Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di kantor pusat milik keluarga Anugerah, Anton dan Henri sedang duduk bersantai sambil menikmati minuman anggur mereka.
Henri merasa heran melihat sikap Anton yang sejak tadi hanya diam dan termenung. Ia tidak suka melihat sahabatnya itu bersikap aneh seperti ini.
“Kenapa kau diam saja? Ada masalah apa?” tanya Henri membuka percakapan.
“Ya, memang ada masalah. Masalahnya adalah Kiara. Entah mengapa tiba-tiba saja anak itu bertanya siapa ayah kandungnya yang sebenarnya,” jawab Anton pelan.
“Jadi itu yang membuatmu gelisah?” Anton hanya mengangguk membenarkan.
“Dia hanya bertanya saja, Anton. Kenapa kau sampai takut begitu pada gadis muda itu? Kalau suatu saat ia mengetahui kebenaran soal orang tuanya, ya mau bagaimana lagi. Satu-satunya jalan adalah kau harus lebih berhati-hati terhadap Kiara. Kau bilang dia gadis yang lugu, tapi ingat—di balik keluguannya itu, bisa jadi ada hal-hal yang tidak kau ketahui,” jelas Henri. Anton menatap Henri dengan tatapan penuh tanya.
“Maksudmu?”
“Suatu saat nanti dia pasti akan membalas dendam atas kematian orang tuanya. Apalagi jika dia juga sudah mengetahui bahwa ibunya sendiri kau kurung di tempat yang menyedihkan itu,” tambah Henri.
“Benar juga katamu. Mulai sekarang aku harus lebih waspada,” desis Anton dingin.
“Dan pastikan dia tidak sampai berhasil merebut kembali perusahaan yang sebenarnya bukan hakmu itu, Anton. Jangan sampai lengah sedikit pun,” ingat Henri lagi.
“Apakah aku harus… harus menyingkirkannya selamanya?” tanya Anton ragu sekaligus penuh niat buruk.
“Jangan bertindak gegabah. Lakukan semuanya perlahan dan hati-hati. Jangan sampai rencana kita tercium oleh siapa pun,” saran Henri menenangkan sekaligus mengarahkan.
“Baiklah. Hari ini kau harus ikut bersamaku, Henri,” pinta Anton. Namun Henri menolaknya dengan halus.
“Sayang sekali, hari ini aku ada urusan penting. Lain kali saja aku menemanimu,” jawab Henri sambil meletakkan gelasnya di atas meja.
“Baiklah kalau begitu.”
Setelah Henri pamit pergi, Anton segera meraih ponselnya dan menghubungi salah satu anak buahnya.
“Halo, Bos,” jawab suara dari seberang sana.
“Siapkan mobil. Hari ini aku akan pergi ke gubuk tua itu,” perintah Anton singkat.
“Baik, Bos.”
Sambungan telepon pun terputus. Anton segera meraih jasnya dan bergegas keluar menuju tempat tujuannya.
.
.
.
Tak lama kemudian, Anton sudah berada di perjalanan menuju sebuah gubuk tua yang terletak di pinggir hutan, jauh dari pemukiman penduduk. Di sana sudah ada dua orang pengawal yang menunggu kedatangannya.
“Selamat datang, Bos,” sapa mereka.
“Apakah dia sedang terlelap atau tidak?” tanya Anton.
“Sepertinya dia belum tidur, Bos,” jawab salah satu anak buahnya.
“Baiklah.”
Anton pun melangkah masuk, menuju sebuah pintu rahasia yang tersembunyi. Pintu itu menuju ke ruang bawah tanah yang remang-remang dan terasa pengap. Ia terus berjalan menyusuri lorong itu hingga tiba di depan sebuah pintu. Saat pintu itu dibuka, tampaklah seorang wanita yang duduk menunduk, sesekali memanggil-manggil nama suami dan anaknya dengan suara yang lirih.
Anton masuk dengan wajah yang dipenuhi amarah dan kebencian.
“Hei, Linda!” panggilnya keras. Namun wanita itu sama sekali tidak menoleh atau memberikan reaksi apa pun.
“Apakah kau ingin tahu di mana suamimu sekarang, hah?”
Mendengar itu, wanita yang bernama Linda itu perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Anton dengan tatapan kosong namun menyimpan luka yang dalam.
“Kau ingin tahu? Baiklah akan kuberitahu!” Anton tertawa sinis penuh kemenangan. “Dia sudah mati! Akulah yang membunuhnya! Tubuhnya terbakar separuh dan ia mati begitu saja, meninggalkanmu sendirian di dunia ini. Dan sebentar lagi, anakmu pun akan menyusul ayahnya!” teriak Anton keras.
Mendengar hal itu, Linda mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, berusaha menahan gejolak hati yang hancur.
“Jangan… Jangan pernah menyentuhnya…” desis Linda dengan suara datar namun penuh penekanan.
“Jangan bermimpi dia bisa hidup bahagia, Linda! Lihatlah dirimu sendiri sekarang—hidup bagai mayat hidup, tak bisa berbuat apa-apa!” ejek Anton.
“Tahukah kau apa yang membuatku begitu membenci dunia ini? Apa yang membuatku membenci kalian semua? Aku membenci kalian, aku membenci Yuda—kakakku sendiri yang mendapatkan segalanya. Aku membenci ayahku yang tidak membagi warisan secara adil!” teriak Anton dengan dada yang naik turun menahan amarah.
“Aku membenci kalian semua! Sampai akhirnya aku terpaksa harus membunuh ayah dan kakakku sendiri! Bahkan aku mengancam ibuku sendiri agar ia tidak ikut campur urusanku, hingga akhirnya ia hanya bisa diam dan menunduk!”
“Dan sekarang, semua rahasia ini sebentar lagi akan terbongkar oleh Kiara—anakmu sendiri yang seharusnya tumbuh besar di sisimu, Linda!” teriak Anton lagi.
Setelah meluapkan segala amarah dan kebenciannya, Anton pun pergi meninggalkan Linda sendirian. Wanita itu pun akhirnya menangis tersedu-sedu, mengingat kembali segala kenangan indah bersama suami dan anaknya, serta segala penderitaan pahit yang harus ia alami hingga saat ini.
.
.
.
Di sisi lain, Angga sedang sibuk mengurus urusannya sendiri. Ia diam-diam menjalankan bisnis ilegal dan usaha gelap yang suatu saat pasti akan tercium oleh pihak berwenang.
Saat ini, Angga berada di kawasan pelabuhan, menunggu kedatangan barang dagangannya. Barang bernilai tinggi itu berada di atas kapal yang sebentar lagi akan merapat ke dermaga.
“Bos, barang-barang ini nantinya akan dibawa ke mana?” tanya salah satu anak buahnya.
“Separuh dari barang ini akan kalian bawa ke kota lain, karena sudah ada pembelinya di sana. Separuh lagi akan kukirim ke luar negeri, karena ada orang yang bersedia membelinya dengan harga sangat tinggi. Tenang saja, kalian semua akan mendapatkan bagian yang layak dari hasilnya,” jawab Angga.
“Baik, Bos! Kalau kami dapat bagiannya, tentu kami akan bekerja dengan penuh semangat!”
“Ya, harus semangat dong. Sudah, sana periksa kembali kondisi barang-barang itu. Aku harus kembali ke kantor, ada urusan yang harus kuselesaikan,” perintah Angga. Ia pun pergi meninggalkan anak buahnya, yang segera bergegas menuju kapal untuk melakukan pemeriksaan.
Tanpa mereka sadari, dari tempat yang tersembunyi, ada sepasang mata yang terus mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Orang itu telah mengamati segala aktivitas ilegal yang dijalankan Angga. Angga sebenarnya sudah masuk dalam daftar buruan, namun belum bisa ditangkap karena jika hal itu dilakukan, Anton pasti akan menggunakan kekuasaan dan uangnya untuk membebaskan putranya itu kembali.
“Semua bukti sudah kukumpulkan. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan kalian satu per satu,” gumam orang itu pelan, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Perjalanan Angga menuju kantor terhenti karena kemacetan lalu lintas yang cukup panjang. Ia menghela napas kesal karena hari ini ia sedang terburu-buru.
“Sial sekali nasibku hari ini! Kenapa harus terjebak macet di sini juga?” keluh Angga.
“Pak, apakah sebaiknya kita menggunakan jalur udara saja?” tawar sopirnya.
“Tidak usah,” jawab Angga singkat.
Namun tiba-tiba pandangan Angga tertuju pada seseorang yang sangat ia kenal.
“Rico… Mau ke mana dia pergi?” gumam Angga sambil menatap adiknya yang sedang mengendarai sepeda motor sport di antara kendaraan lain.
Tak lama kemudian, lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Semua kendaraan mulai bergerak maju, termasuk Rico yang melaju meninggalkan tempat itu.
“Juan, ikuti dia,” perintah Angga kepada sopirnya.
“Baik, Bos.”
Mobil itu pun mulai melaju mengikuti Rico yang melaju kencang menuju tempat yang belum diketahui tujuannya.
“Awas saja kalau sampai kau berbuat nekat dan membocorkan rahasia kita semua…” desis Angga penuh ancaman.
Bersambung