Tiga tahun jadi sampah!
Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.
Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.
Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!
Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.
Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.
Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.
Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.
Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Pedang Embun Pertama di Puncak Salju
Balai Disiplin yang tadi dipenuhi dengan suara ejekan kini sunyi senyap seperti kuburan tengah malam.
Semua murid menatap pemandangan di depan mereka dengan mulut terbuka lebar. Di tengah arena batu hitam yang retak retak, serpihan kayu besi hitam dari boneka ujian Alam Jiwa Kesatria tingkat satu masih beterbangan pelan dan jatuh ke lantai.
Dan di tengah hujan serpihan kayu itu berdiri Arya Langit.
Jubah murid Puncak Embun yang baru dia kenakan sedikit berdebu, tapi wajahnya tenang. Tangan kanannya yang baru saja menghancurkan boneka ujian dengan satu pukulan kini dimasukkan ke dalam saku dengan santai, seolah apa yang baru saja dia lakukan hanyalah memukul nyamuk, bukan menghancurkan boneka yang bahkan bisa membuat murid inti berkeringat dingin.
Tetua Batu, Tetua Disiplin yang terkenal paling kejam dan paling kaku di seluruh Perguruan Langit Biru, wajahnya berubah ubah warna dari merah padam karena marah, menjadi putih pucat karena kaget, lalu menjadi biru karena malu.
Dia sudah menerima lima ratus Batu Roh kelas menengah dari Rafa Adiputra semalam. Tugasnya sederhana, buat Arya Langit cacat permanen di dalam ujian dengan alasan kecelakaan ujian. Itu adalah hal yang sangat mudah, karena dalam sejarah perguruan, kecelakaan dalam ujian melawan boneka adalah hal yang biasa dan tidak akan ada yang menyelidiki.
Tapi sekarang, boneka yang seharusnya membuat Arya cacat itu justru hancur berkeping keping hanya dengan satu tinju dari Arya. Rencananya gagal total di depan ratusan murid.
Dan yang lebih buruk lagi, Bidadari Pedang Embun itu datang.
Sekar Embun berjalan masuk ke dalam Balai Disiplin dengan langkah pelan namun setiap langkahnya membuat lantai yang terbuat dari batu hitam itu sedikit membeku. Aura dingin Alam Raja Langit tingkat satu miliknya menyebar ke seluruh ruangan, membuat semua murid yang ada di sana menggigil kedinginan, bukan karena suhu, tapi karena tekanan.
Dia berjalan melewati kerumunan murid yang otomatis memberi jalan, melewati Kezia Adinegara yang menunduk tidak berani menatapnya, melewati Rafa Adiputra yang kakinya gemetar hebat dan keringat dingin membasahi punggungnya, dan berhenti tepat di depan Tetua Batu.
"Tetua Batu," suara Sekar Embun dingin, jernih, tanpa emosi sedikit pun. "Sejak kapan aturan pemeriksaan bulanan untuk murid baru yang baru pindah puncak adalah melawan boneka ujian Alam Jiwa Kesatria tingkat satu? Setahu saya, aturannya adalah melawan boneka Alam Meridian tingkat delapan. Apakah Tetua Batu baru saja mengubah aturan perguruan tanpa sepengetahuan Pemimpin Perguruan?"
Setiap kata dari Sekar Embun seperti es yang menusuk jantung Tetua Batu.
Tetua Batu menelan ludahnya dengan susah payah. Jabatan Sekar Embun sebagai murid pribadi Pemimpin Perguruan dan sebagai pemilik Puncak Embun jauh di atasnya. Kekuatannya juga jauh di atasnya. Dia tidak berani berbohong di depan wanita ini.
"Itu... itu... saya hanya ingin menguji batas kemampuan Murid Arya karena dia adalah murid dari Puncak Embun yang terkenal, jadi saya menaikkan sedikit tingkat kesulitannya..." Tetua Batu mencoba mencari alasan dengan suara terbata bata.
"Sedikit?" Sekar Embun sedikit memiringkan kepalanya. Matanya yang indah menatap serpihan boneka di arena. "Menaikkan dari Alam Meridian tingkat delapan ke Alam Jiwa Kesatria tingkat satu, Tetua menyebut itu sedikit? Kalau murid saya terluka parah atau mati karena ujian yang tidak sesuai aturan ini, apakah Tetua Batu yang akan bertanggung jawab? Atau Tetua Batu pikir Puncak Embun saya tidak ada orangnya sehingga bisa dipermainkan?"
Aura dingin di tubuh Sekar Embun tiba meledak.
BOOM!
Seluruh Balai Disiplin langsung diselimuti oleh lapisan es tipis. Beberapa murid yang kekuatannya rendah langsung membeku bibirnya karena kedinginan.
Tetua Batu yang berada tepat di depan Sekar Embun merasakan tekanan yang paling besar. Lututnya langsung lemas dan dia hampir berlutut di lantai. Wajahnya pucat pasi.
"Tidak... tidak berani... saya tidak berani..." Tetua Batu berkata dengan suara gemetar.
Semua orang di dalam balai menatap pemandangan itu dengan kaget. Tetua Disiplin yang biasanya paling galak dan paling ditakuti, kini hampir berlutut di depan seorang murid perempuan yang usianya jauh lebih muda darinya hanya karena tekanan aura.
Inilah kekuatan Bidadari Pedang Embun.
Pada saat itu, Arya Langit yang berdiri di tengah arena perlahan lahan berjalan keluar. Dia berjalan mendekati Sekar Embun dan berdiri di samping gurunya itu.
"Guru, lupakan saja," kata Arya dengan suara yang cukup keras agar semua orang mendengar. "Tetua Batu mungkin hanya khilaf dan ingin menguji saya dengan lebih serius karena saya adalah sampah yang baru saja menjadi murid Puncak Embun. Saya tidak terluka sama sekali, justru boneka ujiannya yang hancur. Jadi tidak ada masalah. Benar kan, Tetua Batu?"
Arya menatap Tetua Batu dengan senyum tipis yang terlihat ramah, tapi di mata Tetua Batu, senyuman itu terlihat seperti senyuman iblis.
Tetua Batu buru buru mengangguk seperti ayam mematuk beras. "Benar! Benar! Murid Arya benar! Saya hanya khilaf! Saya khilaf!"
Sekar Embun menatap Arya dengan sedikit heran. Dia mengira murid barunya ini akan marah besar dan menuntut hukuman berat untuk Tetua Batu. Tapi ternyata Arya justru memberi jalan keluar untuk Tetua Batu.
Dia tidak tahu, bahwa ini adalah cara Arya yang paling licik.
Dengan memberi ampun kepada Tetua Batu di depan semua orang, Arya tidak hanya terlihat berjiwa besar dan dewasa, tapi dia juga membuat Tetua Batu berhutang budi besar padanya. Mulai hari ini, Tetua Batu tidak akan berani lagi menerima suap dari Rafa Adiputra untuk mencelakainya. Bahkan sebaliknya, Tetua Batu akan sedikit memihak kepadanya karena rasa bersalah dan takut pada Sekar Embun.
Satu pukulan menghancurkan boneka, satu kalimat mengikat seorang tetua. Keuntungan ganda.
Rafa Adiputra yang melihat rencananya gagal total dan bahkan Tetua Batu yang dia suap kini berbalik memihak Arya, wajahnya memerah karena marah dan malu. Dia mengepalkan tangannya dengan keras hingga kukunya menancap ke daging.
"Sampah... sampah sialan..." geramnya pelan.
Kezia Adinegara yang berdiri di samping Rafa menatap Arya dengan tatapan yang sangat rumit. Pemuda yang kemarin dia hina dan dia putuskan pertunangannya di depan umum karena dianggap sampah, hari ini berdiri dengan gagah di samping Bidadari Pedang Embun, menghancurkan boneka ujian Alam Jiwa Kesatria dengan satu pukulan, dan bahkan membuat Tetua Disiplin yang kejam hampir berlutut.
Jantung Kezia berdegup kencang dengan perasaan yang tidak dia mengerti. Ada penyesalan yang mulai tumbuh sedikit demi sedikit di dalam hatinya.
Sekar Embun melihat Tetua Batu sudah hampir pingsan karena ketakutan, akhirnya menarik kembali aura dinginnya. Suhu di dalam balai perlahan lahan kembali normal.
"Kalau begitu, karena murid saya sudah lulus ujian, saya akan membawanya kembali ke Puncak Embun untuk berlatih. Satu bulan lagi di Kompetisi Puncak Langit, Puncak Embun saya akan berpartisipasi," kata Sekar Embun dengan suara dingin, lalu berbalik. "Arya, ikut aku."
"Baik, Guru."
Arya mengangguk dan mengikuti Sekar Embun keluar dari Balai Disiplin. Saat melewati Rafa Adiputra, Arya berhenti sebentar dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Rafa.
"Rafa, lima ratus Batu Roh kelas menengah yang kamu berikan kepada Tetua Batu itu sia sia. Simpan saja Batu Roh mu itu untuk membeli obat luka di Kompetisi Puncak Langit nanti. Karena di sana, aku akan mengembalikan tamparanmu kemarin sepuluh kali lipat. Tunggu saja."
Setelah berkata begitu, Arya tidak menunggu jawaban Rafa yang wajahnya sudah seperti mau meledak karena marah, dan langsung berjalan mengikuti Sekar Embun yang sudah menunggu di luar.
Mereka berdua naik ke atas pedang raksasa biru es itu lagi dan terbang kembali ke Puncak Embun yang diselimuti salju abadi, meninggalkan Balai Disiplin yang penuh dengan bisikan kaget dan tatapan tidak percaya.
Di atas Puncak Embun, di tepi kolam air panas yang mengepulkan uap.
"Kenapa kamu melepaskan Tetua Batu tadi? Kamu bisa saja memintaku untuk menghukumnya berat karena melanggar aturan," tanya Sekar Embun sambil menatap Arya yang sedang duduk bersila di seberang kolam, mencoba memahami teknik baru yang baru saja dia dapatkan dari sistem.
Arya membuka matanya. Di dalam benaknya, sebuah teknik pedang yang indah dan dingin seperti salju pertama di musim dingin sedang berputar putar.
[Teknik Pedang Embun Beku tingkat awal: Satu tebasan membekukan sungai, satu tebasan membekukan langit.]
Ini adalah hadiah dari sistem karena kepercayaan Sekar Embun naik menjadi 35% setelah kejadian di Balai Disiplin tadi.
"Guru, terkadang membiarkan musuh hidup dengan rasa hutang budi jauh lebih berguna daripada membunuhnya," jawab Arya dengan senyum misterius. "Lagipula, musuh utama saya bukan Tetua Batu. Musuh utama saya adalah Rafa Adiputra dan keluarga di belakangnya. Tetua Batu hanyalah pion kecil."
Sekar Embun menatap muridnya itu dengan tatapan yang semakin dalam. Semakin lama dia bersama pemuda ini, semakin dia merasa pemuda ini tidak sesederhana yang terlihat. Kecerdasan, ketenangan, dan misteri di balik senyumnya membuat jantungnya yang sudah membeku selama dua puluh dua tahun itu kembali berdebar dengan aneh.
"Guru," Arya tiba tiba berdiri. Di tangannya, energi dingin berwarna biru es yang sama persis dengan energi milik Sekar Embun mulai berkumpul dan membentuk sebuah pedang es tipis yang panjang. "Saya sudah sedikit memahami Teknik Pedang Embun Beku yang Guru ajarkan secara tidak langsung kemarin. Boleh saya coba?"
Sekar Embun terkejut. Teknik Pedang Embun Beku adalah teknik warisan Puncak Embun yang sangat sulit dipelajari, bahkan dia sendiri butuh waktu setengah tahun untuk memahami tingkat awalnya. Dan Arya baru saja melihatnya menggunakannya sekali saat terbang tadi?
"Silakan," kata Sekar Embun dengan sedikit tidak percaya.
Arya mengangguk. Dia memejamkan matanya, menarik napas dalam dalam, lalu menebaskan pedang es di tangannya ke arah kolam air panas di depannya.
Tebasan itu terlihat pelan, indah, dan ringan seperti bulu yang jatuh.
Tapi saat ujung pedang es itu menyentuh permukaan air kolam yang panas dan mengepulkan uap...
KRAAAK!
Seluruh kolam air panas yang luasnya hampir sepuluh meter itu dalam sekejap mata membeku total menjadi es bening yang keras seperti kaca. Uap panas yang tadinya mengepul langsung hilang, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk.
Satu tebasan membekukan kolam panas!
Sekar Embun berdiri dengan kaget, matanya yang indah membelalak lebar tidak percaya menatap pemandangan di depannya.
Itu adalah tingkat penguasaan Teknik Pedang Embun Beku tingkat awal yang sempurna! Bahkan dia sendiri yang sudah berlatih selama bertahun tahun tidak bisa melakukannya seindah dan sesempurna ini!
"Bagaimana... bagaimana kamu bisa..." Sekar Embun tidak bisa melanjutkan kata katanya karena terlalu kaget.
Arya tersenyum dan pedang es di tangannya mencair menjadi air.
"Guru yang mengajari dengan baik," jawabnya lagi dengan alasan yang sama.
Sekar Embun menatap murid jenius monster di depannya, jantungnya berdegup kencang seperti genderang. Dia tahu, dia telah menemukan harta karun yang paling berharga dalam hidupnya.
Tapi sebelum dia bisa berkata apa lagi, tubuhnya tiba tiba kembali bergetar hebat. Wajahnya yang tadi sedikit merona kembali pucat. Aura dingin yang liar dan tidak terkendali kembali bergejolak dari dalam tubuhnya, bahkan lebih kuat dari kemarin.
Serangan kedua dari Tubuh Meridian Embun Beku datang lebih awal. Jauh lebih awal dari perkiraan.
"Guru!" Arya langsung panik dan berlari mendekati Sekar Embun yang hampir jatuh pingsan.
Sekar Embun terjatuh ke dalam pelukan Arya. Tubuhnya dingin seperti es balok dan gemetar hebat menahan rasa sakit.
"Di... dingin... sangat dingin..." bisik Sekar Embun dengan suara lemah, kesadarannya mulai kabur. Tanpa sadar, dia memeluk Arya dengan erat, mencari kehangatan dari tubuh pemuda itu, satu satunya kehangatan yang bisa mencairkan es di dalam tubuhnya.
Arya memeluk tubuh dingin Bidadari Pedang itu dengan erat. Dia bisa merasakan tubuh Sekar Embun yang gemetar hebat di dalam pelukannya.
"Sistem! Apa yang terjadi! Bukankah masih ada 6 hari lagi!" teriak Arya di dalam hatinya.
[PERINGATAN! Emosi target bergejolak hebat karena kaget melihat bakat Tuan Rumah, memicu Tubuh Meridian Embun Beku mengamuk lebih awal! Dibutuhkan sesi penyembuhan kedua SEGERA di dalam kolam air panas yang baru saja dibekukan! Gunakan Seni Tangan Dewa Meridian dengan kontak penuh di punggung!]
Arya menatap kolam yang baru saja dia bekukan menjadi es, lalu menatap wanita cantik yang menggigil kedinginan di dalam pelukannya dengan mata terpejam dan wajah pucat.
Dia tidak punya pilihan lain.
"Guru, maafkan saya, saya harus menyembuhkan Guru sekarang juga," bisik Arya sambil menggendong tubuh ringan Sekar Embun dengan kedua tangannya dan melangkah menuju ke tengah kolam es yang dingin itu.
Malam di Puncak Embun baru saja dimulai, dan sesi penyembuhan kedua yang jauh lebih intim dan berbahaya dari yang pertama akan segera dimulai.