Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.
Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.
Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.
Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
Laras terperanjat saat mendapati Rayyan meringis dengan kedua tangannya meremas rambut lelaki itu sendiri. Kini ringisan Rayyan dapat Laras tebak jika suaminya merasakan sakit kepala sama seperti sebelumnya, lalu Rayyan akan jatuh pingsan seperti sewaktu itu.
"Gea! Gea, tolong mobil ... Bawa mas Rayyan ke rumah sakit!" pekik Laras memerintah Gea menyiapkan mobil, lantas Gea langsung berlari keluar toko butik untuk menyiapkan mobil.
"Mas, Mas Rayyan bisa jalan? Mas jangan pingsan dong, Laras mohon. Laras tidak bisa angkat Mas Rayyan, Mas Rayyan berat!" ucapnya dengan intonasi suara yang memekikkan telinga, Rayyan yang di sampingnya pun sampai memejamkan mata erat.
Kepalanya sudah pusing, teriakan Laras semakin membuat Rayyan bertambah pusing.
Kesadaran Rayyan masih bisa ia rasakan, hanya saja tubuhnya lemas dan kepalanya semakin sakit, kepingan-kepingan memori kecelakaan itu kembali menghampirinya membuat Rayyan tak kuasa menahan rasa sakit di kepalanya.
Sial sekali, ketika dia sudah mengingat identitasnya. Dia tahu kalau dirinya adalah Rafael, tapi kenapa setiap mengingat kecelakaan selalu kepalanya sakit seperti ini.
Namun, Rayyan benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit itu hingga kesadaran hilang sepenuhnya. Rayyan pingsan dalam dekapan Laras, sehingga wanita itu mengangkat tubuh Rayyan bersama dibantu oleh Gea.
Bersama Gea, Laras akan membawa Rayyan ke rumah sakit. Bagaikan seorang supir yang mengantarkan sang majikan, Gea menyetir dengan kecepatan sedang tidak mau sampai Rayyan semakin kenapa-kenapa dan dirinya mendapat masalah.
"Gea, yang cepat nyetirnya. Mas Rayyan kesakitan banget sepertinya, dari tadi pegangin kepalanya terus." Laras benar-benar panik dan berusaha menenangkan Rayyan, mengelus bahunya dan beberapa kali mengusap kepala Rayyan berharap jika rasa sakit di kepala suaminya sedikit mereda. Akan tetapi tetap sama saja, Rayyan masih meringis kesakitan.
Di saat keadaan genting, dengan perasaan yang peka dan memang Gea yakin kalau sebuah mobil di belakangnya seperti mengikuti ke mana arah mobil Laras yang dia kemudikan.
"Perasaan aku saja atau memang mobil di belakang sengaja, ya," gumam Gea sembari memantau mobil Sedan di belakangnya. Gea sesekali melihat ke arah kaca spion berharap mobil itu hanya mobil biasa yang sama-sama menggunakan jalan menuju ke arah yang sama. Gea takut karena ini pengalamannya yang pertama kali membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Brooom ...
Gea menginjak pedal gas. melajukan kecepatannya lebih kencang, selain mengawasi mobil sedan abu-abu itu, sesekali melihat kaca spion dalam mobil untuk memastikan bahwa sepasang suami istri yang duduk di kursi belakang tidak kenapa-kenapa karena Gea yang menaikkan laju mobil.
"Tuh kan, benar mobil di belakang memang mengikuti mobil kita! Bagaimana ini Mbak, mobil di belakangnya mepet terus!" tukas Gea berusaha mengecohkan mobil Sedan abu-abu di belakangnya.
Laras menolehkan kepalanya ke belakang, benar saja mobil di belakangnya kelihatan sangat mepet dengan mobil Laras.
"Gea, kamu fokus saja menyetir. Jangan hiraukan mobil di belakang, biar aku awasi dan kasih arahan ke kamu, ya!" ujar Laras yang masih mengawasi mobil di belakangnya.
Gea mengangguk, lantas dengan sekali tancap gas penuh Gea melajukan mobilnya secepat mungkin.
Hampir mobil di belakangnya menabrak mobil Laras, sebab Gea merasakan bagian belakang mobil seakan terdorong ke samping sehingga Gea hampir oleng dan untunglah dia tidak banting stir.
Brooom ...
"Ahk, sialan! Sekarang gagal lagi. Kenapa selalu gagal, dia harus mati. Dia tidak boleh lolos dari maut yang aku ciptakan!" tukasnya kesal. Percobaan pembunuhan seolah membuat mobil di depannya kecelakaan kini gagal lagi, seharusnya ia langsung tabrak saja namun dirinya masih memilih cara aman agar tidak ada saksi yang melihatnya bahwa memang sengaja ingin mencelakakan mobil yang ditumpangi Rayyan, Laras dan Gea.
Kini di persimpangan jalan, tiba-tiba saja dia melihat mobil hitam yang sama persis seperti mobil Laras. Dia tidak memperhatikan plat nomor mobil Laras, dan mengira mobil hitam di depannya memang mobil Laras.
Mobil yang mamang ingin ditabrakkan, namun gagal.
"Kali ini kau tidak akan lepas!" tukasnya lalu dengan kecepatan penuh mengejar mobil tersebut.
Anehnya, mobil hitam itu semakin ugal-ugalan dan tidak terarah jalurnya. Jalanan ini memang sepi dan cukup luas, namun sedikit liku-liku karena beberapa meter di depan terdapat pembatas yang langsung terhubung pada jurang yang cukup dalam.
Mobil hitam itu melambat, namun detik kemudian tancap gas full hingga tidak dapat diperkirakan jika mobil hitam itu telah berbelok, sialnya putaran itu membuat mobil Sedan abu-abu yang berniat menabrak mobil Laras oleng karena ikut berbelok.
Ciiittt!
Benar-benar tidak sesuai perkiraannya. Mobil hitam itu berhenti tepat di samping pembatas jurang, namun mobil Sedan abu-abu kehilangan kendali karena kecepatan tinggi bagaikan orang kesetanan hingga tidak bisa mengerem mendadak.
Alhasil, mobil Sedan abu-abu tersebut meluncur ke bawah dan terguling.
Seseorang di dalam mobil Sedan abu-abu tersebut berteriak, berusaha mengontrol stir kemudi dan rem, namun sia-sia karena mobil Sedan abu-abu itu telah berguling ke bawah jurang.
Brak!
DUAR!
Ledakan tiba-tiba mengular dari mesin mobil yang terhantuk oleh bebatuan besar dan tekanan pada rem yang dipaksakan.
Ledakan mobil Sedan abu-abu itu juga menciptakan percikan api yang cukup besar. Terlebih jurang itu tidak menghunus ke dalam aliran sungai, melainkan hutan sehingga mobil terbakar tanpa bisa dipadamkan.
Senyum miring terpancar dari bibir seorang wanita yang terlihat puas melihat hasil kerjanya.
"Jangan pernah menyentuh majikanku, tidak akan ada yang selamat dari Zerina!" gumam Zerina dengan seringai di bibirnya.
Sementara itu di rumah sakit, Rayyan langsung mendapat penanganan dari dokter. Laras dan Gea menunggu di depan ruang pemeriksaan, dengan situasi panik tentunya.
Gea ingin memberitahu Laras soal pengemudi mobil Sedan abu-abu yang hendak menabraknya, namun melihat Laras yang panik dengan Rayyan pun Gea urungkan.