Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.
Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.
Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 – Keuntungan yang Tidak Terlihat
Dua hari setelah pesanan pelatihan kecamatan selesai, suasana warung perlahan kembali normal.
Tidak ada lagi tumpukan kemasan yang memenuhi dapur.
Tidak ada lagi target seratus paket yang harus diselesaikan sebelum jam tertentu.
Tidak ada lagi tekanan yang membuat semua orang bergerak lebih cepat dari biasanya.
Namun meskipun keadaan terlihat sama seperti sebelumnya, Arga tahu ada sesuatu yang telah berubah.
Bukan warungnya.
Bukan produknya.
Melainkan cara mereka memandang usaha yang sedang dibangun.
Karena sekarang mereka memiliki bukti.
Bukti bahwa mereka mampu menangani pesanan besar.
Bukti bahwa sistem yang mereka bangun selama berbulan-bulan benar-benar bekerja.
Dan yang paling penting, bukti bahwa pertumbuhan mereka bukan kebetulan.
Pagi itu, Arga sedang membantu menyusun stok minuman ketika sebuah motor berhenti di depan warung.
Seorang pria turun sambil membawa tas hitam.
Awalnya Arga mengira pelanggan biasa.
Namun pria itu langsung tersenyum ketika melihatnya.
"Mas Arga?"
"Iya."
"Saya dari kantor kecamatan."
Arga langsung mengenali wajah tersebut.
Salah satu panitia yang hadir saat pelatihan berlangsung.
"Silakan masuk."
Pria itu duduk sebentar sambil memesan kopi.
Kemudian berkata,
"Saya cuma mau menyampaikan pesan."
"Pesan?"
"Dari Bu Ratna."
Ketua panitia pelatihan.
Arga langsung memperhatikan.
"Beliau mengucapkan terima kasih."
"Karena?"
"Karena selama dua hari acara berlangsung, konsumsi tidak menimbulkan masalah."
Kalimat sederhana.
Namun bagi Arga, itu jauh lebih berarti daripada pujian biasa.
Karena dalam dunia acara, sering kali orang hanya berbicara ketika ada masalah.
Kalau sampai mengirim ucapan terima kasih secara khusus, berarti hasil kerja mereka benar-benar dihargai.
Pria itu kemudian menyerahkan sebuah amplop.
"Ini pembayaran sisa."
Arga menerimanya.
Setelah berbincang beberapa menit, pria tersebut pamit.
Begitu motor itu pergi, Maya langsung muncul dari dalam warung.
"Wajahmu seperti habis menang undian."
"Ada kabar baik."
"Berapa?"
Pertanyaan itu membuat Arga tertawa.
"Kamu bahkan belum tahu kabarnya."
"Kalau pakai amplop biasanya soal uang."
Jawaban itu membuat mereka berdua tertawa.
Menjelang siang, Arga membuka amplop tersebut bersama ayahnya.
Jumlah uangnya sesuai kesepakatan.
Tidak kurang.
Tidak terlambat.
Namun ada sesuatu yang lebih menarik.
Di dalam amplop terdapat secarik kertas kecil.
Tulisan tangan sederhana.
Terima kasih atas kerja samanya. Kami berharap dapat bekerja sama kembali di acara berikutnya.
Tidak panjang.
Namun cukup membuat Arga berpikir.
Karena keuntungan terbesar dari pesanan itu ternyata bukan uangnya.
Melainkan kepercayaan yang berhasil mereka dapatkan.
Di kehidupan sebelumnya, Arga pernah melihat banyak usaha kecil yang gagal memahami hal tersebut.
Mereka hanya fokus pada keuntungan hari ini.
Padahal pelanggan yang kembali berkali-kali sering kali jauh lebih berharga.
Sore harinya, saat warung mulai ramai, sebuah mobil putih berhenti di depan warung.
Kedatangannya langsung menarik perhatian beberapa pelanggan.
Mobil itu terlihat cukup baru.
Bukan kendaraan yang biasa datang ke lingkungan mereka.
Pintu terbuka.
Dan yang turun ternyata Damar.
Namun kali ini ia tidak sendirian.
Bersamanya ada seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.
Tubuhnya tinggi.
Berpenampilan rapi.
Dan membawa map kulit hitam.
"Pak Damar."
Sapa Arga.
Damar tersenyum.
"Kami mampir sebentar."
Pria yang bersamanya memperhatikan warung beberapa saat.
Tatapannya tidak seperti pelanggan biasa.
Lebih seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu.
Arga langsung menyadarinya.
Insting yang terbentuk selama beberapa bulan terakhir kembali bekerja.
Ada alasan khusus mengapa mereka datang.
Dan alasan itu kemungkinan bukan sekadar membeli kopi.
Mereka duduk di bawah terpal depan warung.
Setelah memesan minuman, Damar memperkenalkan rekannya.
"Ini Pak Surya."
Pria itu mengangguk ramah.
"Senang bertemu."
Arga membalas sapaan tersebut.
Percakapan awal berlangsung santai.
Mereka berbicara tentang proyek jalan.
Tentang cuaca.
Tentang perkembangan kawasan sekitar.
Namun beberapa menit kemudian, Pak Surya mulai mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik.
"Berapa lama warung ini buka setiap hari?"
"Dari pagi sampai malam."
"Penjualan paling ramai jam berapa?"
"Pagi dan sore."
"Mayoritas pelanggan siapa?"
Pertanyaan demi pertanyaan datang berurutan.
Dan semakin lama, semakin terasa seperti wawancara.
Maya yang sedang menyusun stok bahkan beberapa kali melirik ke arah mereka.
Jelas menyadari hal yang sama.
Setelah sekitar dua puluh menit, Pak Surya akhirnya tersenyum.
"Kalian mencatat penjualan?"
Arga mengangguk.
"Sebagian besar."
"Bagus."
Pria itu tampak cukup puas.
Namun tidak menjelaskan alasan di balik pertanyaan-pertanyaannya.
Setelah Pak Surya pergi ke mobil untuk menerima telepon, Arga langsung menoleh kepada Damar.
"Itu siapa sebenarnya?"
Damar tertawa kecil.
"Akhirnya bertanya juga."
"Kalau tidak bertanya, saya yang aneh."
Damar mengangguk.
Kemudian suaranya sedikit merendah.
"Pak Surya salah satu calon investor dalam proyek kawasan baru."
Arga langsung memahami.
Jadi itulah alasannya.
Investor.
Bukan misteri besar.
Bukan tokoh rahasia.
Tetapi seseorang yang benar-benar memiliki pengaruh terhadap pembangunan yang akan datang.
"Kenapa dia tertarik ke warung kami?"
Damar tersenyum tipis.
"Karena dia suka melihat usaha yang bertahan."
"Usaha yang bertahan?"
"Iya."
Damar menunjuk ke arah jalan.
"Banyak orang datang ketika peluang sudah terlihat."
"Lalu?"
"Sedikit yang datang ketika semuanya masih sulit."
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
Karena ia mulai memahami sudut pandang yang berbeda.
Bagi dirinya, warung mereka masih kecil.
Masih penuh kekurangan.
Namun bagi orang seperti Damar dan Surya, warung tersebut mungkin menjadi bukti bahwa kawasan ini memang memiliki potensi.
Malam harinya, setelah warung tutup, Maya duduk di depan warung sambil membantu menghitung stok.
"Pak Surya itu membuatku gugup."
Katanya tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Rasanya seperti sedang diuji."
Arga tertawa kecil.
"Karena memang sedang."
Maya memutar mata.
"Aku serius."
"Aku juga."
Mereka terdiam beberapa saat.
Kemudian Maya berkata,
"Menurutmu kenapa orang-orang seperti mereka mulai datang ke sini?"
Pertanyaan itu membuat Arga berpikir.
Lalu perlahan menjawab,
"Dulu aku mengira bisnis hanya soal menghasilkan uang."
"Lalu?"
"Sekarang aku mulai sadar."
"Sadar apa?"
Arga melihat ke arah warung kecil milik keluarganya.
Warung yang dulu hampir tutup.
Warung yang menjadi awal dari semuanya.
"Kalau sebuah usaha bertahan cukup lama dan terus berkembang..."
Ia berhenti sejenak.
"Kehadirannya akan mulai diperhatikan orang."
Maya mengangguk pelan.
Karena semakin lama, ia juga melihat hal yang sama.
Dulu mereka mengejar pelanggan.
Sekarang beberapa peluang mulai datang sendiri.
Malam semakin larut.
Setelah semua orang masuk ke rumah, Arga kembali membuka buku catatannya.
Kali ini ia tidak menulis tentang ruko.
Tidak menulis tentang pesanan besar.
Tidak menulis tentang masalah operasional.
Ia menulis sesuatu yang baru.
Aset terbesar kami bukan warung.
Arga berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan.
Aset terbesar kami adalah reputasi yang sedang dibangun.
Ia menatap tulisan itu cukup lama.
Karena semakin lama menjalankan usaha, semakin ia memahami satu hal.
Uang bisa habis.
Stok bisa rusak.
Peralatan bisa diganti.
Namun kepercayaan membutuhkan waktu sangat lama untuk dibangun.
Dan sangat mudah dihancurkan.
Di kejauhan, suara alat berat masih terdengar samar.
Pembangunan kawasan baru terus berjalan.
Perubahan terus mendekat.
Namun kali ini Arga tidak hanya melihat ancaman.
Ia mulai melihat sesuatu yang lain.
Kesempatan.
Bukan kesempatan untuk cepat kaya.
Melainkan kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia merasa bahwa keluarganya tidak lagi sekadar bertahan mengikuti arus.
Mereka mulai memiliki tempat di dalamnya.
Bersambung...