NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Rekrutmen Baru

Tiga hari setelah video helikopter membuat Rumah Anggrek gelisah, Kiara memilih tenggelam di pekerjaan.

Ruang wawancara PT Hartono Group berada di lantai dua puluh satu, dengan kaca besar menghadap jalan Sudirman. Di meja panjang, beberapa berkas kandidat tersusun rapi. Manajer HR duduk di sebelah Kiara, membawa tablet dan daftar penilaian.

"Bu Kiara yakin ingin ikut sampai sesi terakhir?" tanya manajer HR itu.

"Saya ingin lihat sendiri."

"Untuk posisi junior?"

"Justru untuk posisi junior."

Manajer HR tidak bertanya lagi.

Sejak kasus Kusuma, sejak Cakra Capital masuk sebagai investor obligasi, sejak gosip tentang Arga tersebar, banyak orang di kantor berjalan lebih hati-hati di dekat Kiara. Mereka mengira ia sedang rapuh. Mereka salah. Kiara tidak rapuh.

Ia hanya lelah dengan orang-orang yang pintar terlihat kuat tetapi kosong ketika diuji.

Kandidat pertama masuk dengan CV sempurna. Universitas luar negeri, magang di perusahaan multinasional, sertifikat yang cukup banyak untuk memenuhi setengah halaman. Ia bicara lancar, memakai istilah Inggris dengan percaya diri, dan tiga kali menyebut koneksi keluarganya dengan seorang komisaris.

Kiara mendengarkan sampai selesai.

"Kalau atasan meminta Anda mengubah angka kecil di laporan vendor agar terlihat sesuai target, apa yang Anda lakukan?"

Kandidat itu tersenyum. "Tergantung konteks, Bu. Dalam bisnis, kadang kita perlu fleksibel."

Kiara memberi tanda kecil pada berkas.

Fleksibel.

Kandidat kedua lebih buruk. Ia menyebut "siap bekerja keras" tetapi tidak bisa menjelaskan satu pengalaman konkret. Kandidat ketiga sopan, tetapi terlalu sibuk menebak jawaban yang Kiara ingin dengar.

Lalu kandidat terakhir masuk.

Perempuan muda itu memakai kemeja putih sederhana yang jelas disetrika hati-hati. Sepatunya bersih, tetapi bukan baru. Ia membawa map plastik biru dan duduk setelah dipersilakan. Di CV, universitasnya bukan kampus besar. Pengalaman kerjanya hanya magang di koperasi dan membantu administrasi toko keluarganya.

Manajer HR berbisik, "Secara kualifikasi, dia paling lemah."

Kiara tidak menjawab.

"Ceritakan kesalahan terbesar yang pernah Anda buat saat bekerja," kata Kiara.

Kandidat itu menelan ludah. "Saya pernah salah memasukkan angka stok, Bu. Toko keluarga saya hampir memesan barang dua kali lipat. Waktu itu saya takut dimarahi, tapi saya lapor ke paman saya sebelum pesanan dikirim. Kami masih rugi biaya administrasi, tapi tidak jadi rugi besar."

"Kenapa tidak diam saja?"

"Karena kalau diam, besoknya saya harus menutup satu kebohongan dengan kebohongan lain."

Kiara mengangkat mata dari berkas.

Jawaban itu tidak indah.

Tetapi jujur.

"Kalau bekerja di sini, Anda akan berhadapan dengan orang yang CV-nya lebih bagus, bahasa Inggrisnya lebih lancar, dan keluarganya lebih punya nama. Apa yang Anda punya?"

Perempuan muda itu menggenggam mapnya.

"Saya bisa dipercaya, Bu. Saya belajar cepat. Kalau saya tidak tahu, saya akan bilang tidak tahu. Tapi saya tidak akan pura-pura bisa lalu merusak pekerjaan orang lain."

Manajer HR mencatat sesuatu, wajahnya masih ragu.

Kiara belum selesai.

"Kalau suatu hari keluarga pemilik perusahaan meminta Anda meloloskan pembayaran vendor yang dokumennya kurang, apa yang Anda lakukan?"

Perempuan muda itu tampak kaget. Pertanyaan itu terlalu tajam untuk posisi junior. Ia berpikir beberapa detik.

"Saya akan minta dokumennya dilengkapi, Bu."

"Kalau yang meminta itu direktur?"

"Saya tetap minta dokumen. Tapi mungkin cara bicara saya lebih hati-hati."

"Kalau Anda diancam tidak lolos masa percobaan?"

Wajah perempuan itu memucat, tetapi ia tidak menunduk.

"Kalau saya tanda tangan sesuatu yang salah hanya karena takut, masa percobaan saya mungkin lolos, tapi setelah itu saya akan jadi orang yang bisa ditekan terus."

Sinta yang berdiri di dekat kaca mengangkat mata.

Jawaban itu sederhana.

Tetapi di perusahaan keluarga seperti Hartono, sederhana kadang lebih langka daripada pintar.

Kiara menutup berkas.

"Saya pilih dia."

Manajer HR terkejut. "Bu?"

"Untuk posisi junior analyst. Masa percobaan tiga bulan. Pasangkan dengan mentor yang sabar dan tidak mempermalukan anak baru."

"Tapi kandidat pertama punya pengalaman lebih kuat."

"Perusahaan butuh orang yang bisa diandalkan. CV bagus saja tidak cukup."

Kalimat itu membuat ruangan diam.

Manajer HR mencoba sekali lagi. "Beberapa direksi mungkin bertanya kenapa kandidat dari kampus biasa bisa dipilih langsung oleh Ibu."

"Tulis alasan saya di catatan seleksi."

"Baik, Bu."

"Dan kalau ada yang keberatan, suruh bicara dengan saya. Jangan tekan kandidatnya."

Manajer HR menunduk lebih dalam. "Baik."

Di dekat pintu kaca, Sinta Rahayu yang sejak tadi mengamati tanpa banyak bicara menatap Kiara dengan ekspresi berbeda. Ada pengakuan sunyi di wajahnya: keputusan ini datang dari pemimpin yang tahu harga kepercayaan.

"Saya setuju," kata Sinta akhirnya.

Manajer HR menunduk. "Baik, Bu."

Setelah kandidat keluar, Kiara tetap duduk di ruang wawancara.

Manajer HR merapikan berkas. "Bu Kiara tampak agak tidak fokus hari ini."

Kiara menoleh. "Kelihatan?"

"Sedikit." Perempuan itu tersenyum hati-hati. "Ada yang lagi dipikirin, ya?"

Sinta yang berdiri di dekat jendela pura-pura tidak mendengar.

Kiara membuka ponselnya. Entah kenapa, ibu jarinya langsung menuju folder itu.

?

Video bank ada di sana. Video helikopter ada di bawahnya. Tiga foto lama Arga di rumah. Nama Cakra Capital di artikel yang ia simpan diam-diam.

Ia tidak memutarnya.

Cukup melihat thumbnail-nya saja sudah membuat dadanya berat.

"Tidak ada," katanya.

Manajer HR tentu tidak percaya, tetapi ia cukup bijak untuk tidak mengejar.

Sinta baru bicara setelah mereka berdua tinggal sendiri.

"Kalau ada sesuatu yang mengganggu, Bu, saya bisa bantu urus pekerjaan yang mendesak."

Kiara menutup ponsel. "Tidak perlu, Mbak Sinta."

"Baik."

Sinta hendak pergi, lalu berhenti. "Keputusan tadi bagus."

"Soal kandidat?"

"Ya. Banyak orang di perusahaan ini pandai menjual diri. Tidak banyak yang berani berkata tidak tahu."

Kiara tersenyum tipis. "Saya mulai lelah dengan orang yang terlihat hebat di luar."

Sinta menangkap sesuatu di balik kalimat itu, tetapi tidak bertanya.

Sore menjelang malam, Kiara meninggalkan kantor lebih lambat dari biasanya.

Mobilnya keluar dari parkiran PT Hartono Group dan masuk ke arus Sudirman. Sopir bertanya, "Langsung pulang ke Rumah Anggrek, Bu?"

Kiara melihat layar ponselnya.

Tidak ada pesan dari Arga.

Ia hampir mengetik namanya, lalu berhenti.

"Ke Menteng," katanya.

Sopir menoleh sedikit lewat kaca spion. "Baik, Bu."

Mobil melaju.

Sepuluh menit kemudian, Kiara baru menyadari apa yang ia lakukan.

Menteng.

Villa Puncak ada di arah itu.

Ia bahkan tidak tahu apakah Arga ada di rumah. Tidak tahu apakah ia punya hak datang. Tidak tahu kalimat pertama apa yang harus diucapkan jika gerbang itu terbuka.

Di persimpangan sebelum masuk kawasan Menteng, Kiara menutup mata.

"Putar balik."

Sopir memperlambat mobil. "Bu?"

"Kembali ke Rumah Anggrek."

"Baik."

Mobil berputar.

Kiara menatap lampu jalan yang bergeser di kaca.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa jarak antara dirinya dan Arga bukan hanya rahasia laki-laki itu.

Sebagian jarak itu ia bangun sendiri.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!