merasakan beratnya tanggung jawab yang kini sepenuhnya berada di pundaknya. Ia membuka kardus pertama, mengambil seprai berwarna biru muda favoritnya, dan mulai membereskan tempat tidurnya. Langkah demi langkah, ruangan yang dingin dan impersonal itu mulai terasa lebih hangat dan familiar. Ia menggantung baju-baju kerjanya di lemari pakaian, menyusun buku-buku desain dan novel-novelnya di rak dinding yang terpasang rapi, dan meletakkan bingkai foto keluarganya di meja samping tempat tidur. Foto itu adalah satu-satunya kenangan fisik dari masa lalu yang ia pilih untuk dibawa serta. Tidak ada foto Andrian. Tidak ada hadiah-hadiah mahal darinya. Hanya wajah-wajah orang yang benar-benar mencintainya tanpa syarat dan tanpa pamrih.

Sore harinya, setelah lelah berkeliling membereskan kamar dan mengatur ulang tata letak furnitur sederhana, Meylani duduk di balkon apartemennya yang sempit. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit Surabaya dengan gradasi warna oranye terang, ungu tua, dan merah darah yang sangat dramatis. Pemandangan kota dari ketinggian ini sungguh memukau. Lampu-lampu gedung perkantoran dan rumah penduduk mulai menyala satu per satu, menciptakan lautan cahaya kuning dan putih yang tak berujung, seolah menegaskan bahwa kehidupan di kota ini terus berdenyut tanpa henti.

Ponselnya bergetar di atas meja kecil di balkon. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp kantor cabang Surabaya yang baru saja ia masuki kemarin.

"Selamat datang di Surabaya, Mbak Meylani! Besok kita ada meeting pagi pukul 08.00 WIB di ruang konferensi utama lantai 12. Mohon hadir tepat waktu ya! Kami sudah tidak sabar bertemu dengan Head of Marketing baru kami.

Meylani tersenyum tipis membaca pesan tersebut. Rasa gugup kembali muncul di ulu hatinya, bercampur dengan antisipasi. Besok, ia harus menghadapi tim barunya, membuktikan bahwa keputusan direksi untuk mempromosikannya adalah tepat, dan menunjukkan bahwa ia mampu memimpin strategi pemasaran di pasar yang jauh lebih kompetitif ini. Ia harus tampil sempurna, percaya diri, dan berwibawa.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Kali ini, notifikasi itu berasal dari kontak yang sudah lama tidak ia hubungi, nama yang pernah menjadi seluruh dunianya: Andrian Alexander.

Meylani terkejut. Jantungnya berdegup kencang, ritmenya menjadi tidak teratur. Apakah Andrian tahu ia pindah? Apakah ia menyesal? Dengan tangan yang sedikit gemetar, Meylani membuka aplikasi pesannya dan membaca tulisan itu.

"Mey, Rina cerita kalau kamu pindah ke Surabaya untuk promosi. Aku cuma mau bilang... semoga sukses di sana. Kamu memang pantas mendapatkan kesempatan sebesar itu. Jagalah diri baik-baik."

Pesan itu singkat. Sopan. Jarak. Sangat datar. Tidak ada pertanyaan "kapan kamu pulang?", tidak ada ungkapan "aku kangen", tidak ada permintaan "bisakah kita bertemu sekali lagi sebelum kamu benar-benar pergi?". Hanya ucapan selamat yang standar, seolah-olah mereka adalah rekan kerja biasa yang jarang bertemu di koridor kantor, bukan mantan kekasih yang pernah berbagi mimpi dan air mata selama tiga tahun.

Meylani menatap layar ponselnya itu lama sekali. Dulu, mungkin pesan seperti ini akan membuatnya berharap. Mungkin akan membuatnya berpikir bahwa Andrian masih peduli, bahwa ada sisa cinta yang tertinggal. Tapi sekarang, setelah dua bulan menjalani hidup tanpa Andrian, setelah merasakan beratnya membangun diri sendiri dari nol, pesan itu tidak lagi memiliki kekuatan untuk melukainya atau membangkitkan harapan palsu. Itu hanyalah konfirmasi akhir bahwa Andrian benar-benar telah melepaskannya, dan lebih penting lagi, Meylani menyadari bahwa ia juga telah sepenuhnya melepaskan Andrian.

Ia tidak membalas pesan itu. Ia tidak merasa perlu untuk melakukannya. Kata-kata sudah tidak diperlukan lagi untuk menutup bab ini. Tindakan Meylani pindah ke kota lain, memulai karir baru yang menantang, membangun hidup baru yang mandiri adalah balasan yang paling tegas dan elegan. Ia tidak butuh validasi dari Andrian untuk merasa berharga.

Meylani mengunci layarnya, meletakkan ponselnya jauh-jauh di meja, dan menatap kembali ke langit Surabaya yang kini telah gelap total. Angin malam berhembus cukup kencang, membawa aroma hujan tropis yang khas, aroma tanah basah dan ozon. Langit mendung dengan cepat, pertanda hujan deras akan segera turun. Konon, hujan di Surabaya lebih deras, lebih cepat turun, dan lebih membersihkan debu-debu polusi kota.

Meylani menarik napas dalam-dalam, menghirup udara kota barunya yang lembap dan hangat. Ia merasa takut, ya, tentu saja. Ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan kesepian, ketakutan akan tekanan pekerjaan yang tinggi. Tapi di atas semua rasa takut itu, ia merasa hidup. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa sepenuhnya bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri. Tidak ada sandaran, tidak ada jaring pengaman, hanya dirinya dan kemampuannya.

Hujan akhirnya turun, membasahi kaca balkon apartemennya dengan suara dentuman yang keras dan ritmis. Meylani tidak segera masuk ke dalam. Ia tetap berdiri di sana, membiarkan butiran hujan yang terpantul cahaya kota menyentuh wajahnya, menyambut babak baru hidupnya dengan senyuman tipis yang penuh keyakinan dan keteguhan hati.

Selamat tinggal, Semarang. Selamat tinggal, kenangan manis dan pahit. Selamat datang, Surabaya. Tantangan, aku siap menerimamu.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!