NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

Krieeek.

"E-eh, ada apa ya, Tuan-tuan? Bibi?" Suara Yisla terdengar bergetar.

"Nah! Bener kan kata saya! Ini dia rumahnya, bapak-bapak sekalian!" Suara melengking yang sangat familier langsung menusuk telinga. Itu suara Bibi Petrisa!

"Kemarin waktu saya pulang dari pasar, saya nggak sengaja liat dia sama anak ini di jalur belakang! Dia jalan sama cowok mencurigakan yang pakai mantel wol gombrang-gambreng dan tudung rajutan kamu, Yisla! Mukanya ditutup-tutupin, dasar gak beres kalian!" cerocos Bibi Petrisa berapi-api.

"Mana anak laki-laki itu?!" bentak sebuah suara berat dan kasar—salah satu dari pria kekar sindikat budak itu.

"Kami punya imbalan koin emas untuk siapa saja yang menemukannya!"

"G-gak ada siapa-siapa di sini, Tuan! Saya cuma tinggal berdua dengan Kak Vito, dan Kakak sedang pergi!" bela Yisla ketakutan.

"Alah, jangan bohong kamu! Cari ke dalam saja bapak-bapak!" seru Bibi Petrisa memanas-manasi.

BRAKK! PRANG!

Di bawah tanah, Julian mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Suara barang dibanting, meja digeser, dan lemari diacak-acak terdengar begitu mengerikan.

"Tuan, tolong jangan dirusak!" tangis Yisla terdengar samar di antara keributan.

"Heh, Yisla! Malah bagus rumahmu digeledah, siapa tahu kamu beneran nyembunyiin budak!" cibir Bibi Petrisa.

Melalui celah kecil, Julian bisa mendengar langkah kaki si bibi cerewet mendekati meja rias milik Yisla.

"Wah, rajutan wol ini bagus juga. Daripada rusak kena geledah, mending saya amankan saja! Anggap saja upah karena saya sudah mengantar bapak-bapak ini ke gubuk reotmu!" ujar Bibi Petrisa tanpa tahu malu. Bunyi gemerincing mangkuk pajangan kayu milik Yisla ikut terdengar dimasukkan ke dalam kantong belanjaan si bibi.

Dasar nenek sihir serakah! Mulut kayak sampah, tangan malah maling! kutuk Astra dalam hati, emosinya mendidih sampai ke ubun-ubun.

"Sial, tidak ada apa-apa di sini! Cuma ada baju-baju kumal!" umpat salah satu pria kekar. "Ayo pergi, kita cari ke sektor desa sebelah. Waktu kita tidak banyak!"

"Eh? Tuan, tunggu! Tapi saya yakin kemarin—"

"Diam kau, tua bangka! Informasi tidak jelasmu cuma membuang waktu kami!" bentak pria itu kasar, membuat Bibi Petrisa seketika bungkam.

Langkah kaki berat mereka bertiga perlahan menjauh menuju pintu depan, disusul benturan pintu yang ditutup dengan kasar.

Suasana rumah mendadak hening mencekam selama beberapa saat. Sampai akhirnya, terdengar suara papan kayu penutup lantai digeser dari atas.

Cahaya ruangan kembali menerobos masuk ke dalam gudang penyimpanan yang gelap.

Wajah Yisla muncul dari balik celah pintu lantai, matanya sembab dengan sisa air mata yang masih basah di pipinya.

"Jul... kamu boleh keluar. Mereka udah pergi," bisik Yisla lemas, mencoba mengulas senyum tipis walau suaranya bergetar menahan tangis.

Julian bergegas memanjat tangga kayu dan melompat keluar. Hatinya mencelos melihat kondisi dapur yang sudah seperti kapal pecah. Kursi terguling dan isi lemari keluar berserakan.

Fokus Julian langsung tertuju pada Yisla yang masih bersimpuh di dekat lubang lantai, bahunya bergetar menahan isak tangis.

"Yisla..." Julian berlutut, langsung menangkup kedua bahu gadis itu. "Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka?"

Yisla menggeleng pelan, menghapus air mata dengan lengan baju yang lusuh. "Aku gak apa-apa, Jul. Cuma... rumah kita... rajutan wolku, dan mangkuk kayu peninggalan Ibu... semuanya dibawa sama Bibi Petrisa," bisiknya parau.

Bibi Petrisa sialan. Nyari perkara sama Author yang lagi bad mood adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, kutuk Astra brutal dalam hati.

Wush...

Suhu ruangan mendadak drop lagi. Duo Hemisphere menyebalkan itu kembali muncul.

"Kau lihat kan, Author? Dunia survival tidak mengenal kata ampun," cibir Animus dingin.

"Jika kau tetap lemah tanpa kekuatan, besok kepala Yisla atau kepalamu sendiri yang akan menggelinding."

"Tapi, Sayangku~ Ini momen turning point yang sempurna!" seru Anima dramatis.

"Ayo balas dendam, labrak rumah nenek sihir itu, rebut kembali barang milik kekasihmu!"

"Diam kalian berdua!" desis Astra super lirih, memberikan lirikan maut sampai kedua sosok itu memudar.

Julian kembali menatap Yisla, lalu menghapus sisa air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya secara lembut.

"Kita rapikan rumah ini sekarang. Tapi aku janji sama kamu..."

Julian berdiri, membantu Yisla untuk ikut bangkit. Tatapan matanya lurus dan penuh tekad.

"Barang-barangmu yang diambil nenek sihir itu... bakal aku bawa pulang lagi ke rumah ini. Kamu pegang omonganku."

Yisla tertegun, menatap punggung Julian yang kini mulai bergerak menegakkan kursi-kursi yang terguling dengan cekatan.

Setelah satu jam melelahkan beres-beres rumah, kondisi gubuk akhirnya kembali rapi walau beberapa sudut tampak kosong. Julian berjalan ke arah pintu depan, lalu berbalik menatap Yisla yang masih berdiri lesu di dekat tungku.

"Yisla, aku izin pergi sebentar, ya?" pamit Julian, suaranya melunak. "Kamu tetaplah di rumah. Kunci pintu dari dalam seperti kata Kak Vito tadi."

Yisla tersentak, ia melangkah maju dengan cemas. "Kamu mau ke mana, Jul?Lagian kalau orang-orang pasar itu lihat kamu gimana?"

Julian tersenyum tipis, tapi matanya memancarkan rasa bersalah yang amat dalam. Rasa bersalah seorang author yang sadar telah membawa kemalangan bagi karakternya sendiri.

"Aku cuma mau menyelesaikan urusanku," sahut Julian pelan. Ia menatap lekat-lekat wajah Yisla.

"Yisla... maaf, ya. Gara-gara kehadiran aku di sini, kamu sama Kak Vito jadi banyak mengalami kesulitan. Rumah diacak-acak, barang berhargamu dijarah... semuanya karena aku."

"Julian, jangan bicara begitu—"

"Aku pergi dulu," potong Julian cepat sebelum Yisla sempat membantah.

Ia langsung melangkah keluar menembus deru badai salju, menutup pintu dibelakangnya rapat-rapat, meninggalkan Yisla yang terpaku sendirian di dalam rumah. Kini tekad Astra sudah bulat di bab ini harus diselesaikan dengan tangannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!