Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Fitnah Kejam
Siapa sangka, jika Ibu Sella menyampaikan hal yang sebaliknya dari apa yang di sampaikan oleh Pak Brama. Hal itu menimbulkan masalah yang semakin membesar dan merembet, ke mana-mana.
***********************★★★***********************
Hati Bu Sella dilanda amarah karena Febri telah mengadu dengan Pak Brahma akhirnya membuat fitnah dengan memutar balikkan fakta tentang amanat yang di sampaikan oleh Pak Brahma tadi. Agar Yusuf meradang.
Selang beberapa menit Yusuf pulang dengan menenteng obat untuk ibunya dan stok makanan cepat saji . Walaupun dengan tubuh yang masih meriang di tambah masalah rumah tangganya, ia tetap mengutamakan Bu Sella. Kasih sayang Yusuf kepada ibu nya tak terbatas. Dia rela melakukan apapun untuk membahagiakan ibunya meski harus mengorbankan ibunya sendiri.
"Ibu, Yusuf pulang." Yusuf memanggil ibunya masih di teras yang sedang melamun memikirkan omongan Pak Brama tadi.
"Eh kamu ,Nak ngagetin Ibu aja. Belanjanya lama banget. Pasti keluyuran dulu."
"Enggak Bu, aku tadi lama karna bawa motornya pelan. Badanku Masih agak meriang dikit jadi sempet singgah beberapa kali buat istirahat. Lah ibu ngapain diluar nunggui aku.? Aku mah gau usah ditungguin bu, udah gede juga gak bakal nyasar wkwk."
"Tau gitu gak usah keluar, Nak. Biar beli online aja. Kepedean kamu, kurang kerjaan banget ibu nungguin kamu belanja."
Ada rasa bersalah dihati Bu Sella karna dirinya Yusuf harus berjuang seperti itu tanpa mengenal lelah.
"Kelamaan, ibu kan butuh cepat nanti malah makin parah. Sapa tau kan aku anak kesayangan ibu." Kelakar Yusuf agar terlihat sehat supaya bunya tidak risau.
"Terserah kamu aja deh Suf. Oh ya tadi mertuamu datang kesini." Kata Bu Sella
"Masa sih bu malam begini, emang dia ngapain kesini." Tanya Yusuf penasaran, tak biasanya Pak Brama datang kesini malam-malam jika bukan hal penting. Apa lagi kalu bukan masalah rumah tangganya dengan Febri. Serta Yusuf yang sudah menalak dan memulangkan Febri.
"Tadi dia kesini nyariin kamu. Tapi ibu bilang kamu lagi keluar terus dia ada ngomong sesuatu. Kamu tau ga Nak.?" Bu Sella memancing pertanyaan
"Ya, enggak lah Bu. Ibu kan belum cerita gimana aku bisa tau." Jawab Yusuf
"Mertuamu bilang kalo ibu ini orang tua yang gak becus didik anak, dan kamu dikatain suami titisan dajjal karna udah menalak anaknya. Dan katanya Pak Brama ia akan menjodohkan Febri dengan laki-laki lain setelah lepas darimu. Hati ibu mana yang gak sakit coba dikata-katain gitu. Pasti Febri udah mengadu macam-macam ke ayahnya makanya datang kesini maki-maki ibu, mana ibu lagi sendirian gak ada yang bela huhuhuhuhuhu." Bu Sella berakting seperti orang yang tersakiti.
"Masa sih Bu mertuaku maki-maki ibu dan ngatain aku begitu, perasaan mertuaku orangnya tidak banyak bicara, perhatian, dan penyebar. Gak bar-bar seperti yang ibu ceritakan."
Yusuf tidak percaya begitu saja, ia tau betul watak Pak Brama seperti apa.
"Beneran , Nak. Sumpah demi Allah. Masa ibu bohong sama kamu. Pak Brama berubah seperti itu karena hasutan Febri yang sudah jelek-jelekan kita ke ayahnya."
Bu Sella tidak segan-segan membawa nama Tuhan dalam fitnah kejam yang dibuatnya.
"Sudahlah bu, kita sambung besok aja aku mau tidur dulu. Ibu juga harus istirahat."
Yusuf pun masuk kamar dan mengunci pintu. Dia sengaja melakukan itu agar pembicaraannya tidak berlanjut walau ada sesak didada mendengar penuturan ibunya.
Namun, ia tak mau gegabah mengambil keputusan. Besok biar ia datang kerumah mertuanya dan memastikan sendiri apakah yang diucapkan ibunya benar adanya atau karangan belaka karena bukan kali ini saja Bu Sella memfitnah Febri.
"Ah kamu ini bukannya balas perlakuan mertuamu ke ibu malah tidur." Jawab Bu Sella yang kesal melihat reaksi anaknya tersebut.
Di Dalam kamar Yusuf berbaring dan merenung sesaat, hampa terasa menusuk kalbunya tidak ada canda tawa serta keluh kesah dari Febri seperti biasanya.
"Dek sedang apa kamu sekarang, apakah kamu masih marah sama kakak?. Andai saja kamu mau bersabar kepada ibu pasti sekarang kita masih bisa bersama dan menghabiskan malam dengan syahdu bukan seperti ini hening. Ya Allah kenapa engkau menempatkanku di posisi yang sulit harus memilih antara ibu dan istriku."
Yusuf berbicara sendiri seakan menyalahkan takdir yang tuhan telah berikan kepadanya. Yusuf memeluk guling dan membayangkan sedang memeluk istrinya lalu tertidur pulas. Mungkin efek obat yang diminum nya sudah bekerja membuatnya tertidur cepat.
Ke esokan harinya Yusuf terbangunkan oleh suara alarm yang sudah menunjukan pukul enam pagi, ya hanya alarm tidak seperti biasanya ia akan dibangunkan suara lembut milik Febri. Dengan malas ia mematikan alarm dan duduk sebentar mengumpulkan nyawanya agar tersadar sepenuhnya.
Setelah semuanya sudah terkumpul ia langsung mandi dan bersiap-siap pergi kerja. Sekarang ia sudah sembuh total bisa beraktifitas seperti biasanya jadi memutuskan kerja, tak mau mengambil libur lebih sebab berakibat ke gajinya bulan depan dengan sedikit potongan.
Sudah rapi semua Yusuf lanjut sarapan pagi hanya dengan susu hangat dan roti selai cokelat. Tidak ada makanan, Yusuf tak pandai memasak. Mau menyuruh ibunya, ia tak tega membangunkannya dari tidur. Jadi untuk bekal makan siangnya nanti ia cuma buat nasi goreng dan telur ceplok.
Yusuf melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Yusuf langsung berangkat kerja tanpa pamitan kepada ibunya, Bu Sella masih terbuai dalam mimpi indahnya.
Dia keluar dan merapatkan pintu depan rumah lalu mengendarai kuda besi melaju ke tempat kerja.
Ngeeeeengg.. ciiiit…
Dijalan ia mengerem mendadak karena lampu merah menandakan berhenti. Selama lampu merah ia tak sengaja bedampingan dengan mobil Pak Martin dengan jendela terbuka ia bisa mengenalinya. Tapi Pak martin tidak tau jika pemotor disebelah mobilnya adalah Yusuf karna tertutup oleh helm dan jaket yang digunakan. Ternyata Pak Marti sedang menelpon sepertinya dengan Mona.
"Mona apa alasan Febri minta cuti satu minggu, urusan apa?"
"........"
"Oh kamu ga mau kasih tau alasannya dengan jelas. Baik saya tidak akan kasih ijin Febri dan gajimu bulan ini saya potong."
"........"
"Nah gitu donk, kan enak gak perlu keluar urat kayak tadi. Okeh saya ijinkan nanti kamu yang menggantikan dia semntara."
"Iya sama-sama, sudah mon saya matikan dulu ini saya akan lagi dijalan ke kantor kamu siapkan berkas yang kemarin saya minta."
Tuuuuutt.. Pak Martin mematikan telpon secara sepihak.
"Hemmm mungkin ini adalah kesempatanku untuk mendapatkan Febri, selagi dia pisah ranjang dengan Yusuf. Setelah kerja aku akan menemuinya dirumah orang tuanya sapa tau ada celah untukku masuk dalam hatinya, apa lagi dia sedang rapuh sekarang pasti perlu sandaran."
Martin berbicara dengan wajah penuh kebahagian seakan-akan mendapatkan undian berhadiah.
"Sialan."
Yusuf mencengkram stang motor dengan kuat. kesal dan cemburu dengan kata-kata dari bos. Lampu menunjukan warna hijau tanda jalan semua kendaraan pun berjalan begitupun dengan Martin dan Yusuf.
sabar yak, Febri😌