"Maksud mamah apa nyuruh aku buat nikahin Ranti? Mamah jangan bercanda mah!" kesal Atlas karena permintaan mamahnya yang benar-benar diluar dugaannya.
"Ranti sudah lulus SMA dan kamu sudah sangat lama sendiri, bukankah kalian akan serasi jika bersama? mamah juga sangat yakin kalau Ranti akan menjadi istri yang baik untuk mu dan menjadi ibu yang baik untuk Aska anakmu!"
Atlas benar-benar tidak bisa menerima permintaan mamahnya karena itu adalah sebuah permintaan yang sangat tidak masuk akal bagi Atlas,ia sama sekali tidak pernah sekalipun memiliki niat untuk menikah dengan Ranti gadis muda dan belia itu.
jangan lupa yah like komen dan votenya. masukin juga yah ke daftar bacaan dan favorit kalian hehehe.
see you guys,salam dari author kentang ini hehehe 🤎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Step 19: Biarkan saja lukaku.
Ranti hanya diam saja sejak tadi,ia benar-benar tidak ingin melihat wajah Atlas sama sekali. Seperti yang sudah ia katakan sebelumnya kalau ia benar-benar tidak ingin bersama dengan Atlas saat ini. Laki-laki itu adalah sumber rasa sakitnya. Kalau saja ia tahu betapa hancur dan sakitnya Ranti sejak bersama dengan nya dan hari ini adalah puncaknya. Apa dia akan bersikap seegois itu?.
"Apa yang sedang kamu coba lakukan? Kamu hendak pulang dengan nya dan menolak pulang dengan ku?" Kesal Atlas dengan wajah yang mengeryit.
Ranti hanya diam saja menahan rasa sakit di tangan nya,sejak tadi belum juga ia obati dan baru sekarang terasa padahal tadi tidak sakit sama sekali.
Memang darah sudah tidak lagi mengalir dan sudah kering namun itu malah membuat nya terasa lebih sakit. Benar-benar membuat Ranti semakin merasa pusing dan wajahnya terlihat sangat pucat.
"Kenapa kamu hanya diam saja? Apa kamu benar-benar tidak ingin berbicara dengan ku? Kamu benar-benar membuat ku lelah dengan sikap menyebalkan mu!"
Ranti tersenyum miring dan melihat kearah Atlas sekilas, tatapan mereka bertemu lagi-lagi ia hampir luluh dengan wajah laki-laki yang masih menjadi laki-laki yang menempati hatinya. Namun dengan cepat ia berpaling melihat kearah luar jendela.
"Kalau mau pulang kenapa mas belum menjalankan mobilnya? Aku benar-benar sudah lelah dan ingin istirahat mas!"
Atlas tidak menyangka gadis itu ternyata bisa bersikap kurang ajar dan lancang begitu, dia benar-benar berubah dan bersikap semaunya sekarang.
"Kamu harus menjawab pertanyaan ku dulu? Apa kamu hendak berniat pulang dengan laki-laki sialan tadi? Kenapa? Saat kami menolak untuk pulang dengan ku."
Atlas memegang tangan Ranti namun gadis itu meringis karena tepat ditangannya yang sakit itu.
"Akhh,,"
Atlas kebingungan kenapa Ranti terlihat kesakitan saat ia memegang tangan nya "Kenapa dengan tangan mu?"tanya Atlas hendak memeriksa tangan gadis itu namun buru-buru ditepis oleh Ranti.
"Aku tidak apa mas," ucap gadis itu dengan wajah datar tanpa melihat ke arah Atlas.
"Jelas kamu meringis saat aku tidak sengaja menyentuh nya tadi. Berikan tangan mu!"
"Tidak mau, sebaiknya kita pulang saja mas hari sudah mulai gelap dan mamah juga Aska pasti menunggu!"
Atlas memang keras kepala dan ia benar-benar yakin bahwa ada sesuatu di tangan gadis itu. Jelas ia kesakitan tadi.
"Akhh,,sakit!"
Ranti meringis saat Atlas telah berhasil meraih tangan nya dan melihat luka yang sedikit menganga itu. Jelas terlihat darah yang sudah mulai kering disana.
"Kenapa dengan tangan mu?" Tanya Atlas dengan keras.
Ranti sampai kaget dan ia kembali teringat dengan perlakuan laki-laki tadi,ia sedikit gemetar apalagi suara Atlas sedikit meninggi karena kaget melihat luka di tangan Ranti.
Ranti mencoba untuk tetap bersikap biasa walaupun saat mengingat perlakuan laki-laki tadi membuat ia takut serta merasa was-was juga sedikit trauma. Namun ia mencoba meyakinkan bahwa laki-laki yang ada dihadapannya adalah Atlas suaminya ahh Walaupun kenyataannya mereka tidak lah seperti pasangan suami istri.
"Kenapa bisa begini? Dan kamu hanya diam saja tanpa mengobati nya?" Kesal Atlas Kate merasa Ranti bodoh sudah membiarkan luka separah itu.
Ranti tersenyum pilu sebab baginya luka ditangannya tidak seberapa dibandingkan luka batinnya yang sangat tersakiti karena mendapatkan perlakuan tidak senonoh di kantor belum lagi Atlas malah bersikap tidak perduli dengan nya tadi. Malah menyalahkan dan berkata untuk Ranti tidak usah mempermasalahkan nya.
"Bukankah mas yang mengatakan untuk aku tidak usah mempermasalahkan nya? Kenapa malah bersikap peduli sekarang? Mas jangan membuat ku bingung! Kalau kita mau pulang kenapa mas masih harus bersikap aneh dan berdiam disini? Aku tidak mengerti dengan sikap mas yang tidak jelas itu!"
Ranti menepis Atlas dengan kasar lalu melihat kearah lain mencoba untuk benar-benar mengabaikan Atlas.
Mendengar ucapan Ranti Atlas terdiam dan faham kalau luka ditangannya adalah luka yang disebabkan oleh laki-laki tadi. Dia benar-benar bodoh karena tidak sadar itu padahal ia melihat dengan jelas bekas darah di lantai tadi.
"Bodoh kamu Atlas! Seharusnya kamu menenangkan nya bukan malah membuat mentalnya semakin hancur," batin nya.
Melihat Ranti ia merasa bersalah karena sudah gagal melindungi nya bahkan berkata hal yang tidak tentangnya. Ia benar-benar laki-laki yang sangat bejat.
"Hanya untuk memberikan batas dan menjauhkannya darimu kamu malah membuat ia terluka dengan sikap bejatmu Atlas! Kamu benar-benar laki-laki yang sangat jahat,"batin Atlas.
Ranti sendiri mencoba untuk menguatkan hati kalau ia akan mencoba untuk tidak lagi membuat Atlas tidak nyaman, sudah cukup ia diperlakukan tidak wajar dan bahkan hampir saja dilecehkan karena sikap tidak perduli Atlas. Ia memang amsih mencintai laki-laki itu namun melihat tidak ada harapan membuat ia merasa kecil hati.
"Semoga perlahan rasa cinta ku benar-benar hilang, karena aku dan mas Atlas tidak akan pernah bisa bersama. Aku harus sadar diri seperti yang mas Atlas katakan kepada ku setiap saat,"batin Ranti.
Atlas sendiri menjalankan mobil dengan cepat menuju rumah sakit karena ia tidak bisa membiarkan luka di tangan Ranti begitu saja, gadis itu jelas akan menolak untuk ia obati karena ia juga sadar bahwa Ranti pasti membenci nya. Oleh karena itu ia memilih untuk membawa Ranti ke rumah sakit saja.
Sampai di depan rumah sakit Atlas turun lebih dulu dari mobil dan membuka pintu untuk Ranti hingga gadis itu kaget melihat mereka malah berhenti di rumah sakit.
"Kita obati dulu lukamu disini setelah itu kita pulang ke rumah,"ucap Atlas dengan lembut hingga Ranti sedikit kebingungan dengan situasi saat ini.
Jelas suara Atlas sangat berbeda dengan suaranya yang selama ini ia lontarkan kearah Ranti. Baru kali ini ia merasakan kedamaian saat berbicara dengan Atlas!.
"Kita pulang saja mas ,aku tidak perlu ke rumah sakit!"
Ranti benar-benar tidak ingin ke rumah sakit, bukankah sudah jelas Atlas mengatakan untuk tidak usah memperpanjang masalah ini. Namun kenapa malah dia yang bersikap demikian?.
"Luka mu harus segera diobati, jangan nakal dan mari kita obati."
Ranti menggeleng dan memalingkan wajah dengan tetap duduk di kursi mobil.
Atlas sedikit berdecak lalu mendekat kearah Ranti kemudian mengangkat gadis itu ala bridal style hingga Dara benar-benar kaget bukan main karena ulah Atlas yang tiba-tiba itu.
"Jangan nakal saat disuruh suami! Bukankah kamu tahu hal tersebut,"ucap Atlas dengan lembut sembari melihat kearah Ranti.
Wajah mereka sangat dekat dan Ranti benar-benar tidak bisa lagi menahan detakan jantungnya karena perlakuan Atlas. Belum lagi laki-laki itu bahkan mengatakan suami dan baru kali ini Ranti mendengar itu dari bibirnya,apa dia sedang mencoba mengolok-olok Ranti dengan mengatakan hal itu?.
"A,,aku bisa berjalan sendiri mas! Turunkan aku,"ucap Ranti dengan cepat karena ia takut akan luluh dengan semudah itu. Kembali berharap benar-benar akan membuat ia kembali sakit hati.
Atlas tidak mengindahkan ucapan Ranti dan terus menggendong nya dengan cepat berjalan.
"Tolong obati tangan istri saya dok, darahnya sudah kering dan dia pasti kesakitan sejak tadi,"ucap Atlas dengan cepat.
"I,, istri?" Batin Ranti kembali dibuat kaget oleh laki-laki itu.
Benar-benar sangat kejutan dan Ranti tidak bisa lagi menahan debaran jantung nya. Baru kali ini sejak mereka menikah ia mendengar kata bahwa Atlas mengakui bahwa ia adalah istrinya. Apa dia sedang mencoba membuat Ranti kembali berharap? Jelas ia tidak memiliki perasaan kepada Ranti namun kenapa ia mengatakan hal tersebut dan bersikap manis kepada nya?.
"Apa aku boleh kembali berharap? Tapi rasanya tidak ada harapan untuk ku!"
...🤎 Bersambung🤎...
Kamu plin plan banget sih ahhh, jangan berharap lagi sama Atlas.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀