Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 17: Packet Loss
Debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit kamar sempit Kelas F akibat getaran sisa ledakan sinyal magis yang dipantulkan dari jaringan militer di luar batas akademi. Di atas meja kayu, pendaran biru dari cincin perak Kael berangsur-angsur meredup menjadi garis-garis tipis yang stabil.
Jauh di luar tembok akademi, barisan Pasukan Inkuisisi Militer yang dipimpin oleh Jenderal Vane berada dalam kekacauan total. Golem-golem tempur berukuran raksasa tergeletak tak berdaya di atas tanah bagaikan rongsokan besi mati, sementara para prajurit elit berlarian kebingungan tanpa arah, mencoba mencari sumber gangguan yang memutus seluruh mata rantai komunikasi mereka dengan ibu kota. Tanpa pasokan energi sinkronisasi dari *Ley Lines*, armada yang tadinya digdaya itu kini lumpuh total, kehilangan koordinasi, dan terpaksa membatalkan misi pengepungan sebelum mereka bahkan sempat menyentuh gerbang utama akademi.
Di dalam ruangan, Elara Vane menyeka keringat tipis yang menetes di pelipisnya. Ia menjatuhkan diri ke atas kursi reot di sebelah meja, napasnya perlahan kembali teratur meski sisa-sisa ketegangan masih membekas di dadanya.
"Mereka mundur," ucap Elara dengan nada tak percaya, matanya menatap layar proyeksi tiga dimensi yang menunjukkan titik-titik merah pasukan militer berangsur menjauh meninggalkan batas akademi. "Satu batalion penuh pasukan khusus paling mematikan di kerajaan... dipaksa mundur tanpa sempat melepaskan satu panah pun, hanya karena jaringan mereka mengalami *crash*."
Kaelen Vance tidak menanggapi pujian itu. Jari telunjuknya masih mengetuk meja dengan ritme teratur yang dingin. *Tap. Tap. Tap.*
"Mereka tidak punya pilihan lain," kata Kael datar. "Dalam sistem militer konvensional, pasukan yang terisolasi dari pusat komando adalah kelompok yang rentan. Melanjutkan invasi tanpa *bandwidth* komunikasi sama dengan melakukan bunuh diri massal. Jenderal Vane mungkin arogan, tapi insting bertahan hidupnya cukup efisien."
Elara menoleh, menatap pemuda berambut hitam itu dengan tatapan yang dipenuhi rasa kagum yang mendalam. "Kau melumpuhkan kekuatan militer kerajaan bukan dengan sihir penghancur, melainkan dengan memutus aliran data mereka. Kaelen Vance, terkadang aku bertanya-tanya apakah kau ini manusia atau eksistensi dari dunia lain yang sengaja dikirim untuk merombak ulang hukum peradaban kami."
"Pertanyaan yang tidak efisien," balas Kael tanpa ekspresi, menghentikan ketukan jarinya. "Asal-usul tidak mengubah struktur logika. Yang penting adalah hasil akhir dari efisiensi operasional."
Kael berdiri dari kursinya. Ia merapikan jubah sederhananya, lalu menatap lurus ke arah peta topologi kerajaan yang masih membentang di udara.
"Meskipun Pasukan Inkuisisi telah mundur, masalah utama kita belum sepenuhnya selesai," lanjut Kael dengan suara berat. "Serangan *Denial of Service* yang kita lancarkan tadi malam meninggalkan jejak anomali berupa *packet loss* yang masif di sepanjang jalur *Ley Lines* utama. Para teknisi sihir kuil di ibu kota pasti akan segera menyadari adanya kebocoran data dan manipulasi rute routing."
Alis Elara kembali bertaut, rasa cemasnya seketika kembali muncul. "Maksudmu... mereka akan tahu bahwa kita sedang menyadap dan mengendalikan jaringan pusat?"
"Mereka tidak akan langsung tahu siapa pelakunya, karena enkripsi penyamaran kita masih utuh," jelas Kael tenang. "Tapi mereka akan meningkatkan status keamanan jaringan ke level siaga tertinggi. Mereka akan memasang protokol enkripsi baru yang lebih ketat, dan mungkin mencoba melakukan *hard reset* pada titik-titik distribusi *Ley Lines* di seluruh wilayah kerajaan."
Kael memutar cincin peraknya, dan proyeksi peta di hadapannya berubah menampilkan struktur arsitektur node pusat di Kuil Utama Ibu Kota.
"Jika mereka berhasil melakukan *hard reset* pada *Ley Lines*, hubungan kita dengan jaringan global akan terputus, dan kita harus mengulangi proses penyusupan dari awal," kata Kael dingin. "Kita tidak boleh membiarkan mereka menyelesaikan pembaruan sistem itu."
Elara bangkit berdiri, tatapannya menyala oleh tekad baru. "Lalu apa rencana kita selanjutnya? Kita tidak bisa tinggal diam menunggu mereka memperbaiki jaringan."
"Tentu saja tidak," jawab Kael. Ia melangkah menuju pintu kamar, lalu berbalik menatap Elara dengan sorot mata abu-abunya yang setajam pedang. "Kita akan melakukan serangan balik preemptif. Kita tidak akan menunggu mereka memperbaiki jaringan dari ibu kota. Kita sendiri yang akan masuk ke jantung sistem mereka, menanamkan *firmware* permanen di server utama Kuil Ibu Kota, dan mengunci hak akses mereka selamanya."
Elara terkesiap kecil, namun sudut bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum penuh tantangan. "Kau ingin meretas Kuil Utama Kerajaan secara langsung?"
"Bukan meretas," koreksi Kael mutlak. "Kita akan mengambil alih kepemilikan server pusat. Bersiaplah, Elara. Kita berangkat ke ibu kota malam ini."