Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 013 : Rupanya Mereka Memijaki Area Tumpukan Mayat
Sayup-sayup cahaya keemasan sejenak membuat Farah membuka kedua matanya.
"Huh!" pekik Farah, terkejut rasanya. Bagaimana tidak? Dari pemandangan hutan yang masih terang. Dia secara mendadak berpindah ke sebuah hutan yang sangat gelap.
Farah menoleh ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Di takut, sungguh!
"Ardin!"
"Rifki!"
"Kalian kemana?!" tanya Farah berteriak mencari keberadaan temannya satu persatu. Dia mengubah posisinya dari yang tadinya terkapar menjadi berdiri.
"Ini di mana?!" pekik Farah, dia mengigit bibir bawahnya. Hawa di sana mendadak sangat dingin.
Tak ada siapapun yang menjawab teriakannya. Farah memilih berjalan ke depan. Dia tahu, alam ini mungkin adalah alam sebelah. Tempat di mana jiwa-jiwa orang mati berkelana.
Deppp
Deppp
Setapak demi setapak, Farah masih tetap berjalan. Walaupun hatinya kini mulai gundah. Beberapa kali, kedua tangannya terangkat. Menyibak beberapa ilalang tinggi yang sempat menghalangi jalannya dia.
Wushhhh
Sepoi angin dari balik tubuhnya bagaikan tiupan yang disengaja.
Srrrrrr
"Apa kamu tahu jalannya?"
Sebuah suara datang dari balik tubuhnya setelah angin berhembus tepat ke arah Farah. Suara itu, berasal dari seorang anak kecil.
Anak kecil yang sempat memakai isyarat pada Aldi ketika di kereta. Seorang anak kecil, yang juga datang ke kediaman Desta. Anak kecil yang sama.
Anak kecil bergelang kaki. Mendengar suara itu. Jelas saja, perhatian Farah tersita pada arah suara itu. Ketika dia membalikkan badannya.
Degggggg
Betapa terkejutnya dirinya. Tatkala melihat, kira-kira berkisar dua puluh langkah dari tempatnya berdiri. Anak itu menatapnya. Wajahnya hitam pekat.
Hanya kedua bola mata saja yang terlihat. Anak itu selalu tersenyum lebar.
Senyumannya tidak manis, tidak pula lucu ataupun menggemaskan. Namun menyeramkan. Di balik tubuhnya, asap-asap hitam seolah mengikutinya.
'Sial, kenapa aku yang harus melihat penampakan ini! Apalagi aku sendirian!' batin Farah.
Ya, dia bukan seorang jagoan! Farah, adalah definis perempuan penakut. Tetapi dia ditakdirkan menerima pesan atas hal-hal yang akan terjadi.
Sejenak, Farah menelan ludahnya sendiri. Meskipun kini bulu kuduknya meremang. Tetapi dia tidak ingin menunjukkan itu.
Farah menatap serius ke arah sosok itu. Ketakutannya sudah dia kunci rapat-rapat. Kini, dia menyusahkan rasa muak dan keberanian yang dipaksakan.
"Aku dan kawanku sudah datang kemari! Jadi, apa sebenarnya maumu?" tanya Farah padanya.
"Hahahahahaha..."
"Hahahahahaha..."
Bukannya menjawab apa yang Farah tanyakan. Sosok itu justru tertawa. Tawanya begitu melengking. Dia tertawa beberapa menit sebelum kemudian dia menghentikan tawanya. Dia masih tersenyum lalu kembali menatap Farah.
"Bukan aku yang menginginkan kamu untuk datang. Tapi..."
Sosok itu berucap. Namun, ucapannya terpotong. Sejenak dia masih tersenyum. Menatap ke Farah yang juga menatapnya.
Adu pandang itu terjadi beberapa detik. Hingga, perlahan Farah mulai menyadari. Bahwa sosok itu seakan menyusut.
Dari yang tadinya tinggi, kira-kira seumuran bocah lima tahun. Mendadak menyusut, tubunya. Kini tubuh itu begitu mungil bak seorang bayi.
Tetapi, kejanggalan yang terjadi adalah. Bagaimana mungkin sosok serupa bayi seminggu itu bisa berdiri dan menatapnya dengan wajah yang sama.
Serta senyuman yang bergigi. Tidakkah ini terlalu janggal untuk disebut bayi? Perlahan, sosok itu mengangkat tangan mungilnya.
Jari kecilnya kini menunjuk ke arah Farah. Farah memperhatikannya. Ketika, jari telunjuk kecil itu mengarah tepat ke arah bawah kaki Farah.
Sontak secara spontan, Farah menoleh menunduk tepat di bawah kakinya. Betapa sangat terkejutnya Farah saat itu ketika menangkap apa yang ada tepat di bawah kakinya.
Deggggg
Jantungnya berdegup begitu kencang. Bulu kuduknya tak lagi meremang secara santai. Ini sudah sangat cukup memukul mentalnya. Dia secara refleks melompat ke belakang. Dan ya, pijakannya masih sama.
Tumpukkan mayat kali ini berada tepat di bawah kakinya. Mayat-mayat itu berpakaian bak jaman orang dahulu kala.
"Hihhhh!" pekik Farah.
Sungguh dia ketakutan sekarang. Dia tidak tahu harus ke mana. Pasalnya, kemanapun dia pergi. Di situ pijakannya masih tetap sama.
"Huh..."
"Huh.."
Kali ini nafasnya tersengal-sengal. Syok parah menghantam mentalnya. Dia tidak bisa diperlakukan seperti ini.
Ketakutan ini tidak bisa dia tanggung sendiri. Tubuh Farah bergetar hebat. Kakinya mulai melemas. Dia memiliki riwayat asma.
Hal seperti ini adalah pemicu utama yang cukup menyiksanya. Syok emosional (seperti rasa takut yang hebat) bisa menjadi trigger atau pemicu otot-otot saluran napasnya menyempit seketika.
Kondisi asma yang kambuh karena faktor psikologis atau emosi ini sering disebut dengan asma psikogenik.
"Hahhhh..."
"Hahhh..."
Cukup sudah rasanya. Bahkan ketika Farah merogoh saku celananya. Tempat di mana dia menyimpan obat pelega miliknya atau yang biasa kita sebut dengan inhaler.
Dia tidak menemukannya. Farah sejenak menatap ke arah langit. Alamnya sunyi sekali. Dia baru menyadari bahwa, inhaler miliknya berada di dunia nyata.
Sedangkan dia kini berada di alam sebelah. Saat itu, sebelum dia ambruk. Dia teringat kata-kata Papanya. Papanya pernah berkata,
"Alam yang terlalu sunyi, pertanda hal tak baik!"
Dan benar, alam ini sangat sunyi seakan alergi pada keramaian. Detik ketika, kedua bola mata Farah menatap tepat ke depan. Pada saat itu. Sosok itu seakan melesat ke arahnya lalu melompat tepat ke wajahnya.
"Huh!!" pekik Farah.
Brukkkk
Ya, dia terjatuh! Tepat ketika sosok itu kini berada di wajahnya. Tangan mungilnya, wajah hitamnya, bola matanya, dekat sekali dengannya.
Farah merasakan sentuhannya. Dan bayi setan ini, seakan berbobot puluhan kilogram. Padahal tubuhnya terlihat sangat mungil.
Pada saat itu, bahkan senyumannya tak berubah. Telapak tangan mungil bayi itu mengusap-usap wajah Farah dan berkata,
"Hanya di alam ini, aku bisa menyentuhmu seleluasa ini, kakak!" ujarnya pada Farah.
Farah, tetap memperhatikannya. Nafasnya cukup susah sekarang ditambah dengan bayi setan ini yang masih berada di wajahnya.
Wajahnya yang tersenyum senang itu. Mengiringi kesadaran Farah yang perlahan mulai menghilang bersamaan dengan berhentinya nafasnya di alam sana.
______
Sretttt
Sretttt
Rifki, Aldi, Haikal dan Desta terlihat berlari di tempat yang berbeda. Mereka berada di satu tempat yang sama. Tetapi tidak bersama.
Kedua kaki mereka terus berlari menyusuri belantara luas dengan pepohonan tinggi yang rapat itu.
"Huh..."
"Huhh..."
Suara nafas mereka terengah-engah. Sejak sampai kemari hingga kini. Mereka berusaha melarikan diri dari jangkauan orang-orang tak berwajah.
Orang-orang tak berwajah dengan bayangan kereta kuda yang melayang di belakangnya. Mengejar mereka secara bersamaan.
"Sial!" umpat mereka berempat. Peluh sudah membanjiri kening mereka.
Saat itu, secara bersamaan. Di tempat yang berbeda. Ketika mereka masih berlari. Mereka menemukan sebuah batu besar di depan sana.
Segera, mereka mencoba mempercepat kedua kaki langkah kaki mereka. Hingga, mereka pun berhasil melewati batu besar itu.
"Hah!"
Brukkk
Brukkk
Brukkk
Brukkk
Mereka berempat jatuh secara bersamaan di atas tanah. Tanah yang kini tanahnya memiliki simbol lingkaran. Mereka berempat jatuh tengkurap. Mereka jatuh, tepat di antara simbol itu.
"Sial!" umpat Rifki. Dia memilih mendongak kemudian dan mencoba duduk. Ketika dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Betapa terkejutnya dia melihat keberadaan kawannya yang lain.
"Kalian?!" ucap Rifki terkejut. Haikal menoleh ke arah Rifki saat itu. Kondisi mereka semua sama. Sama-sama berkeringat.
Sejenak, mereka mencoba mengatur nafas. Setelah cukup tenang dan tidak terengah-engah.
Sorot mata mereka langsung tertuju ke depan. Ini adalah tempat yang sama. Di mana mereka akan menemukan wanita yang terbakar itu.
Bangunan tua itu juga masih berdiri kokoh di sana. Mereka memilih menunggu. Menunggu wanita terbakar itu datang dan menampakkan diri. Sebab mereka tahu.
Berakhirnya mimpi mereka sampai terbangun, hanya ketika mereka menyaksikan sosok itu terbakar. Ketika mereka menunggu beberapa menit. Tak ada satu pun terjadi di depan sana.
Aldi yang duduk mencoba memperhatikan sekitar. Dia ingat, bahwa mereka tidak pernah sekalipun beranjak dari lingkaran ini. Lingkaran tempat di mana mereka duduk menunggu.
"Biasanya tidak selama ini!" ujar Haikal kini bersuara memecah kesunyian.
"Kayaknya dia lagi makan!" sahut Rifki, menyahuti ucapan Haikal dengan keabsurdannya.
Desta terkekeh mendengar itu. Mereka bertiga kecuali Aldi. Sama-sama kembali memperhatikan bangunan tua di sana. Sementara Aldi, dia terus menatap ke arah lingkaran yang kini meliputi mereka.
Perlahan, Aldi mengulurkan tangannya ke arah lingkaran itu. Dia menyentuhnya. Mengambil pasirnya.
Ketika dia mencoba merasakan tekstur pasir itu dengan jari jemarinya. Mencoba menalar, perihal pasir itu. Dia pun menyadari satu hal.
"Lingkaran ini!" ujar Aldi yang sejak tadi diam. Seketika ketiga temannya langsung menoleh ke arah Aldi yang masih memperhatikan pasir di tangannya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Desta pada Aldi.
"Tanah yang kita pijaki sekarang!" ucap Aldi, sebelum melanjutkan ucapannya. Dia menoleh ke arah ketiga temannya yang memperhatikannya.
"Ini, abu jenazah!" ujar Aldi melanjutkan ucapannya. Seketika ketiga temannya itu langsung berdiri.
"Yang benar aja kamu!" bantah Rifki pada Aldi.
Aldi membuka telapak tangannya. Bekas abu itu jelas ada di sana Warnanya pucat, abu-abu cerah seperti gading.
"Perhatikan teksturnya!" seru Aldi. Dia kembali mengambil abu itu kemudian. Menunjukkannya pada Rifki dan dua temannya yang lain.
"Abu benda biasa umumnya sangat halus, lembut, dan homogen seperti bedak. Sementara abu jenazah memiliki tekstur yang kasar, berpasir, dan mengandung kerikil-kerikil kecil yang merupakan hancuran tulang, cremains." jelas Aldi, menggunakan seratus persen logikanya.
Rifki yang masih belum percaya itu hanya diam. Sementara Desta dan Haikal segera mengambil pasir yang mereka pijaki. Turut serta merasakannya.
Ketika mereka berempat sibuk menalar. Suara rerumputan di depan sana menyita perhatian mereka.
Srettttt
Kresekkk
Kresekkkk
Suara sesuatu yang diseret. Juga suara tersibaknya ilalang tinggi membuat fokus mereka teralih. Mereka memperhatikan, perihal apa yang akan datang. Ketika ilalang-ilalang itu mulai terbelah.
Mereka kembali melihat wanita yang selalu terbakar itu sudah datang. Seperti biasanya, wanita itu akan berdiri di depan mereka. Lalu terbakar dengan sendirinya.
Tetapi, ada yang aneh di sini. Sebelum mereka menyaksikan tubuhnya berapi-api. Wanita terbakar itu berkata,
..."Ibu merindukan kalian!"...
Satu pesan itu meninggalkan bekas yang mendalam pada hati mereka berempat. Sekaligus membuat mereka berempat seketika terbangun.
Dari dimensi alam sebelah, kini mereka kembali ke dimensi alam manusia. Bersamaan dengan sadarnya Farah.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣