Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 ~ Batas Sabar
Hezlin menggeleng. "Tidak. Saya tidak apa-apa.." Jawabnya tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut.
Kael terdiam sejenak. Pandangannya meneliti wajah pucat itu lama sekali, seolah berusaha membaca apa yang sengaja disembunyikan di balik kebisuan itu. Namun ia tak mendesak lagi.
"Baiklah kalau begitu," ucapnya singkat, nada bicaranya kembali tegas dan biasa seperti atasan pada umumnya. "Aku hanya ingin mengingatkan tentang acara malam ini. Kamu... Bisa datang, kan?"
Hezlin tersenyum tipis. "Tentu."
"Kalau begitu aku jemput nanti malam di apartemenmu..."
"Baiklah..." jawab Hezlin singkat.
"Kalau begitu... selamat bekerja," ucap Kael, lalu berbalik melangkah pergi.
Hezlin hanya menunduk sedikit memberi hormat, menatap punggung pria itu menjauh, baru kemudian perlahan masuk ke ruang kerjanya.
••
••
Malam pun tiba. Lampu‑lampu gantung berkilau membiaskan cahaya keemasan di seluruh ruangan aula besar tempat pesta berlangsung. Musik mengalun lembut, berpadu dengan suara percakapan halus dan derap langkah tamu yang berdatangan semuanya tampak berkilau, berwibawa, dan membawa nama besar di dunia usaha.
Kael melangkah masuk lebih dulu, diikuti Hezlin yang berjalan tepat di sampingnya dengan tenang. Hezlin tampak sangat memukau mengenakan gaun berwarna gading yang berkilau halus, dengan rambut panjangnya disanggul rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di samping wajahnya.
Di sudut lain aula, Felicia sudah berdiri tegak di samping Garra, gaun merahnya tampak semakin mencolok di antara kerumunan. Ia menyapu pandangan ke sekeliling dengan bangga, memastikan semua mata tertuju padanya, sampai akhirnya tatapannya terhenti pada sosok Hezlin yang baru saja melangkah masuk bersama Kael. Senyum di bibirnya perlahan menipis, sementara matanya menatap tajam penuh rasa tak suka.
Garra terpaku di tempatnya saat melihat keduanya berjalan berdampingan, campuran rasa terkejut yang meluap dan amarah yang perlahan membara di dadanya. Ia mencengkeram gelas di tangannya begitu erat hingga buku‑buku jarinya memutih, cairan di dalamnya nyaris tumpah karena getaran tangannya yang tak terkendali.
Di sisi lain ruangan, Kael membimbing Hezlin menuju deretan kursi yang disiapkan khusus. Ia menarik satu kursi dengan sopan.
"Duduklah," ucapnya pelan.
"Terima kasih, Tuan," jawab Hezlin lembut saat duduk.
"Pangil saja namaku.. Saat ini tidak ada orang bersama kita," ucapnya.
Kemudian Kael berdiri di sampingnya sejenak, lalu perlahan membuka jas yang dikenakannya.
"Udara di sini agak dingin," katanya singkat sambil menyampirkan jas itu dengan teliti ke bahu Hezlin. "Jangan sampai kau kedinginan."
Hezlin menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Terima kasih banyak."
Gerakan itu begitu tenang namun tegas, seolah ingin menegaskan pada siapa pun yang melihatnya bahwa wanita yang ada di sisinya malam ini adalah seseorang yang istimewa.
Felicia segera menyadari ke mana arah tatapan Garra yang kaku dan penuh emosi itu. Ia menepuk pelan lengan pria di sampingnya, lalu berbicara dengan nada lembut namun tegas untuk menarik perhatiannya kembali.
"Garra... kenapa melamun begitu? Tuan Prasetyo sudah melambaikan tangan ke arah kita dari tadi," panggilnya pelan, sambil tersenyum lebar menutupi kekesalannya sendiri. "Kita harus menyapa mereka, ingat?"
Garra berkedip pelan, baru kemudian menoleh perlahan ke arah Felicia, meski napasnya masih terdengar berat. Ia melepaskan cengkeraman erat pada gelas di tangannya, lalu memaksakan diri mengangguk pelan.
"Baik," jawabnya singkat, meski bayangan sosok Hezlin masih membekas kuat di pikirannya.
Felicia langsung mengaitkan lengannya ke lengan Garra erat‑erat, lalu berjalan membimbingnya menjauh sambil tetap menyunggingkan senyum manis kepada siapa pun yang berpapasan. Meski begitu, matanya sesekali melirik tajam ke arah Hezlin di kejauhan, seolah tak terima ada wanita lain yang bisa mencuri perhatian pria yang bersamanya malam ini.
Sementara di tempat duduknya, Hezlin sedikit menyesuaikan posisi jas yang kini membalut bahunya, menghirup napas pelan menahan rasa canggung sekaligus hangat yang tak biasa ia rasakan. Kael berdiri di samping kursinya, menatap sekeliling dengan tenang, seolah tak peduli pada semua tatapan yang kini tertuju pada mereka berdua.
Hezlin menoleh ke arah Kael, lalu berbicara dengan sopan.
"Kael, aku izin sebentar ke kamar mandi," ucapnya pelan.
Kael mengangguk singkat. "Baiklah. Hati‑hati."
Hezlin pun berjalan menyusuri lorong samping yang agak sepi, namun baru beberapa langkah diambil, tiba‑tiba Felicia berbalik arah dan menabraknya dengan sengaja. Minuman yang dibawa Felicia tumpah seketika, membasahi bagian depan gaun gading Hezlin hingga meninggalkan noda yang jelas.
Brukkk!
Felicia menatapnya datar tanpa sedikit pun menyesal. "Aduh, maaf... tidak sengaja," ucapnya dengan nada yang sama sekali tidak terdengar bersalah.
"Tidak masalah.." jawab Hezlin menatap noda itu.
Saat dia mau pergi, lengannya ditarik oleh Felicia. "Aku tidak menyangka.... istri dari keluarga Kingston tega mengkhianati mereka, bahkan berani datang bersama pemilik perusahaan saingan mereka."
Hezlin terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah tangan Felicia yang mencengkeram lengannya, lalu perlahan beralih menatap wajah wanita itu. Ia melepaskan cengkeraman itu pelan namun tegas.
"Aku rasa aku tidak butuh pendapatmu," jawab Hezlin tenang, namun nadanya tak bisa dibantah. "Dan soal siapa yang kutemani malam ini, itu bukan urusanmu."
Felicia tertawa kecil sinis, lalu mencondongkan wajahnya sedikit mendekat.
"Belum lama berpisah saja sudah berani berlagak begitu? pantas saja.. Garra lebih merasa nyaman bersamaku."
Hezlin menghela napas pelan, tak sedikit pun tergoyahkan oleh nada merendahkan itu. Ia menatap lurus ke mata Felicia dengan ketenangan yang justru membuat lawan bicaranya merasa tak berdaya.
"Kalau begitu... selamat menikmati sisanya saja."
Hezlin mengucapkannya dengan senyum tipis yang tenang, seolah tak ada beban sama sekali.
"Bagiku, apa yang sudah kulepas, memang bukan lagi sesuatu yang layak diperebutkan."
Wajah Felicia memerah menahan amarah. "Kau kurang ajar!" serunya tinggi, tangannya terayun kasar nyaris menampar pipi Hezlin.
Dari kejauhan, Garra yang baru saja menyadari apa yang terjadi seketika bergegas berlari secepat kilat, niatnya begitu kuat untuk melindungi Hezlin.
Namun di tengah udara, pergerakan tangan itu tertahan kuat oleh cengkeraman tangan lain. Kael berdiri di sana dengan tatapan sedingin es, mencengkeram pergelangan tangan Felicia begitu erat hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Jangan pernah berani menyentuhnya," ucap Kael rendah namun mengancam. "Atau kau akan menyesal telah melakukannya."
Kael melepaskan cengkeramannya lalu membanting tangan Felicia dengan kasar hingga wanita itu mundur terhuyung, memegangi pergelangan tangannya yang kesakitan sambil menatap tak percaya.
Kael segera berbalik menghadap Hezlin, raut wajahnya yang tadinya dingin seketika berubah lembut penuh perhatian. "Kamu tidak apa‑apa?" tanyanya pelan.
Hezlin menggeleng pelan. "Aku baik‑baik saja... tapi pakaianku basah."
"Kalau begitu kita pulang sekarang," putus Kael tegas.
"Tapi... bagaimana dengan acaranya?" tanya Hezlin ragu.
Kael tersenyum tipis sambil menatap lekat wajah wanita itu. "Tidak apa‑apa. Yang penting kamu..." Ia mengangkat tangannya, menyentuh lembut helaian rambut Hezlin yang sedikit berantakan.
Pemandangan itu seolah menjadi batas terakhir bagi kesabaran Garra. Amarahnya memuncak seketika, tanpa berpikir panjang ia melangkah cepat menghampiri, lalu mendaratkan satu bogem keras tepat di wajah Kael.
BUG!
•
•
❤️