Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Bandung
"Kartu siapa ini?"
Kai keluar dari ruang sempit sambil menggendong Mochi. Begitu melihat kartu hitam di tangan Keira, langkahnya berhenti.
"Milikku."
"Aku tahu itu ada di sakumu. Maksudku, bagaimana kamu punya kartu seperti ini?"
Kai menurunkan Mochi. Anjing itu langsung menyelip di antara kaki mereka.
"Fasilitas dari pekerjaan lama."
"Bukankah kamu bilang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan?"
"Aku pernah bekerja sebelum datang ke sini. Kartunya sudah lama tidak kupakai."
Keira membalik kartu. Nama pemilik tidak tercetak di permukaan, hanya cip emas dan logo bank privat yang tidak dia kenal.
"Bisa dipakai?"
"Mungkin."
"Mungkin?"
Kai mengambil kartu itu dan memasukkannya ke dompet. "Kalau kamu khawatir aku penipu, saldo rekeningmu aman. Aku bahkan tidak tahu PIN ATM-mu."
"Bukan itu. Semua benda milikmu bertentangan dengan cerita hidupmu."
"Jas bagus bisa dibeli saat masih punya pekerjaan. Kartu bisa tersisa setelah berhenti."
Penjelasannya masuk akal, tetapi terlalu rapi.
Mochi menggonggong minta sarapan. Kai menggunakan kesempatan itu untuk berjalan ke dapur. Keira tidak mengejar, tetapi rasa ingin tahunya tinggal.
Seminggu kemudian, Keira ditugaskan menghadiri pertemuan keselamatan penerbangan dan evaluasi pemasok pelatihan di Bandung. NusAir mengirim mobil perusahaan pagi-pagi. Perjalanan dari Jakarta memakan hampir tiga jam setelah lalu lintas padat di jalan keluar kota.
Keira tiba menjelang makan siang, mengikuti presentasi sampai sore, lalu memeriksa simulator baru bersama tim teknis. Dia mencatat keterlambatan respons sistem dan meminta pemasok memperbaiki data sebelum kontrak ditandatangani.
"Kamu masih sama seperti dulu."
Suara pria dari belakang membuat Keira menoleh.
William Setiawan berdiri sambil membawa map konferensi. Kemeja birunya rapi, kacamata tipis membuatnya terlihat seperti dosen muda.
"William?"
"Aku hampir tidak yakin itu kamu sampai mendengar cara kamu mengoreksi presenter."
Mereka pernah bertemu beberapa tahun lalu dalam seminar sekolah penerbangan. William kini bekerja sebagai peneliti sistem keselamatan dan menjadi konsultan akademik untuk pemasok tersebut.
"Aku tidak mengoreksi," kata Keira. "Aku meminta data yang benar."
"Dengan wajah yang membuat mereka ingin mengulang seluruh presentasi."
Keira tertawa. Setelah berminggu-minggu menghadapi skandal kantor, berbicara dengan seseorang yang mengenalnya hanya sebagai pilot terasa ringan.
Mereka minum kopi di lobi sambil menunggu tim masing-masing selesai. William bertanya tentang karier Keira, bukan gosip Revan atau video pesta. Ketika Keira menjelaskan penerbangan kembali pertamanya, William mendengarkan dengan perhatian yang tidak dibuat-buat.
"Aku selalu tahu kamu akan bertahan," katanya.
"Kita baru bertemu dua kali."
"Dua kali cukup untuk tahu kamu tidak mudah menyerah."
Ponsel Keira berbunyi. Kai melakukan panggilan video. Wajahnya muncul bersama kepala Mochi yang memenuhi setengah layar.
"Mochi tidak mau makan," katanya.
"Karena kamu memberi camilan terlalu banyak. Tunjukkan mangkuknya."
Kai mengarahkan kamera. Dari belakang terdengar suara William meminta pelayan menambah air.
"Kamu bersama siapa?" tanya Kai.
"William. Teman lama dari seminar."
William membungkuk ke layar. "Halo."
Kai hanya mengangguk. "Kapan acara selesai?"
"Sudah. Kami mau makan malam sebelum kembali ke hotel."
"Kami?"
Keira menyipitkan mata. "Aku dan William. Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Jawaban itu terlalu cepat.
Setelah panggilan selesai, William tersenyum. "Pacarmu?"
"Teman serumah."
"Dia tidak terlihat seperti hanya teman serumah."
Keira menyesap kopi agar tidak perlu menjawab.
Di Jakarta, Kaizan meletakkan ponsel di meja.
"Mo."
Moreno yang sedang membaca laporan di seberangnya mengangkat kepala. "Ya, Bos?"
"Siapkan pesawat ke Bandung."
"Rapat audit mulai empat puluh menit lagi."
"Kamu pimpin."
"Ada keadaan darurat?"
"Ada konsultan keselamatan mengajak Keira makan malam."
Moreno menatapnya beberapa detik. "Saya tidak yakin itu masuk definisi keadaan darurat penerbangan."
"Sekarang masuk."
Pesawat kecil milik perusahaan lepas landas kurang dari satu jam kemudian. Kaizan berganti dari setelan kerja menjadi kemeja polos di kabin, lalu melanjutkan perjalanan dari bandara dengan mobil yang disiapkan tim lokal.
Sebelum mendarat, dia tetap mengikuti rapat audit melalui sambungan terenkripsi. Moreno memaparkan bukti aliran dana vendor yang membantah tuduhan Teguh. Kaizan menyetujui penyerahan dokumen kepada penyidik dan melarang tim komunikasi menyerang kehidupan pribadi pelapor.
"Jawab dengan data," katanya. "Jangan ubah ini jadi perang gosip."
"Dipahami, Bos. Lalu untuk alasan perjalanan Bandung di laporan penggunaan pesawat?"
Kaizan diam sebentar. "Pemeriksaan mitra pelatihan."
"Kebetulan Bu Keira juga memeriksa mitra yang sama."
"Itu fakta."
Moreno menahan tawa. "Tentu."
Kaizan menutup sambungan, lalu memeriksa pesan dari penjaga hewan sementara yang diminta datang ke apartemen menjaga Mochi. Semua tanggung jawab sudah dia atur. Satu-satunya hal yang tidak bisa dia atur adalah bayangan Keira duduk berdua dengan William.
Sementara itu, Keira dan William makan di sebuah restoran Sunda modern. Meja mereka menghadap taman kecil dengan lampu gantung.
"Aku senang kita bertemu lagi," kata William. "Kalau kamu kembali ke Bandung, izinkan aku mengajakmu melihat laboratorium kami."
"Kalau ada urusan kerja, tentu."
"Harus urusan kerja?"
Keira meletakkan sendok. Nada William tetap sopan, tetapi maksudnya jelas.
"William, aku sedang tidak mencari hubungan."
"Aku tidak meminta jawaban malam ini. Aku hanya ingin jujur bahwa aku tertarik."
Keira menghargai keterusterangannya. Tidak ada jebakan atau tuntutan. "Terima kasih. Tapi aku tidak ingin memberimu harapan yang salah."
"Karena pengalamanmu sebelumnya?"
"Sebagian."
"Atau karena teman serumah yang menelepon untuk memeriksa mangkuk anjing?"
Keira memandang taman. Ingatan tentang kunang-kunang, tangan yang meminta izin, dan ciuman di bawah pohon membuat bibirnya terasa hangat lagi.
"Hubungan kami rumit."
"Tapi ada sesuatu."
Keira tidak menjawab. Diamnya cukup.
William menarik napas, lalu tersenyum kecil. "Baik. Aku tidak akan masuk ke ruang yang sudah ditempati orang lain."
"Maaf."
"Jangan minta maaf karena jujur." William menuangkan teh untuk mereka. "Aku tertarik karena kamu tegas. Akan aneh kalau aku marah saat ketegasan itu diarahkan kepadaku."
Ketegangan di bahu Keira mengendur. "Kamu pantas bertemu orang yang tersedia sepenuhnya."
"Dan kamu pantas mendapat orang yang tidak membuatmu menebak apakah dia akan tinggal."
Kalimat itu mengenai bagian yang belum berani Keira periksa. Kontrak mereka hanya enam bulan. Kai belum pernah mengatakan apa yang terjadi setelahnya.
William mengangguk, meski kecewa terlihat di matanya. "Setidaknya kita masih bisa menyelesaikan makan malam sebagai teman."
"Tentu."
Seorang pelayan mendekat, tetapi tidak membawa makanan. Dia mempersilakan pria lain masuk ke area taman.
Keira mengenali langkahnya lebih dulu.
Kai berhenti di samping meja. Tidak terengah, tidak kusut setelah perjalanan lintas kota. Hanya matanya yang terlihat terlalu tenang.
"Kai?" Keira berdiri. "Kamu melakukan apa di Bandung?"
Kai tidak menjawabnya. Dia mengulurkan tangan kepada William.
"Hai," katanya. "Aku suaminya."
William membeku dengan tangan setengah terangkat.