NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang Darurat

"Anda bisa menggunakan kuda cadangan milik pasukanku, Nona Montmirail. Duduk di atas sisa puing kereta kayu itu hanya akan mengotori pakaian Anda lebih jauh."

​Suara bariton Lucien terdengar berat dan canggung memecah kesunyian di tengah Hutan Vaudémont. Pria itu masih memegang tali kekang kuda hitamnya, menatap lurus ke arah Geneviève yang sedang berjongkok di atas kereta sewaan yang hancur.

​"Pakaian saya sudah hancur sejak satu jam yang lalu, Tuan Duke," balas Geneviève tanpa menoleh sedikit pun. Kedua tangannya sibuk menekan robekan kain bersih ke bahu kusir tuanya yang sedang merintih kesakitan. "Saya lebih memilih duduk di sini. Kusir saya membutuhkan tekanan konstan pada lukanya agar racun panah ini tidak menyebar lebih cepat. Saya ragu kuda cadangan Anda memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan pertama."

​Lucien terpaku di tempatnya. Ia terbiasa melihat Geneviève menjerit ketakutan hanya karena melihat serangga kecil di taman istana. Wanita di masa lalu itu bahkan pernah jatuh pingsan karena jarinya tidak sengaja tertusuk jarum sulam. Kini, wanita yang sama sedang menekan luka berdarah dengan wajah sedingin es, mengabaikan fakta bahwa ujung hidung dan pipinya dipenuhi noda lumpur kotor.

​Kebingungan merayap di dada Lucien. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Tidak ada wanita yang bisa berubah drastis dalam waktu satu malam kecuali ia memalsukan sikap aslinya selama bertahun-tahun. Namun, untuk apa Geneviève berpura-pura menjadi wanita lemah dan terobsesi?

​Di sudut lain barikade, Odette sedang sibuk mengelap kunci inggris besinya menggunakan daun kering. Gaspard berdiri tegak tidak jauh dari pelayan itu. Ksatria bayangan tersebut menyodorkan selembar kain linen putih yang sangat bersih.

​"Gunakan kain ini, Nona Odette. Daun kering bisa meninggalkan getah yang merusak lapisan besi senjata Anda," ucap Gaspard kaku. Wajahnya sama sekali tidak berekspresi, namun telinganya sedikit memerah di bawah cahaya obor.

​Odette menatap kain bersih itu, lalu menatap wajah Gaspard. Pelayan itu mendengus pelan dan merampas kain tersebut. "Setidaknya Anda lebih berguna daripada majikan Anda yang hanya tahu cara berdiri mematung di sana. Terima kasih, Tuan Ksatria Kaku."

​Gaspard tidak menjawab. Ia hanya mengangguk patah-patah dan kembali berdiri semakin tegak, seolah baru saja menerima pujian tertinggi dari jenderal perang.

​Rombongan itu akhirnya kembali ke ibu kota Lumière dengan pengawalan penuh pasukan Vaudémont. Lucien memerintahkan anak buahnya untuk menyeret para pembunuh bayaran yang tertangkap hidup-hidup. Begitu mereka tiba di gerbang kota, langit sudah mulai memancarkan cahaya kebiruan pertanda fajar.

​Geneviève sama sekali tidak membuang waktu untuk tidur.

​Begitu ia menginjakkan kaki di kediaman Montmirail, ia langsung mengunci diri di ruang kerja bersama Odette. Kopi hitam pekat diseduh berulang kali. Geneviève membongkar buku kas bersampul kulit merah milik Walikota, menyandingkannya dengan tumpukan catatan pajak harian, daftar kedatangan kapal, dan rincian harga pasar komoditas laut yang ia simpan di rak ayahnya. Otaknya bekerja seperti mesin hitung tanpa cacat.

​Siang harinya, matahari bersinar sangat terik di atas alun-alun ibu kota. Balai Keadilan Lumière dipenuhi oleh kerumunan bangsawan tingkat menengah, para menteri, dan rakyat biasa yang penasaran.

​Atas permintaan resmi Geneviève de Montmirail, sebuah sidang publik darurat digelar. Ksatria Vaudémont telah menyeret Walikota Pesisir Timur dari tempat tidurnya pada pagi buta atas tuduhan percobaan pembunuhan. Berita itu menyebar secepat api membakar rumput kering.

​Di tengah ruangan balai sidang yang megah, sang Walikota berdiri dengan wajah memerah karena marah. Pria buncit itu mengenakan pakaian sutra mewahnya yang berantakan, menatap Geneviève yang duduk tenang di kursi penuntut.

​Geneviève telah membersihkan diri. Ia mengenakan gaun beludru berwarna biru gelap yang memancarkan aura otoritas absolut. Rambutnya disanggul rapi. Sama sekali tidak ada sisa-sisa wanita gembel berlumpur yang berkeliaran di hutan semalam.

​Lucien duduk bersila di balkon VIP lantai dua, ditemani oleh Gaspard. Sebagai Duke penguasa wilayah tempat percobaan pembunuhan itu terjadi, Lucien wajib hadir. Matanya tidak pernah lepas dari sosok Geneviève di bawah sana.

​"Anda menyeret saya dari tempat tidur saya dengan pengawalan ksatria bersenjata penuh," cemooh sang Walikota, suaranya menggema ke seluruh ruangan. Ia menunjuk Geneviève dengan jari gemetar. "Hanya karena tuduhan kosong seorang wanita yang sedang tidak stabil secara emosional. Semua orang di kekaisaran ini tahu rekam jejak Anda, Nona Montmirail. Anda pernah membakar gaun Anda sendiri di tengah malam dan mengamuk di depan Istana Soleil."

​Suara gumaman setuju mulai terdengar dari bangku penonton. Para bangsawan berbisik-bisik, menutupi mulut mereka dengan kipas.

​"Dia pasti mencari perhatian Duke Lucien lagi," bisik seorang wanita bangsawan berbaju kuning. "Kudengar Duke Vaudémont sendiri yang mengawalnya pulang semalam. Ini pasti hanya taktik dramatisnya agar Tuan Duke membelanya di depan umum."

​Rasa frustrasi merayap naik ke permukaan. Orang-orang di ruangan ini terlalu buta oleh gosip murahan. Mereka lebih memercayai reputasi buruk seorang wanita yang sedang patah hati daripada melihat fakta bahwa Walikota di depan mereka ini memiliki wajah seperti babi rakus.

​Lucien yang mendengar bisikan dari bangku penonton merasakan dadanya memanas. Rahangnya mengeras. Ia mencengkeram pembatas balkon dari kayu jati itu hingga buku-buku jarinya memutih. Tiba-tiba, pelipisnya berdenyut nyeri, dan rasa panas aneh menjalar dari balik kemejanya, tepat di tempat ia menyembunyikan bros ungu usang miliknya. Entah mengapa, mendengar orang lain menghina Geneviève hari ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pedang di medan perang. Ia ingin membentak mereka semua agar diam.

​Namun, Geneviève sama sekali tidak terlihat terpengaruh. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman meremehkan yang sangat elegan.

​"Saya mungkin pernah bertindak emosional di masa lalu, Tuan Walikota," balas Geneviève dengan suara tenang yang jernih. "Tetapi saya tidak pernah mencuri seratus ribu koin emas dari kas wilayah untuk mendanai gaya hidup mewah saya. Berbeda dengan Anda."

​Walikota itu tertawa keras, sebuah tawa yang dipaksakan. Ia melirik ke arah beberapa menteri di bangku depan yang merupakan sekutu faksi kerajaan.

​"Ini adalah fitnah keji tingkat tinggi," seru Walikota dengan nada suara pahlawan yang tertindas. "Setiap koin yang keluar dari pelabuhan pesisir telah dihitung dengan cermat. Laporan saya selalu diperiksa dan disetujui secara resmi oleh Menteri Perdagangan, Marquis de Chanteclair. Apakah Anda berani menuduh paman dari Yang Mulia Putri Mahkota Camille bersekongkol dengan saya untuk mencuri? Ini adalah bentuk penghinaan mutlak terhadap Keluarga Kerajaan."

​Seluruh ruangan seketika hening. Beberapa orang menarik napas kaget. Nama Keluarga Kerajaan adalah tameng tak tertembus di Kekaisaran Valerand. Menuduh kerabat Putri Mahkota korupsi sama saja dengan mendeklarasikan tindakan makar.

​Odette yang berdiri di belakang kursi Geneviève mendengus sangat keras, tidak peduli dengan tatapan tajam para penjaga sidang. Ia membenci pria buncit itu hingga ke ubun-ubun.

​Sang Walikota mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia merasa telah memenangkan perdebatan ini. Berlindung di balik nama Putri Mahkota selalu menjadi jalan keluar paling aman. Tidak akan ada bangsawan yang berani melanjutkan tuduhan ini demi menyelamatkan nyawa mereka sendiri.

​"Saya sarankan Anda mencabut tuduhan Anda dan meminta maaf kepada saya, Nona Montmirail. Jika tidak, saya akan melaporkan kelancangan ini langsung kepada Yang Mulia Putri Mahkota," ancam Walikota dengan senyum licik.

​Geneviève tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat anggun. Tangannya memberi isyarat kepada Odette.

​Odette melangkah maju membawa dua tumpuk dokumen yang sangat tebal. Tumpukan pertama adalah buku besar palsu yang selama ini dilaporkan ke ibu kota. Tumpukan kedua adalah kumpulan kertas perkamen baru yang penuh dengan tulisan tangan Geneviève.

​Geneviève berjalan ke tengah ruangan, tepat di hadapan podium hakim. Ia menatap sang Walikota dengan pandangan yang biasanya digunakan seseorang saat melihat tumpukan sampah basah di pinggir jalan.

​"Anda berlindung di balik nama Keluarga Kerajaan untuk menutupi kebodohan Anda dalam matematika dasar, Tuan Walikota," ucap Geneviève tajam.

​Sang Walikota tersentak mundur satu langkah. "Apa maksud Anda?"

​Geneviève mengangkat tumpukan kertas hasil kerjanya semalaman dan membantingnya ke atas meja kayu ek di tengah ruangan.

​BAM.

​Suara benturan kertas tebal dan meja kayu itu bergema keras, membuat beberapa menteri di barisan depan terlonjak kaget.

​"Anda memanipulasi angka pengeluaran operasional di buku kas, itu benar," mulai Geneviève, suaranya kini mendominasi seluruh balai sidang tanpa perlu berteriak. "Namun, Anda lupa bahwa wilayah pesisir Montmirail bukan sekadar pelabuhan transit. Itu adalah pusat pelelangan hasil laut kekaisaran. Anda bisa memalsukan harga perawatan kapal, tetapi Anda tidak bisa memalsukan alam."

​Geneviève membuka halaman pertama laporannya dengan gerakan cepat.

​"Di dalam laporan palsu Anda bulan lalu, Anda menyatakan pendapatan pelabuhan menurun drastis karena badai muson. Anda melaporkan hasil panen udang karang dan mutiara hanya mencapai lima puluh ton, sehingga setoran pajak ke kas wilayah kami menyusut."

​"Itu adalah fakta," bantah Walikota, keringat mulai muncul di dahinya. "Catatan serikat nelayan membenarkan hal itu."

​Geneviève tersenyum miring, senyum predator yang siap mencabik mangsanya.

​"Serikat nelayan yang Anda suap mungkin membenarkan hal itu. Tetapi catatan logistik pasar ibu kota tidak berbohong," balas Geneviève mematikan. Ia menunjuk deretan angka di laporannya. "Saya menghabiskan sisa malam saya untuk mencocokkan data harian dari pintu masuk pasar Lumière. Bulan lalu, tercatat ada lebih dari tiga ratus ton udang karang dan mutiara mentah yang masuk ke ibu kota dari arah pesisir timur. Semuanya memiliki stempel cukai Montmirail."

​Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Argumen logika mulai meresap ke dalam otak para bangsawan yang hadir.

​"Jika laut pesisir timur hanya menghasilkan lima puluh ton karena badai, dari mana datangnya sisa dua ratus lima puluh ton komoditas laut tersebut?" Geneviève melangkah mendekati Walikota yang kini mulai pucat pasi. "Apakah udang karang itu terbang dari benua seberang dan mendarat sendiri di keranjang pedagang pasar ibu kota?"

​Walikota membuka mulutnya, mencari-cari alasan, tetapi tidak ada suara yang keluar.

​Geneviève tidak berhenti sampai di situ. Ia mengambil buku kulit merah yang ia curi dari brankas semalam dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

​"Anda sangat bodoh menyembunyikan bukti kejahatan Anda di balik lukisan norak Anda sendiri," ucap Geneviève dingin. Ia melemparkan buku merah itu ke meja hakim. "Ini adalah buku kas asli sang Walikota. Di dalamnya tercatat dengan sempurna bahwa hasil laut tidak pernah menurun. Beliau menjual sisa dua ratus lima puluh ton itu secara gelap ke pasar ibu kota tanpa memasukkannya ke dalam kas wilayah. Setelah itu, beliau membagi keuntungan gelap tersebut ke sebuah rekening anonim di serikat dagang bawah tanah."

​Hakim ketua, seorang pria tua dengan janggut putih panjang, segera membuka buku merah tersebut. Matanya terbelalak melihat rincian angka yang tertera di sana.

​Geneviève berbalik menghadap ke arah bangku penonton, memastikan suaranya terdengar oleh semua sekutu faksi kerajaan yang hadir.

​"Mari kita perjelas satu hal, Tuan Walikota," suara Geneviève memotong setiap keraguan yang tersisa di udara. "Saya tidak pernah menuduh Keluarga Kerajaan ataupun Marquis de Chanteclair melakukan korupsi. Tuduhan itu adalah asumsi gila yang keluar dari mulut Anda sendiri hari ini."

​Geneviève berjalan perlahan mengitari sang Walikota yang kini gemetar hebat.

​"Saya hanyalah putri Duke yang sedang menertibkan tikus kotor di wilayah ayahnya. Dokumen ini, rincian hasil laut ini, dan pajak pelabuhan yang saya susun semalaman membuktikan tanpa celah bahwa Anda mencuri dari keluarga Montmirail," ucap Geneviève tajam. Ia berhenti tepat di depan Walikota.

​"Jika Anda berani mengatakan bahwa aliran dana ilegal dari pencurian hasil laut ini masuk ke kantong paman Putri Mahkota, maka Andalah yang sedang menyeret nama suci mereka ke dalam kubangan lumpur ini. Jadi, katakan padaku, Tuan Walikota. Apakah Anda merampok pelabuhan ini sendirian, atau Anda ingin menyeret Marquis de Chanteclair mati bersama Anda di tiang gantungan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!